KOLERA Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1           LATAR BELAKANG

Sampai saat ini penyakit diare atau juga sering disebut gastroenteritis masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia.Penyakit diare merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan masa anak-anak di Negara berkembang.Diperkirakan diare menyebabkan kematian sebanyak 5 juta anak balita per tahun.Kira-kira 80% kematian ini terjadi pada umur dua tahun pertama. Disamping sebagai penyebab langsung kematian diare juga sebagai penyebab utama kurang gizi dan penyebab lain yang sering menjadi penyebab kematian anak misalnya ISPA.

Kolera adalah salah satu penyakit diare akut yang dalam beberapa jam dapat mengakibatkan dehidrasi progresif yang cepat dan berat serta dapat menimbulkan kematian yang disebabkan oleh V. Kolera yang memproduksi enteroksin dalam jumlah besar, sehingga memberikan pengaruh yang ekstrim pada aktivitas sekresi dari sel epitel mukosa usus halus dan bentuk feses yang khas seperti air tajin atau rice water stool.

Penyakit ini telah diketahui dan dialami sejak bertahun-tahun yang lalu dan telah menyebar ke seluruh Asia dan sebagian besar Afrika.Pada umumnya banyak menyebar kenegara-negara yang sedang berkembang. Penyakit ini dapat dikatakan berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi dan gizi penduduk. Semakin rendah tingkat sosial ekonomi dan gizi penduduk besar kemungkinan untuk menderita kolera.Makanan dan air yang terkontaminasi merupakan media perantara penularan kolera. Penularan biasanya terjadi ditempat yang terlalu padat penduduknya dan keadaan sanitasi lingkungan yang tidak bersih.

1.2          RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN

RUMUSAN MASALAH

Tingginya angka kematian yang disebabkan oleh penyakit menular kolera

TUJUAN

  1. Untuk mengetahui pengertian penyakit kolera
  2. Untuk mengetahui etiologi, masa inkubasi, diagnosis penyakit kolera
  3. Untuk mengetahui cara penularan penyakit kolera
  4. Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan penyakit kolera 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

 

  1. Pengertian penyakit kolera (cholera)

Penyakit kolera (cholera) adalah penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Kemudian, bakteri tersebut mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus.

  1. Etiologi penyakit Kolera

Kolera adalah mikroorganisme berbentuk batang,berukuran pendek, sedikit melengkung dapat bergerak, bersifat gram negatif dan mempunyai flagela polar tunggal. Terdapat berbagai sero tipe V. Kolera yang dapat menimbulkan diare akut. V. Kolera tumbuh dengan mudah pada bermacam media laboratorium non selektif yaitu agar Mac Conkey dan beberapa media selektif termasuk agar garam empedu, agar gliserin-telurit-taurokholat serta agar trosulfat-sitrat-garam-empedu-sukrosa (TCBS). Dikenal 2 biotipe V.Kolera. 01 diklasifikasikan sebagai klasik dan Elthor berdasarkan atas hemolisin,hemaglutinasi, kerentanan terhadap polimiksin B, dan kerentanan terhadap bakteriofag. Basil ini juga dibagi menjadi serogrup (yaitu serovar) didasarkan pada aniten somatik atauO.V. Kolera 01 mempunyai dua tipe antigenik O mayor (Ogawadan India) dan tipe intermediate tidak stabil (Hikojima).

  1. Masa inkubasi dan diagnosis

Gejala dimulai dalam 1-3 hari setelah terinfeksi bakteri, bervariasi mulai dari diare ringan-tanpa komplikasi sampai diare berat-yang bisa berakibat fatal.Beberapa orang yang terinfeksi, tidak menunjukkan gejala.Penyakit biasanya dimulai dengan diare encer seperti air yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa rasa sakit dan muntah-muntah.Pada kasus yang berat, diare menyebabkan kehilangan cairan sampai 1 liter dalam 1 jam.Kehilangan cairan dan garam yang berlebihan menyebabkan dehidrasi disertai rasa haus yang hebat, kram otot, lemah dan penurunan produksi air kemih.

Banyaknya cairan yang hilang dari jaringan menyebabkan mata menjadi cekung dan kulit jari-jari tangan menjadi keriput.Jika tidak diobati, ketidakseimbangan volume darah dan peningkatan konsentrasi garam bisa menyebabkan gagal ginjal, syok dan koma.Gejala biasanya menghilang dalam 3-6 hari. Kebanyakan penderita akan terbebas dari organisme ini dalam waktu 2 minggu, tetapi beberapa diantara penderita menjadi pembawa dari bakteri ini.

Manifestasi Klinis

Diare cair dan muntah timbul sesudah masa inkubasi 6 jam sampai 72 jam (rata-rata 2-3 hari) kadang-kadang sampai 7hari. Kolera dimulai dengan awitan diare berair tanpa rasa nyeri(tenesmus) dengan tiba-tiba yang mungkin cepat menjadisangat banyak dan sering langsung disertai muntah. Fesesmemiliki penampakan yang khas yaitu cairan agak keruhdengan lendir, tidak ada darah dan berbau agak amis. Kolera dijuluki air cucian beras (rise water stool) karena kemiripannyadengan air yang telah digunakan untuk mencuci beras.nyeriabdominal di daerah umbilikal sering terjadi. Pada kasus-kasusberat sering dijumpai muntah-muntah, biasanya timbul setelahawitan diare kurang lebih 25 % penderita anak-anak mengalamipeningkatan suhu rektum (38-39°C), pada saat dirawat ataupada 24 jam pertama perawatan gejala klinisnya sesuai denganpenurunan volume cairan, pada kehilangan 3-5 % BB normal,mulai timbul rasa haus.

Kehilangan 5-8 %, hipotensi postural, kelemahan,takikardia dan penurunan turgor kulit, di atas 10% BB atau lebihmerupakan diare masif, dimana terdapat dehidrasi berat dankolaps peredaran darah, dengan tanda-tanda tekanan darahmenurun (hipotensi) dan nadi lemah dan sering tak terukur,pernafasan cepat dan dalam, oliguria, mata cekung pada bayi,ubun-ubun cekung, kulit terasa dingin dan lembab disertaiturgor yang buruk, kulit menjadi keriput, terjadi sianosis dannyeri kejang pada otot-otot anggota gerak, terutama padabagian betis. Penderita tampak gelisah, disertai letargi,somnolent dan koma. Pengeluaran tinja dapat berlangsunghingga 7 hari. Manifestasi selanjutnya tergantung padapengobatan-pengobatan pengganti yang memadai atau tidak.Komplikasi biasanya disebabkan karena penurunan volume

 

cairan dan elektrolit. Komplikasi dapat dihindari dan prosesdapat dibatasi apabila diobati dengan cairan dan garam yangmenandai.Tanda awal penyembuhan biasanya adalahkembalinya pigmen empedu di dalam tinja. Pada umumnyadiare akan cepat berhenti.

Diagnosis penyakit kolera

Dalam menegakan suatu diagnosis kolera meliputi gejalaklinis, pemeriksaan fisik ,reaksi aglutinasi dengan anti serumspesifik dan kultur bakteriologis. Menegakkan diagnosis penyakit kolera yang berat terutama diderah endemik tidaklah sukar.Kesukaran menegakkan diagnosis biasanya terjadi pada kasus-kasus yang ringan dan sedang, terutama di luar endemic atau epidemi.

  • Gejala klinik

Kolera yang tipik dan berat dapat dikenal dengan adanyaberak-berak yang sering tanpa mulas diikuti dengan muntah-muntah tanpa mual, cairan tinja berupa air cucian beras,suhu tubuh yang tetap normal atau menurun dan cepatbertambah buruknya keadaan pasien dengan gejala-gejalaakibat dehidrasi, renjatan sirkulasi dan asidosis yang jelas.(PD, FKUI, 1996)(6 )

  • Pemeriksaan Fisik.

Adanya tanda-tanda dehidrasi yaitu keadaan turgor kulit,mata cekung, Ubun ubun besar yang cekung, mulutkering,denyut nadi lemah atau tiada, takikardi, kulit dingin,sianosis, selaput lendir keringdan kehilangan berat badan

  • Kultur Bakteriologis

Diagnosis pasti kolera tergantung dari keberhasilanmengisolasi V. Kolera 01 dari tinja penderita penanaman padamedia seletif agar gelatin tiosulfat-sitrat-empedu-sukrosa

(TCBS) dan TTGA.Tampak pada TCBS organisme V. Koleramenonjol sebagai koloni besar, kuning halus berlatarbelakang medium hijau kebiruan. Pada TTGA koloni kecil,opak dengan zone pengkabutan sekelilingnya.

  • Reaksi aglutinasi dengan antiserum spesifik

Yaitu melalui penentuan antibodi-antibodi vibriosidal,aglutinasi dan penetralisasi toksin, titer memuncrat dan ke 3antibodi tersebut akan terjadi 7-14 hari setelah awitanpenyakit-titer antibodi vibriosidal dan aglutinasi akan kembalipada kadar awal dalam waktu 8-12 minggu setelah awitanpenyakit, sedangkan titer antitoksin akan tetap tinggi hingga12-18 bulan. Kenaikan sebesar 4x atau lebih selama masapenyakit akut atau penurunan titer selama masa penyembuhan.

  • Pemeriksaan darah

Pada darah lengkap ditemukan angka leukosit yang meninggiyang menunjukkan adanya suatu proses infeksi, pemeriksaanterhadap pH, bikarbonat didalam plasma yang menurun, danpemeriksaan elektrolit untuk menentukan gangguan keseimbangan asam basa.

  1. Cara penularan

Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik. Meskipun sudah banyak penelitian berskala besar dilakukan, namun kondisi penyakit ini tetap menjadi suatu tantangan bagi dunia kesehatan. Bakteri Vibrio cholerae berkembang biak dan menyebar melalui feces (kotoran) manusia.

Bila kotoran yang mengandung bakteri ini mengkontaminasi air sungai dan sebagainya, maka orang lain yang melakukan kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera itu juga. Misalnya cuci tangan yang tidak bersih lalu makan, mencuci sayuran atau makanan dengan air yang mengandung bakteri kolera, makan ikan yang hidup di air terkontaminasi bakteri kolera, bahkan air tersebut (seperti di sungai) dijadikan air minum oleh orang lain yang bermukim disekitarnya. Hal ini akan semakin meningkatkan resiko terjadinya penyakit kolera.

Dalam situasi adanya wabah (epidemic), biasanya tinja orang yang telah terinfeksi menjadi sumber kontaminasi. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat di tempat yang tidak mempunyai penanganan pembuangan kotoran (sewage) dan pengolahan air minum yang memadai. Pada saat wabah kolera (El Tor) skala besar terjadi di Amerika Latin pada tahun 1991, penularan yang cepat dari kolera terjadi melalui air yang tercemar karena sistem PAM perkotaan yang tidak baik, air permukaan yang tercemar, serta sistem penyimpanan air di rumah tangga yang kurang baik. Makanan dan minuman pada saat itu diolah dengan air yang tercemar dan di jual oleh pedagang kaki lima, bahkan es dan air minum yang dikemaspun juga tercemar oleh Vibrio cholerae. Biji-bijian yang dimasak dengan saus pada saat wabah itu terbukti berperan sebagai media penularan kolera.

Vibrio cholerae yang dibawa oleh penjamah makanan dapat mencemari makanan, yang apabila tidak disimpan dalam lemari es dalam suhu yang tepat dapat meningkatkan jumlah kuman berlipat ganda dalam waktu 8-12 jam. Sayuran dan buah-buahan yang dicuci dan dibasahi dengan air limbah yang tidak diolah, juga menjadi media penularan.

Bakteri kolera juga dapat hidup di lingkungan air payau dan perairan pesisir. Kerang-kerangan (shellfish) yang dimakan mentah juga dapat menjadi sumber kolera. Seperti di Amerika Serikat, kasus sporadis kolera timbul karena mengkonsumsi seafood mentah atau setengah matang yang ditangkap dari perairan yang tidak tercemar. Sebagai contoh, kasus kolera yang muncul di Louisiana dan Texas menyerang orang-orang yang mengkonsumsi kerang yang diambil dari pantai dan muara sungai yang diketahui sebagai reservoir alami dari Vibrio cholera (O1 serotipe Inaba), muara sungai yang tidak terkontaminasi oleh air limbah. Biasanya penyakit kolera secara langsung tidak menular dari orang ke orang. Oleh karena itu, kontak biasa dengan penderita tidak merupakan resiko penularan.

  1. Pencegahan dan penanggulangan

Pencegahan

Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih

dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang. Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan.Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas.Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.

    Penanggulangan

Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mendapatkan penanganan segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal (terapi rehidrasi agresif). Dasar dari terapi kolera adalah rehidrasi agresif melalui oral dan intravena yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit, juga untuk mengganti cairan akibat diare berat yang sedang berlangsung. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn. Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi.
Selain itu, untuk menangani penyakit kolera ini juga dapat dilakukan disinfeksi serentak terhadap tinja dan muntahan serta bahan-bahan dari kain (linen, seperti sprei, sarung bantal dan lain-lain) serta barang-barang lain yang digunakan oleh penderita, dengan cara di panaskan, diberi asam karbol atau disinfektan lain. Masyarakat yang memiliki sistem pembuangan kotoran dan limbah yang modern dan tepat, tinja dapat langsung dibuang ke dalam saluran pembuangan tanpa perlu dilakukan disinfeksi sebelumnya. Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang wabah penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan jalan memasukkan selang dari hidung ke lambung (sonde). Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolang berat tidak dapat diatasi (meninggal dunia), sedangkan sejumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia. (massachusetts medical society, 2007 : Getting Serious about Cholera)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KOLERA

 

Epidemiologi kolera harus ditinjau secara global, karena perangainya yang pandemik. Penyakit ini dengan mudah menyebar secara luas, melampui batas-batas geografis Asiatik. Ciri khas dari kolera, bila menyerang suatu daerah yang baru sama sekali, yang sebelumnya belum pernah mengenal kolera, maka insidens paling tinggi terjadi pada laki-laki dewasa muda. Tetapi ketika penyakit sudah mulai menjadi endemik, insidens pada wanita dan anak-anak akan meningkat. Dalam waktu 30 tahun terakhir, hasil studi laboratorium dan epidemiologik telah membawa ke suatu perubahan besar di dalam pemikiran mengenai kolera. Apa yang dulu diyakini, yaitu bahwa manusia merupakan satu-satunya reservoir V.cholerae O1, kini telah berubah karena V.cholerae O1 ternyata dapat hidup di alam bebas dan memiliki reservoir alamiah. Ini berarti bahwa pengendalian kolera tidak akan berhasil bila hanya dipusatkan pada individu yang terinfeksi. Upaya haruslah diarahkan kepada:

  1. cara-cara untuk

mengubah kondisi paparan terhadap reservoir infeksi yang sebelumnya tidak terdeteksi,

  1. pengendalian penyebaran sekunder penyakit.

Telah diketahui bahwa penyebaran kolera secara primer melalui air minum yang terkontaminasi, tetapi penelitian wabah akhir-akhir ini menunjukkan bahwa binatang laut seperti kerang, tiram dan remis, serta udang dan kepiting,dapat juga menjadi perantara (vehicle) transmisi yang penting untuk infeksi Vibrio. Beberapa dari jenis binatang laut ini bahkan hidup jauh di tengah laut. Ini menandakan bahwa Vibrio dapat mempertahankan siklus hidupnya tanpa harus melalui ekskreta manusia secara terus menerus. Berbagai penelitian terhadap kontak di dalam keluarga penderita kolera juga menunjukkan adanya derajat infeksi asimtomatik yang tinggi di daerah-daerah endemik kolera. Meskipun telah banyak yang dipelajari mengenai transmisi kolera, tetapi untuk menentukan cara penyebaran tunggal yang dominan adalah sulit karena banyak factor yang berperan, seperti imunitas, infeksi asimtomatik, rute penyebaran yang multipel dan berbagai faktor lainnya. Di dalam keadaan endemik, prevalensi kolera yang berat dapat tampak rendah, seperti di Bangladesh di mana insidens hospitalisasi antara 1,0 – 3,0 kasus per 1.000 penduduk per tahun untuk waktu 20 tahun terakhir. Namun angka-angka ini perlu ditafsirkan secara hati-hati. Pertama, insidens terjadi pada seluruh populasi dari umur 2 tahun sampai usia lanjut, sehingga risiko kumulatif terhadap kolera untuk seseorang pada usia 20 tahun pertama adalah sekitar 6%. Jika derajat kematian secara kasar adalah 20%, maka 1% dari penduduk Bangladesh akan meninggal karena kolera bila tidak diobati. Kedua, penelitian terhadap kontak keluarga dari kasus kolera menunjukkan untuk setiap individu dengan kasus kolera yang berat, lebih dari sepuluh orang akan menderita diare ringan dan sedang dan jumlah yang sama akan menderita infeksi asimtomatik. Dengan demikian, derajat penyakit yang berat yang dilaporkan tidak mencerminkan secara wajar kasus-kasus ringan yang jumlahnya lebih banyak. Pemahaman lebih jauh mengenai epidemiologi kolera dimungkinkan dengan adanya teknik-teknik molekuler seperti chromosomal restriction fragment length polymorphism dan penyelidikan wabah di berbagai lokasi dan periode waktu yang berbeda. Penelitian klinis dan lingkungan yang dilakukan di Thailand dengan menggunakan pulsed field gel electrophoresis (PFGE), ribotyping dan toxin genotyping menunjukkan adanya ribotipe baru V.cholerae O1 dibandingkan dengan isolat O1 yang didapatkan beberapa tahun sebelumnya. Ini membuktikan bahwa suatu ribotipe baru dari galur O1 mungkin berasal dari reservoir lingkungan. Air sumur dan mata air dapat terkontaminasi dengan V.cholerae sehingga dapat menjadi tempat hidup sekaligus transmisi dari kuman tersebut. Juga air yang disimpan di tempat penyimpanan yang bermulut lebar seperti tempayan, dapat terkontaminasi melalui tangan atau benda-benda lain yang digunakan untuk mengambil air. Di samping kontaminasi air yang merupakan rute utama transmisi kolera, makanan juga merupakanfaktor penting dalam penularan kolera, terutama makanan yang tidak dimasak atau setengah matang. Di makanan, V.cholerae dapat hidup antara 2-14 hari dan ketahanan hidup ini menjadi lebih baik bila makanan dimasak terlebih dahulu sebelum terjadi kontaminasi. Dengan memasak flora kompetitif terbunuh, dan zat-zat penghambat pertumbuhan yang sifatnya termolabil rusak oleh pemanasan. Juga dengan memasak terbentuk bahanbahan  protein yang sudah mengalami denaturasi, yang baik untuk pertumbuhan V.cholerae. Biotipe El Tor beradaptasi lebih baik pada transmisi melalui makanan dari pada biotipe klasik. Di makanan, biotipe El Tor berkembang biak lebih cepat dibandingkan biotipe klasik. Keuntungan dari makanan sebagai media trasmisi untuk El Tor ini menerangkan mengapa El Tor telah menggeser biotipe klasik di banyak tempat dan menjadi mikroorganisme yang dominan dalam beberapa pandemi baru-baru ini. Ikan dan kerang-kerangan telah lama diketahui berperan dalam transmisi kolera. Binatang-binatang laut itu dapat terkontaminasi oleh V.cholerae melalui air di mana kuman itu secara persisten sudah berada di sana, atau karena air terkontaminasi oleh tinja manusia. Di beberapa tempat, ikan dan kerang-kerangan dimakan dalam keadaan mentah sehingga menyebabkan terjadinya infeksi. Kejadian infeksi Vibrio di beberapa tempat di Amerika Serikat, seperti di Florida dan Teluk Meksiko, dilaporkan sebagai akibat dari konsumsi makanan laut (seafood) yang tidak dimasak dengan benar. Kejadian wabah yang merupakan hubungan antara peristiwa penguburan dengan transmisi kolera juga pernah dilaporkan di Afrika dan di Indonesia. Sebelumnya, wabah kolera yang berhubungan dengan penguburan terjadi karena transmisi dari orang ke orang (person to person). Di Guinea, Afrika Barat, nasi ditemukan sebagai sebab terjadinya wabah kolera yang mengikuti upacara penguburan. Nasi itu disiapkan dan dimasak untuk disajikan pada upacara penguburan oleh para wanita-wanita yang sebelumnya juga merawat penderita kolera yang meninggal tersebut, membersihkan tempat tidur dan memandikannya.

Di Irian Jaya, Indonesia, wabah kolera berkaitan dengan upacara duka cita di rumah penderita yang meninggal karena kolera.Transmisi langsung dari orang ke orang sangat kecil kemungkinannya karena dosis infeksi kolera tinggi. Juga transmisi melalui lalat secara epidemiologik tidak memainkan peranan penting. Secara teoritis, lalat dapat mengontaminasi makanan di mana Vibrio berkembang biak sampai jumlah dosis infektif tetapi belum ada bukti dan laporan terjadinya wabah kolera yang berkaitan dengan transmisi oleh lalat. Di alam bebas, V.cholerae ditemukan hidup di lingkungan akuatik, baik di daerah yang tidak ditemukan kolera maupun daerah yang endemik. Beberapa laporan baru baru ini menunjukan bahwa Vibrio patogen dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan air yang tidak mengalir, bersuhu hangat dengan konsentrasi kegaraman (salinity) dan nutrien yang tinggi. Suhu air merupakan factor paling penting yang memegang peranan di dalam kemampuan Vibrio patogen untuk bertahan hidup di dalam lingkungan alam bebas. Semua spesies Vibrio yang patogen menyesuaikan diri pada lingkungan dengan kadar garam antara 5‰ sampai 30‰ (86mM–500mM).Vibrio patogen dapat tumbuh di air yang berkadar garam rendah, asalkan suhunya hangat dan banyak terdapat sedimen yang mengandung nutrien organik. Collins. juga melaporkan bahwa adanya nutrien organik dalam konsentrasi tinggi dapat mengatasi keadaan kurangnya konsentrasi garam. Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh para ahli ekologi mikrobial adalah ketidak mampuan sistem biakan untuk mengisolasi dan menumbuhkan bakteri yang ada di alam bebas. Keadaan hidup tetapi tidak dapat dibiak (viable but nonculturable) ini merupakan suatu fenomena bakteri yang mencerminkan fase tidur (dormancy), ketahanan hidup (survival) dan keberadaannya secara persisiten di lingkungan. Kesulitan yang berkaitan dengan upaya isolasi V.cholerae dalam keadaan seperti di atas disebabkan karena metode isolasi dikembangkan dan digunakan untuk sampelklinik di mana kebanyakan sel bakteri sedang aktif

tumbuh. Metode kultural ini tidak dapat digunakan untuk sampel dari lingkungan (environmental samples) yang kondisinya sangat berbeda. Oleh karena itu, bakteri yang hidup tetapi tidak bias dibiak ini mungkin tidak akan terdeteksi tanpa menggunakan metode yang sesuai seperti misalnya teknik biologi molekuler, imunologis atau dengan mikroskop fluoresen. Dengan menggunakan teknik mikroskop fluoresen, Huq dkk. membuktikanbahwa keberadaan V.cholerae di air dapat dideteksi sepanjang tahun meskipun organisme ini tidak dapat diisolasi melalui teknik pembiakan. Sifat tidak dapat dibiak yang ditunjukkan oleh V.cholerae merupakan mekanisme adaptasi bakteri terhadap lingkungan alam yang kurang mengandung nutrisi. Pada fase tidur (dormant) ini ukuran sel menjadi lebih kecil dan berbentuk kokoid

Di banyak daerah endemik, kolera menunjukkan adanya pola musiman di mana pada bulan-bulan tertentu insidensnya tinggi dan pada bulan lain insidensnya rendah. Sekali terjadi keadaan endemik pada suatu daerah, kolera cenderung untuk menampakkan diri dalam pola musiman (seasonality) yang jelas. Di Bangladesh, misalnya, musim kolera (El Tor) di mulai setelah musim hujan yaitu pada bulan Agustus atau September, dengan puncaknya pada musim dingin, 1-3 bulan kemudian, setelah itu dengan cepat menurun. Awal dari musim kolera bertepatan dengan saat suhu menghangat, turunnya permukaan air sungai, berhentinya hujan, dan berakhir ketika cuaca dingin dan kering. Untuk alasan yang belum diketahui, kasus-kasus yang disebabkan oleh V.cholerae biotipe klasik cenderung terjadi pada bulan-bulan yang lebih tua, yaitu Nopember atau Desember. Pola musiman untuk daerah-daerah yang berbeda, tidak sama. Misalnya di Calcutta, India, yang letaknya kurang dari 500 km dari Bangladesh, puncak kolera terjadi pada bulan April, Mei dan Juni. Di Amerika Selatan, kolera juga menunjukkan suatu periodisitas yang sama dengan konsentrasi kasus-kasus pada bulan Januari dan Februari. Perbedaan pola musiman ini juga terlihat di Indonesia. Di bagian barat Indonesia pola kolera sangat berbeda dengan bagian timur. Mirip dengan keadaan di Bangladesh, kolera sporadik ataupun epidemik di bagian barat Indonesia berkaitan dengan periode curah hujan yang subnormal, yaitu pada bulan September dan Oktober, sedangkan di Indonesia bagian timur kasus-kasus kolera mencapai puncaknya justru pada musim hujan, yaitu Februari dan April. Di daerah-daerah yang endemik, puncak kasus-kasus kolera banyak dijumpai pada anakanak berumur 2 sampai 9 tahun, menyusul wanita masa produktif yaitu antara 15-35 tahun. Derajat infeksi yang lebih rendah pada anak-anak di bawah 1 tahun mungkin berkaitan dengan sedikitnya mereka berada dalam paparan infeksi, atau karena adanya efek protektif dari air susu ibu. Pada wanita usia produktif, diperkirakan bahwa meningkatnya jumlah kasus pada golongan ini disebabkan karena penurunan imunitas pada saat mengurus anak. Sebaliknya, di daerah-daerah di mana kolera menyerang penduduk yang paparannya rendah, penyakit cenderung untuk mengenai semua kelompok umur dengan frekuensi yang sama besarnya. Ini terlihat pada epidemi yang terjadi di Amerika Selatan, seperti misalnya di Peru, di mana derajat serangan (attack rate) pada anak-anak <1 tahun, anak-anak berumur 1-4 tahun dan anak-anak yang lebih besar serta orang dewasa adalah sekitar 0,5 – 0,6%.


BAB IV

PENUTUP

4.1          KESIMPULAN

  • Kolera adalah suatu penyakit akut yang menyerang saluranpencernaan yang disebabkan oleh kelompok enterotoksin yangdihasilkan oleh vibrio Kolera yang ditandai dengan diare cairringan, diare cair berat dengan muntah yang dengan cepatdapat menimbulkan syok hipovolemik, asidosis metabolik dantidak jarang menimbulkan kematian.
  • Penyebab kolera adalah mikroorganisme berbentuk batang,berukuran pendek, sedikit melengkung, dapat bergerak, bersifatgram negatif dan mempunyai flagela polar tunggal. Biasanyapenyebaran melalui makanan dan air yang terkontaminasimerupakan media perantara penularan kolera.Penularanbiasanya terjadi di tempat yang padat penduduknya dengantingkat sosial ekonomi dan gizi penduduk yang rendah dankeadaan sanitasi lingkungan yang tidak bersih.
  • Gejala dimulai dalam 1-3 hari setelah terinfeksi bakteri, bervariasi mulai dari diare ringan-tanpa komplikasi sampai diare berat-yang bisa berakibat fatal.Beberapa orang yang terinfeksi, tidak menunjukkan gejala.Penyakit biasanya dimulai dengan diare encer seperti air yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa rasa sakit dan muntah-muntah.Pada kasus yang berat, diare menyebabkan kehilangan cairan sampai 1 liter dalam 1 jam.Kehilangan cairan dan garam yang berlebihan menyebabkan dehidrasi disertai rasa haus yang hebat, kram otot, lemah dan penurunan produksi air kemih.
  • Penyakit kolera menular melalui feces(tinja)

1.2          SARAN

  • Untuk masyarakat

Sebaiknya memperhatikan tempat pembuangan tinja pada tempatnya, menutup makanan bila belum di makan,dan menghindari makanan setengah masak baik sayuran,daging, dan makanan laut.

  • Untuk mahsiswa FKM unidayan

Sebaiknya mempelajari penularan penyakit kolera, agar menanmbah pengetahuan kita sebagai calon tenaga kesehatan, karena penyakit kolera adalah penyakit yang umum sering terjadi di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Keusch G.T dan Deresiewicz R.L., Kolera, Harrison Prinsip-prinsipIlmu Penyakit Dalam, Volume 4, Edisi 5, EGC, Jakarta, 2000, hal766-768.
  2.  Gomez H.F dan Cleary T.G., Kolera, Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2, edisi 12, EGC, Jakarta, 1992, hal 102
  3. Noersahid H Suraatmadja S dan Asnil P.O, Gastroenteritis Akut Gastroenterologi Anak Praktis, FKUI 1988, hal 51-70.
  4. Hassan R dkk, Kholerae, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I,Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta, 1985, hal 302-306.
  5. Rohde J.E dan Baswedan S, Diare, Prioritas Pediatri di NegeraSedang Berkembang, Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta,1979, hal 203-211.
  6. Soemarsono H.S., Kolera, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi 3, Buku Penerbit FKUI, Jakarta, 1996, hal 443
  7. http://www.spesialis.info/?bagaimana-cara-mencegah-kolera-,272
  8. http://artikelsehat.com/penyakit-kolera-cholera-2/
  9. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2021267-gejala-penyakit-kolera/#ixzz1bZmokVRR

10. Prof.Dr.Soedarto,Dtm Dan H,Phd,Sp.Park, Penyakit Menular Di Indonesia,Jakarta, 2009,hal 142.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s