BACTERIAL VAGINALIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  LATAR BELAKANG

 

              Bacterial vaginosis ( BV ) adalah suatu kondisi patologis dimana terjadi perubahan ekologi vagina oleh karena pertumbuhan Lactobacillus yang merupakan flora normal dominan pada vagina digantikan oleh bakteri lain seperti Gardnerella vaginalis dan bakteri-bakteri anaerob lainnya.1-3 Penyebab BV pada umumnya belum diketahui secara jelas, namun BV dapat dihubungkan dengan adanya peningkatan pH vagina dan perubahan sekret vagina.2,4 Pada penderita BV sekret vagina menjadi berlebih dengan konsistensi cair, homogen, berwarna putih keabuan, dan berbau amis.1,5,6 Perubahan ini merupakan keluhan yang sangat mengganggu wanita sehingga membutuhkan pelayanan medis.

 

              Penelitian-penelitian sebelumnya telah melaporkan angka kejadian BV di beberapa negara, diantaranya Thailand 33 %, Afrika-Amerika 22,7 %, London 21 %, Indonesia 17 %, Jepang 14 %, Swedia 14 %, dan Helsinki 12 % . Beberapa penelitian juga menunjukkan banyaknya penderita BV yang tidak menunjukkan gejala ( asimtomatis ).1,4,5 Pada tahun 2005 di India terdapat 31,2 % wanita dengan BV asimtomatis.5 Di Italia 5 % asimtomatis, di Peru 23 % asimtomatis dan 37 % simtomatis.1 Penelitian di Amerika Serikat melaporkan 11 % asimtomatis dan 19 % simtomatis. Pada umumnya BV ditemukan pada wanita usia reproduktif dengan aktifitas seksual yang tinggi dan promiskuitas. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim,usia menopause,vaginal douching, sosial ekonomi rendah, dan wanita hamil juga merupakan faktor resiko terjadinya BV.6-8 Hasil penelitian di Thailand menunjukkan 16 % kasus BV ditemukan pada ibu hamil dan di USA terdapat 16,3% BV pada ibu hamil.

 

1.2   RUMUSAN MASALAH

 

  1. Apakah penyakit BV itu ?
  2. Apa etiologi penyakit BV ?
  3. Berapa lama masa inkubasi dan diagnosis penyakit BV ?
  4. Bagaimana cara penularan,pencegahan dan penanggulangan penyakit BV?

 

1.3  TUJUAN

 

  1. Untuk mengetahui tentang penyakit BV.
  2. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi penyebab penyakit BV.
  3. Untuk menentukan lama masa inkubasi dan diagnosis penyakit BV.
  4. Untuk mengetahui cara penularan,pencegahan dan penanggulangan penyakit BV.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  PENGERTIAN

 

            Bakterial vaginosis adalah kondisi vagina yang dapat menghasilkan vagina yang bernanah dan hasil dari pertumbuhan berlebih dari bakteri normal dalam vagina.  Adanya infeksi ini, mencerminkan fakta bahwa ada beberapa jenis bakteri yang secara alami hidup di daerah vagina dan dapat tumbuh secara berlebihan (medicinenet.com). Menurut CDC, Bakterial vaginosis  (BV)  adalah infeksi vagina yang paling umum pada wanita usia subur. Di  Amerika Serikat, BV umumnya terjadi pada wanita hamil atau wanita yang secara aktif berhubungan seksusal.

           

            BV merupakan penyakit yang hingga saat ini diagnosis dan penanganannya masih problematik. Kepentingan diagnosis didasarkan pada pendapat umum bahwa BV merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS ).9,10 Selain itu, terbukti pula bahwa BV dapat menimbulkan masalah infeksi traktus genitalis,misalnya infeksi intra amnion yang akan menyebabkan gangguan atau penyulit selama kehamilan,antara lain kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR), infeksi panggul (Pelvic Inflammatory Dissease/PID) setelah persalinan, bahkan dapat terjadi abortus.

 

2.2  ETIOLOGI

 

Bakterial vaginosis disebabkan oleh ketidakseimbangan flora alami bakteri (bakteri yang biasa ditemukan dalam vagina wanita). Bakterial vaginosis tidak sama dengan kandidiasis (infeksi jamur) atau kandidiasis (infeksi jamur) Trichomonas vaginalis (trikomoniasis)  yang  tidak  disebabkan oleh bakteri (Nordqvist, 2010).

 

Bakterial vaginosis umumnya terjadi karena pengurangan jumlah hidrogen peroksida normal yang memproduksi lactobacilli dalam vagina. Salah satu penyebab bakterial vaginosis adalah Organisme Gardnerella vaginitis, namun organisme tersebut bukan satu-satunya penyebab bakterial vaginosis. Bila beberapa jenis bakteri menjadi tidak seimbang, seorang wanita dapat mengalami bakterial vaginosis. Meskipun tidak berbahaya, tetapi kondisi ini dapat mengganggu (Wahyuningsih, 2010).

 

Secara bersamaan, ada peningkatan konsentrasi bakteri jenis lain, terutama bakteri anaerob (bakteri yang bisa tumbuh tanpa oksigen). Akibatnya, diagnosis dan pengobatan tidak sesederhana seperti mengidentifikasi dan menghilangkan salah satu jenis bakteri. Penggabungan bakteri menyebabkan infeksi yang tidak diketahui (medicinenet.com).

 

2.3 DIAGNOSIS

                        Untuk mendiagnosa adanya penyakit bacterial vaginosis para ahli biasanya mengambil sempel cairan vagina, kemudian memeriksanya engan mikroskop untuk mendeteksi mikroorganisme yang terkait dengan vaginosis bakteri, Para ahli juga ,endiagnosa dengan melihat bau amis,tidak adanya bacteri lactobasilus dan penurunan derajat keasaaman (PH) pada vagina.

 

2.4  CARA PENULARAN

                        Meskipun para ahli belum yakin bahwa hubungan seksual memiliki peranan penting dalam terjadinya vaginosis bacteri,namun penyakit ini biasa di tularkan melalui hubungan seksual atau bergonta ganti pasangan.

 

2.5  PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN

 

Bacterial vaginosis dapat dicegah dengan cara :

  • Tidak menggunakan bahan kimia (cairan pembersih) untuk vagina
  • Melakukan hubungan seksual hanya dengan pasangan yang sah
  • Menjaga personal hygiene, seperti : sering mengganti pakaian (celana dalam) agar tidak lembab

 

Terkadang vaginosis bacterial tidak memerlukan penanggulangan karena penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya . Hal ini akan terjadi apabila organisme lactobasillus akan kembali ke level normal dan bakteri jahat dalam vagina menurun.

 

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG

              Tes pH vagina merupakan salah satu tes skrining BV yang dapat dilakukan pada ibu hamil. Adanya faktor resiko pada ibu hamil diantaranya riwayat prematuritas dan BBLR dalam kaitannya dengan kejadian BV memberikan peringatan bahwa BV merupakan hal yang perlu mendapatkan penanganan.

            Dengan mempertimbangkan nilai sensitivitas tes pH vagina yang sangat tinggi dan reliabilitas eksterna yang sangat baik dalam menapis BV pada ibu hamil maka tes ini dapat dijadikan tes skrining BV pada ibu hamil. Apabila didapatkan hasil skrining positif maka pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan tes diagnostik yang lebih akurat. Selain tes skrining BV, dibutuhkan pula edukasi yang tepat mengenai upaya preventif terhadap kejadian BV pada ibu hamil sehingga ibu hamil dapat terhindar dari berbagai faktor resiko BV.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  KESIMPULAN

         Bacterial vaginosis ( BV ) adalah suatu kondisi patologis dimana terjadi perubahan ekologi vagina oleh karena pertumbuhan Lactobacillus yang merupakan flora normal dominan pada vagina digantikan oleh bakteri lain seperti Gardnerella vaginalis dan bakteri-bakteri anaerob lainnya.1-3 Penyebab BV pada umumnya belum diketahui secara jelas, namun BV dapat dihubungkan dengan adanya peningkatan pH vagina dan perubahan sekret vagina.

Untuk mendiagnosa adanya penyakit bacterial vaginosis para ahli biasanya mengambil sempel cairan vagina, kemudian memeriksanya engan mikroskop untuk mendeteksi mikroorganisme yang terkait dengan vaginosis bakteri. Tes pH vagina mempunyai nilai sensitivitas tinggi dan reliabilitas yang sangat baik meskipun spesifisitasnya rendah. Namun demikian, dalam skrining sensitivitas yang tinggi lebih diperlukan daripada spesifisitas. Oleh karena itu, tes pH vagina dapat digunakan sebagai alat skrining BV pada ibu hamil.

 

 

3.2  SARAN

 

        Diharapkan kepada para wanita, khususnya ibu-ibu untuk menjaga kebersihan daerah genetalia, guna menjaga keseimbangan ph dan mencegah terjadinya infeksi pada umumnya dan khususnya terjadinya vaginosis bacterial.

Untuk tenaga medis diharapkan dapat memberikan health education secara efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Holmes KK, Mardh PA, Sparling PF, Lemon SM, Stamm WE, Piot P,et al. Bacterial vaginosis. Sexuall    Transmitted Diseases. 3rd ed. New York:McGraw Hill,2005:563-86.
  • Keane F, Ison CA, Noble H, Estcourt C. Bacterial vaginosis. Sex TransmInfect 2006;82 Suppl 4:18.

 

HEPATITIS B DAN C Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya. Salah satu ancaman terhadap manusia adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Tubuh mempunyai cara dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Beberapa jenis penyakit seperti pilek dan batuk dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Dalam hal lain di katakan bahwa sistem pertahanan tubuh ( sistem imun ) orang tersebut cukup baik untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit itu. Tetapi bila kuman penyakit itu ganas, sistem pertahanan tubuh (terutama pada anak-anak atau pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah), tidak mampu mencegah kuman itu berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa kepada kecacatan bahkan kematian.

Infeksi Hepatitis B ditemukan di seluruh dunia, dengan tingkat prevalensi yang berbeda-beda antar negara. Pembawa infeksi kronis merupakan reservoir utama, di beberapa negara, khususnya di negara-negara belahan timur, 5-15 dari semua orang membawa virus, meskipun sebagian besar tidak menunjukkan gejala. Pasien dengan infeksi HIV, 10% adalah pembawa kronis hepatitis B. Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa 1,5 juta orang terinfeksi hepatitis B, dan diperkirakan 300.000 kasus baru terjadi setiap tahunnya. Sekitar 300 orang ini mati dengan hepatitis fulminan akut, dan 5-10% dari pasien yang terinfeksi hepatitis B kronis menjadi pembawa virus. Sekitar 4000 orang mati per tahun karena sirosis hatiterkait hepatitis B dan 1000 karena karsinoma hepatoseluler. Sekitar 50% dariinfeksi di Amerika Serikat menular secara seksual (Wilson, 2001).Sebelum skrining donor untuk anti-HCV (1992), HCV adalah penyebab paling umum pasca transfusi hepatitis di seluruh dunia, jumlahnya untuk sekitar 90% dari penyakit ini di Amerika Serikat. Studi yang dilakukan pada 1970 menunjukkan bahwa sekitar 7% dari penerima transfusi menderita hepatitis NANB, dan bahwa sampai 1% dari darah unit mungkin berisi virus. Pengenalan skrining anti-HCV telah mengurangi transmisi hingga hampir 100 %. Saat ini diAmerika Serikat, HCV menyumbang sekitar 20% dari kasus hepatitis virus akut, kurang dari 5% berhubungan dengan transfusi darah. Prevalensi anti-HCV tertinggi pada pengguna narkoba suntik dan penderita penyakit darah (hingga 98%), sangat bervariasi pada pasien hemodialisis (<10% -90%), prevalensi rendah pada heteroseksual dengan mitra seksual multipel, pria homoseksual, pekerjakesehatan dan kontak keluarga orang terinfeksi HCV (1% -5%), dan terendah didonor darah sukarela (0,3% -0,5% ). Dalam populasi umum bervariasi (0,2%-18%). Daerah prevalensi tinggi meliputi negara-negara di belahan timur, Negara-negara Mediterania dan daerah-daerah tertentu di Afrika dan Eropa Timur (WHO, 2010).

Di Indonesia, kurang lebih 10 persen (3,4-20,3%) dari populasi adalah pembawa virus hepatitis B (HBV). Prevalensi ini tidak menurun. Di Jakarta, hampir 9 persen pengguna narkoba suntikan (IDU) HBsAg+ (mempunyai infeksi HBV kronis, dan dapat menular pada orang lain). Namun di Asia-Pasifik, kebanyakan penularan terjadi dari ibu-ke-bayi, dan 90 persen anak yang terinfeksi tetap mempunyai infeksi kronis waktu menjadi dewasa. Penyakit hepatitis biasanya juga didapat karena seseorang telah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi, susu, atau air. Pada tahun 2001, ada lebih dari 10.000 kasus infeksi hepatitis akut  dilaporkan di AS (Anonim, 2010)

Ada empat serotipe HBV yang umum di Indonesia: adw di Sumatera, Java, Kalsel, Bali, Lombok, dan Maluku Utara; ayw di NTT/NTB lain dan Maluku; adr di Papua; ayr di Manado; dan campuran di Kalimantan, Sulawesi dan Sumbawa. Sementara genotipe B paling umum di Indonesia, tetapi juga ada C dan D. Dampak dari perbedaan serotipe dan genotipe tidak jelas.

  1. RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN

Dari latar belakang di atas, penyusun menyadari besarnya pengaruh bagi kita untuk mengenal dan mengetahui sebanyak-banyaknya tentang Penyakit Hepatitis B dan C yang di mulai dari pengertian, etiologi, masa inkubasi, masa diagnosis, cara penularan, sampai pencegahan dan penanggulangannya yang akan di bahas secara lengkap pada bab berikutnya.

Penyusun berharap dengan makalah ini para pembaca dapat mengetahui dan menambah pengetahuan tentang penyakit Hepatitis B dan C sehingga pembaca semua dapat sedini mungkin mencegah penyakit tersebut dan mengetahui cara penanggulangannya sehingga lingkungannya juga bisa bebas dari penyakit tersebut.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

  1. PENGERTIAN

HEPATITIS B

Hepatitis B adalah infeksi yang terjadi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Penyakit ini bisa menjadi akut atau kronis dan dapat pula menyebabkan radang, gagal ginjal, sirosis hati, dan kematian (Laila Kusumawati, 2006).

Penyakit hepatitis adalah peradangan hati yang akut karena suatu infeksi atau keracunan.  Hepatitis  B merupakan penyakit yang banyak ditemukan di dunia dan dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Hal ini karena selain prevelensinya tinggi, virus hepatitis B dapat menimbulkan problema pasca akut bahkan dapat terjadi cirrhosis hepatitis dan carcinoma hepatocelluler primer (Aguslina, 1997).

Hepatitis merupakan peradangan hati yang bersifat sistemik, akan tetapi hepatitis bisa bersifat asimtomatik. Hepatitis ini umumnya lebih ringan dan lebih asimtomatik pada yang lebih muda dari pada yang tua. Lebih dari 80% anak – anak menularkan hepatitis pada anggota keluarga adalah asimtomatik, sedangkan lebih dari tiga perempat orang dewasa yang terkena hepatitis A adalah simtomatik (Tjokronegoro, 1999).

Sepuluh persen dari infeksi virus hepatitis B akan menjadi kronik dan 20% penderita hepatitis kronik ini dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami cirrhosis hepatic dan carcinoma hepatoculler primer (hepatoma). Kemungkinan akan menjadi kronik lebih tinggi bila infeksi terjadi pada usia balita dimana respon imun belum berkembang secara sempurna. Pada saat ini diperkirakan terdapat kira – kira 350 juta orang pengidap (carrier) HBsAg dan 220 juta (78%) terdapat di Asia termasuk Indonesia (Sulaiman, 1994, dalam Aguslina, 1997). sekular.

Menurut National Institude of Health (dalam Alfian Helmy 2008)etiologi Hepatitis B adalah virus dan disebut dengan Hepatitis B virus. Misnadiarly ( dalam Alfian Helmy, 2008) menguraikan VHB terbungkus serta mengandung genoma DNA melingkar. Virus ini merusak fungsi lever dan sambil merusak terus berkembang dalam sel-sel hati (hepetocytes)

Akibat serangan itu sistem kekebalan tubuh kemudian memberi reaksi dan melawan. Kalau tubuh berhasil melawan maka virus akan terbasmi habis, tetapi jika gagal virus akan tetap tinggal dan menyebabkan hepatitis B kronis dimana pasien sendiri menjadi karier atau pembawa virus seumur hidupnya (Misnadiarly dalam Alfian Helmy, 2008).

HEPATITIS C

Hepatitis adalah istilah umum yang berarti radang hati dan dapat disebabkanoleh beberapa mekanisme, termasuk agen infeksius. Virus hepatitis dapatdisebabkan oleh berbagai macam virus yang berbeda seperti virus hepatitis A, B,C, D dan E. Penyakit kuning adalah ciri karakteristik penyakit hati dan bukanhanya karena virus hepatitis, diagnosis yang benar hanya dapat dilakukan dengan pengujian SERA pada pasien untuk mendeteksi adanya antivirus pada antibodi.Sebagian besar kasus terkait hepatitis karena transfusi disebabkan oleh hepatitis Avirus (HAV) atau virus hepatitis B (HBV), kedua hanya dikenal hepatitis manusia,virus ini dikenal pada tahun 1975. Pada waktu itu, Hepatitis C sudah ada, tapi dikenal dengan sebutan hepatitis non A non B (NANB). Pada tahun 1989 virushepatitis non A-B diidentifikasi dan dikloning, kemudian dinamai virus hepatitisC (HCV) (WHO, 2010).

  1. ETIOLOGI

HEPATITIS B

Hepatitis B disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB). Virus ini pertama kali ditemukan oleh Blumberg tahun 1965 dan dikenal dengan nama antigen Australia yang termasuk DNA virus.

Virus hepatitis B berupa partikel dua lapis berukuran 42 nm yang disebut dengan “Partikel Dane”. Lapisan luar terdiri atas antigen HBsAg yang membungkus partikel inti (core). Pada partikel inti terdapat hepatitis B core antigen (HBcAg) dan hepatitis B antigen (HBeAg). Antigen permukaan (HBsAg) terdiri atas lipoprotein dan menurut sifat imunologiknya protein virus hepatitis B dibagi menjadi 4 subtipe yaitu adw, adr, ayw, dan ayr. Subtype ini secara epidemiologis penting karena menyebabkan perbedaan geografik dan rasial dalam penyebaranya (Aguslina, 1997).

HEPATITIS C

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). HCV adalah virus RNA yang digolongkan dalam Flavivirus bersama-sama dengan virus hepatitis G (Yellow fever, dan Dengue, dalam Kusdarmadi, 2007) Virus ini umumnya masuk kedalam darah melalui tranfusi atau kegiatan-kegiatan yang memungkinkan virus ini langsung terpapat dengan sirkulasi darah Kecepatan replikasi HCV sangat besar, melebihi HIV maupun HBV. Virus ini bereplikasi melalui RNA-dependent RNA polimerase yang akan menghasilkan salinan RNA virus tanpa mekanismeproof-reading (mekanisme yang akan menghancurkan salinan nukleotida yang tidak persis sama dengan aslinya). Kondisi ini akan menyebabkan timbulnya banyak salinan-salinan RNA HCV yang sedikit berbeda namun masih berhubungan satu sama lain pada pasien yang disebutquasi specie s. sekarang ini ada sekurang-kurangnya enam tipe utama dari virus Hepatitis C (yang sering disebutgenotipe) dan lebih dari 50 subtipenya. Hal ini merupakan alasan mengapa tubuh tidak dapat melawan virus dengan efektif dan penelitian belum dapat membuat vaksin melawan virus Hepatitis C. Genotipe tidak menentukan seberapa parah dan seberapa cepat perkembangan penyakit Hepatitis C, akan tetapi genotipe tertentu mungkin tidak merespon sebaik yang lain dalam pengobatan

  1. MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS

HEPATITIS B

Masa inkubasi VHB ini biasanya 45 – 180 hari dengan batasan 60 – 90 hari, dimana setelah 2 minggu infeksi vvirus hepatiti B terjangkit, HbsAg dalam darah penderita sudah mulai dapat dideteksi. Perubahan dalam tubuh penderita akibat infeksi virus hepetitis B terus berkembang. Dari infeksi akut menjadi kronis,sesuai dengan umur penderita. Makin tua umur, makin besar kemungkinan menjadi kronis kemudian mengkerutan jaringan hati yang disebut dengan sirosis. Bila umur masih berlanjut keadaan itu berubah menjadi Karsioma hepatoseluler (Yatim dalam Alfian Helmy 2008)

Diagnosis infeksi hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi. Secara serologi pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5).

Adanya HBsAg dalam serum merupakan petanda serologis infeksi hepatitis B. Titer HBsAg yang masih positif lebih dari 6 bulan menunjukkan infeksi hepatitis kronis. Munculnya antibodi terhadap HBsAg (anti HBs) menunjukkan imunitas dan atau penyembuhan proses infeksi. Adanya HBeAg dalam serum mengindikasikan adanya replikasi aktif virus di dalam hepatosit. Titer HBeAg berkorelasi dengan kadar HBV DNA(6). Namun tidak adanya HBeAg (negatif) bukan berarti tidak adanya replikasi virus keadaan ini dapat dijumpai pada penderita terinfeksi HBV yang mengalami mutasi (precore atau core mutant). Penelitian menunjukkan bahwa pada seseorang HBeAg negatif ternyata memiliki HBV DNA > 105 copies/ml. Pasien hepatitis kronis B dengan HBeAg negatif yang banyak terjadi di Asia dan Mediteranea umumnya mempunyai kadar HBV DNA lebih rendah (berkisar 104-108 copies/ml) dibandingkan dengan tipe HBeAg positif. Pada jenis ini meskipun HBeAg negatif, remisi dan prognosis relatif jelek, sehingga perlu diterapi (JB Suharjo, B Cahyono)

HEPATITIS C

Masa inkubasi HCV terletak anatar HAV dengan HBV, yaitu sekitar 2 – 26 minggu, dengan rata-rata 8 minggu. Pada penderita hepatitis akut ditemukan Anti HCV positif pada 75,5% HNANB pasca-tranfusi, 35% pada HNANB sporadik dan hanya 2,4 pada HBV. Sebagian besar penderita yang terserang HCV akan menjurus jadi kronis.

Diagnosis “hepatitis C” jarang dilakukan selama fase akut dari penyakit karena mayoritas orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala selama fase penyakit. ”Mereka yang melakukan”mengalami gejala-gejala fase akut jarang cukup sakit untuk mencari perhatian medis. Diagnosis fase kronis hepatitis C juga menantang karena tidak adanya atau kurangnya spesifisitas gejala sampai penyakit hati lanjut berkembang, yang mungkin tidak terjadi sampai beberapa dekade ke penyakit.

Hepatitis C kronis dapat diduga berdasarkan sejarah medis (terutama jika ada riwayat penyalahgunaan obat IV atau penggunaan zat dihirup seperti kokain), riwayat tindikan atau tato, gejala yang tidak jelas, atau enzim hati yang abnormal atau fungsi hati tes ditemukan selama tes darah rutin. Kadang-kadang, hepatitis C adalah didiagnosis sebagai akibat dari skrining sasaran seperti donor darah (donor darah diskrining untuk berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah-termasuk hepatitis C) atau pelacakan kontak.

Hepatitis C pengujian dimulai dengan tes darah serologi digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap HCV. Anti-HCV antibodi dapat dideteksi pada 80% pasien dalam waktu 15 minggu setelah paparan, pada> 90% dalam waktu 5 bulan setelah paparan, dan di> 97% dengan 6 bulan setelah paparan. Secara keseluruhan, tes antibodi HCV memiliki nilai prediktif yang kuat positif terpajan virus hepatitis C, tetapi mungkin kehilangan pasien yang belum mengembangkan antibodi (serokonversi), atau memiliki tingkat cukup antibodi untuk mendeteksi. Jarang, orang yang terinfeksi dengan HCV tidak pernah mengembangkan antibodi terhadap virus dan oleh karena itu, tidak pernah tes positif menggunakan skrining antibodi HCV. Karena kemungkinan ini, pengujian RNA (lihat metode pengujian asam nukleat bawah) harus dipertimbangkan ketika tes antibodi adalah negatif tapi kecurigaan hepatitis C adalah tinggi (misalnya karena transaminase meningkat pada orang dengan faktor risiko untuk hepatitis C).

Anti-HCV antibodi menunjukkan paparan terhadap virus, namun”tidak dapat menentukan apakah infeksi berkelanjutan hadir”. Semua orang dengan positif anti-HCV tes antibodi harus menjalani tes tambahan untuk keberadaan virus hepatitis C itu sendiri untuk menentukan apakah infeksi hadir saat ini. Kehadiran virus diuji untuk menggunakan metode molekuler pengujian asam nukleat seperti polymerase chain reaction (PCR), transkripsi amplifikasi dimediasi (TMA), atau DNA bercabang (b-DNA). Semua tes asam nukleat molekul HCV memiliki kapasitas untuk mendeteksi apakah virus tidak hanya hadir, tetapi juga untuk mengukur jumlah yang hadir virus dalam darah (viral load HCV). Viral load HCV merupakan faktor penting dalam menentukan probabilitas respon terhadap terapi berbasis interferon, tetapi tidak””mengindikasikan keparahan penyakit atau kemungkinan perkembangan penyakit.

Pada orang dengan infeksi HCV dikonfirmasi, pengujian genotipe umumnya direkomendasikan. HCV genotipe pengujian digunakan untuk menentukan panjang diperlukan dan respon potensial untuk terapi berbasis interferon.

  1. CARA PENULARAN

HEPATITIS B

VHB menular melalui kontak dengan cairan tubuh. Manusia merupakan satu satunya host (pejamu) dari virus ini. Darah dan cairan tubuh yang lain merupakan faktor penting untuk media penularan. Transmisi atau perjalan alamiah VHB hingga terinfeksi pada manusia terjadi melalui 4 cara penularan yaitu perinatal, horizontal, kontak sensual, dan parental (WHO, dalam Alfian Helmy 2008)

Transmisi perinatal merupakan transmisi virus hepatitis B dari ibu ke bayi selama periode perinatal. Transmisi ini paling penting dalam prevalensi daerah endemis tinggi khususnya di Cina dan Asia Tenggara (yamada dalam Alfian Helmy,2008)

Transmisi Horizontal yaitu transmisi dari orang ke orang , yang dikenal terjadi pada daerah ayng rndemik tinggi yakni Afrika Sun-Sahara. Transmisi ini terjadi pada anak-anak yang berusia 4-6 tahun yang menyebar melaui kontak fisik yang dekat atau dalam keluarga (yamada dalam Alfian Helmy,2008).

Transmisi kontak sensual merupakan sumber penularan utama di dunia khususnya pada daerah-daerah endemis rendah seperti Amerika. Perilaku homoseksual dalam jangka waktu 5 tahun akan beresiko tinggi untuk terinfeksi hepatitis B. Faktor-faktor heteroseksual yang mempengaruhi untuk meningkatnya infeksi hepatitis B adalah lamanya aktifitas seksual, riwayat penyakit menular seksual sebelumnya dan seorologi sifilis yang positif (WHO dama Alfian Helmy, 2008)

Transmisi parental dapat berupa penggunaan jarum suntik secara bersama, transfusi darah, dialisis (cuci darah), akupuntur, pekerja kesehatan, dan tato. Resiko terinfeksi hepatitis B melalui tranfusi darah sekarang sudah mulai berkurang karena sudah ada skrining untuk hepatitis B walaupun kemungkinan untuk terinveksi masih ada (Zain dalam Alfian Helmy, 2008)

HEPATITIS C

Pada umumnya cara penularan HCV adalah parental. Semula penularan HCV dihubungkan dengan transfusi darah atau produk darah, melalui jarum suntik. Tetapi setelah ditemukan bentuk virus dari hepatitis, makin banyak laporan mengenai cara penularan lainnya, yang umumnya mirip dengan cara penularan HBV.

1. Penularan horizontal

Penularan HCV terjadi terutama melalui cara parental, yaitu tranfusi darah atau komponen produk darah, hemodialisa, dan penyuntikan obat secara intravena.

2. Penularan vertikal

Penularan vertikal adalah penularan dari seseorang ibu pengidap atau penderita Hepatitis C kepada bayinya sebelum persalinan, pada saat persalinan atau beberapa saat persalinan (Kusdarmadi, 2007)

  1. PENCEGAHAN DAN PENAGGULANGAN

HEPATITIS B

Menurut Park (dalam dr. Fazidah Aguslina Siregar) ada lima pokok pencegahan yaitu :

  1. Health Promotion, usaha peningkatan mutu kesehatan
  2. Specifik Protection, perlindungan secara khusus
  3. Early Diagnosis dan Prompt Treatment, pengenalan dini terhadap penyakit,serta pemberian pengobatan yang tepat
  4. Usaha membatasi cacat
  5. Usaha rehabilitasi

Dalam upaya pencegahan infeksi Virus Hepatitis B, sesuai pendapat Effendi dilakukan dengan menggabungkan antara pencegahan penularan dan pencegahan penyakit.

HEPATITIS C

Penyakit ini belum ada vaksin untuk pencegahannya, tetapi dapat disembuhkan asalkan diperiksa secara dini. Vaksinasi Hepatitis C belum bisa dilakukan karena virus hepatitis C bervariasi secara genetic. Selain itu, virus ini juga memiliki angka mutasi yang tinggi sehingga sering kali menghindari antibody tubuh. Dengan tingginya angka replikasi dapat dipastikan akan munculnya generasi HCV yang beraneka ragam dan mampu menghindari sistem kekebalan tubuh penderitanya (Kusdarmadi, 2007)

BAB III  

PEMBAHASAN

HEPATITIS B

Hepatitis B merupakan penyakit yang banyak ditemukan didunia dan dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Hal ini karena selain prevalensinya tinggi, virus hepatitis B dapat menimbulkan problema pasca akut bahkan dapat terjadi cirroshis hepatitis dan karsinoma hepatoseluler primer. Sepuluh persen dari infeksi virus hepatitis B akan menjadi kronik dan 20 % penderita hepatitis kronik ini dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami cirroshis hepatis dan karsinoma hepatoselluler (hepatoma). Kemungkinan akan menjadi kronik lebih tinggi bila infeksi terjadi pada usia balita dimana respon imun belum berkembang secara sempurna. Pada saat ini didunia diperkirnkan terdapat kira-kira 350 juta orang pengidap (carier) HBsAg dan 220 juta (78 %) diantaranya terdapat di Asia termasuk Indonesia. Berdasarkan pemeriksaan HBsAg pada kelompok donor darah di Indonesia prevalensi Hepatitis B berkisar antara 2,50-36,17 % (Sulaiman, dalam dr. Fazidah Aguslina Siregar). Selain itu di Indonesia infeksi virus hepatitis B terjadi pada bayi dan anak, diperkirakan 25 -45,g% pengidap adalah karena infeksi perinatal. Hal ini berarti bahwa Indonesia termasuk daerah endemis penyakit hepatitis B dan termasuk negara yang dihimbau oleh WHO untuk melaksanakan upaya pencegahan (Imunisasi). Hepatitis B biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui darah/darah produk yang mempunyai konsentrasi virus hepatitis B yang tinggi, melalui semen, melalui saliva, melalui alat-alat yang tercemar virus hepatitis B seperti sisir, pisau cukur, alat makan, sikat gigi, alat kedokteran dan lain-lain. Di Indonesia kejadian hepatitis B satu diantara 12-14 orang, yang berlanjut menjadi hepatitis kronik, chirosis hepatis dan hepatoma. Satu atau dua kasus meninggal akibat hepatoma. Mengingat jumlah kasus dan akibat hepatitis B, maka diperlukan pencegahan sedini mungkin. Pencegahan yang dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit penyakit hepatitis B melalui Health Promotion dan pencegahan penyakit melalui pemberian vasinasi. Menurut WHO bahwa pemberian vaksin hepatitis B tidak akan menyembuhkan pembawa kuman (carier) yang kronis, tetapi diyakini 95 % efektif mencegah berkembangnya penyakit menjadi carier

Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya didunia, Penyakit yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun. Seperti hal Hepatitis C, kedua penyakit ini dapat menjadi kronis dan akhirnya menjadi kanker hati. Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B.

Apabila seseorang terinfeksi virus hepatitis B akut maka tubuh akan memberikan tanggapan kekebalan (immune response). Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ke tiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis(1).

Pada kemungkinan pertama, tubuh mampu memberikan tanggapan adekuat terhadapvirus hepatitis B (VHB), akan terjadi 4 stadium siklus VHB, yaitu fase replikasi (stadium 1 dan 2) dan fase integratif (stadium 3 dan 4). Pada fase replikasi kadar HBsAg (hepatitis B surface antigen), HBV DNA, HBeAg (hepatitis Be antigen), AST (aspartate aminotransferase) dan ALT (alanine aminotransferase) serum akan meningkat, sedangkan kadar anti-HBs dan anti HBe masih negatif. Pada fase integratif (khususnya stadium4) keadaan sebaliknya terjadi, HBsAg, HBV DNA, HBeAg dan ALT/AST menjadi negatif/normal, sedangkan antibodi terhadap antigen yaitu : anti HBs dan anti HBe menjadi positif (serokonversi). Keadaan demikian banyak ditemukan pada penderita hepatitis B yang terinfeksi pada usia dewasa di mana sekitar 95-97% infeksi hepatitis B akut akan sembuh karena imunitas tubuh dapat memberikan tanggapan adekuat(2).

Sebaliknya 3-5% penderita dewasa dan 95% neonatus dengan sistem imunitas imatur serta 30% anak usia kurang dari 6 tahun masuk ke kemungkinan ke dua dan ke tiga; akan gagal memberikan tanggapan imun yang adekuat sehingga terjadi infeksi hepatitis B persisten, dapat bersifat carrier inaktif atau menjadi hepatitis B kronis (1,2)

Tanggapan imun yang tidak atau kurang adekuat mengakibatkan terjadinya proses inflamasi jejas (injury), fibrotik akibat peningkatan turnover sel dan stres oksidatf. Efek virus secara langsung, seperti mutagenesis dan insersi suatu protein x dari virus hepatitis B menyebabkan hilangnya kendali pertumbuhan sel hati dan memicu transformasi malignitas, sehingga berakhir sebagai karsinoma hepa-toselule.

HEPATITIS C

Sebelum ditemukan virus hepatitis C (HCV), dunia medis mengenal 2 virus sebagai penyebab hepatitis, yaitu : virus hepatitis A (VHA) dan virus hepatitis B (HVB). Namun demikian terdapat juga peradangan hati yang tidak disebabkan oleh kedua virus ini dan tidak dapat dikenal pada saat itu sehingga dinamakan hepatitis Non-A, Non-B (hepatitis NANB) dan akhirnya pada tahun 1988 para peneliti Chiron Corporation di California telah menemukan virus hepatitis baru yang disebut virus hepatitis C (HCV), ditemukan pada penderita HNANB yang transmisinya melalui darah atau produk. Genom virus ini merupakan untuaian RNA tunggal, yang panjangnya 10.000 nuklotida. HCV mengandung selubung lipid dengan diameter 50-60 nm dan sensitif terhadap pelarut organik misalnya kloroform. Antigen Virus mengandung 363 asam amino. Anti HCV telah ditemukan pada serum penderita HNANB pasca-tranfusi sebanyak 60-90%. Dengan demikian sejak saat ini HNANB yang transmisinya parental, disebut HCV.

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}. Penderita Hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, akan tetapi pada penderita Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker (cancer) hati. Sejumlah 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun


 

BAB IV

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Hepatitis diketegorikan dalam beberapa golongan, diantaranya hepetitis A,B,C,D,E,F dan G. Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan hepatitis C.

Hepatitis virus akut merupakan penyakit infeksi yang penyebarannya luas dalam tubuh walaupun efek yang menyolok terjadi pada hepar. Telah ditemukan 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab yaitu Virus Hepatitis A (HAV), Virus Hepatitis B (HBV), Virus Hepatitis C (HVC), Virus Hepatitis D (HDV), Virus Hepatitis E (HEV).

Walaupun kelima agen ini dapat dibedakan melalui petanda antigeniknya, tetapi kesemuanya memberikan gambaran klinis yang mirip, yang dapat bervariasi dari keadaan sub klinis tanpa gejala hingga keadaan infeksi akut yang total.

Bentuk hepatitis yang dikenal adalah HAV ( Hepatitis A ) dan HBV (Hepatitis B). kedua istilah ini lebih disukai daripada istilah lama yaitu hepatitis infeksiosa dan hepatitis serum, sebab kedua penyakit ini dapat ditularkan secara parenteral dan non parenteral.

Hepatitis B adalah infeksi yang terjadi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Penyakit ini bisa menjadi akut atau kronis dan dapat pula menyebabkan radang, gagal ginjal, sirosis hati, dan kematian. Sedangkan Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). HCV adalah virus RNA yang digolongkan dalam Flavivirus bersama-sama dengan virus hepatitis G.

Masa inkubasi VHB ini biasanya 45 – 180 hari dengan batasan 60 – 90 hari, dimana setelah 2 minggu infeksi vvirus hepatiti B terjangkit, HbsAg dalam darah penderita sudah mulai dapat dideteksi. Perubahan dalam tubuh penderita akibat infeksi virus hepetitis B terus berkembang. Masa inkubasi HCV terletak anatar HAV dengan HBV, yaitu sekitar 2 – 26 minggu, dengan rata-rata 8 minggu.

VHB menular melalui kontak dengan cairan tubuh. Manusia merupakan satu satunya host (pejamu) dari virus ini. Darah dan cairan tubuh yang lain merupakan faktor prnting untuk media penularan. Transmisi atau perjalan alamiah VHB hingga terinfeksi pada manusia terjadi mlalui 4 cara penularan yaitu perinatal, horizontal, kontak sensual, dan parental. Pada umumnya cara penularan HCV adalah parental. Semula penularan HCV dihubungkan dengan transfusi darah atau produk darah, melalui jarum suntik. Tetapi setelah ditemukan bentuk virus dari hepatitis, makin banyak laporan mengenai cara penularan lainnya, yang umumnya mirip dengan cara penularan HBV. Ada 2 cara penularan hepatitis C yaitu penularan secara horizontal dan penularab secara vertikal.

Ada lima pokok pencegahan yaitu :

  1. Health Promotion, usaha peningkatan mutu kesehatan
  2. Specifik Protection, perlindungan secara khusus
  3. Early Diagnosis dan Prompt Treatment, pengenalan dini terhadap penyakit,serta pemberian pengobatan yang tepat
  4. Usaha membatasi cacat
  5. Usaha rehabilitasi

Hepatitis C belum ada vaksin untuk pencegahannya, tetapi dapat disembuhkan asalkan diperiksa secara dini. Vaksinasi Hepatitis C belum bisa dilakukan karena virus hepatitis C bervariasi secara genetic.

  1. SARAN

Fokus pada peningkatan perilaku sehat di tingkat keluarga bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan. Diperlukan kerjasama yang lebih antar sesama anggota keluarga, agar tercapai kehidupan yang lebih sehat dan terhindar dari penyakit menular. Tim penggerak PKK dan Petugas Kesehatan harus lebih giat lagi melakukan penyuluhan akan pentingnya menjaga kesehatan mulai dari  tingkat keluarga sampai lingkungan masyarakat.

TYPHUS ABDOMINALIS Eidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

 Typhus Abdominalis terdapat di seluruh dunia dan penyebarannya tidak tergantung pada iklim, tetapi lebih banyak di jumpai pada negara-negara berkembang di daerah tropis. Diare dan Typhoid abdominalis (demam thypoid, entric fever) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran, penyebab penyakit ini adalah Salmonela Thyphosa (Ngatsiyah, 236 : 2005).

Penyakit typhus abdominallis atau demam thypod merupakan problem atau masalah yang serius bagi kesehatan masyarakat di Negara-negara yang berkembang seperti halnya Indonesia yang memiliki iklim tropis banyak di temukan penyakit infeksi salah satuhnya Typhus Abdominalis yang di temukan sepanjang tahun. Typhus abdominalis di sebabkan oleh salmonella tyhpi . Bila salmonella tyhpi berjalan bersama makanan atau terkontaminasi, ia berserang dijaringan limfoid pada dinding usus. Aliran limfe membawa organ ini kedalam hati dan empedu. Gejala demam tipoid atau Typhus abdominalis adalah suhu tubuh meningkat hingga 40c dengan frekuensi nadi relative lambat. Sering ada nyeri tekan di perut.

 

Insiden infeksi Typhus abdominalis tertinggi terjadi pada usia 1- 4 tahun. Kenyataannya sekarang penderita penyakit typhus di RS Roemani masih tinggi khususnya pada tahun 2008-2009 tercatat penderita typhus mencapai 70%, terdiri dari 50% penderita laki-laki , 20% penderita perempuan dan pada tahun 2009 , sampai april mencapai 414 penderita untuk kasus ini masuk dalam kategori 10 jenis penyakit terbesar  Typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama dengan enteritis akut, oleh karena itu penyakit ini disebut juga penyakit demam enterik. Penyebabnya adalah kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B dan C, selain demam enterik kuman ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (keracunan makanan) dan septikemia (tidak menyerang usus).

 

Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak, namun tidak tertutup kemungkinan untuk orang muda/dewasa. Kuman ini terdapat didalam kotoran, urine manusia, dan juga pada makanan dan minuman yang tercemar kuman yang dibawa oleh lalat. Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama thypus, tetapi dalam dunia kedokteran disebut Tyfoid fever atau thypus abdominalis, karena pada umumnya kuman menyerang usus, maka usus bisa jadi luka, dan menyebabkan perdarahan, serta bisa pula terjadi kebocoran usus.

 

Di Indonesia, diperkirakan insiden demam enterik adalah 300 – 810 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Menurut hasil SKRT tahun 1986 bahwa 3 % dari seluruh kematian (50.000 kematian) disebabkan oleh demam enterik. Penyakit ini meskipun sudah dinyatakan sembuh, namun penderita belum dikatakan sembuh total karena mereka masih dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain (bersifat carrier). Pada perempuan kemungkinan untuk menjadi carrier 3 kali lebih besar dibandingkan pada laki-laki. Sumber penularan utama ialah penderita demam enterik itu sendiri dan carrier, yang mana mereka dapat mengeluarkan berjuta-juta kuman Salmonella typhi dalam tinja dan tinja inilah yang merupakan sumber pencemaran.

Kuman tersebut masuk melalui saluran pencernaan, setelah berkembang biak kemudian menembus dinding usus menuju saluran limfa, masuk ke dalam pembuluh darah dalam waktu 24-72 jam. Kemudian dapat terjadi pembiakan di sistem retikuloendothelial dan menyebar kembali ke pembuluh darah yang kemudian menimbulkan berbagai gejala klinis.

Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes atau thypus, tetapi dalam dunia kedokteran disebut TYPHOID FEVER atau Thypus abdominalis, karena berhubungan dengan usus pada perut.

1.2  Tujuan

Penulisan dalam makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pencegahan dan pengobatan penyakit Thypus tersebut. Serta dapat mengetahui apa- apa saja yang menjadi dasar dari penyebab penyakit Thypus ini.

 

1.3  Manfaat

Adapun manfaat dari makalah ini adalah kita bisa mengetahui penyebab timbulnya penyakit Thypus tersebut, serta manfaatnya pun kita bisa mengetahui pencegahan apa saja yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penyakit Thypus.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Thypus Abdominalis

Typhoid fever (Demam Tifoid) yang biasa juga disebut typhus atau types oleh orang awam, merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Salmonella Enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi (S. Typhi) yang menyerang bagian saluran pencernaan (Anonim_a, 2009).

Typhus merupakan penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa. Tetapi demam tifoid lebih sering menyerang anak. Walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan daripada orang dewasa. Menurut Darmowandowo, selama terjadi infeksi bakteri S. typhi bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah (Anonim_b, 2007).

Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran. Pada paratipus – jenis tipus yang lebih ringan – mungkin sesekali mengalami buang-buang air . Jika diamati, lidah tampak berselaput putih susu, bagian tepinya merah terang. Bibir kering, dan kondisi fisik tampak lemah, serta nyata tampak sakit. Jika sudah lanjut, mungkin muncul gejala kuning, sebab pada tipus organ hati bisa membengkak seperti gejala hepatitis. Pada tipus limpa juga membengkak. Kuman tipus tertelan lewat makanan atau minuman tercemar. Bisa jadi sumbernya dari pembawa kuman tanpa ia sendiri sakit tipus. Kuman bersarang di usus halus, lalu menggerogoti dinding usus. Usus luka, dan sewaktu-waktu tukak tipus bisa jebol, dan usus jadi bolong.

Ini komplikasi tipus yang paling ditakuti. Komplikasi tipus umumnya muncul pada minggu kedua demam. Yaitu jika mendadak suhu turun dan disangka sakitnya sudah menyembuh, namun denyut nadi meninggi, perut mulas melilit, dan pasien tampak sakit berat. Kondisi begini membutuhkan pertolongan gawat darurat, sebab isi usus yang tumpah ke rongga perut harus secepatnya dibersihkan. Untuk tahu benar kena tipus harus periksa darah. Setelah minggu pertama demam tanda positif tipus baru muncul di darah (Uji Widal).

Pembawa kuman ini berbahaya jika profesinya pramusaji atau orang yang kerjanya menyiapkan makanan dan minuman jajanan (food handler). Sekarang tipus bisa dicegah dengan imunitas tipus. Penyakit tipus di Indonesia masih banyak. Mereka yang punya risiko tertular, tidak salahnya ikut vaksinasi.

Ada 3 metode untuk mendiagnosis penyakit demam typoid (Typhus), yakni :

  1. Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman.
  2.  Diagnosis serologik.
  3. Diagnosis klinik.

Metode diagnosa mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90 % penderita yang tidak diobati, kultur darahnya positif dalam minggu pertama. Hasil ini menurun drastis setelah pemakaian obat antibiotika dengan hasil positif menjadi 40 %. Meskipun demikian kultur sumsum tulang memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90 % positif.

Pada minggu-minggu selanjutnya kultur darah menurun, tetapi untuk tinja dan kultur urin meningkat yaitu 85 % dan 25 % berturut-turut positif pada minggu ketiga dan keempat. Organisme dalam tinja masih dapat ditemukan selama 3 bulan dari 90 % penderita dan kira-kira 3 % penderita tetap mengeluarkan kuman Salmonella typhi dalam tinjanya untuk jangka waktu yang lama yaitu menjadi carrier kronik mengeluarkan kuman Salmonella typhi dalam tinja seumur hidupnya dan carrier lebih banyak terjadi pada orang dewasa daripada anak-anak dan lebih sering mengenai wanita daripada laki-laki.

Diagnosis serologik tergantung pada antibody yang timbul terhadap antigen O dan H, yang dapat dideteksi dengan reaksi aglutinasi (test widan). Antibody terhadap antigen O dari group D timbul dalam minggu pertama sakit dan mencapai puncaknya pada minggu ketiga dan keempat yang akan menurun setelah 9 bulan sampai 1 tahun. Titer aglutinin 1/200 atau kenaikan titer lebih dari 4 kali berarti test Widal positif, hal ini menunjukkan infeksi akut Salmonella typhi.

 

  1. A.    Agent ( Kuman Penyebab)
  2. Morfologi Salmonella typhosa.

Kuman berbentuk batang, tidak berspora dan tidak bersimpai tetapi mempunyai flagel feritrik (fimbrae), pada pewarnaan gram bersifat gram negatif, ukuran 2 – 4 mikrometer x 0.5-0.8 mikrometer dan bergerak, pada biakan agar darah koloninya besar bergaris tengah 2 sampai 3 millimeter, bulat, agak cembung, jernih, licin dan tidak menyebabkan hemolisis (Gupte, 1990).

  1. Fisiologi

Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob, pada suhu 15 – 41o C (suhu

pertumbuhan optimum 37o C) dan pH pertumbuhan 6 – 8. Pada umumnya isolat kuman Salmonella dikenal dengan sifat-sifat, gerak positif, reaksi fermentasi terhadap manitol dan sorbitol positif dan memberikan hasil negatif pada reaksi indol, laktosa, Voges Praskauer dan KCN.

Sebagian besar isolat Salmonella yang berasal dari bahan klinik menghasilkan H2S. Samonella thypi hanya membentuk sedikit H2S dan tidak membentuk gas pada fermentase glukosa. Pada agar SS,Endo, EMB dan MacConkey koloni kuman berbentuk bulat, kecil dan tidak berwana, pada agar Wilson Blair koloni kuman berwarna hitam berkilat logam akibat pembentukan H2S.

  1. Daya tahan

Kuman akan mati karena sinar matahari atau pada pemanasan dengan suhu 60o C selama 15 sampai 20 menit, juga dapat dibunuh dengan cara pasteurisasi, pendidihan dan klorinasi serta pada keadaan kering. Dapat bertahan hidup pada es, salju dan air selama 4 minggu sampai berbulan-bulan. Disamping itu dapat hidup subur pada medium yang mengandung garam metil, tahan terhadap zat warna hijau brilian dan senyawa natrium tetrationat dan natrium deoksikolat. Senyawa-senyawa ini menghambat pertumbuhan kuman koliform sehingga senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan didalam media untuk isolasi Salmonella dari tinja (Gupte, 1990).

 

 

 

  1. B.     DISTRIBUSI TYPHUS ABDOMINALIS

 

Penyebaran penyakit tidak ada perbedaan dimana laki-laki maupun perempuan akan mempunyai resiko untuk terkena penyakit ini. Insiden yang tertinggi terjadi pada anak-anak, sedangkan pada orang dewasa penderita sering mengalami infeksi ringan dan biasanya sembuh sendiri yang pada akhirnya menjadi kebal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70 – 80 % pasien berumur 12 – 30 tahun, 10 – 20 % berumur 31 – 40 tahun dan lebih sedikit pada pasien berumur diatas 40 tahun.

Typhus abdominalis terdapat diseluruh dunia dan penyebarannya sebagai penyakit menular, tidak selalu bergantung pada iklim, tetapi lebih banyak dijumpai di negara-negara berkembang dan daerah dengan iklim tropis.

Di Indonesia, penyakit ini dapat ditemukan sepanjang tahun, dari hasil penelitian kemungkinan kasus ini lebih meningkat pada musim hujan, juga bisa pada musim kemarau atau pada peralihan musim kemarau kemusim hujan. Angka kesakitan demam tifoid di Indonesia masih tinggi berkisar antara 0,7 – 1 % (Depkes, 1985). Makanan dan minuman terkontaminasi merupakan mekanisme transmisi kuman Salmonella dan carrier adalah sumber infeksi. Salmonella typhi bisa berada dalam air, es, debu, sampah kering yang bila organisme ini masuk ke dalam vehicle yang cocok (daging, kerang dan sebagainya) akan berkembang bika mencapai dosis infektif.

 

  1. C.    Epidemiologi

Penyakit typhus abdominalis biasa dikenal dengan penyakit typhus. Namun, dalam dunia kedokteran disebut tyfoid fever. Di Indonesia, diperkirakan angka kejadian penyakit ini adalah 300 – 810 kasus per 100.000 penduduk/tahun. Insiden tertinggi didapatkan pada anak-anak. Orang dewasa sering mengalami infeksi ringan dan sembuh sendiri lalu menjadi kebal. Insiden penderita berumur 12 tahun keatas adalah 70 – 80%, penderita umur antara 12 dan 30 tahun adalah 10 – 20%, penderita antara 30 – 40 tahun adalah 5 – 10%, dan hanya 5 – 10% diatas 40 tahun.

  1. D.     Etiologi

Penyebab penyakit ini adalah Salmonella typhi, Salmonella para typhii A, dan Salmonella paratyphii B. Basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai 3 macam antigen yaitu antigen O, antigen H, dan antigen VI. Dalam serum penderita terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman tumbuh pada suasan aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 – 41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6 – 8.

  1. Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:

- antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)

- antigen H(flagella)

- antigen V1 dan protein membrane hialinSalmonella parathypi A

  1. Salmonella parathypi A
  2. salmonella parathypi B
  3. Salmonella parathypi C
  4. Faces dan Urin dari penderita thypus

 

  1. E.     Tanda dan Gejala

Masa inkubasi rata-rata 2 minggu gejalanya: cepat lelah, sakit kepala, rasa tidak enak di perut, dan nyeri seluruh badan. Demam berangsur-angsur naik selama minggu pertama. Demam terjadi terutama pada sore dan malam hari (febris remitten). Pada minggu 2 dan 3 demam terus menerus tinggi (febris kontinue) dan kemudian turun berangsur-angsur.

 

Gangguan gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor-berselaput putih dan pinggirnya hiperemis, perut agak kembung dan mungkin nyeri tekan, bradikardi relatif, kenaikan denyut nadi tidak sesuai dengan kenaikan suhu badan (Junadi, 1982).

Gejala penyakit ini baru bisa diketahui secara spesifik setelah virus telah cukup berkembang biak di organ, yang kadang kurang memicu kesadaran jadi sering kali baru diobati dengan benar setelah gejala terindentifikasi dengan spesifik dan jelas, bahkan ketika gejala stadium penyakit sudah cenderung kritis.

  1. Gejala awal yang perlu dikenali, yang dialami selama beberapa hari yaitu :
  2. Gejala tipus ringan (paratipus), yaitu:
  3. Gejala tipus stadium lanjut, yaitu: muncul gejala kuning, karena pada tipus organ hati bisa membengkak seperti gejala hepatitis.
  • Demam lebih seminggu, mulainya seperti flu akan tetapi jika tipus umumnya muncul sore dan malam hari.
  • Demam sukar turun
  • Nyeri kepala hebat
  • Perut terasa tidak enak
  • Tidak bisa buang air besar
  • Mengalami buang-buang air
  • Lidah tampak putih susu, bagian tepinya merah terang
  • Bibir kering
  • Kondisi fisik lemah

Sedangkan komplikasi yang akan terjadi pada penyakit tipus, pada umumnya muncul setelah minggu kedua demam, yaitu jika mendadak suhu turun dan disangka sakit sudah sembuh, sementara itu denyut nadi makin meinggi, perut melilit dan pasien tampak sakit berat. Kondisi seperti membutuhkan pertolongan gawat darurat, karena isi usu yang tumpah ke ronggo perut harus secepatnya dibersikan.

  1. F.     Patofisologi

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial.

Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.  Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

 

  1. G.    . Faktor Resiko

Penyakit Typhus dapat ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar dengan kuman Typhus. Bila anda sering menderita penyakit ini kemungkinan besar makanan atau minuman yang Anda konsumsi tercemar bakterinya. Hindari jajanan di pinggir jalan terlebih dahulu. Atau telur ayam yang dimasak setengah matang pada kulitnya tercemar tinja ayam yang mengandung bakteri Typhus , Salmonella typhosa, kotoran, atau air kencing dari penderita Typhus.

  1. H.    Upaya Pencegahan

Untuk mencegah agar seseorang terhindar dari penyakit ini kini sudah ada Vaksin Tipes atau Tifoid yang disuntikkan atau secara minum obat dan dapat melindungi seseorang dalam waktu 3 tahun. Mintalah Dokter anda memberikan imunisasi tersebut.

Atau dapat dengan cara :

  1. Usaha terhadap lingkungan hidup :

-          Penyediaan air minum yang memenuhi

-          Pembuangan kotoran manusia (BAK dan BAB) yang hygiene

-          Pemberantasan lalat.

-          Pengawasan terhadap rumah-rumah dan penjual makanan.

  1. Usaha terhadap manusia:                                                                                  

-          Imunisasi

-          Pendidikan kesehatan pada masyarakat : hygiene sanitasi personal hygiene

Pencegahan yang dapat di lakukan lagi yaitu:

-          Dengan mengetahui cara penyebaran penyakit, maka dapat dilakukan pengendalian.

-          Menerapkan dasar2 hygiene dan kesehatan masyarakat, yaitu melakukan deteksi dan isolasi terhadap sumber infeksi. Perlu diperhatikan faktor kebersihan lingkungan.

-          Pembuangan sampah dan klorinasi air minum, perlindungan terhadap suplai makanan dan minuman, peningkatan ekonomi dan peningkatan kebiasaan hidup sehat serta mengurangi populasi lalat (reservoir).

-          Memberikan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan (pemeriksaan tinja) secara berkala terhadap penyaji makanan baik pada industri makanan maupun restoran.

-          Sterilisasi pakaian, bahan, dan alat-alat yang digunakan klien dengan menggunakan antiseptik. Mencuci tangan dengan sabun.

-          Deteksi karier dilakukan dengan tes darah dan diikuti dengan pemeriksaan tinja dan urin yang dilakukan berulang-ulang. Klien yang karier positif dilakukan pengawasan yang lebih ketat yaitu dengan memberikan informasi tentang kebersihan personal.

  1. I.       Teraphy / Pengobatan

Pengobatan pada penderita ini meliputi tirah baring, diet rendah serat – tinggi kalori dan protein, obat-obatan berupa antibiotika, serta pengobatan terhadap komplikasi yang mungkin timbul. Obat untuk penyakit Types adalah antibiotika golongan Chloramphenikol, Thiamphenikol, Ciprofloxacin dll yg diberikan selama 7 – 10 hari. Lamanya pemberian antibiotika ini harus cukup sesuai resep yg dokter berikan. Jangan dihentikan bila gejala demam atau lainnya sudah reda selama 3-4 hari minum obat. Obat harus diminum sampai habis ( 7 – 10 hari ). Bila tidak, maka bakteri Tipes yg ada di dalam tubuh pasien belum mati semua dan kelak akan kambuh kembali

Penyakit ini tidak terlalu parah, namun sangat dapat menganggu aktifitas kita. Yang sangat dibutuhkan adalah istirahat total selama beberapa minggu bahkan bulan. Bagi orang yang sangat aktif, hal ini sangat menderita. Anda terasa tidak bisa apa-apa ( setidaknya ini yang saya rasakan ketika menderita penyakit ini).

Yang perlu diperhatikan pasca terkena Tipes adalah pola makan yang benar. Misalnya harus lunak, ya terapkan makan lunak sampai batas yang telah ditentukan dokter, kemudian makanan yang berminyak, pedas, asam, spicy hindari. Kurangi kegiatan yang terlalu menguras tenaga. Kemudian untuk menjaga stamina bisa diberikan Kapsul Tapak ( sesuai ketentuan dokter) Liman 3 x 2 Kaps/hr, Kaps Daun sendok 3 x 2 Kaps.hr, dan Patikan Kebo 3 x 1 Kaps/hr. (untuk membantu mempercepat penyembuhan luka diusus akibat Typus).      

  1. J.      Pemeriksaan Penunjang

Untuk menegakkan diagnosa penyakit typhus abdominalis perlu dilakukan pemeriksaan yaitu pemeriksaan laboratorium:

  1. Darah tepi

-          Terdapat gambaran leucopenia

-          limfositosis relatif dan

-          ameosinofila pada permulaan sakit

-          mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan

  1. K.    Komplikasi

1.    Pada usus halus:

  • Perdarahan usus. Hanya sedikit ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak, terjadi melena, dapat disertai nyeri perut.
  • Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum.
  • Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut hebat, dinding abdomen tegang dan nyeri tekan.

2.    Di luar usus

Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterinya) yaitu meningitis, kolesistisis, enselovati, dll.

 

BAB III

PENDAHULUAN

3.1  HASIL DAN PEMBAHASAN

Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama dengan eteristis akut, oleh karena itu penyakit ini di sebut juga penyakit demam entrik.

Hasil yang di peroleh yaitu penderita penyakit Thypus ini dengan pemberian antibiotic yang efektif dapat mengurangi angka kematian ( di Amerika angka kematian turun menjadi 1 % bahkan kurang), antiboatik kloramfenikol masih di pakai sebagai obat standar dimana efektivitas obat- obatan lain masih di banding kan. Perlu di ketahui kloramfenikol mempunyai efek tosik terhadap sumsum belakang. Penggunaan klomfenikol, demam akan turun rata- rata setelah 5 hari. Obat- obat lain seperti Ampysilin, amoksisilin, dan trimetropin sulfametoksasole dapat di pergunakan untuk pengobatan.

Dengan mengetahui cara penyebaran penyakit maka dapat dilakukan pengendalian dengan menerapkan dasar-dasar hygiene dan kesehatan masyarakat yaitu melakukan deteksi dan isolasi terhadap sumber infeksi, perlu diperhatikan faktor kebersihan lingkungan, pembuangan sampah dan clorinasi air minum, perlindungan terhadap suplai makanan dan minuman, peningkatan ekonomi dan peningkatan kebiasaan hidup sehat serta mengurangi populasi lalat (reservoir).

Memberikan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan (terutama pemeriksaan tinja) secara berkala terhadap penyaji makanan baik pada industri makanan maupun restoran. Selain itu yang sangat penting adalah sterilisasi pakaian, bahan dan alat-alat yang digunakan pasien dengan memberikan antiseptik, dianjurkan pula bagi pengunjung untuk mencuci tangan dengan sabun dan memberikan desinfektan pada saat mencuci pakaian.

Deteksi carrier dilakukan dengan cara test darah dan diikuti dengan pemeriksaan tinja dan urine yang dilakukan berulang-ulang.. Pasien yang cerrier positif diperlukan pengawasan yang lebih ketat yaitu denganmemberikan informasi tentang hygiene perorangan dan cara meningkatkan standar hygiene agar tidak berbahaya bagi orang lain.

Tabel 1. Karakteristik Anggota Rumah Tangga Terhadap Typhus

Kategori

Terjangkit

Tidak Terjangkit

Asal daerah (x1)

Perkotaan

20 (1,1%)

195 (10,7%)

Perdesaan

85 (4,7%)

1516 (83,5%)

Jenis Kelamin (x2)

Laki-laki

55 (3%)

790 (43,5%)

 

Perempuan

50 (2,8%)

921 (50,7%)

Status Sosial Ekonomi (x3)

Miskin

70 (3,9%)

760 (41,9%)

Tidak Miskin

35 (1,9%)

951 (52,4%)

Kualitas Fisik Air Minum (x4)

Keruh

39 (2,1%)

376 (20,7%)

Tidak Keruh

66 (3,7%)

1335 (73,5%)

Tempat Penampungan Air Minum (x5)

Tandon Terbuka

82 (4,5%)

996 (54,8%)

Tando Tertutup

13 (0,7%)

168 (9,3%)

Tidak Ada

10 (0,6%)

547 (30,1%)

Tempat Pembuangan Sampah (x6)

Tertutup

1 (0,1%)

103 (5,7%)

Terbuka

53 (2,9%)

616 (33,9%)

Tidak Ada

51 (2,8%)

992 (54,6%)

Tempat Penampungan Air Limbah (x7)

Tertutup di pekarangan

 

11 (0,6%)

171 (9,4%)

Terbuka di pekarangan

44 (2,4%)

507 (27,9%)

 

Di luar pekaranagan

12 (0,7%)

150 (8,3%)

 

Tanpa penampungan

24 (1,3%)

543 (29,9%)

 

Langsung ke got/sungai

14 (0,8%)

340 (18,7%)

Tempat Buang Air Besar (x8)

Jamban

46 (2,6%)

1004 (55,3%)

Bukan Jamban

59 (3,2%)

707 (38,9%)

Kebiasaan Cuci Tangan setelah BAB (x9)

Ya

63 (3,5%)

841 (46,3%)

Tidak

42 (2,3%)

870 (47,9%)

Kebiasaan Cuci tangan sebelum makan (x10)

Ya

93 (5,1%)

1132 (62,3%)

Tidak

12 (0,7%)

579 (31,9%)

Penyuluhan Kesehatan (x11)

Ya

5 (0,3%)

282 (15,5%)

Tidak

100 (5,5%)

1429 (78,7%)

 

Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik dari masing-masing variabel prediktor yang terjangkit Typhus terbesar adalah anggota rumah tangga dari pedesaan (4,7%), jenis kelamin laki-laki (3%), status social ekonomi miskin (3,9%), kualitas fisik air minum tidak keruh (3,7%), tidak ada tandon untuk menampung air minum (4,5%), tempat sampah terbuka (2,9%),penampungan limbah terbuka di pekarangan (2,4%), tempat buang air besar tidak di jamban (3,2%), mempunyai kebiasaan cuci tangan pakai sabun setelah buang air besar (3,5%/), mempunyai kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan (5,1%), dan tidak pernah mengikuti penyuluhan kesehatan (5,5%).

 

BAB VI

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari makalah di atas dapat di simpulkan bahwa pengertian penyakit Typhus adalah penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa. Tetapi demam tifoid lebih sering menyerang anak. Walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan daripada orang dewasa. Menurut Darmowandowo, selama terjadi infeksi bakteri S. typhi bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah (Anonim_b,2007).

Penyakit typhus abdominallis atau demam thypod merupakan problem atau masalah yang serius bagi kesehatan masyarakat di Negara-negara yang berkembang seperti halnya Indonesia yang memiliki iklim tropis banyak di temukan penyakit infeksi salah satuhnya Typhus Abdominalis yang di temukan sepanjang tahun. Typhus abdominalis di sebabkan oleh salmonella tyhpi.

Ada 3 metode untuk mendiagnosis penyait demam typoid (Typhus), yakni :

  1. Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman.
  2. Diagnosis serologik.
  3. Diagnosis klinik.

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat.

Dengan mengetahui cara penyebaran penyakit maka dapat dilakukan pengendalian dengan menerapkan dasar-dasar hygiene dan kesehatan masyarakat yaitu melakukan deteksi dan isolasi terhadap sumber infeksi, perlu diperhatikan faktor kebersihan lingkungan, pembuangan sampah dan clorinasi air minum, perlindungan terhadap suplai makanan dan minuman, peningkatan ekonomi dan peningkatan kebiasaan hidup sehat serta mengurangi populasi lalat (reservoir).

 

4.2. Saran

 

Melalui makalah ini saya selaku penyusun makalah ini berharap agar pembaca senantiasa memperdulikan akan kesehatannya sendiri, lingkungan dan sekitarnya agar terhindar dari penyakit menular khususnya penyakit Typhus dengan melakukan pencegahan sejak dini sehinnga penyakit ini tidak menjadi suatu Kejadian Luar Biasa (KLB).

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Gupte, S. 1990. Mikrobiologi Dasar. Alih bahasa Julius ES. Binarupa Aksara. Edisi III.
  2. Simanjuntak, C H. 1990. Masalah Demam Tifoid di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran No.60
  3. Staf Pengajar Fakultas Kedokteran UI, “Mikrobiologi Kedokteran”, P.T. Binarupa Aksara, Jakarta, 1993.
  4. Staf pengajar FKUNDIP. 1996. Pengendalian Demam Tifoid. Jen. I.
  5. Sudibjo, HR, “Jurnal Kedokteran YARSI”, Vol.4 No. 1 Jakarta, 1996, Januari.
  6. Suzzane C. Smeltzer, Brenda G. Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol.1. Jakarta : EGC.
  7. Soepaman, Sarwono Waspadji. 2001. Ilmu Penyakit dalam Jilid II Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
  8. Jevuska. 2008. Demam Tifoid (Typhoid Fever), <http://www.jevuska.com/2008/05/10-/demam-tifoidtyphoid- fever, tanggal akses: 26 September 2009>.
  9. http://www.mediastore.co.id/kesehatan/news/0602/08/095423.htm
  10. http://www.infokesehatan.co.id

 

SCHISTOSOMIASIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Menurut who  sehat adalah terbebas dari segalah jenis penyakit baik fisik ,psikis( jiwa) atau emosional ,intelektual dan social. Dari pengertian tesebut, dengan demikian sakit dapat di definisikan sebagai suatu kondisi cacat atau kelainan yang di sebabkan oleh gangguan penyakit, emosional , intelektuak, dan social, dengan kata lain, sakit adalah adanya gangguan jasmani, rohani, atau social sehingga tidak dapat befungsi secara normal, selaras, dan seimbang. Berdasarkan hal itu, maka penyakit dapat di bedakan menjadi penyakit tidak menular dan tidak menular.

Dalam pengertian medis, penyakit menular atau penyakit infeksi adalah penyakit yang di sebabkan oleh agen biologi ( seperti virus, bacteria atau parasit), bukan di sebabkan factor fisik (seperti luka bakar ) atau kimia (seperti keracunan )untuk Negara yang sedang berkembang, penyakit infeksi seperti TBC, tetanus, kusta merupakan penyebab utama kematian penduduk.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Defenisi mengenai penyakit schistosomiasis
  2. Apa saja penyebab terjadinya penyakit schistosomiasis
  3. Bagaimana masa inkubasi dan diagnosis penyakit schistosomiasis
  4. Bagaimana cara penularan penyakit schistosomiasis
  5. Bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan penyakit schistosomiasis

 

1.3  Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian tentang penyakit shistosomiasis
  2. Agar kita dapat mengetahui cara penyebaran penyakit schistosomiasis
  3. Untuk mengetahui bagaimana masa inkubasi dan diagnosisi penyakit schistosomiasis
  4. Agar kita dapat mengetahui bagaimana cara penularan penyakit schistosomiasis
  5. Agar kita dapat mengetahui bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan penyakit schistosomiasis

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1  Pengertian

Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh infeksi cacing yang tergolong dalam genus Schistosoma. (Miyazaki, 1991)

Schistosomiasis (bilharziasis) adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing pipih (cacing pita). Ini seringkali menyebabkan ruam, demam, panas-dingin, dan nyeri otot dan kadangkala menyebabkan nyeri perut dan diare atau nyeri berkemih dan pendarahan.

Schistosomiasis mempengaruhi lebih dari 200 juta orang di daerah tropis dan subtropis di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Lima jenis schistosoma yang paling menyebabkan kasus pada schistosomiasis pada orang:

  • Schistosoma hematobium menginfeksi saluran kemih (termasuk kantung kemih)
  • Schistosoma mansoni, Schistosoma japonicum, Schistosoma mekongi, dan Schistosoma intercalatum menginfeksi usus dan hati. Schistosoma mansoni menyebar luas di Afrika dan satu-satunya schistosome di daerah barat.

Di Indonesia, schistosomiasis disebabkan oleh Schistosoma japonicum ditemukan endemik di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu. Secara keseluruhan penduduk yang berisiko tertular schistosomiasis (population of risk) sebanyak 15.000 orang.

Penelitian schistosomiasis di Indonesia telah dimulai pada tahun 1940 yaitu sesudah ditemukannya kasus schistosomiasis di Tomado, Dataran Tinggi Lindu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada tahun 1935. Pada tahun 1940 Sandground dan Bonne mendapatkan 53% dari 176 penduduk yang diperiksa tinjanya positif ditemukan telur cacing Schistosoma.

2.2  Etiologi

Schistosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit schistosoma, yaitu sejenis parasit berbentuk cacing yang menghuni pembuluh darah usus atau kandung empedu orang yang dijangkiti.

Schistosomiasis diperoleh dari berenang, menyeberangi, atau mandi di air bersih yang terkontaminasi dengan parasit yang bebas berenang. Schistosomes berkembang biak di dalam keong jenis khusus yang menetap di air, dimana mereka dilepaskan untuk berenang bebas di dalam air. Jika mereka mengenai kulit seseorang, mereka masuk ke dalam dan bergerak melalui aliran darah menuju paru-paru, dimana mereka menjadi dewasa menjadi cacing pita dewasa. Cacing pita dewasa tersebut masuk melalui aliran darah menuju tempat terakhir di dalam pembuluh darah kecil di kandung kemih atau usus, dimana mereka tinggal untuk beberapa tahun. Cacing pita dewasa tersebut meletakkan telur-telur dalam jumlah besar pada dinding kandung kemih atau usus. Telur-telur tersebut menyebabkan jaringan setempat rusak dan meradang, yang menyebabkan borok, pendarahan, dan pembentukan jaringan luka parut. Beberapa telur masuk ke dalam kotoran(tinja)atau kemih. Jika kemih atau kotoran pada orang yang terinfeksi memasuki air bersih, telur-telur tersebut menetas, dan parasit memasuki keong untuk mulai siklusnya kembali.

Schistosoma mansoni dan schistosoma japonicum biasanya menetap di dalam pembuluh darah kecil pada usus. Beberapa telur mengalir dari sana melalui aliran darah menuju ke hati. Akibatnya peradangan hati bisa menyebabkan luka parut dan meningkatkan tekanan di dalam pembuluh darah yang membawa darah antara saluran usus dan hati (pembuluh darah portal). Tekanan darah tinggi di dalam pembuluh darah portal (hipertensi portal) bisa menyebabkan pembesaran pada limpa dan pendarahaan dari pembuluh darah di dalam kerongkongan.

Telur-telur pada schistosoma hematobium biasanya menetap di dalam kantung kemih, kadangkala menyebabkan borok, ada darah dalam urin, dan luka parut. Infeksi schistosoma hematobium kronis meningkatkan resiko kanker kantung kemih.

Semua jenis schistosomiasis bisa mempengaruhi organ-organ lain (seperti paru-paru, tulang belakang, dan otak). Telur-telur yang mencapai paru-paru bisa mengakibatkan peradangan dan peningkatan tekanan darah di dalam arteri pada paru-paru (hipertensi pulmonari).

2.3  Masa Inkubasi dan Diagnosis

  1. a.      Masa Inkubasi

Ketika schistosomes pertama kali memasuki kulit, ruam yang gatal bisa terjadi (gatal perenang). Sekitar 4 sampai 8 minggu kemudian (ketika cacing pita dewasa mulai meletakkan telur), demam, panas-dingin, nyeri otot, lelah, rasa tidak nyaman yang samar (malaise), mual, dan nyeri perut bisa terjadi. Batang getah bening bisa membesar untuk sementara waktu, kemudian kembali normal. kelompok gejala-gejala terakhir ini disebut demam katayama.

 

Gejala-gejala lain bergantung pada organ-organ yang terkena:

  1. Jika pembuluh darah pada usus terinfeksi secara kronis : perut tidak nyaman, nyeri, dan pendarahan (terlihat pada kotoran), yang bisa mengakibatkan anemia.
  2. Jika hati terkena dan tekanan pada pembuluh darah adalah tinggi : pembesaran hati dan limpa atau muntah darah dalam jumlah banyak.
  3. Jika kandung kemih terinfeksi secara kronis : sangat nyeri, sering berkemih, kemih berdarah, dan meningkatnya resiko kanker kandung kemih.
  4. Jika saluran kemih terinfeksi dengan kronis : peradangan dan akhirnya luka parut yang bisa menyumbat saluran kencing.
  5. Jika otak atau tulang belakang terinfeksi secara kronis (jarang terjadi) : Kejang atau kelemahan otot.
  6. b.      Diagnosis

Wisatawan dan imigran dari daerah-daerah dimana schistosomiasis adalah sering terjadi harus ditanyakan apakah mereka telah berenang atau menyeberangi air alam. Dokter bisa memastikan diagnosa dengan meneliti contoh kotoran atau urin untuk telur-telur. Biasanya, beberapa contoh diperlukan, tes darah bisa dilakukan untuk memastikan apakah seseorang telah terinfeksi dengan schistosoma mansoni atau spesies lain, tetapi tes tersebut tidak dapat mengindikasikan seberapa berat infeksi atau seberapa lama orang tersebut telah memilikinya. Untrasonografi bisa digunakan untuk mengukur seberapa berat schistosomiasis pada saluran kemih atau hati.

2.4  Cara Penularan

Schistosomiasis adalah penyakit  menular; penularannya melalui air. Mula-mula schistosomiasis menjangkiti orang melalui kulit dalam bentuk cercaria yang mempunyai ekor berbentuk seperti kulit manusia, parasit tersebut mengalami transformasi yaitu dengan cara membuang ekornya dan berubah menjadi cacing.

Selanjutnya cacing ini menembus jaringan bawah kulit dan memasuki pembuluh darah menyerbu jantung dan paru-paru untuk selanjutnya menuju hati. Di dalam hati orang yang dijangkiti, cacing-cacing tersebut menjadi dewasa dalam bentuk jantan dan betina. Pada tingkat ini, tiap cacing betina memasuki celah tubuh cacing jantan dan tinggal di dalam hati orang yang dijangkiti untuk selamanya. Pada akhirnya pasangan-pasangan cacing Schistosoma bersama-sama pindah ke tempat tujuan terakhir yakni pembuluh darah usus kecil yang merupakan tempat persembunyian bagi pasangan cacing Schistosoma sekaligus tempat bertelur.

2.5  Pencegahan dan Penanggulangan

  1. a.      Pencegahan

Schistosomiasis paling baik dicegah dengan menghindari berenang, mandi, atau menyeberang di air alam di daerah yang diketahui mengandung schistosomes.

  1. b.      Penanggulangan

Pemberantasan schistosomiasis telah dilakukan sejak tahun 1974 dengan berbagai metoda yaitu pengobatan penderita dengan Niridazole dan pemberantasan siput penular (O. hupensis lindoensis) dengan molusisida dan agroengineering.

Pemberantasan yang dilakukan dengan metodatersebut dapat menurunkan prevalensi dengansangat signifikan seperti di Desa Anca dari 74% turun menjadi 25%.

Kegiatan pemberantasan schistosomiasis secara intensif dimulai pada tahun 1982. Pemberantasan pada awalnya dititikberatkan pada kegiatan penanganan terhadap manusianya yaitu pengobatan penduduk secara masal yang ditunjang dengan kegiatan penyuluhan, pengadaan sarana kesehatan lingkungan, pemeriksaan tinja penduduk, pemeriksaan keong penular dan tikus secara berkala dan rutin. Hasil pemberantasan tersebut mampu menurunkan prevalensi schistosomiasis.`

Masalah schistosomiasis cukup komplekskarena untuk melakukan pemberantasan harusmelibatkan banyak faktor, dengan demikian pengobatan massal tanpa diikuti oleh pemberantasan hospes perantara tidak akan mungkin  menghilangkan penyakit tersebut untuk waktu yang lama. Selain itu schistosomiasis di Indonesia merupakan penyakit zoonosis sehingga sumber penular tidak hanya pada penderita manusia saja tetapi semua hewan mamalia yang terinfeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penularan schistosomiasis di Desa Dodolo dan Mekarsari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Dodolo dan Desa Mekarsari Dataran tinggi Napu Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dilakukan dengan cara:

  1. Survei Tinja

Telah dilakukan pemeriksaan tinja terhadap 261 orang di Desa Dodolo dan 917 orang di Desa Mekarsari. Hasil pemeriksaan tinja tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Tinja di Desa Dodolo dan Mekarsari Dataran Tinggi Napu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Tahun 2008

Desa

Jumlah Penduduk

Pasif

Prevalensi (%)

Diperiksa

S. japonicum

Dodolo

261

18

6,9

Mekarsari

917

56

6,1

 

Jumlah penduduk yang ditemukan positiftelur S. japonicum di Desa Dodolo yaitu 18 orangdengan prevalensi 6,9% sedangkan jumlahpenduduk yang ditemukan positif di DesaMekarsari yaitu 56 orang dengan prevalensi 6,1%.Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan denganprevalensi secara keseluruhan di Dataran TinggiNapu pada tahun 2008 yaitu 2,4%,  tetapi masihlebih rendah dibandingkan di Cina pada tahun2003 yaitu 92,74% dan di Propinsi Jiangxi, Chinapada tahun 2005 yaitu 18,08%.  Fluktuasi inidisebabkan antara lain karena cakupan pemeriksaantinja yang bervariasi. Pada tahun 2004,persentase cakupan survei tinja di Desa Dodoloyaitu 99% dan di Desa Mekarsari yaitu 92%. Padatahun 2005, cakupan survei tinja menurun di duadesa tersebut yaitu 87% di Desa Dodolo dan 80%  di Desa Mekarsari. Pada tahun 2006, cakupansurvei tinja di Desa Dodolo turun menjadi 86%sedangkan di Desa Mekarsari menurun drastis,hanya mencapai 33%, yaitu dari 893 pendudukhanya 297 penduduk yang mengumpulkantinjanya untuk diperiksa. Fluktuasi prevalensischistosomiasis disebabkan karena cakupanpemeriksaan tinja yang bervariasi setiap tahun.

Fluktuasi prevalensi schistosomiasiskemungkinan juga disebabkan karena adanyareinfeksi. Masyarakat yang pernah menderitaschistosomiasis dan telah mendapat pengobatankembali melakukan kegiatan sehari-hari di daerahfokus yaitu di sawah, kebun coklat, kebun sayurataupun melintasi daerah fokus. Fluktuasiprevalensi schistosomiasis terjadi karena adanyareinfeksi schistosomiasis.

Selain itu penyebab tingginya prevalensi khususnya di Desa Mekarsari disebabkan karena banyaknya pendatang ke daerah tersebut membuka persawahan maupun perkebunan di daerah fokus. Pendatang tersebut tidak mempunyai kekebalan sehingga dapat terpapar infeksi di daerah yang baru. Infeksi schistosomiasis di daerah endemis dengan mudah menular pada pendatang karena belum memiliki imunitas terhadap penyakit tersebut.

Prevalensi schistosomiasis yang tinggi di dua desa tersebut, mungkin juga disebabkan karena habitat keong O. hupensis lindoensis terletak di sekitar pemukiman penduduk. Penduduk yang banyak terinfeksi schistosomiasis di Daerah Danau Poyang, China adalah penduduk yang rumahnya lebih dekat ke danau (focus keong) dan lebih sering terpapar air danau.

  1. Survei keong Oncomelania hupensis lindoensis

Keong Oncomelania memegang peranan penting dalam penularan schistosomiasis, oleh karena perkembangan stadium larvanya mulai dari mirasidium sampai bentuk serkaria terjadi dalam keong tersebut.

Pada penelitian ini, selain dilakukan pemeriksaan tinja, juga dilakukan survei keong untuk mengetahui keberadaan keong O. hupensis lindoensis sebagai hospes perantara S. japonicum. Hasil survei keong O. hupensis lindoensis dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Survei Keong O.h. lindoensis di Desa Dodolo dan Mekarsari Dataran Tinggi Napu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Tahun 2008

Desa

Jumlah Sampel

Jumlah Keong

Kepadatan (m2)

Keong Positif

Infection Rate

Dodolo

270

252

65,3

7

2,8

Mekarsari

270

308

79,9

8

2,6

Total

540

560

72,6

15

2,7

 

Survei dilakukan pada masing-masing 9 fokus di Desa Dodolo dan Desa Mekarsari. Jumlah keong yang ditemukan sebanyak 560 yaitu 252 di Dodolo dan 308 di Mekarsari dengan infection rate di Dodolo dan Mekarsari yaitu 2,8% dan 2,6%. Jumlah sampel keong O. hupensis lindoensis di Desa Dodolo dan Mekarsari yaitu 270 dengan kepadatan 65,3 m2 dan 79,9 m2. Angka ini bila dibandingkan pada tahun sebelumnya mengalami peningkatan sebanyak 2,28% di Dodolo dan 2,1% di Mekarsari. Peningkatan ini disebabkan karena selain masih adanya fokus lama yang aktif (keong yang ditemukan positif cercaria) juga karena terdapatnya fokus baru yang terbentuk akibat aktivitas penduduk seperti bekas sawah, parit di pinggir sawah dan daerah becek berair karena aliran air yang tidak lancar dari sumur penduduk. Pada tahun 2008, terdapat 147 fokus lama yang diantaranya 26 fokus masih aktif sedangkan fokus baru yang terbentuk yaitu sebanyak 225 fokus dan yang ditemukan aktif adalah sebanyak 67 fokus.

Daerah fokus keong O. hupensis lindoensis ditemukan di daerah persawahan, kebun coklat, kebun sayur, pinggir hutan dan di sekitar sungaisungai kecil yang ada di dekat pemukiman. Masih terdapatnya daerah fokus di Dodolo dan Mekarsari disebabkan karena pengolahan lahan yang tidak teratur sehingga banyak lahan yang terbengkalai dan juga daerah berair karena adanya rembesan air tanah. Keadaan ini menjadikan keong O. hupensis lindoensis tetap dapat hidup. Keong O.h. lindoensis yang mempunyai sifat amfibious menyukai daerah becek berair yang kaya bahan organik untuk kelangsungan hidupnya.

Mata rantai penularan schistosomiasis yang paling lemah adalah pada keong penularnya sehingga jika dilakukan eliminasi pada keong penularnya, maka penularan akan terhenti. Telah diketahui bahwa keong O. hupensis lindoensis bersifat amfibi, maka apabila habitatnya terendam air terus menerus, maka keong akan mati. Demikian pula bila habitatnya menjadi kering, maka keong juga akan mati. Apabila habitat keong dikeringkan atau diubah menjadi sawah yang tergenang air secara terus menerus, maka keong akan mati.

  1. Survei tikus

Schistosomiasis adalah penyakit parasitik yang bersifat zoonosis, yaitu penyakit yang selain menginfeksi manusia juga menginfeksi hewan mamalia, misalnya kerbau, sapi, kuda, anjing, babi dan tikus.

Pada penelitian ini juga dilakukan survey tikus yang merupakan reservoir S. japonicum hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Tikus di Desa Dodolo dan Mekarsari Dataran Tinggi Napu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Tahun 2008

Desa

Jumlah Tikus

Positif

Prevalensi (%)

Diperiksa

S. japonicum

Dodolo

12

1

8,3

Mekarsari

10

1

10,0

 

Survei tikus dilakukan di sekitar focus keong O. hupensis lindoensis yang ada di Desa Dodolo dan Mekarsari. Jenis tikus yang ditemukan yaitu Rattus exulans dan jumlah tikus yang didapatkan yaitu 12 ekor di Dodolo dan 10 ekor di Mekarsari dengan prevalensi S. japonicum pada tikus masing-masing di Desa Dodolo adalah 8,3% dan di Desa Mekarsari adalah 10%.

Keberadaan tikus sebagai reservoir menyebabkan siklus silvatik tetap terjadi. Jadi meskipun pemberantasan schistosomiasis telah dilakukan secara intensif dengan pengobatan massal, melakukan pemberantasan fokus keong Oncomelania, pembuatan jamban keluarga dan meningkatkan sarana air bersih serta memberikan penyuluhan kepada penduduk mengenai schistosomiasis, tetapi apabila masih ditemukan tikus yang positif S. japonicum, maka penularan akan terus terjadi.

3.2  Pembahasan

  1. a.      Distribusi

Di Indonesia, schistosomiasis disebabkan oleh Schistosoma japonicum ditemukan endemic di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu diDataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu.Secara keseluruhan penduduk yang berisikotertular schistosomiasis (population of risk)sebanyak 15.000 orang.

Penelitian schistosomiasis di Indonesiatelah dimulai pada tahun 1940 yaitu sesudah ditemukannya kasus schistosomiasis di Tomado, Dataran Tinggi Lindu, Kecamatan Kulawi,Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah padatahun 1935. Pada tahun 1940 Sandground dan Bonne mendapatkan 53% dari 176 penduduk yang diperiksa tinjanya positif ditemukan telur cacing Schistosoma.

Penyakit schistosomiasis menyerang cina sejak pertengahan 1950.

  1. b.      Frekuensi

Di Dataran Tinggi Napu, prevalensi schistosomiasis pada manusia selama 5 tahun terakhir (2003-2007) yaitu berturut-turut 0,63%, 0,52%, 0,64%, 1,21%, 1,14%. di Dataran TinggiNapu juga pada tahun 2008 yaitu 2,4%,  tetapi masihlebih rendah dibandingkan di Cina pada tahun2003 yaitu 92,74% dan di Propinsi Jiangxi, Chinapada tahun 2005 yaitu 18,08%.  Fluktuasi inidisebabkan antara lain karena cakupan pemeriksaantinja yang bervariasi. Pada tahun 2004,persentase cakupan survei tinja di Desa Dodoloyaitu 99% dan di Desa Mekarsari yaitu 92%. Padatahun 2005, cakupan survei tinja menurun di duadesa tersebut yaitu 87% di Desa Dodolo dan 80%  di Desa Mekarsari. Pada tahun 2006, cakupansurvei tinja di Desa Dodolo turun menjadi 86%sedangkan di Desa Mekarsari menurun drastis,hanya mencapai 33%, yaitu dari 893 pendudukhanya 297 penduduk yang mengumpulkantinjanya untuk diperiksa.Selain ditemukan kasus, juga masih ditemukan adanya hospes perantara yaitu keong O. hupensis lindoensis yang positif cercaria dan tikus yang positif mengandung cacing Schistosoma. Berdasarkan laporan dari Laboratorium Schistosomiasis yang ada di Dataran Tinggi Napu, terdapat fokus keong O. hupensis lindoensis sebanyak 380 fokus, sebanyak 291 fokus (76,58%) adalah positif cercaria dan sisanya (23,42%) negative.  Hasil survei tikus di Dataran Tinggi Napu pada tahun 2005-2006 menunjukkan prevalensi S. japonicum pada tikus yaitu di Sulawesi Tengah,3,8% dan 4%. Prevalensi dari kira-kira 37% turun menjadi kira-kira 1,5% setelah pengobatan.

  1. c.       Faktor Determinan
    1. Host (manusia)

Penyakit schistosomiasis menyerang segala umur dan tidak memandang jenis kelamin.

  1. Agent (penyakit)

Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh infeksi cacing yang tergolong dalam genus Schistosoma.

Schistosomiasis (bilharziasis) adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing pipih (cacing pita). Ini seringkali menyebabkan ruam, demam, panas-dingin, dan nyeri otot dan kadangkala menyebabkan nyeri perut dan diare atau nyeri berkemih dan pendarahan.

  1. Environment (lingkungan)

Schistosomiasis mempengaruhi lebih dari 200 juta orang di daerah tropis dan subtropics. Pada umumnya orang yang dijangkiti schistosomiasis adalah mereka yang mempunyai kebiasaan yang tidak terpisah dari air, baik dalam rangka bekerja sebagai petani di sawah ataupun melakukan kegiatan sehari-hari seperti mencuci pakaian/alat-alat rumah tangga, buang air serta mandi di sungai atau perairan yang terinfeksi parasit schistosoma. Selain itu adalah mereka yang sering menyusuri sungai untuk berburu binatang di hutan-hutan atau mencari ikan sepanjang daerah yang telah terinfeksi parasit schistosoma; atau tempat-tempat perindukan alamiah parasit itu.

Pemberantasan dapat dilakukan dengan molluscicides, berupa bahan kimia yang yang disemprotkan didalam air habitatnya. Sedangkan hospes perantara S. japonicum adalah siput amfibius yang tidak selalu berada didalam air. Pemberantasan dapat dilakukan dengan melakukan berbagai cara, mulai menggunakan moluscicide, penimbunan, pemarasan, pembakaran dan merubah habitat siput menjadi lahan pertanian atau bahkan lapangan golf. Schistosomiasis di Indonesia merupakan penyakit zoonosis sehingga sumber penular tidak hanya pada penderita manusia saja tetapi semua hewan mamalia yang terinfeksi.

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

Penduduk Napu dan Lindu sebagian besar masih bekerja di sector pertanian sebagai petani. Hal ini akan tetap menjadi masalah dalam upaya pemberantasan schistosomiasis, karena pada umumnya penduduk sewaktu mengolah sawah tidak mengenakan sepatu dan sarung tangan untuk mencegah terinfeksi cacing schistosoma, padahal air yang digunakan untuk mengairi sawah bersumber dari daerah-daerah focus keong penular schistosomiasis.

4.2  Saran

  1. Agar masyarakat menggunakan sepatu dan sarung tangan apabila masyarakat sedang mengolah sawah
  2. Agar masyarakat bisa merubah sikap dan perilaku seperti tidak buang air lagi di sungai dan disawah

 


DAFTAR PUSTAKA

Miyazaki, I. An Illustrated Book of Helminthic Zoonosis. International Medical Foundation of Japan, Tokyo. 1991.

Sudomo, M. Penyakit Parasitik Yang Kurang Diperhatikan. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Entomologi dan Moluska. Badan Litbang Kesehatan. Jakarta. 2008.

Subdin Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Situasi Schistosomiasis Di Sulawesi Tengah Tahun 1984 – 2007. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah. 2008.

Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah. Data Surveilans Schsitosomiasis Tahun 2006. Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah. 2006.

Jastal, T.A. Garjito, S. Chadijah, Hayani, Mujiyanto. Laporan Survei di Dataran Tinggi Napu. Loka Litbang P2B2 Donggala. Sulawesi Tengah. 2008.

Zhou X.N., Wang T.P., Wang L.Y., Guo J.G., et. al. 2004. The Current Status of Schistosomiasis Epidemic In China. http://www.pubmed.gov. 2004. Diakses tanggal 4 Maret 2009.

Fei Hu., Dan-dan Lin, Yin Liu, Yue-ming Liu, et. al. Studies On Relationship Between Spatial Distribution of People’s Behavior and Infection of Schistoma japonicum In Poyang Lake Region. Proceedings of The 1th International Symposium On Geospatial Health, September 8-10, 2007,Yunnan China. 2007.

Sudomo, M. & Pretty, M.D.S. Pemberantasan Schistosomiasis Di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan. Vol. 35 No. 1 pp. 36-45. 2007.

Wang R.B., Wang T.P., Wang L.Y., Guo J.G., et. al. Study On The Re-Emerging Situation of Schistoshomiasis Epidemic In Areas Already Under Control and Interuption. http://www.pubmed.gov. 2004. Diakses tanggal 4 Maret 2009.

Watts, S. The Social Determinants of Schistosomiasis. Report of The Scientific Working Group on Schistosomiasis, November 14-16, 2005. Geneva, Switzerland. http://www.who.int. 2005. Diakses tanggal 24 Mei 2008.

Hadidjaja, P. Schistosomiasis di Sulawesi Tengah Indonesia. Balai Penerbitan FKUI, Jakarta. 1985.

 

Barodji, M. Sudomo, J. Putrali, M.A. Joesoef. Percobaan Pemberantasan Hospes Perantara Schistosomiasis (Oncomelania hupensis lindoensis) Dengan Bayluscide dan Kombinasi Pengeringan Di Dataran Lindu Sulawesi Tengah 1976. Buletin Penelitian Kesehatan XI (2) pp. 27-30. 1983.

Kasnodiharjo, M. Sudomo, I. Ilyas & Mudjiharto. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Penduduk dalam Hubungannya dengan Schistosomiasis Setelah Dilakukan Pemberantasan di Daerah Lindu dan Napu, Sulawesi Tengah. Cermin Dunia Kedokteran 60 pp. 37-39. 1990.

http://www.informasishistosomiasis_medicastore.com

http://www.shistosomiasis_wikipediabahasaindonesia_ensiklopediabebas.htm

 

ANTHRAX Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dan kesehatan yang demikian yang menjadi dambaan setiap orang sepanjang hidupnya. Tetapi datangnya penyakit merupakan hal yang tidak bias ditolak meskipun kadang –kadang bisa dicegah atau dihindari.

Penyakit merupakan salah satu gangguan kehidupan manusia yang telah dikenal orang sejak dahulu. Pada mulanya, konsep terjadinya didasarkan pada adanya gangguan makhluk halus atau karena kemurkaan dan yang maha pencipta. Hingga saat ini, masih banyak kelompok masyarakat di negara berkembang yang menganut konsep tersebut. Di lain pihak masih ada gangguan kesehatan/ penyakit yang belum jelas penyebabnya, maupun proses kejadian.

UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakanbagian integral kesehatan.

Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonosis penting yang saat ini banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit zoonosis berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini hampir setiap tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia.

 

Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama tahun 1899 – 1900 di daerah Karesidenan Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, dari sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985, anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. Dalam beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap tahun ada kejadian anthrax di Kabupaten Bogor yang menelan korban jiwa manusia. Akhir-akhir ini diberitakan media elektronik maupun cetak, 6 orang dari Babakan Madang meninggal dunia gara-gara memakan daging yang berasal dari ternak sakit yang diduga terkena anthrax. Kejadian ini telah mendorong Badan Litbang Pertanian mengambil langkah proaktif untuk meneliti kejadian ini agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.

  1. RUMUSAN MASLAH

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :

  1. Apakah penyakit antraks itu ?
  2. Bagaimana cara penularan penyakit antraks ?
  3. Bagaimana cara mendiagnosis penyakit antraks ?
  4. Bagaimana epidemiologi penyakit antraks ?

 

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :

  1. Mengetahui tentang penyakit antraks
  2. Mengetahui cara – cara penuaran penyakit antraks
  3. Mengetahui cara mendiagnosis penyakit antraks
  4. Mengetahui epidemiologi penyakit antraks

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

  1. PENGERTIAN

 

Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonosis penting yang saat ini banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit zoonosis berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini hampir setiap tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia.

 

Penyakit terjadi pada domba (Skrepi) dan sapi (Penyakit Sapi Gila). Penularan infeksi bisa terjadi karena memakan jaringan hewan yang terinfeksi. Penularan antar binatang masih belum jelas dan kasus pada manusia terjadi jika memakan daging hewan yang terinfeksi.

Penyakit anthrax disebabkan oleh Bakteri Bacillus anthracis yang sangat ganas dan sulit. diberantas karena merupakan Soil Bomed Disease, yang secara harfiah dapat diartikan: ‘penyakit dari tanah’. Bacillus anthracis yang berbentuk persegi panjang berderet (bila dilihat dengan mikroskop) seperti gandengan kereta api ini dapat membentuk spora dan dapat hidup berpuluh-­puluh tahun di dalam tanah. Di dalam tubuh penderita, Bacillus anthracisterdapat di dalam darah dan organ-organ dalam terutama limpa. Itu sebabnya penyakit ini dikenal dengan sebutan radang limpa.

 

Sebetulnya Bacillus anthracis sendiri tidak begitu tahan terhadap suhu tinggi dan bermacam desinfektan, namun mereka mudah sekali membentuk spora yang cahan kekeringan dan mumpu hidup lama di tanah yang basah, lembab atau di daerah yang sering tergenang air. Itu sebabnya, ternak yang mati karena anthrax dilarang diseksi (bedah mayat) atau dipotong untuk menghindari Bacillus anthracis berubah menjadi spora dan tersebar ke mana-mana oleh angin, air, serangga dan mencemari tanah. Sekali tanah tercemar spora, maka spora di tanah tersebut sangat berbahaya dan suatu saat dapat menyebabkan penyakitnya muncul kembali.

  1. ETIOLOGI

Kasus pertama ‘Bovine Spongiform Encephalitis’ (BSE) atau biasa disebut ‘penyakit sapi gila’ tersebut, dilaporkan terjadi di Inggris pada pertengahan tahun 1980an. Penyakit sapi gila disebabkan oleh bahan infeksius yang baru dikenal dan disebut ‘prion’ (partikel semacam protein yang tertransmisi).

Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama tahun 1899 – 1900 di daerah Karesidenan Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, dari sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985, anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. Dalam beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap tahun ada kejadian anthrax di Kabupaten Bogor yang menelan korban jiwa manusia. Akhir-akhir ini diberitakan media elektronik maupun cetak, 6 orang dari Babakan Madang meninggal dunia gara-gara memakan daging yang berasal dari ternak sakit yang diduga terkena anthrax. Kejadian ini telah mendorong Badan Litbang Pertanian mengambil langkah proaktif untuk meneliti kejadian ini agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.

 

  1. MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS

Sejak kuman masuk ke dalam tubuh ternak sampai menimbulkan gejala sakit yang disebut masa inkubasi memerlukan waktu antara 1 – 2 minggu.

Pada manusia, awalnya, gejalanya mirip demensia lainnya, yaitu tidak peduli akan kebersihan badannya, apatis, mudah marah, pelupa dan bingung. Beberapa penderita merasakan mudah lelah, mengantuk, tidak bisa tidur atau kelainan tidur lainnya. Kemudian gejala-gejalanya dipercepat, biasanya jauh lebih cepat dari pada penyakit Alzheimer, sampai penderita betul-betul pikun.

Kedutan/kejang pada otot biasanya muncul dalam 6 bulan pertama setelah gejala dimulai. Gemetar, gerakan tubuh yang janggal dan aneh juga bisa terjadi.
Penglihatan bisa kabur atau suram.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan kemunduran fungsi mental yang terjadi dengan cepat atau disertai oleh kedutan otot. Pemeriksaan sistem saraf dan motorik menunjukkan kedutan otot dan kejang (mioklonus). Ketegangan otot meningkat atau bisa terjadi kelemahan dan penyusutan otot. Bisa terjadi refleks abnormal atau peningkatan respon dari refleks yang normal.

Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan adanya daerah kebutaan yang mungkin tidak disadari oleh penderitanya. Terdapat gangguan koordinasi yang berhubungan dengan perubahan persepsi visual-spasial dan perubahan di dalam serebelum (bagian otak yang mengendalikan koordinasi).

Pemeriksaan EEG (rekaman aktivitas listrik otak) menunjukkan adanya perubahan yang khas untuk penyakit ini. Pemeriksaan khusus terhadap jaringan otak untuk memperkuat diagnosis, hanya dapat dilakukan jika penderita sudah meninggal dan diambil contoh otaknya untuk diperiksa.

Ada empat tipe anthrax, yaitu

  1. anthrax kulit,
  2. pencernaan/anthrax usus,
  3. pernapasan/anthrax paru dan
  4. anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.

Masa inkubasi anthrax kulit sekitar dua sampai lima hari. Mula-mula kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri.
Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax otak.

Pada manusia, angka fatalitas kasus (case fatality rate) dari antraks kulit biasanya hanya 20% apabila tidak diobati. Sedangkan pada antraks pencernaan berkisar antara 25-75%, dan antraks pernafasan biasanya sangat fatal (100%).

Antraks pencernaan biasanya berlangsung 2-5 hari setelah makan daging terinfeksi dengan gejala mual, muntah-muntah, demam, sakit abdominal dan diare, diikuti dengan toksemia sistemik, syok dan kematian pada 25-75% kasus. Antraks pernafasan terjadi antara 1-5 hari tanpa gejala spesifik, kelelahan, sakit otot, demam, diikuti dengan gangguan pernafasan hebat secara tiba-tiba dengan gejala kesulitan bernafas, kebiruan, dan suara pernafasan abnormal akibat tersumbatnya sebagian jalan nafas, mengarah kepada syok mematikan yang biasanya berakibat fatal. [10, 12]

  1. CARA PENULARAN

 

Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang.

 

Bakteri Bacillus anthracis

  1. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN

Untuk mencegah tertular anthrax dianjurkan untuk membeli daging dari tempat pemotongan resmi, memasak daging secara matang untuk mematikan kuman, serta mencuci tangan sebelum makan.

Jika tak segera diobati bisa meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Namun obatnya sudah ada, yakni penisilin dan derivatnya. Karena setiap petugas kesehatan sudah dilatih untuk menangani, sebaiknya penderita segera dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit.
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya ledakan penyakit sapi adalah dengan penerapan sanitasi pada lingkungan

. Oleh sebab itu sanitasi mempunyai peran yang sangat penting. Sanitasi dapat dijalankan dengan membersihkan  lingkungan dari  organisme fisis (menggunakan deterjen dan pengerokan) dan me-nonaktifkan mikroorganisme (menggunakan disinfektan). Sebagai bahan pembersih, disinfektan sebenarnya kurang efektif,

  1. isolasi  adalah pemisahan hewan yang sakit dari kelompoknya, dengan tujuan untuk membatasi penyebaran penyakit. Sapi yang terinfeksi penyakit mudah sekali menularkan penyakitnya  melalui : napas, saliva, kotoran, urin dan sekresi abnormal. Jangka waktu peng-isolasi-an biasanya antara  2 sampai 3 minggu.
  2. Pengujian kesehatan sapi  sebaiknya dilakukan  sedini mungkin, terutama sapi yang baru dibeli dan akan dimasukkan ke dalam kelompoknya.  Selain itu  pengujian juga dilakukan pada  periode isolasi, untuk memastikan tingkat kesehatannya
  3. Vaksinasi merupakan tindakan efektif untuk pencegahan penyakit pada sapi. Vaksinasi meningkatkan daya tahan hewan terhadap penyakit tertentu, dengan cara merangsang hewan menghasilkan  anti body dan atau meningkatkan respon imun sel-antara (cell-mediated immune, CMI).

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT
    1. DISTRIBUSI FREKUENSI

Hanya ada 18 kasus anthrax paru-paru di Amerika Serikat dari tahun 1900–1978. Terdapat 224 kasus infeksi anthrax kulit antara tahun 1944–1994. Meskipun demikian, wabah anthrax kulit paling hebat yang pernah terjadi adalah di Zimbabwe dengan lebih dari sepuluh ribu kasus tahun 1979–1985. Anthrax pencernaan sangat jarang dilaporkan. Di Indonesia, kasus yang paling banyak terjadi adalah anthrax kulit, akan tetapi kejadian anthrax paru-paru belum pernah dilaporkan.
Pengalaman yang paling hebat dalam kasus anthrax paru-paru terjadi setelah pelepasan secara tidak sengaja spora anthrax ke udara di suatu fasilitas biologi militer di Sverdlovsk, Rusia pada tahun 1979. Sejumlah 79 kasus anthrax paru-paru dilaporkan, dimana 68 orang diantaranya meninggal dunia. Ini tercatat sebagai wabah anthrax terburuk pada manusia yang pernah terjadi di suatu negara industri modern.

Data kasus antraks baik pada hewan (data Departemen Pertanian) maupun pada manusia (data Departemen Kesehatan) terutama sejak tahun 1965–2004 menunjukkan bahwa ada empat propinsi yang dapat dinyatakan sebagai daerah endemis antraks, di mana penyakit terjadi secara berulang dalam selang waktu tertentu. Keempat provinsi tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada tahun 2003, kasus antraks pada hewan tercatat di Kabupaten dan Kota Bogor (Jawa Barat), Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta), Kabupaten Bima (NTB), dan Kabupaten Sikka (NTT). Dengan demikian, sangatlah perlu bagi masyarakat petani yang tinggal di daerah endemis antraks untuk memperhatikan cara-cara berternak yang baik (good husbandry practices) untuk mencegah berjangkitnya antraks kembali.

 

  1. FAKTOR DETERMINAN

Penyakit ini  di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor terjadinya sporulasi dan germinasi, seperti PH, suhu lingkungan aktivitas air, kandunganmineral. Faktor lain yaitu faktor yang berhubungan dengan musim seperti aktivitas merumput, kesehatan dari inang, dan aktivitas manusia.

BAB IV

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

 

  1. SARAN

 

KONJUNGTIVITIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

 

Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau

Konjungtivitis virus biasanya mengenai satu mata. Pada konjungtivitis ini, mata sangat berair. Kotoran mata ada, namun biasanya sedikit. Konjungtivitis bakteri biasanya mengenai kedua mata. Ciri khasnya adalah keluar kotoran mata dalam jumlah banyak, berwarna kuning kehijauan. Konjungtivitis alergi juga mengenai kedua mata. Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal ini juga seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat berair. Konjungtivitis papiler raksasa adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh intoleransi mata terhadap lensa kontak. Biasanya mengenai kedua mata, terasa gatal, banyak kotoran mata, air mata berlebih, dan kadang muncul benjolan di kelopak mata. Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Walaupun demikian, beberapa dokter tetap akan memberikan larutan astringen agar mata senantiasa bersih sehingga infeksi sekunder oleh bakteri tidak terjadi dan air mata buatan untuk mengatasi kekeringan dan rasa tidak nyaman di mata. ( james.2005)

Obat tetes atau salep antibiotik biasanya digunakan untuk mengobati konjungtivitis bakteri. Antibiotik sistemik juga sering digunakan jika ada infeksi di bagian tubuh lain. Pada konjungtivitis bakteri atau virus, dapat dilakukan kompres hangat di daerah mata untuk meringankan gejala. Tablet atau tetes mata antihistamin cocok diberikan pada konjungtivitis alergi. Selain itu, air mata buatan juga dapat diberikan agar mata terasa lebih nyaman, sekaligus melindungi mata dari paparan alergen, atau mengencerkan alergen yang ada di lapisan air mata.

 

 Untuk konjungtivitis papiler raksasa, pengobatan utama adalah menghentikan paparan dengan benda yang diduga sebagai penyebab, misalnya berhenti menggunakan lensa kontak. Selain itu dapat diberikan tetes mata yang berfungsi untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal di mata.

 

  1. B.     Tujuan

 

a)      Untuk dapat mengetuhui pengertian konjungtivitis.

b)      Untuk dapat mengetuhui etiologi konjungtivitis.

c)      Untuk dapat mengetuhui tanda dan gejala konjungtivitis.

d)     Untuk dapat mengetahui diagnosis konjungtivitis.

e)      Untuk dapat mengetahui cara penularan konjungtivitis.

f)       Untuk dapat mengetahui pencegahan dan pengobatan konjungtivitis.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.    Pengertian konjungtivitis.

Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah.( wijana.1993 )

Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang memerlukan pengobatan.

( http://forum.dudung.net/index.php?topic=15451.0 )

 

  1. B.     Etiologi konjungtivitis.

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti :

a. infeksi oleh virus atau bakteri.

b. reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.

c. iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet

dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju.

d. pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa menyebabkan konjungtivitis.

Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:.

a. kelainan saluran air mata.

b. kepekaan terhadap bahan kimia.

c. pemaparan oleh iritan.

d. pemakain lensa kontak, terutama pada jangka panjang,juga bisa menyebabkan konjungtivitis. 

Frekuensi kemunculannya pada anak meningkat bila si kecil mengalami gejala alergi lainnya seperti demam. Pencetus alergi konjungtivitis meliputi rumput, serbuk bunga, hewan dan debu.

Substansi lain yang dapat mengiritasi mata dan menyebabkan timbulnya konjungtivitis yaitu bahan kimia dan bahan polutan ( asap ).

Masa inkubasi penyakit ini adalah 1-3 hari. ( James. 2005 )

 

  1. C.    Tanda dan Gejala konjungtivitis.

 

Tanda

Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:

a)      Konjungtiva berwarna merah ( hiperemi ) dan membengkak

b)      Produksi air mata berlebihan ( epifora ).

c)      Kelopak mata akan menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan konjungtiva.bagian atas.

d)     Pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi nonspesifik peradangan.

e)      Pembengkaan kelenjar ( folikel ) di konjungtiva dan sekitarnya.

 

Gejala

Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.

Gejal lain antara lain :

a)      Mata berair.

b)      Mata terasa nyeri.

c)      Mata terasa gatal.

d)     Pandangan kabur.

e)      Peka terhadap cahaya.

f)       terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

 

  1. D.    Diagnosis konjungtivitis.

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.

  1. E.     Cara Penularan konjungtivitis.

Penularan konjungtivitis ini terjadi lewat kontak langsung atau menggunakan barang penderita konjungtivitis. Misalnya penderita yang memiliki mata merah telah mengusap mata dan menggunakan kran. Kemudian, Anda membuka kran tersebut lalu mengucek atau membasuh mata. Dengan cara tersebut virus dan bakteri tertular dari seseorang ke orang lain, atau melalui alat- alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan dan lain-lain.

Untuk menghindari gangguan mata ini, disarankan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum mengusap wajah atau mata. Jangan berbagi handuk wajah, riasan mata, lensa kontak, kacamata atau bahkan lap kacamata dengan orang lain. Bersihkan lensa kontak secara teratur dan jika telah terinfeksi, langsung ganti dengan yang baru. Masa penularan – penularan tetep terjadi pada saat Infeksi pada alat kelamin dan mata masih berlangsung. ( Ilyas.2009 )

 

  1. F.     Pencegahan dan Pengobatan konjungtivitis.

Pencegahan.

Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.

Untuk mencegah makin meluasnya penularan konjungtivitis, kita perlu memperhatikan langkah – langkah sebagai berikut :

a)      Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah dibersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.

b)       Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang ehat sesudah mengenai mata yang sakit.

c)      Jangan menggunakan handuk dan lap secara bersama-sam adengan penghuni rumah lain.

d)     Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik pembuatnya.

e)      Mencuci tangan sesering mungkin terutama setelah kontak ( jaba tangan, berpegangan dan lain-lain) dengan penderita konjungtiva.

f)       Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya membuang tissue atau sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.

Pengobatan.

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala pada kasus ringan.

Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa adanya kontraindikasi.

 

Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea, diberikan Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama dengan pemberian salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin sebelum tidur. Metronidazole topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga efektif. Karena tetracycline dapat merusak gigi pada anak-anak, sehingga kontraindikasi untuk usia di bawah 10 tahun. Pada kasus ini, diganti dengan doxycycline 100 mg TID atau erythromycin 250 mg QID PO. Terapi dilanjutkan 2 sampai 4 minggu. ( Ilyas. 2009 )

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Hasil 

efektivitas penempelan jaringan jungtiva bulbi antara aplikasi teknik LFO dan

cangkok konjungtiva bulbi pada dasarnya antara teknik jahitan dinilai dari lamanya operasi dan penggunaan teknik LFO dan teknik jahitan pada attachment jaringan cangkok pada dasarnya mata kelinci. Penelitian ini merupakan awal dari Lama operasi diukur dalam skala menit dinilai penelitian yang selanjutnya dikembangkan untuk mulai dari aplikasi teknik LFO atau teknik jahitan,

pengamatan satu minggu perbedaan tidak bermakna, attachment jaringan pada penggunaan Pada hasil penelitian, lama operasi pada kelompok lem fibrin komersial lebih kuat dan lebih stabil. teknik LFO lebih singkat dibandingkan teknik Efek yang dihasilkan oleh lem fibrin disebabkan jahitan. Pada pemberian LFO akan tersedia fibrin kandungan fibrin yang terbentuk dari gabungan secara cepat dalam jumlah yang cukup dengan komponen fibrinogen dan komponen thrombin memintas tahap akhir dari pembentukan fibrin darah mempunyai daya ikat yang sangat kuat melalui faktor intrinsik dan ekstrinsik,9,18 sehingga dalam penempelan jaringan, 20 efek pengikatan jaringan donor dengan cepat dan mudah dapat sekitar 70% terjadi dalam 2 menit dan maksimal

ditempelkan pada dasarnya. Pada teknik jahitan dalam waktu 30-90 menit, sifat lem fibrin akan untuk memaparkan dan menempelkan jaringan segera mengisi celah luka, sehingga tidak cangkok konjungtiva harus sangat hati-hati dan memberi kesempatan darah atau cairan serosa teliti supaya tidak terjadi robekan dan retraksi berada di antara konjungtiva bulbi dan sclera jaringan, serta dibutuhkan waktu yang lebih lama.

Koranji et all menyatakan bahwa lem fibrin merupakan metode yang aman dan efektif untuk menempelkan cangkok konjungtiva dengan pembedahan lebih singkat, serta tingkat  kenyamanan pascabedah penderita lebih baik.  Lem fibrin diserap secara lengkap dalam beberapa  hari, sehingga tidak akan mengganggu proses Kaufman penyembuhan luka.13 Secara histologis, lem fibrin tidak menyebabkan abnormalitas pada daerah  yang langsung kontak dengan zat adhesif ini  maupun daerah sekitarnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, aplikasi teknik LFO memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan teknik jahitan,. jaringan yang lebih kuat dan stabil serta lama operasi lebih singkat, maka terdapat kesesuaian efektivitas dengan lem fibrin komersial.  Penelitian ini telah dilanjutkan dengan secara histologis dan biologi molekular sebelum dilakukan uji klinis aplikasi teknik LFO pada Ophthalmol cangkok konjungtiva bulbi penderita pterigium.

 

  1. B.     Epidemiologi.

Konjungtivitis bakteri adalah kondisi umum di kalangan kaum muda dan orang dewasa di seluruh Amerika Serikat. Menurut Ferri’s Clinical Advisor, beberapa bentuk konjungtivitis, bakteri dan virus, dapat ditemukan pada 1,6 persen menjadi 12 persen dari semua bayi yang baru lahir di Amerika Serikat. Mata bayi kadang-kadang mungkin bisa terkena beberapa bakteri selama proses kelahiran. Konjungtivitis bakteri juga dapat mempengaruhi bayi yang hanya beberapa minggu. Konjungtivitis bakteri dapat terjadi pada semua ras dan jenis kelamin.

Ada kemungkinan morbiditas okular yang signifikan dalam hal kemerahan di mata, okular pelepasan dan ketidak nyamanan bagi anak-anak yang menderita konjungtivitis bakteri. Kebanyakan orang Amerika gagal untuk mengenali dan mengobati penyakit ini. Ini serius dapat menyebabkan meningitis dan sepsis dan dapat mengancam nyawa.

Konjungtivitis dapat mengenai pada usia bayi maupun dewasa. Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi baru lahir mendapatkan tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri yang bisa menyebabkan konjungtivitis gonokokal. Pada usia dewasa bisa mendapatkan konjungtivitis melalui hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik.

Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan paling sering dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis paru. Penderita lebih banyak pada anak-anak dengan gizi kurang atau sering mendapat radang saluran nafas, serta dengan kondisi lingkungan yang tidak higienis. Angka  Meskipun sering dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis paru, tapi tidak jarang penyakit paru tersebut tidak dijumpai pada penderita dengan konjungtivitis flikten. Penyakit lain yang dihubungkan dengan konjungtivitis flikten adalah helmintiasis. Di Indonesia umumnya, terutama anak-anak menderita helmintiasis, sehingga hubungannya dengan konjungtivitis flikten menjadi tidak jelas.

Konjungtivitis merupakan gangguan penglihatan utama yang sering dihadapi dokter. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan konjungtivitis adalah faktor lingkungan seperti cuaca dan iklim. Letak Indonesia yang berada diantara lautan Hindia dan Pasifik dan diantara benua Asia dan Australia menyebabkan Indonesia mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh musim kemarau dan musim hujan terhadap angka kejadian konjungtivitis. Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah berupa penelitian deskriptif analitik secara retrospektif. Sampel penelitian ini berjumlah 102 orang, yang dicatat dari rekam medis pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Juni 2009 April 2010.Analisis data yang digunakan adalah uji chi square.Dari penelitian ini didapatkan jumlah penderita konjungtivitis pada musim kemarau sebanyak 47 orang dan penderita konjungtivitis pada musim hujan sebanyak 55 orang. Dari uji analisis menggunakan chi square menunjukkan nilai yang tidak signifikan sebesar p=0,720 antara musim hujan dan musim kemarau terhadap angka kejadian konjungtivitis.Dapat disimpulkan bahwa musim hujan dan musim kemarau tidak berpengaruh terhadap angka kejadian konjungtivitis. ( Sidarta.2003 ) 

 

Epidemiologi distribusi

Orang ( person ).

Konjungtivitis dapat terkena pada bayi ataupun pada orang dewasa. Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Sedangakan pada usia dewasa penyakit ini di dapat dari hubungan seksual.

Jenis kelamin.

Penyakit ini dapat menyerang pada siapa saja baik pada, laki-laki maupun perempuan.

 

Tempat ( place )

Penyakit konjungtivitis terdapat di berbagai Negara baik Negara muju maupun berkembang. Seperti halny di Amerika Serikat, penyakit ini umumnya berada pada kaum muda dan dewasa, Menurut Ferri’s Clinical Advisor.

 

Waktu ( time )

Penyakit ini biasanya menyerang hanya satu pada bagian mata, Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Selain itu penyakit konjungtivis dapat terjadi kapan saja baik musim hujan ataupun pada musim kemarau.

Epidemiologi Frekuensi

Konjungtivitis bakteri adalah kondisi umum di kalangan kaum muda dan orang dewasa di seluruh Amerika Serikat. Menurut Ferri’s Clinical Advisor, beberapa bentuk konjungtivitis, bakteri dan virus, dapat ditemukan pada 1,6 persen menjadi 12 persen dari semua bayi yang baru lahir di Amerika Serikat. Mata bayi kadang-kadang mungkin bisa terkena beberapa bakteri selama proses kelahiran. Konjungtivitis bakteri juga dapat mempengaruhi bayi yang hanya beberapa minggu. Konjungtivitis bakteri dapat terjadi pada semua ras dan jenis kelamin.

Penyakit ini pertama kali dijelaskan pada 1969. Sejak laporan pertama dari Ghana, infeksi telah dijelaskan di sejumlah negara lain, termasuk China, India, Mesir, Kuba, Singapura, Taiwan, Jepang, Pakistan, Thailand, dan Amerika Serikat.Epidemi yang melibatkan lebih dari 200,000 orang dilaporkan sebagai terjadi di Brasil 2006.Penelitian serologi telah berguna dalam menunjukkan adanya antibodi penetralisir Coxsackie A24 kelompok (CA24) dan Enterovirus E70 (EV70) strain sebagai agen penyebab.

penelitian deskriptif analitik secara retrospektif. Sampel penelitian ini berjumlah 102 orang, yang dicatat dari rekam medis pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Juni 2009 April 2010.Analisis data yang digunakan adalah uji chi square.Dari penelitian ini didapatkan jumlah penderita konjungtivitis pada musim kemarau sebanyak 47 orang dan penderita konjungtivitis pada musim hujan sebanyak 55 orang. Dari uji analisis menggunakan chi square menunjukkan nilai yang tidak signifikan sebesar p=0,720 antara musim hujan dan musim kemarau terhadap angka kejadian konjungtivitis.Dapat disimpulkan bahwa musim hujan dan musim kemarau tidak berpengaruh terhadap angka kejadian konjungtivitis. ( Daniel vaugan. 2000 )

 

Epidemiologi Determinan

 

Agent ( penyebab penyakit )

Penyakit konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme yaitu virus dan bakteri, jamur dan parasit.

 

Host ( penjamu )

Penyakit konjungtivitis dapat menyerang kelompok umur dari bayi sampai dewasa. Pada bayi ditularkan melalui ibunya, sadangakan pada orang dewasa terjadi dari hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata).

Enviropment ( lingkungan )

Penyakit ini dapat muncul pada lingkungan yanh tidak higienis atau yang terkontaminasi, serta biasanya penyakit ini cepat menyebar pada daerah – daerah yang pada penduduknya.

Yogyakarta periode Juni 2009 April 2010.Analisis data yang digunakan adalah uji chi square.Dari penelitian ini didapatkan jumlah penderita konjungtivitis pada musim kemarau sebanyak 47 orang dan penderita konjungtivitis pada musim hujan sebanyak 55 orang. Dari uji analisis menggunakan chi square menunjukkan nilai yang tidak signifikan sebesar p=0,720 antara musim hujan dan musim kemarau terhadap angka kejadian konjungtivitis.Dapat disimpulkan bahwa musim hujan dan musim kemarau tidak berpengaruh terhadap angka kejadian konjungtivitis

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A.    Simpulan

1)      Konjungtivitis adalah inflamasi peradangan konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat, mata tampak merah, sehingga sering disebut penyakit mata merah.

2)      Etilogi konjungtivitis adalah yang bersifat infeksius ( bakteri,, virus, jamur, dan parasit ), imunologis ( alergi ), iritatif ( bahan kimia, suhu listrik, radiasi, misalnya UV ), dan yang berhubungan dengan penyakit sistemik.

3)      Tanda dan gejala konjungtivitis bias meliputi : Hiperemia ( kemerahan ), cairan, edema, pengeluaran air mata, gatal pada kornea, rasa terbakar / rasa tercakar, seperti terasa ada benda asing.

 

  1. B.     Saran

 

Untuk instansi terkait

 

Agar para pemerintah dapat lebih meningkatkan kinerja untuk penanggulangan penyakit konjungtivitis, sehingga dapat meminimalisir penyakit konjungtivitis yang terjadi, sehingga dapat munurunkan angka mortality dan morbilitas penyakit konjungtivitis.

 

Untuk mahasiswa dan masyarakat

 

Dengan adanya makalah ini dapat menambah pemgetahuan kita terhadap penyakit menular salah satunya yaitu penyakit konjungtivitis, serta kita mampu untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk  mau merubah prilakunya menjadi prilaku yang peduli tentang arti penting kesehatan dan memperhatikan sanitasi lingkungannya menjadi lebih baik, karena untuk memutuskan rantai penularan penyakit menular dengan menjaga kebersihan diri dan sanitasi lingkungannyakan . Selain itu masyarakat untuk selalu senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak kesehatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas S. 2009. Ilmu penyakit mata. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

Sidarta Prof. dr. SpM. 2003. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI.

Vaughan, Daniel G. dkk. 2000. Oftalmologi Umum. Jakarta : Widya Medika.

James, Brus, dkk. 2005. Lecture Notes Oftalmologi. Jakatra : Erlangga.

Wijana S.D., N. 1993. Konjungtiva dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Universitas Indonesia.

Doengoes, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

Carpenito, Lynda J. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta: EGC

http://anitasputra.multiply.com/journal/item/98/Konjungtivitis?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

http://www.wartamedika.com/2008/02/konjungtivitis-mata-merah.html

http://forum.dudung.net/index.php?topic=15451.0

 

 

 

 

 

 

DISENTRI Epidemiologi Penyakit Menular

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.      LATAR BELAKANG

Demam typoid, kolera dan shigella merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada dinegara berkembang ,termasuk indonesia.pada tahun 1996 ,dilaporkan terdapat 1282 kasus diare per 100.000 penduduk di jakarta ,sebagian besar di daerah jakarta utara.berdasarkan data survei demografi dan kesehatan indonesia (SDKI, 1977),prevalensi  diare di indinesia 10,4%.untuk DKI jakrata, prevalnsi diare 8,3% dan disentri darah0,52%.jakrta utara secara umum masih mendapat tempat pertimbangan sebagai tempat wabah penyakit  yang beresiko tinggi.

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian perilaku sosial budaya dalam penanggulangan penyakit shigella di jakarta tahun 2002.penyait shigella di jakarta utara disebut responden sakit diare berdarah dan berlendir,disebut juga “mejen”(buang air besar susah begitu keluar yang keluar darah dan lendir)disebut juga disentri.fokus dari bahasan disini adalah persepsi dari responden mengenai tingkat keparahan disentri dibanding dengan diare lainnya,keseriusan maysarakat terhadap masalah disentri dibandingkan dengan masalah kesehatan pada masyarakat golongan yang mudah terserang disentri,kemungkinan anggota keluarga yang lain terkena disentri,tingkat keseriusan disentri pada kelompok laki-laki dan wanita,pengaruh terhadap tingkat sosial ekonomi bila anggota keluarga terkena disentri,lama waktu sembuh bila sakit disentri,dan biaya pengobatan.

  1. A.      RUMUSAN MASALAH

    1. Jelaskan pengertian Disentri dan gejalanya ?
    2. etiologi dari Disentri ?
    3. jelaskan masa inkubasi dan diagnosis dari disentri ?
    4. bagaimana cara penularan disentri ?
    5. bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan ?
  2. B.      TUJUAN

    1. agar mengetrahui apa itu disentri
    2. agar mengetahui etiologi dari penyakit Disentri
    3. agar mengetahui masa inkubasi dan diagnosa
    4. agar mengetahui cara penularan Disentri
    5. agar mengetahui bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan

 

 

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

  1. A.      PENGERTIAAN

Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah (Behrman 2004).
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus), yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja lendir bercampur darah .

Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri, yakni: 1) sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus, 2) berak-berak, dan 3) tinja mengandung darah dan lendir.

  1. B.        ETIMOLOGI

    1.  Bakteri (Disentri basiler)
      •  Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella [2].
      •  Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
      •  Salmonella
      •  Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
    2.  Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun

 

  1. C.      MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS
    1. Masa inkubasi

Bervariasi, mulai dari beberapa hari hingga beberapa bulan atau tahun biasanya 2 – 4 minggu.

Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.

  • Gejala-gejala disentri secara umum antara lain:

1. Buang air besar dengan tinja berdarah

2. Diare encer dengan volume sedikit

3. Buang air besar dengan tinja bercampur lendir/mukus

4. Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

  1. Diagnosis

agen penyebab seringkali tidak perlu dilakukan karena memakan waktu lama (minimal 2 hari) Diagnosis klinis dapat ditegakkan semata-mata dengan menemukan tinja bercampur darah. Diagnosis etiologi biasanya sukar ditegakkan. Penegakan diagnosis etiologi melalui gambaran klinis semata sukar, sedangkan pemeriksaan biakan tinja untuk mengetahui 2 hari) dan umumnya gejala membaik dengan terapi antibiotika empiris.

 

  1. D.      CARA PENULARAN 

Cara penularan dapat melalui beberapa cara yaitu melalui :

  1. Langsung

Faecal – oral transmission dari penderita atau carrier. Bakteri masuk ke dalam organ pencernaan mengakibatkan pembengkakan hingga menimbulkan luka dan peradangan pada dinding usus besar. Inilah yang menyebabkan kotoran penderita sering kali tercampur nanah dan darah. Penularan mungkin terjadi secara seksual melalui kontak oral-anal. Penderita dengan disentri amoeba akut mungkin tidak akan membahayakan orang lain karena tidak adanya kista dan trofosoit pada kotoran

  1. Tidak Langsung

Melalui vektor lalat, seperti air,susu,makanan yang terkontaminasi oleh    tinja penderita. Lalat merupakan serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel di tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang dihinggapi

 

  1. E.       PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN 
  • Pencegahan

Penyakit disentri basiler ini dapat dicegah dengan 10 cara :

  1. Selalu menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun secara teratur dan teliti.
  2. Mencuci sayur dan buah yang dimakan mentah.
  3. Orang yang sakit disentri basiler sebaiknya tidak menyiapkan makanan.
  4. Memasak makanan sampai matang.
  5. Selalu menjaga sanitasi air, makanan, maupun udara.
  6. Mengatur pembuangan sampah dengan baik.
  7. Mengendalikan vector dan binatang pengerat.
  8. Perbaikan lingkungan hidup
  9. Penyediaan keperluan MCK yang memadai di Kamp pengungsian
  10. Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan berkala pada penghuni RS jiwa dan kamp pengungsia

 

  • Penanggulangan

Pada infeksi ringan umumnya dapat sembuh sendiri, penyakit akan sembuh pada 4-7 hari. Minum lebih banyak cairan untuk menghindarkan kehabisan cairan, jika pasien sudah pada tahap dehidrasi maka dapat diatasi dengan Rehidrasi Oral . Pada pasien dengan diare berat disertai dehidrasi dan pasien yang muntah berlebihan sehingga tidak dapat dilakukan Rehidrasi Oral maka harus dilakukan Rehidrasi Intravena . umumnya pada anak kecil terutama bayi lebih rentan kehabisan cairan jika diare. Untuk infeksi berat Shigella dapat diobati dengan menggunakan antibiotika termasuk ampicilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan ciprofloxacin. Namun, beberapa Shigella telah menjadi kebal terhadap antibiotika, ini terjadi karena penggunaan antibiotika yang sedikit-sedikit untuk melawan shigellosis ringan

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.      HASIL

 

  1. 1.       Karakteristik Responden

 

Karakteristik responden yang disajikan meliputi pendidikan,pendapatan per bulan dan pekerjaan (Tabel 1)

 

Pendidikan rendah responden yaitu tidak tamat SD, tamat SD, tamat SLTP, responden laki-laki 54,4%, perempuan 75,6%. Sedangkan pendidikan tinggi, tamat SLTA keatas, responden laki-laki 45,6%, perempuan 24,4%.

 

Tabel 1. Pendidikan, Pendapatan, Pekerjaan Utama

 

Pendidikan,Pendapatan, Pekerjaan umum

Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
  1. Pendidikan

• Pendidikan rendah

•Pendidikan Tinggi

Jumlah

 

  1.  Pendapatan

• < Rp 500.000,-

• Rp 501.000,- - Rp 1.000.000,-

• > Rp 1.000.000,-

Jumlah

 

  1. Pekerjaan Umum :

• Wirasuasta/Pedagang

• Karyawan swasta

• Buruh pabrik/pelabuhan gaji

Tetap

• Pegawai Negeri

• Pensiun

• Petani

• Industri

Jumlah

 

 

136 (54,4)

114 (45,5)

250

 

 

76 (30,4)

109 (43,6)

65 (26,0)

250

 

 

81 (39,7)

46 (22,5)

46 (22,5)

 

16 (7,8)

10 (4,6)

4 (2,0)

1 (0,5)

240

 

 

 

189 (75,6)

61 (24,4)

250

 

 

85 (35,0)

101 (40,4)

64 (25,6)

250

 

 

40 (75,5)

9 (3,8)

2 (3,8)

 

2 (3,8)

-

-

-

53

 

 

325 (65,0)

175 (35,0)

500

 

 

161 (32,2)

210 (42,0)

129 (25,8)

500

 

 

121 (47,1)

55 (42,0)

48 (18,7)

 

18 (7,0)

10 (3,9)

4 (1,6)

1 (o,4)

257

Pendapatan keluarga dari responden pada kelompok Rp 501.000,- Rp1.000.000,- responden laki-laki 43,6%, responden perempuan 40,4%. Pada kelompok pendapatan <Rp 500.000,- per bulan responden laki-laki 30,4% dan perempuan 35,0% pada kelompok >Rp 1.000.000,- responden laki-laki 26,0%, responden perempuan 26,6%.

 

Pekerjaan umum responden terbanyak sebagai wiraswsta, responden laki-laki 39,7% responden perempuan 75,5%, sebagai karyawan swasta responden laki-laki 22,5% perempuan 3, 8%, sebagai buruh pabrik/pelebuhan dengan upah gaji tetap responden laki-laki 22,5% perempuan 3,8%.

 

  1. 2.       Masyarakat Menganggap Shigella (Disentri) sebagai Penyakit yang Serius Dibandingkan dengan Penyakit Lainnya

 

Masyarakat menganggap bahwa penyakit shigelle (Disentri) sebagai penyakit yang serius dibandingkan dengan penyakit lainnya, dapat dilihat pada tabel 2.

 

Sebanyak 77,6% responden laki-laki dan 72,4% perempuan mengatakan bahwa penyakit shiggela (disentri) dianggap lebih serius oleh masyarakat dibandingkan penyakit lainnya sehingga penangannya/pengobatannya/membawa berobat lebih diutamakan dari pada bila menderita penyakit lainnya.

    Tabel 2.   Anggapan Masyarakat bahwa Shigella (Disentri) sebagai Penyakit yang Serius Dibandingkan dengan Penyakit Lainnya.

Keseriusan Masyarakat Terhadap Disentri Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
  1. Tidak serius

 

  1. Serius

 

  1. Sangat serius

 

  1. Tidak tahu
28 (11,2)

194 (77,6)

22  (8,8)

6 (2,4)

 

 

28 (11,2)

181 (72,4)

26 (10,4)

15 (6,0)

56 (11,2)

375 (75)

48 (96)

21 (4,2)

Jumlah 250 250 500
  1. 3.       Kepedulikan, Tingkat Keparahan, Kelompok Mudah Terkena, Kemungkinan Anggota Keluarga Lain Terkena

 

Pada tabel 3 disajikan kepedulian masyarakat terhadap penyakit shigella (disentri). Pada tabel 4 disajikan tingkat keparahan penyakit shigella (disentri) di banding diare lainnya. Pada tabel 5 di sajikan kelompok yang mudah terserang/terkena penyakit shigella (disentri). Pada tabel 6 disajikan kemungkinan anggota keluarga lainnya terkena penyakit tersebut.

 


Tabel 3. Kepedulian Masyarakat Terhadap Penyakit Shigella (Disentri)

 

Kepedulian Masyarakat Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
  1. Kepedulian masyarakat terhadap shigelle
  • Tidak pedulu
  • Cukup peduli
  • Sangat peduli
  • Tidak tahu

 

 

 

61 (24,4)

149 (63,2)

24 (12,0)

16 (6,4)

 

 

49 (19,6)

158 (63,2)

32 (12,0)

11 (4,4)

 

 

110 (22.0)

307 (61,4)

56 (11,2)

27 (5,4)

Jumlah 250 250 500

Tabel 4. Tingkat Keparahan Penyakit Shigella (Disentri) Dibanding Diare          Lainnya

 

Tingkat Keparahan Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  • Lebih ringan
  • Kira-kira sama
  • Lebih berat

Tidak tahu

 

46 (18,4)

29 (11,6)

168 (67,2)

7 (2,8)

 

34 (13,6)

32 (12,8)

178 (71,2)

6 (2,4)

 

80 (16,0)

61 (12,2)

346 (69,2)

13 (2,6)

Jumlah 250 250 500

 

Tabel 5. Kelompok Yang Mudah Terserang Penyakit Shigella (Disentri)

 

Kelompok mudah Terserang Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  • Bayi (0-1 Tahun)
  • Balita (1-5 Tahun)
  • Anak (6-14 Tahun)
  • Wanita dewasa (15-59 Tahun)
  • Laki-lak Dewasa (15-59 Tahun)
  • Lanjut Usia (>60 Tahun)

 

 

182 (72,8)

213 (85,2)

198 (79,2)

134 (53,6)

133( 53,2)

158 (63,2)

 

200 (80,0)

217 (86,6)

202 (80,8)

154 (61,6)

144 (57,6)

175 (70,0)

 

382 (76,4)

430 (86,0)

400 (80,0)

288 (57,6)

277 (55,4)

333 (66,0)

Jumlah 250 250 500

 

 

          Tabel 6. Kemungkinan Anggota Keluarga Lain Terkena Shigella (Disentri)

 

Kemungkinan Anggota Keluarga lain Terkena Shigella (Disentri) Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  • Tidak mungkin
  • Mungkin
  • Sangat mungkin
  • Tidak tahu

 

 

25 (10,0)

216 (86,4)

1 (0,4)

8 (3,2)

 

40 (16,0)

199 (79,6)

4 (1,6)

7 (2,8)

 

65 (13,0)

415 (83,0)

5 (1,0)

15 (3,0)

Jumlah 250 250 500

 

                    Pada tabel 3 terlihat bahwa sebanyak 59,6% responden laki-laki dan 63,2% responden perempuan cukup peduli terhadap penyakit shigella (disentri). Sementara pada tabel 4, sebanyak 67,2% responden laki-laki dan 71,2% responden perempuan mengatakan bahwa bila sakit shigella (disentri) dirasakan lebih berat dibandingkan dengan penyakit diare lainnya. Dan menurut 85,2% responden laki-laki dan 86,6% responden perempuan bahwa kelompok yang paling mudah terserang penyakit shigella (disentri) adalah balita (1-5 Tahun), urutan ke dua menurut responden laki-laki (79,2%) dan responden perempuan (80,8%) adalah kelompok umur (6-14 thn), urutan ke tiga menurut responden laki-laki (72,8%) dan responden perempuan (80,0%) adalah bayi (0-1 thn). Pada tabel 6, sebanyak 86,4% responden laki-laki dan 79,6% responden perempuan mengatakan bila dalam satu rumah terdapat orang yang sakit shigella (disentri) sangat mungkin anggota keluarga yang lain terkena penyakit tersebut.

 

  1. 4.       Pendapat Responden Tentang Lama Waktu Sembuh, Pengaruh Sosial Ekonomi dan Biaya Pengobatan Bila Sakit Shigella (Disentri)

 

Pada tabel 7 disajikan mengenai lama waktu untuk sembuh bila sakit shigella (disentri), pengaruhnya terhadap tingkat sosial ekonomi bila anggota keluarganya sakit shigella (disentri) dan biaya yang dirasakan bila sakit shigella (disentri).

Lama waktu sembuh bila sakit shigelle (disentri) menurut responden

laki-laki dan perempuan berkisar 54,0%-55,6% mengatakan satu minggu.

 

Bila anggota keluarganya terkena shigella (disentri), sangat berpengaruh terhadap sosial ekonomi untuk biaya pengobatannya, berkisar antara 52,4% – 53,6% menurut responden laki-laki ataupun responden perempuan pengaruhnya terhadap sosial ekonomi dikatakan serius karena memerlukan biaya untuk pengobatan dan meluangkan waktu  untuk menjaga bila yang sakit anaknya. Pendapat responden laki-laki dan perempuan tentang biaya pengobatan bila sakit shigella (disentri ringan/berat), dalam penelitian ini ditemukan lebih banyak responden mengatakan bahwa biaya tidak mahal (56,9%-59,6%), 33,6%-39,2% mengatakan mahal.

 

 

Tabel 7. Lama Waktu Sembuh, Pengaruh Sosial Ekonomi, dan Biaya Pengobatan Bila Sakit Shigella (Disentri)

 

Lama Sembuh, Pengaruh Sosial Ekonomi, biaya Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  1. Lama waktu sembuh
  • Sehari
  • Beberapa hari
  • Seminggu
  • Beberapa minggu
  • Sebulan atau lebih
  • Tidak tahu

 

  1. Pengaruh terhadap sosek bila sakit shigella (disentri)
  • Tidak serius
  • Serius
  • Sangat serius

Jumlah

 

  1. Biaya disentri ringan
  • Tidak mahal
  • Mahal
  • Sangat mahal
  • · Tidak tahu

Jumlah

 

  1. Biaya disentri berat
  • Tidak mahal
  • Mahal
  • Sangat mahal
  • Tidak tahu

Jumlah

 

N = 250

 

 

12 (4,8)

98 (39.2)

139 (55,6)

27 (10,8)

8 (3,2)

14 (5,6)

 

 

 

60 (24,0)

131 (52,6)

59 (23,6)

250

 

 

142 (56,8)

97 (36,8)

4 (1,6)

12 (4,8)

250

 

 

 

142 (56,8)

98 (39,2)

3 (1,2)

12 (4,8)

250

N = 250

 

 

9 (3,6)

101 (40,4)

135 (54,0)

31 (12,4)

12 (4,8)

6 (2,4)

 

 

 

59 (23,6)

134 (53,6)

57 (22,8)

250

 

 

149 (59,6)

84 (33,6)

4 (1,6)

13 (5,2)

250

 

 

 

149 (59,6)

84 (33,6)

4 (1,6)

13 (5,2)

250

N = 500

 

 

21 (9,2)

199 (39,8)

274 (54,8)

58 (11,6)

20 (4,0)

20 (4,0)

 

 

 

199 (23,8)

265 (53,0)

116 (23,2)

500

 

 

291 (58,2)

181 (36,2)

8 (1,6)

25 (5,0)

500

 

 

 

286 (57,2)

182 (36,4)

7 (1,4)

25 (5,0)

500

 

  1. B.      PEMBAHASAN

 

Responden di daerah penelitian pada umumnya sudah mendengar dan menggunakan istilah disentri disamping istilah lain seperti mejen atau menyebutkan gejala diare yang di sertai darah dan lendir.

 

Pemahaman responden tersebut dapat di katakan sejalan dengan batasan dan pengertian yang dipergunakan oleh program. Adapun batasan dan pengertian tersebut adalah : sindrom disentri terdiri dari kumpulan gejala : diare dengan darah dan lendir dalam fases dan adanya tenesmus. Dalam tata laksana kasus diare akut yang ditetapkan Sup Direktorat P2 Diare, K & PP Ditjen PPM & PPL Depkes RI (Selanjutnya disebut tata laksana diare akut) semua diare yang berdarah dikategorikan sebagai disentri, sesuai dengan batasan WHO. Disentri berat adalah disentri yang disertai dengan komplikasi, sedangkan diare berdarah dapat disebabkan oleh seluruh kelompok penyebab diare, seperti oleh virus, bakteri, parasit, intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi, tetapi sebagian besar disentri disebabkan oleh infeksi. Penularan secara fecal oral, kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. Infeksi menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan biasanya terjadi pada daerah dengan sanitasi hygiene perorangan yang buruk. Di Indonesia penyebab utama disentri adalah shigella, salmonela, campylobacter jejuni, Escherichia coli (E. coli), dan entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh shigella flexneri, salmonella dan enteroinvasive E. coli (EIEC).

 

Diare pada disentri umumnya diawali oleh diare cair, kemudian pada hari ke dua atau ke tiga baru muncul darah dengan maupun tanpa lendir, sakit perut yang di ikuti munculnya tenesmus. Panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan terasa lemah. Pada saat tenesmus terjadi, pada banyaknya penderita akan mengalami penurunan volume diarenya dan mungkin fases hanya berupa darah dan lendir. Gejala infeksi saluran nafas akut dapat menyertai disentri. Disentri dapat menimbulkan dehidrasi, dari yang ringan sampai dengan dehidrasi berat, walaupun kejadiannya lebih jarang jika dibandingkan diare cair akut. Komplikasi disentri dapat terjadi local disaluran cerna, maupun sistemik.

 

Menurut Djohari Ismail dkk, perbedaan pengertian pengetahuan dan pengalaman menyebabkan adanya perbedaan dalam sikap dan tanggapan serta penerimaan seseorang terhadap suatu penyakit. Responden kebanyakan tidak sering terjadi disentri namun bila ada yang sakit disentri masyarakat cukup peduli, karena sebelum di bawa kepelayanan kesehatan diobati sendiri terlebih dahulu. Kepedulian ini merupakan hal positif yang dapat dikembangkan mengingat disentri merupakan penyakit menular dan cukup besar prevelensinya. Di Indonesi di laporkan dari hasil survei evaluasi tahun 1989-1990 di peroleh angka kejadian disentri sebesar 15%. Hasil survei pada balita di rumah sakit di Indonesia menunjukkan proporsi spesies shigella sebagai etiologi diare; S, dysentry 5,9%; S, flexneri 70,6%; S, boydii 5,9%; S,sonnei 17,6%. Dari laporan surveilans terpadu tahun 1989 di dapatkan 13,3% di puskesmas. Di rumah sakit di dapat 0,45% pada penderita rawat inap dan 0,05% pasien rawat jalan. Meskipun proporsi S. dysentry rendah tetapi kita selalu harus waspada karena S. dysentry dapat muncul sebagai epidemi. Epidemi ini telah melanda Asia Selatan sekitar akhir tahun 80 an dan awal tahun 80 an. Lebih berbahaya lagi, epidemik ini dapat disebabkan olah shigella dysentry yang telah resisten terhadap berbagai antibiotik. Proporsi penderita diare dengan disentri di Indonesia di laporkan berkisar antara 5-15%. Proporsi disentri yang menjadi disentri berat belum jelas.

 

Angka kejadian disentri sangat bervariasi di daerah Indonesia maupun di beberapa Negara berkembang seperti dibangladesh di laporkan selama 10 tahun (1974 – 1984) angka kejadian disentri berkisar antara 19,3% -n 42,0%. Di Thailand di laporkan disentri merupakan 20% dari pasien rewat jalan rumah sakit anak di Bangkok. Namum yang perlu di catat dan mendapat perhatian bahwa disentri merupakan penyakit telah menyebar keseluruh dunia.

 

Menurut responden penyakit disentri bisa di bandingkan dengan penyakit diare lainnya, hal ini di dukung oleh jawaban responden yang mengatakan bahwa masalah disentri di anggap serius oleh masyarakat dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya.

 

Golongan yang mudah terkena disentri menurut responden terutama balita (1-5 thn), kemudian anak berumur 6-14 tahun dan urutan ke tiga adalah bayi 0-1 tahun, urutan keempat usia lanjut kurang lebih 60 tahun. Ururan ke lima wanita Dewasa 15-19 tahun dan laki-laki dewasa 15-19 tahun. Walaupun berbeda kelompok umurnya namun bila dilihat dari Survei Demografi dan kesehatan 1997 di katakan bahwa insiden diare di temukan lebih tinggi pada anak umur 6-23 bulan (10%) dari pada bayi di bawah umur 6 bulan, yang dapat di pengaruhi oleh meningkatnya proporsi bayi yang sudah di beri makan tambahan di samping ASI. Insiden diare selanjutnya mengecil pada anak di atas 36 bulan dan mencapai 4% pada anak umur 48-69%. Menurut Notoadmodjo S.diare merupakan penyakit yang sering di temukan pada anak-anak.

 

Responden pun kebanyakan mengatakan bahwa anggota keluarga yang lain mungkin bisa terkena disentri. Bila anggota terkena akan berpengaruh pada keadaan sosial ekonomi keluarga tersebut, karena bila yang sakit kepala keluarganya maka tidak bisa bekarja berarti tidak mendapatkan uang. Hal inipun mempengaruhi biaya bila sakit. Biaya untuk sakit disentri ringan maupun disentri berat sebagian besar mengatakan mahal.

 

Lama waktu sembuh kebanyakan mengatakan satu minggu, namun ada juga yang mengatakan beberapa minggu.

BAB IV

PENUTUP

 

  1. A.      Kesimpulan

Penyakit shigella (disentri) menurut responden merupakan penyakit yang serius dalam keluarga, karena terkait dengan sosial ekonomi bila ada keluarganya yang sakit akan tidak bisa bekerja berarti tidak mendapat uang dan harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan. Bila yang sakit bayi orang tuanya tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang lain karena harus merawat bayi tersebut.

Responden juga menggangap bahwa penyakit shigella (Disentri) lebih berat dari penyakit lainnya.

Kelompok yang mudah terserang penyakit shigella (disentri) adalah bayi, balita dan anak umur 6-14 tahun. Menurut responden kemungkinan bila ada yang sakit shigella (disentri) dalam keluarganya akan menular kepada anggota keluarga lainnya.

 

  1. B.      Saran

Dalam penyusunan Makalah ini penulis tidak menutup kemungkinan Tidak adanya kesalahan dan kehilafan sebab itu penulis berharap untuk diberi kritikan dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini dan pembuatan makalah selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  Kamus Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : FK-UI; 2001

Dharma, Andi Pratama. Buku Saku Diare Edisi 1. Bandung : Bagian/SMF  IKA FK-UP/RSHS; 2001

Behrman, et al. Nelson Textbook of Pediatrics 17th edition. UK : Saunders; 2004

Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Volume 1. Jakarta : Bagian IKA FK-UI; 1998.

A, Dini, et al. Pengaruh Pemberian Preparat Seng Oral Terhadap Perjalanan Diare Akut, dalam Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam; 2004

Nafianti, Selvi, et al. Efektivitas Pemberian Trimetoprim-Sulfametoksazol pada Anak dengan Diare Disentri Akut, dalam Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam; 2004

Djauhari ismail, R Sutrisno, Manginah PA dan Retnohastuti, pengertian sikap dan Prilaku Masyarakat terhadap Diare. Kumpulan Naskah PITV, BKGAI (Badan Koordinasi Gastro Internologi Anak Indonesia) 1997

http://obat-penyakit.com/diare-disentri

http://id.wikipedia.org/wiki/Disentri

www.litbang.depkes.go.id/media/data/shigella.pd