HIV/AIDS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak dicanangkan Gerakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS pada tanggal 23 April 2002, dirasakan sekali kebutuhan yang sangat mendesak tentang informasi terbaru situasi epidemi HIV serta faktor perilaku yang mempengaruhi penyebarannya. Informasi tersebut tidak hanya berguna dalam memahami secara lebih baik perjalanan epidemi HIV di kawasan nusantara, juga untuk memfokuskan kegiatan-kegiatan penanggulangan HIV di Indonesia agar berhasil guna. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi informasi tersebut antara lain penguatan sistem pemantauan HIV di Indonesia. Tahun ini Departemen Kesehatan telah melaksanakan surveilans HIV generasi kedua di beberapa propinsi uji-coba. Adapun yang sistematik dilakukan yaitu memperkuat sistem surveilans sentinel HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS), melakukan surveilans perilaku, serta upaya pemanfaatan data surveilans tersebut untuk perencanaan kegiatankegiatan penanggulangan yang bersifat strategik baik di tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, sudah cukup mendesak adanya informasi yang akurat tentang jumlah populasi rawan tertular HIV dan jumlah orang yang telah tertular HIV di Indonesia. karena tidak saja diperlukan untuk penyusunan kebijaksanaan maupun perumusan kegiatan-kegiatan penanggulangan, serta perlunya dukungan dari berbagai pihak agar masalah epidemi HIV menjadi masalah bersama dan ditanggulangi secara bersama. Pada penyusunan kebijaksanaan, informasi tersebut diperlukan dalam kegiatankegiatan advokasi, perencanaan strategis, pengalokasian sumber-daya yang relatif terbatas, serta melakukan proyeksi dan mengestimasi beban masalah kesehatan akibat dampak perluasan epidemi HIV. Pada penyusuan program penanggulangan, informasi tersebut diperlukan dalam penyusunan rencana intervensi, penetapan target sasaran, strategi penjangkauan, dan pemantauan serta penilaian keberhasilan program-program penanggulangan HIV.

Disadari pula bahwa kita perlu memperbarui tekad bersama dengan berbasiskan

informasi terakhir tentang situasi epidemi HIV di Indonesia agar bersama dapat merespon dan menyadari bersama tentang potensial masalah yang akan terjadi bila kita terlambat meresponnya. Saat ini tingkat epidemi HIV di Indonesia sudah dalam kategori terkonsentrasi, karena prevalensi HIV pada beberapa sub-populasi berisiko telah jauh melampui 5 persen secara konsisten, tetapi belum mencapai 1 persen pada kelompok ibu hamil yang berkunjung ke pusat-pusat pelayananan kesehatan.

 Yang perlu kita sadari bersama bahwa tingkat epidemi tersebut menunjukkan bahwa adanya jaringan perilaku berisiko yang sangat aktif, sehingga HIV ditularkan dari individu yang satu ke individu lain yang berisiko tersebut. Perluasan epidemi selanjutnya ditentukan oleh besarnya jalur lintas perilaku berisiko antara kelompok-kelompok berisiko yang berbeda dan juga penularan meluas ke pasangan-pasangan tetap mereka. Yang perlu diantisipasi adalah mencegah perluasan epidemi HIV selanjutnya dengan meningkatkan upaya-upaya penanggulangan HIV di Indonesia. Kita perlu mencegah kemungkinan penularan HIV dari kelompok pengguna napza suntik yang sudah tinggi – melampaui 50 persen – itu ke kelompok lain yang dapat ditularkan melalui jalur seksual.

 

Tingginya angka HIV/AIDS, hilangnya masa produktif dari penderita berdampak pada kehilangan usia produktif di Indonesia. Hal ini disebabkan karena perilaku berisiko yang salah satunya terjadi dikalangan anak usia sekolah dan merupakan kelompok rentan tertularnya HIV/AIDS. Berdasarkan fenomena tersebut, tujuan penelitian yang dilakukan adalah menganalisis faktor pencegahan HIV/AIDS melalui perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dan menggunakan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling di SLTP X Jakarta yang memenuhi kriteria inklusif. Faktor intrinsik yang meliputi persepsi tentang pemahaman, sikap dan pencegahan HIV/AIDS mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Begitu pula dengan faktor ekstrinsik (informasi diperoleh dari luar) yang meliputi informasi orangtua, fasilitas, informasi dengan orang lain dan stigma masyarakat mempunyai hubungan signifikan dengan perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Rekomendasi dari penelitian ini adalah peningkatan pengetahuan melalui komunikasi, informasi dan edukasi tentang faktor pencegahan HIV/ AIDS melalui perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Hal lain adalah perlunya peningkatan bimbingan dan konseling dari guru serta pendampingan dari orang tua kepada anak.

 

1.2 Rumusan Masalah


Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian   HIV/AIDS?
2. Bagaimana cara penularan HIV / AIDS ?

 

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS

2. Mengetahui penyebab HIV/AIDS

3. Mengetahui cara penularan HIV/AIDS

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA YANG MELIPUTI

 

2.1 Pengertian

AIDS  kepanjangan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. AIDS disebabkan oleh adanya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) di dalam darah.

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.

 

 

2.2 Etiologi

 

AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV. VIrus ini diketemukan oleh montagnier, seorang ilmuwan perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala limfadenopati, sehingga pada waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV).

Gallo (national Institute of Health, USA 1984) menemukan Virus HTLV-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberi nama resmi HIV. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan virus lain yang dapat pula menyebabkan AIDS, disebut HIV-2, dan berbeda dengan HIV-1 secara genetic maupun antigenic. HIV-2 dianggap kurang pathogen dibandingkan dengan HIV-1. Untuk memudahkan, kedua virus itu disebut sebagai HIV saja.

 

2.3 Masa Inkubasi dan Diagnosis Penyakit

 

a.  Masa Inkubasi

 

Masa inkubasi HIV sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel CD4 semakin menurun. Ketika sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seorang Odha akan mulai menampakkan gejala-gejala.

 

b.  Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan:

1. Gejala klinis

2.Pemeriksaan Laboratorium meliputi:

     a. Tes Elisa

     b. Tes Air Liur dan Air Kencing

 

2.4 Cara Penularan

 

Ada 3 cara penularan:

 

1.      Hubungan seksual

2.      Kontak langsung dengan darah/ jarum suntik

3.      Secara vertikal, ibu hamil mengidap HIV kepada bayinya

 

2.5 Pencegahan

 

Pencengannya yaitu:

a. Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka

b. Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV)

c. Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.

d. Abstinensi

e. Melakukan prinsip monogami 

f. Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

3.1 Epidemiologi Penyakit

 

Sindroma AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottlieb dari Amerika pada tahun 1981. Sejak saat itu jumlah negara yang melaporkan kasus-kasus AIDS meningkat dengan cepat. Dewasa ini penyakit HIV/AIDS telah merupakan pandemi, menyerang jutaan penduduk dunia, pria, wanita, bahkan anak-anak. WHO memperkirakan bahwa sekitas 15 juta orang diantaranya 14 juta remaja dan dewasa terinfeksi HIV. Setiap hari 5000 orang ketularan virus HIV.

Menurut etimasi WHO pada tahun 2000 sekitar 30-40 juta orang terinfeksi virus HIV, 12-18 juta orang akan menunjukkan gejala-gejala AIDS dan setiap tahun sebanyak 1,8 juta orang akan meninggal karena AIDS. Pada saat ini laju infeksi (infection rate) pada wanita jauh lebih cepat dari pada pria. Dari seluruh infeksi, 90% akan terjadi di negara berkembang, terutama Asia.

 

 

3.2 Distibusi

           

            1. Orang

HIV/AIDS  adalah penyakit menular seksual yang dapat menyerang laki-laki, perempuan bahkan anak-anak..

            2. Tempat

Berdasarkan tempat penyebaran penyakit HIV, dimana didaerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan.

 

3.3 Frekuensi

 

Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.

 

 

3.4 Determiman

            1. Host

                Penyakit HIV/AIDS dapat menyerang kelompok umur produktif (15-60 tahun) jumlah terbesar pada kelompok umur 20-29 tahun. Hal ini disebabkan karena perilaku berisiko yang salah satunya terjadi dikalangan anak usia sekolah SLTP.

            2. Agent

HIV/AIDS  adalah infeksi sel sistem kekebalan tubuh yang disebab oleh virus HIV. Ini seringkali menyebabkan, Rasa lelah dan lesu, Berat badan menurun secara drastis, Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam, kurang nafsu makan, Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut.

 

            3.Enviroment

 

Tingkat pengawasan/peran orang tua orang tua sangat dibutuhkan agar anak usia remaja tidak tergolong pergaulan bebas.


 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

 

HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut “sel T-4” atau disebut juga “sel CD-4”. Virus HIV ini hidup didalam 4 cairan tubuh manusia, yaitu: Cairan darah, Cairan sperma, Cairan vagina, Air susu Ibu.
HIV dapat menular kepada siapapun melalui cara tertentu, tanpa peduli kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksual.

 

4.2 Saran

            Adanya kesadaran individu terhadap bahaya seks diluar nikah, yang dapat menyebabkan penyakit menular seksual dan adanya peran orang tua dalam mengontrol anaknya agar tidak melakukan pergaulan bebas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

·         Anonim. Produk dan informasi Bukti dan informasi untuk kebijakan: bukti untuk kebijakan kesehatan(online).http://www.who.or.id/ind/products/ow6/sub2/display.asp?id=1. 2007.

·         Biro Pusat Statistik. Sensus penduduk Indonesia. (online). http:// http://www.webgatra.com. 2007

·         Black JM, Hawks JH. Medical Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes. 7thedition:vol.2. Elsevier Saunders: Missouri, 2005

·         Creswell JW. Research design: Qualitative & quantitative approaches. California – USA: SagePublication, 1994, p.228.

·         DepKes. Profil kesehatan Indonesia 2007. Jakarta: DepKes RI, 2008.

·         DepKes. Laporan hasil riset dasar RISKESDAS propinsi Jawa Barat tahun 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan DepKes RI, 2007.

·         Ditjen PPML & PLP. 1996.”Pedoman Program Pencengahan dan Pemberantasan PMS Termasuk AIDS di Indonesia. Jakarta: Depkes RI (Oleh Sahlani & Ari Hartono)

·         Edwards S. Critical thinking: a two phase framework. Nurse Education in Practice, 7 (5) (2007): 303-314.

·         Gitosudarmo I, Mulyono A. Prinsip dasar manajemen. Edisi ketiga. Yogyakarta: BPPE, 1997.

·         Handoko M. Motivasi daya penggerak perilaku. Yogyakarta: Kanisius, 1997.

·         Oey M. Kemiskinan pedesaan: ketimpangan fasilitas social ekonomi. Makalah Lokakarya DGBUI. Tidak dipublikasikan, 2007.

·         Pender NJ. Health promotion in nursing practice. Second edition. Norvolk: Appleton and Lange,1980.

·         Rideout E. Transforming Nursing Education Through Problem-Based Learning. Boston: Jonesand Bartlett Publishers, 2001.

·         Sulekale. Pemberdayaan masyarakat miskin di era otonomi daerah. (online) http://ekonomi rakyat.org/edisi_14/artikel_2.htm. 2003.

·         Stuart GW, Laraira MT. Principles and practice of psychiatric nursing. Seventh edition. St. Louis:Morsby Inc., 2001

·         Wahjusumitjo. Kepemimpinan dan motivasi. (edisi pertama). Jakarta: Galia Aksara, 1996.

·         Weimer M. Learner – Centered Teaching. Five keys changes to practice. San Fransisco: Jossey- Bass, A Wiley Company, 2002.

·         World Health Organization. Guidelines for measuring national HIV prevalence in populationbased surveys. UNAIDS, 2005

 

CAMPAK Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Campak dalam sejarah anak telah dikenal sebagai pembunuh terbesar, meskipun adanya vaksin telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, virus campak ini menyerang 50 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta kematian. Insiden terbanyak  berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit campak yaitu pada negara berkembang, meskipun masih mengenai beberapa negara maju seperti Amerika Serikat.

Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi dan masih masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini umumnya menyerang anak umur di bawah lima tahun ( balita ) akan tetapi campak bisa menyerang semua umur. Campak telah banyak diteliti, namun masih banyak terdapat perbedaan pendapat dalam penanganannya. Imunisasi yang tepat pada waktunya dan penanganan sedini mungkin akan mengurangi komplikasi penyakit ini.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa pengertian  campak?
    2. Bagaimana riwayat alamiah dari penyakit campak?
    3. Bagaimana etiologi,dan patofisiologi penyakit campak?
    4. Bagaimana masa inkubasi dan diagnosis penyakit campak?
    5. Bagaimana cara penularan dan pencegahan penyakit campak?
    6. Bagaimana penanggulangan serta pengobatan penyakit campak?
  1. TUJUAN
    1. Untuk mengetahui pengertian  campak.
    2. Untuk mengetahui riwayat alamiah dari penyakit campak.
    3. Untuk mengetahui etiologi, dan patofisiologi penyakit campak.
    4. Untuk mengetahui masa inkubasi dan diagnosis penyakit campak.
    5. Agar kita mengetahui cara penularan dan pencegahan penyakit campak.
    6. Agar kita mengetahui penanggulangan serta pengobatan penyakit campak.

 BAB II

TELAAH PUSTAKA

 2.1  PENGERTIAN

Penyakit campak dikenal juga dengan istilah morbili dalam bahasa latin dan measles dalam bahasa inggris atau dikenal dengan sebutan gabagen(dalam bahasa Jawa) atau kerumut (dalam bahasa Banjar) atau disebut juga rubeola (nama ilmiah) merupakan suatu infeksi virus yang sangat menular, yang di tandai dengan demam, lemas, batuk, konjungtivitas (peradangan selaput ikat mata /konjungtiva) dan bintik merah di kulit (ruam kulit)

Ada beberapa pengertian tentang campak menurut  beberapa ahli, yaitu  :

  1. Campak atau morbili adalah penyakit virus akut , menular yang di tandai  dengan 3 stadium yaitu stadium prodromal (kataral), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang di manifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik (Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).
  2. Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi (Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC,  2000).
  3. Campak adalah penyakit menular yang ditularkan melalui rute udara dari seseorang yang terinfeksi ke orang lain yang rentan (Brunner & Suddart, vol 3, 2001).

2.2   RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT CAMPAK

Riwayat alamiah penyakit campak melalui tahap-tahap sebagai berikut :

  1.  Tahap prepatogenesis
  2.  Tahap pathogenesis
  3.  Tahap  Akhir/ pasca pathogenesis.
  1.  Tahap prepatogenesis

Pada tahap ini individu berada dalam keadaan normal/ sehat tetapi mereka Pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen Penyakit (stage of susceptibility). Walaupun demikian pada tahap ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam arti bibit penyakit masih ada diluar tubuh pejamu dimana para kuman mengembangkan potensi infektifitas, siap menyerang pejamu. Pada tahap ini belum ada tanda-tanda sakit sampai sejauh daya tahan tubuh pejamu masih kuat. Namun begitu pejamunya ‘lengah’ ataupun memang bibit penyakit menjadi lebih ganas ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan pejamu, maka keadaan segera dapat berubah. Penyakit akan melanjutkan perjalanannya memasuki fase berikutnya, tahap pathogenesis.

  1. Tahap pathogenesis

Tahap ini meliputi 4 sub-tahap yaitu : – Tahap Inkubasi, – Tahap Dini, – Tahap

Lanjut, dan –Tahap Akhir.

  • Tahap Inkubasi

Masa inkubasi dari penyakit campak adalah 10-20 hari. Pada tahap

Ini individu masih belum merasakan bahwa dirinya sakit.

  • Tahap Dini

Mulai timbulnya gejala dalam waktu 7-14 hari setelah infeksi, yaitu Berupa :

Panas badan

Nyeri tenggorokan

Hidung meler (coryza)

Batuk (cough)

Bercak koplik

Nyeri otot

Mata merah (conjunctivitis)

  • Tahap Lanjut

Munculnya ruam-ruam kulit  yang berwarna merah bata dari mulai Kecil-kecil dan jarang kemudian menjadi banyak dan menyatu Seperti pulau-pulau. Ruam umumnya muncul pertama dari daerah wajah dan tengkuk, dan segera menjalar menuju dada, punggung, perut serta terakhir kaki-tangan. Pada saat ruam ini muncul, panas si anak mencapai puncaknya (bisa mencapai 40C), ingus semakin banyak, hidung semakin mampat, tenggorokan semakin sakit dan batuk-batuk kering dan juga disertai mata merah.

  1.  Tahap akhir/ pasca pathogenesis

Berakhirnya perjalanan penyakit campak. Dapat berada dalam lima pilihan keadaan, yaitu :

Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan tubuh menjadi pulih, sehat kembali.

Sembuh dengan cacat, yakni bibit penyakit menghilang, penyakit sudah tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya, meninggalkan bekas gangguan yang permanen berupa cacat.

Carrier, dimana tubuh penderita pulih kembali, namun penyakit masih tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan penyakit.

Penyakit tetap berlangsung kronik.

Berakhir dengan kematian.

2.3  ETIOLOGI  DAN  PATOFISIOLOGI  PENYAKIT CAMPAK

  1. ETIOLOGI

Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxovirus genus morbilivirus merupakan salah satu virus RNA. Virus ini terdapat dalam darah dan secret (cairan)nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir.

1.1      Bentuk virus

Virus berbentuk bulat dengan tepi kasar dan bergaris tengah 140 nm dan di bungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA ), merupakan struktur heliks nucleoprotein dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjolan pendek, satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin.

1.2      Ketahanan virus

Pada temperature kamar virus campak kehilangan 60 % sifat infeksifitasnya selama 3-5 hari pada 37oC waktu paruh umurnya 2 jam, pada 56oC hanya satu jam. Pada media protein ia dapat hidup dengan suhu -70oC selama 5,5 tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4- 6oC dapat hidup selama 5 bulan. Virus tidak aktif pada PH asam. Oleh karena selubung luarnya terdiri dari lemak maka ia termasuk mikroorganisme yang bersifat ether labile, pada suhu kamar dapat mati dalam 20 % ether selama 10 menit dan 50% aseton dalam 30 menit. Dalam 1/4000 formalin menjadi tidak efektif selama 5 hari, tetapi tidak kehilangan antigenitasnya. Tripsin mempercepat hilangnya potensi antigenik.

1.3      Struktur Antigenik

Infeksi dengan virus campak merangsang pembentukkan neutralizing antibody, complement fixing antibody, dan haemagglutinine inhibition antibody.  Imunoglobulin kelas IgM dan IgG muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi sekitar 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terukur, sehingga IgG menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibodi protektif dapat terbentuk dengan penyuntikan antigen haemagglutinin murni.

  1. PATOFISIOLOGI

Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran pernafasan dan masuk ke system retikulo endothelial, berkembang biak dan selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada saluran pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala patoknomi berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk berperan dalam timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam sirkulasi. Mekanisme imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi virus.

2.4   MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS  PENYAKIT CAMPAK

  1. Masa inkubasi

Masa tunas/ inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih 10 – 20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang di bagi dalam 3 stadium, yaitu :

  1. Stadium Kataral atau Prodromal

 

Biasanya berlangsung 4-5 hari, ditandai dengan panas, lesu, batuk-batuk dan mata merah. Pada akhir stadium, kadang-kadang timbul bercak Koplik`s (Koplik spot) pada mukosa pipi/daerah mulut, tetapi gejala khas ini tidak selalu dijumpai. Bercak Koplik ini berupa bercak putih kelabu, besarnya seujung jarum pentul yang dikelilingi daerah kemerahan. Koplik spot ini menentukan suatu diagnose pasti terhadap penyakit campak.

  1. Stadium Erupsi

 

Batuk pilek bertambah, suhu badan meningkat oleh karena panas tinggi, kadan-kadang anak kejang-kejang, disusul timbulnya rash (bercak merah yang spesifik), timbul setelah 3 – 7 hari demam. Rash timbul secara khusus yaitu mulai timbul di daerah belakang telinga, tengkuk, kemudian pipi, menjalar keseluruh muka, dan akhirnya ke badan. Timbul rasa gatal dan muka bengkak.

  1. Stadium Konvalensi atau penyembuhan

 

Erupsi (bercak-bercak) berkurang, meninggalkan bekas kecoklatan yang disebut hiperpigmentation, tetapi lama-lama akan hilang sendiri. panas badan menurun sampai normal bila tidak terjadi komplikasi.

3.1.    Komplikasi Penyakit Campak

Adapun komplikasi yang terjadi disebabkan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh secara umum sehingga mudah terjadi infeksi tumpangan. Hal yang tidak diinginkan. adalah terjadinya komplikasi karena dapat mengakibatkan kematian pada balita, keadaan inilah yang menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti : Otitis media akut, Ensefalitis, Bronchopneumonia, dan Enteritis

 

Bronchopneumonia

 

Bronchopneumonia dapat terjadi apabila virus Campak menyerang epitel saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan disebut radang paru-paru atau Pneumonia. Bronchopneumonia dapat disebabkan virus Campak sendiri atau oleh Pneumococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus yang menyerang epitel pada saluran pernafasan maka Bronchopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan kurang kalori protein.

Otitis Media Akut

 

Otitis media akut dapat disebabkan invasi virus Campak ke dalam telinga tengah. Gendang telinga biasanya hyperemia pada fase prodormal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus terjadi otitis media purulenta.

Ensefalitis

 

Ensefalitis adalah komplikasi neurologic yang paling jarang terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4 – 7 setelah terjadinya ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1.000 kasus Campak, dengan CFR berkisar antara 30 – 40%. Terjadinya Ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus Campak ke dalam otak

Enteritis

 

`     Enteritis terdapat pada beberapa anak yang menderita Campak, penderita mengalami muntah mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus.

  1.   Diagnosis penyakit campak

          

Diagnosis dapat di tegakkan dengan :

  • anamnese (berdasarkan riwayat timbulnya penyakit seperti adanya

kontak dengan penderita)yaitu :

1.Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi,mendadak) batuk

Pilek, harus dicurigai atau di diagnosis banding morbili (artinya

kemungkinan penyakit lain yang mirip campak, misal : german

.                     measles,eksentema subitum,infeksi virus lain).

2. Mata merah, mukopurulen, menambah kecurigaan.

3. Dapat disertai diare dan muntah.

4. Dapat disertai gejala perdarahan (pada kasus yang berat) :

Epitaksis, petekie, ekimosis.

5. Anak resiko tinggi adalah bila kontak dengan penderita morbili

(1 atau 2 minggu sebelumnya) dan belum pernah vaksinasi

Campak.

  • Gejala klinis

Meliputi pemeriksaan fisik (physic diagnostic ) yaitu :

  1. Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin hanya           demam ( biasanya tinggi ) dan tanda-tanda nasofaringitis dan konjungtivitis.
  2. Pada umumnya anak tampak lemah
  3. Koplik spot pada hari ke 2-3 panas ( akhir stadium kataral )
  4. Pada stadium erupsi timbul ruam ( rash ) yang khas : ruam makulopapular yang munculnya mulai dari belakang telinga, mengikuti pertumbuhan rambut di dahi, muka dan kemudian ke seluruh tubuh.
  •  Pemeriksaan laboratorium

Meliputi :

  1. Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni, Dimana jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relative.
  2. Pemeriksaan serologic dengan cara hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya ras dan puncaknya pada 2-4 minggu kemudian.
  •  Biakan virus ( mahal )

Isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus. selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak  pada hapusan mukosa hidung.

2.5    CARA PENULARAN  DAN  PENCEGAHAN  PENYAKIT CAMPAK

  1. Cara Penularan

Cara penularan penyakit ini adalah melalui droplet dan kontak, yakni karena menghirup

Percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun  tenggorokan penderita morbili atau campak. Artinya seseorang dapat tertular campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau dimana saja.  Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul.

Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak usia pra- sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahirdari ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun).

Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah :

  • Bayi berumur lebih dari 1 tahun
  • Bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
  • Remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
  1.    Cara Pencegahan Penyakit Campak
  1. a.      Pencegahan Primordial

 

Pencegahan primordial dilakukan dalam mencegah munculnya factor predisposisi/ resiko terhadap penyakit Campak. Sasaran dari pencegahan primordial adalah anak-anak yang masih sehat dan belum memiliki resiko yang tinggi agar tidak memiliki faktor resiko yang tinggi untuk penyakit Campak.  Edukasi kepada orang tua anak sangat penting peranannya dalam upaya pencegahan  primordial. Tindakan yang perlu dilakukan seperti  penyuluhan mengenai pendidikan kesehatan,  konselling nutrisi dan penataan rumah yang baik.

  1. b.      Pencegahan Primer

 

Sasaran dari pencegahan primer adalah orang-orang yang termasuk kelompok beresiko, yakni anak yang belum terkena Campak, tetapi berpotensi untuk terkena penyakit Campak. Pada pencegahan primer ini harus mengenal faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya Campak dan upaya untuk mengeliminasi faktor-faktor tersebut.

.

       b.1.   Penyuluhan

 

Edukasi Campak adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan mengenai Campak. Disamping kepada penderita Campak, edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan. Berbagai materi yang perlu diberikan kepada pasien campak adalah definisi penyakit Campak, faktor-faktor yang berpengaruh pada timbulnya campak dan upaya-upaya menekan campak, pengelolaan Campak secara umum, pencegahan dan pengenalan komplikasi Campak

       b.2. Imunisasi

 

Di Indonesia sampai saat ini pencegahan penyakit campak dilakukan dengan vaksinasi  Campak secara rutin yaitu diberikan pada bayi berumur 9 – 15 bulan. Vaksin yang digunakan adalah Schwarz vaccine  yaitu vaksin hidup yang dioleh menjadi lemah. Vaksin ini diberikan secara subkutan sebanyak 0,5 ml. vaksin campak tidak boleh diberikan pada wanita hamil, anak dengan TBC yang tidak diobati, penderita leukemia. Vaksin Campak dapat diberikan sebagai vaksin monovalen atau polivalen yaitu vaksin measles-mumps-rubella (MMR).  vaksin monovalen diberikan pada bayi usia 9 bulan,  sedangkan vaksin polivalen diberikan pada anak usia 15 bulan.  Penting diperhatikan penyimpanan dan transportasi vaksin harus pada temperature antara 2ºC – 8ºC atau ± 4ºC, vaksin tersebut harus dihindarkan dari sinar matahari.  Mudah rusak oleh zat pengawet atau bahan kimia dan setelah dibuka hanya tahan 4 jam.

Dimana imunisasi ini terbagi atas 2 yaitu :

  1. Imunisasi aktif

Pencegahan  campak  dilakukan dengan  pemberian  imunisasi aktif  pada  bayi  berumur  9  bulan  atau  lebih.  Pada  tahun 1963  telah  dibuat dua  macam  vaksin campak,  yaitu  (1)  vaksin  yang  berasal  dari  virus campak  hidup  yang  dilemahkan (tipe Edmonstone B), dan (2)  vaksin  yang   berasal dari  virus  campak  yang  dimatikan  (dalam  larutan  formalin  dicampur  dengan  garam  alumunium).  Namun  sejak  tahun 1967,  vaksin  yang  berasal  dari  virus  campak  yang  telah  dimatikan  tidak digunakan  lagi,  oleh  karena  efek  proteksinya  hanya  bersifat  sementara dan dapat menimbulkan gejala  atypical  measles   yang  hebat.  Vaksin  yang  berasal  dari  virus  campak  yang  dilemahkan berkembang dari Edmonstone strain menjadi strain Schwarz (1965) dan kemudian menjadi strais  Moraten (1968). Dosis baku minimal  pemberian  vaksin  campak yang dilemahkan adalah 0,5 ml, secara subkutan,namun dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular mempunyai efektivitas yang sama. Vaksin ini biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi  denganondongan  dan  campak  Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha  atau  lengan  atas. Jika hanya  mengandung campak vaksin diberikan  pada umur 9 bulan. Dalam  bentuk  MMR, dosis  pertama  diberikan  pada  usia 12-15 bulan, dosis  kedua diberikan  pada  usia  4-6  tahun.

Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri-tetanus-polio vaksin dan lain-lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya aman dan tetap efektif.

  1. Imunisasi pasif

Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan serum konvalesens, globulin plasenta atau gamma globulin kumpulan plasma adalah efektif untuk pencegahan dan pelemahan campak. Campak dapat dicegah dengan Immune serum globulin (gamma globulin) dengan dosis 0,25 ml/kgBB intramuskuler, maksimal 15 ml dalam waktu 5 hari sesudah terpapar, atau sesegera mungkin. Perlindungan yang sempurna diindikasikan untuk bayi, anak-anak dengan penyakit kronis, dan para kontak di bangsal rumah sakit serta institusi penampungan anak. Setelah hari ke 7-8 dari masa inkubasi, maka jumlah antibodi yang diberikan harus ditingkatkan untuk mendapatkan derajat perlindungan yang diharapkan.Kontraindikasi vaksin : reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin, kehamilan imunodefisiensi (keganasan hematologi atau tumor padat, imunodefisiensi kongenital, terapi imunosupresan jangka panjang, infeksi HIV dengan imunosupresi berat.

        b .3.  Isolasi

Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang terkena penyakit            campak dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula bagi penderita campak             untuk diisolasi selama 20-30 hari guna menghindari penularan lingkungan             sekitar.

  1. c.       Pencegahan Sekunder

 

Pencegahan sekunder adalah  upaya  untuk  mencegah  atau menghambat timbulnya  komplikasi dengan  tindakan-tindakan seperti  tes  penyaringan  yang ditujukan untuk pendeteksian dini  campak serta  penanganan segera dan  efektif. Tujuan  utama  kegiatan-kegiatan  pencegahan  sekunder adalah  untuk mengidentifikasi orang-orang tanpa  gejala  yang  telah sakit atau  penderita yang beresiko  tinggi untuk mengembangkan  atau memperparah  penyakit. Memberikan pengobatan  penyakit sejak awal  sedapat mungkin dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya  komplikasi. Edukasi dan pengelolaan campak  memegang peran  penting untuk  meningkatkan kepatuhan pasien  berobat.

  1. d.      Pencegahan Tersier

 

Pencegahan tersier adalah semua upaya untuk mencegah kecacatan akibat  komplikasi. Kegiatan  yang dilakukan  antara  lain  mencegah  perubahan dari  komplikasi menjadi kecatatan tubuh dan melakukan rehabilitasi sedini mungkin  bagi penderita yang mengalami kecacatan. Dalam upaya ini diperlukan  kerjasama yang baik antara pasien-pasien dengan dokter maupun antara dokter-dokter yang terkait dengan komplikasinya. Penyuluhan juga sangat dibutuhkan  untuk  meningkatkan motivasi pasien untuk mengendalikan penyakit  campak.  Dalam  penyuluhan  ini hal  yang dilakukan adalah :

d.1.  Maksud, tujuan, dan cara pengobatan komplikasi kronik

d.2. Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan

d.3. Kesabaran  dan  ketakwaan untuk dapat menerima dan  memanfaatkan   keadaan  hidup dengan  komplikasi kronik.

Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi  antar disiplin  terkait juga sangat diperlukan,  terutama di rumah sakit rujukan, baik dengan para ahli sesama  ilmu.

2.6   PENANGGGULANGAN  DAN  PENGOBATAN  PENYAKIT CAMPAK

  1. Penanggulangan Campak

Pada  sidang  CDC/ PAHO / WHO, tahun 1996  menyimpulkan  bahwa  penyakit Campak dapat dieradikasi,  karena  satu-satunya  pejamu/ reservoir  campak hanya pada manusia serta tersedia vaksin dengan  potensi  yang  cukup  tinggi  yaitu  effikasi  vaksin  85%  dan  dirperkirakan eradikasi dapat dicapai 10 – 15 tahun  setelah  eliminasi.

World  Health  Organisation (WHO)  mencanangkan  beberapa tahapan dalam upaya eradikasi (pemberantasan)  penyakit Campak dengan  tekanan strategi  yang berbeda-beda  pada  setiap  tahap  yaitu :

  1. Tahap Reduksi

Tahap ini dibagi dalam 2 tahap :

1. Tahap Pengendalian Campak

Pada  tahap  ini ditandai  dengan  upaya  peningkatan  cakupan  imunisasi  campak rutin dan upaya  imunisasi  tambahan di daerah dengan morbitas  campak  yang tinggi.  Daerah  ini  masih  merupakan  daerah  endemis campak, tetapi  telah terjadi penurunan insiden dan  kematian, dengan pola epidemiologi kasus Campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun.

2        Tahap Pencegahan KLB

Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi ≥ 80% dan merata,terjadi penurunan  tajam kasus dan kematian, insidens campak telah bergeser kepada umur yang lebih  tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun.

  1. Tahap Eliminasi

Cakupan imunisasi sangat tinggi ≥ 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi  rendah sudah  sangat  kecil  jumlahnya,  kasus campak sudah sangat jarang  dan  KLB  hampir tidak pernah terjadi. Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imunisasi campak.

  1. c.       Tahap Eradikasi

 

Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus Campak sudah tidak ditemukan.

Pada siding The World Health Assambley (WHA) tahun 1998, menetapkan kesepakatan Eradikasi Polio (ERAPO), Eliminasi Tetanus Noenatorum (ETN)  dan Reduksi Campak (RECAM). Kemudian pada Technical Consultative Groups (TGC) Meeting di Dakka Bangladesh tahun 1999, menetapkan bahwa reduksi campak di Indonesia berada pada tahap reduksi dengan pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Strategi operasional yang dilakukan ditingkat Puskesmas untuk mencapai reduksi Campak tersebut adalah :

  1. Imunisasi rutin pada bayi 9 –11 bulan (UCI Desa ≥ 80)
  1. Imunisasi tambahan (suplemen)

b.1  Catch up compaign : memberikan imunisasi Campak sekali saja pada anak                            SD  kelas 1 s/d 6 tanpa memandang status imunisasi.

b.2  Selanjutnya untuk tahun berikutnya secara rutin diberikan imunisasi campak pada murid kelas 1 SD (bersama dengan pemberian DT) pelaksanaan secara rutin dikenal dengan istilah BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) Campak. Tujuannya adalah mencegah KLB pada anak  sekolah dan memutuskan rantai penularan dari anak sekolah kepada  balita.

b.3   Crash  program  Campak :  memberikan  imunisasi Campak  pada   anak umur 6  bulan – > 5 tahun  tanpa  melihat  status  imunisasi di daerah risiko tinggi campak.

b.4    Ring vaksinasi :  Imunisasi  Campak  diberikan dilokasi  pemukiman di  sekitar lokasi  KLB  dengan  umur  sasaran  6 bulan  (umur kasus campak termuda) tanpa melihat  status  imunisasi.

  1. Surveilans (surveilan rutin, system kewaspadaan dini dan respon kejadian luar biasa).
  1. Penyelidikan dan penanggulangan kejadian luar biasa Setiap kejadian luar biasa harus diselidiki dan dilakukan penanggulangan secepatnya yang meliputi pengobatan simtomatis pada kasus, pengobatan dengan antibiotika bila terjadi komplikasi, pemberian vitamin A dosis tinggi, perbaikan gizi dan meningkatkan cakupan  imunisasi campak/ring vaksinasi (program cepat, sweeping) pada desa-desa risiko tinggi.
    1. Pemeriksaan laboratorium

Pada  tahap  reduksi  Campak dengan pencegahan kejadian luar biasa :

ü      Pemeriksaan  laboratorium  dilakukan  terhadap 10 – 15  kasus baru pada  setiap kejadian  luar  biasa.

ü      Pemantauan  kegiatan  reduksi Campak pada tingkat Puskesmas dilakukan dengan cara kenaikan sebagai berikut :

  1. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Imunisasi untuk mengetahui pencapaian cakupan imunisasi.
  2. Pemetaan kasus Campak untuk mengetahui penyebaran lokasi kasus Campak.
  3. Pemantauan data kasus campak untuk melihat kecenderungan kenaikan kasus campak menurut waktu dan tempat.
  4. Pemantauan kecenderungan jumlah kasus campak yang ada untuk melihat dampak imunisasi campak.

Evaluasi kegiatan reduksi campak dilakukan dengan menggunakan beberapa indikator  yaitu :

  1. Cakupan imunisasi tingkat desa/kelurahan. Apakah cakupan imunsasi campak sudah > 90 %.

b.  Jumlah kasus Campak (laporan W2). Diharapkan  kelengkapan laporan W2> 90 %.

c. Indikator manajemen kasus campak dengan kecepatan rujukan. Diharapkan       CFR < 3%.

  1. Indikator tindak lanjut hasil penyelidikan. Dimana cakupan sweeping hasil Imunisasi di daerah potensial KLB > 90 %, dan cakupan sweeping vitamin A dosis tinggi > 90 %.
  1. Pengobatan Penyakit Campak

Penderita Campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan.Sehingga pengobatannya bersifat symptomatic, yaitu memperbaiki keadaan umum atau untuk mengurangi gejalanya saja dalam hal ini :

  • anak memerlukan istirahat di tempat tidur
  • kompres dengan air hangat bila demam tinggi namun dapat diberikan antipiretik bila suhu tinggi parasetamol 7,5-10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam
  • ekspektoran : gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50-100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari.
  • Antitusif perlu diberikan bila batuknya  hebat/mengganggu
  • narcotic antitussive (codein) tidak boleh digunakan.
  • Mukolitik bila perlu.vitamin terutama vitamin A dan C. Vitamin A pada stadium kataral sangat bermanfaat. Pemberian vitamin A 100.000 IU per oral satu kali.  Vitamin A dosis tinggi ( menurut rekomendasi  WHO dan UNICEF)

Usia 6 bln-1 thn :100.000 unit dosis tunggal p.o

Umur > 1 thn : 200.000 unit dosis tunggal p.o

Dosis tersebut diulangi pada hari ke-2 dan 4 minggu kemudian bila telah didapat tanda defisiensi vitamin A.  Apabila terdapat malnutrisi maka pemberian vitamin A ditambah dengan 1500 IU  tiap hari.

  • Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi (cukup cairan dan kalori)

Dan bila terdapat komplikasi, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi komplikasi yang timbul seperti :

Otitis media akut, sering kali disebabkan oleh karena infeksi sekunder, maka perlu mendapat antibiotik kotrimoksazol-sulfametokzasol.

Ensefalitis, perlu direduksi jumlah pemberian cairan ¾ kebutuhan untuk mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid dosis tinggi yaitu :

  • Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.
  •  Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu., perlu dilakukan koreksi elektrolit dan ganguan gas darah.

Bronchopneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda.

Enteritis, pada keadaan berat anak mudah dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan dehidrasi

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. HASIL

Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan klinis penderita campak, dan pengambilan serum darah untuk pemeriksaan IgM campak serta pemeriksaan protein albumin  dalam serum darah. Selama 6 bulan dilakukan pengamatan terhadap 21 anak yang menderita campak dan 21 anak yang tidak menderita campak sebagai kontrol. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dari 21 serum darah responden dengan gejala klinis campak didapatkan hasil IgM campak negatif pada semua responden. Karena gejala klinis  penyakit campak ini menyerupai gejala klinis Rubela, maka peneliti mengadakan pemeriksaan  laboratorium yang dilanjutkan pada pemeriksaan IgM Rubela. Pada 21 serum darah  responden, didapatkan IgM Rubela positif sebanyak 9 responden.

Tabel 2. Diskripsi Jenis Kelamin, Umur, Kadar Albumin dan Frekuensi Kejadian Infeksi

Status responden

campak

Tidak campak

total

N

%

n

%

Jenis kelamin : laki – laki

perempuan

13

8

6

3

12

9

5

4

25

17

Umur              : 1-5 tahun

6-10 tahun

11-14 tahun

5

9

7

2

4

3

0

8

13

0

3

6

5

17

20

Status gizi      : baik

Lebih

5

15

2

7

4

17

1

8

1

10

32

Frekuensi infeksi :❤ x / 3 bulan

≥ 3 x / 3 bulan

0

21

0

100

5

16

2

7

22

20

Hasil analisis deskriptif untuk jenis kelamin, umur, kadar albumin dan frekuensi kejadian infeksi dalam 3 bulan terakhir (januari-juni 2008) dikota Kediri dapat dilihat pada tabel 2. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sebagian besar penderita campak adalah laki-laki (62 %). Sebagian besar penderita campak (81%) mempunyai kadar albumin lebih.

Tabel 3. Frekuensi Kejadian Penyakit Infeksi pada infeksi Anak 1-14 tahun

Jenis Penyakit

Jenis Kelamin

Umur

Laki-Laki

Perempuan

?

1-5 Tahun

6-10 Tahun

11- 14 Tahun

?

n

%

n

%

n

%

n

%

n

%

Diare

8

50

8

50

16

2

12

6

8

8

50

16

TBC

13

62

8

38

21

5

24

9

42

7

34

21

DHF

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

ISPA

25

60

17

40

42

5

12

17

40

20

48

42

Tonsillitis

2

40

3

50

5

1

20

2

40

2

40

6

Hasil uji chi square ( table 4) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak (p =1,00). Hasil uji square (table 5) menunjukkan bahwa ada hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak (p=0,048). Besarnya resiko gejala klinis campak pada anak yang sering mengalami infeksi adalah dua kali lipat jika dibandingkan dengan anak yang tidak sering mendapatkan infeksi.

Tabel 4. Hubungan Antara Status Gizi Dengan Gejala Klinis Campak

Status Gizi

Campak

Tidak Campak

Total

Baik

5,(23,8%)

4(19,2%)

9,(21,4%)

Lebih

16(76,2%)

17(81,0%)

33,(78,6%)

Total

21(100%)

21(100%)

42(100%)

P = 1,00                 OR = 0,753         95% CI =0,171-3,312

Tabel 5. Hubungan Antara Frekuensi Kejadian Infeksi Dengan Kejadian Klinis Campak.

Status Gizi

Campak

Tidak Campak

Total

Sering

21 (100%)

16 (6,2%)

37 (88,1%)

Tidak sering

0 (0%)

5 (23,8%)

5 (11,9%)

Total

21 (100%

21 (100%)

42 (100%)

P = 0,048               OR = 2,213          95% CI = 1,599-3,345

  1. Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui serum darah pada 21 responden sebagai kasus dan 21 responden  sebagai responden control. Didapatkan hasil kadar protein serum dengan nilai normal dan protein serum lebih. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi pada 42 responden  tersebut  baik. Keadaan ini dapat terjadi karena 80% responden berusia 6-14 tahun, yaitu masa sekolah. Anak usia sekolah memiliki pola makan yang selalu ingin mencoba jenis makanan baru, pemberian makanan dalam bentuk junk food baik di rumah maupun di sekolah. Makanan tersebut banyak mengandung gula, garam, lemak dan kolesterol, dan kebutuhan tinggi kalori pada anak memicu tingginya kadar albumin serum ( Muscari, M,2001 ).

Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  tidak ada hubungan antara  status gizi dengan gejala  klinis campak. Hal  ini  menunjukkan  bahwa  status gizi  anak  tidak cukup mampu untuk melawan  infeksi  virus.  Pertahanan  tubuh  terhadap  infeksi virus memerlukan  pertahanan  yang  bersifat  spesifik, sedangkan  protein  serum merupakan pertahan  tubuh  yang  bersifat  non  spesifik. Kekebalan  terhadap  infeksi virus  didasarkan pada  pembentukan  respon   imun  terhadap  antigen  khusus  yang  terletak  pada permukaan partikel  virus  atau sel  yang  terinfeksi oleh virus. Virus akan menimbulkan respon jaringan  yang  berbeda  dari  respon  terhadap  bakteri pathogen. Pada infeksi virus akan  terjadi  infiltrasi  sel  berinti  satu dan limfosit. Protein  yang  disandikan oleh virus, biasanya  protein kapsid, merupakan  sasaran dari respon  imun. Sel  yang  terinveksi  oleh  virus dapat  menjadi  lisis  oleh  limfosit T sitotoksik  yang  mengenali  polipeptida-poipeptida virus  pada  permukaan  sel.  Imunitas  humoral  akan  melindungi  inang  terhadap  infeksi ulang oleh virus yang sama (Jawetz, Melnick, Aldelberg’s, 2001).

Epidemiologi penyakit Campak

 

Epidemiologi  penyakit  Campak  mempelajari  tentang  frekuensi,  penyebaran dan faktor-faktor yang  mempengaruhinya.

  1. 1.      Distribusi Penyakit Campak

 

  1. Orang

Campak  adalah  penyakit  menular  yang dapat  menginfeksi anak-anak pada usia dibawah 15  bulan, anak usia sekolah atau remaja.  Penyebaran  penyakit Campak berdasarkan umur berbeda dari satu daerah dengan daerah lain, tergantung  dari kepadatan  penduduknya, terisolasi  atau  tidaknya daerah tersebut. Pada daerah urban yang  berpenduduk  padat transmisi virus  Campak sangat  tinggi.

  1. Tempat

Berdasarkan  tempat  penyebaran  penyakit  Campak  berbeda, dimana daerah  perkotaan siklus epidemi Campak  terjadi  setiap 2-4 tahun  sekali, sedangkan di daerah  pedesaan penyakit Campak jarang  terjadi, tetapi  bila  sewaktu-waktu terdapat  penyakit Campak maka serangan dapat  bersifat wabah dan  menyerang  kelompok umur yang  rentan. Berdasarkan  profil  kesehatan  tahun  2008  terdapat jumlah  kasus  Campak  yaitu 3424 kasus  di Jawa barat, di Banten 1552 kasus, di Jawa tengah 1001 kasus.

  1. Waktu

Dari  hasil  penelitian  retrospektif  oleh  Jusak di rumah sakit umum daerah  Dr. Sutomo Surabaya  pada  tahun 1989, ditemukan Campak di Indonesia sepanjang  tahun, dimana peningkatan   kasus  terjadi  pada  bulan  Maret dan  mencapai  puncak  pada bulan Mei, Agustus, September dan oktober.

  1. 2.      Frekuensi Penyakit Campak

Campak merupakan penyakit endemis, terutama di Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Karena hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun.

Mortalitas/kematian kasus campak yang dirawat inap di  Rumah Sakit pada tahun 1982 adalah sebesar 73 kasus kematian dengan angka fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) sebesar 4,8%. Kemudian  pada tahun 1984-1988 berdasarkan studi kasus di rawat inap di rumah sakit terjadi peningkatan kasus pada bulan maret,dan mencapai puncak pada bulan mei,agustus,September dan oktober. Dengan menunjukkan proporsi yang terbesar dalam golongan umur balita dengan perincian 17,6% berumur<1 tahun, 15,2% berumur 1 tahun, 20,3% berumur 2 tahun, 12,3% berumur 3 tahun dan 8,2% berumur 4 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak,yaitu daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah serta daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah.

Distribusi kelompok umur pada KLB umumnya terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun dan 5-9 tahun, dan pada beherapa daerah dengan cakupan imunisasi tinggi dan merata cenderung bergeser pada kelompok umur yang lebih tua (10-I4 tahun)

Selanjutnya kasus campak mengalami penurunan sebesar 80% pada tahun 1996 (16 kematian,CFR 0,6%).

  1. 3.      Determinan  Penyakit  Campak

 

Faktor-faktor yang  menyebabkan  tingginya kasus Campak pada balita di suatu daerah adalah :

  1. Faktor Host
  1. Status Imunisasi

Balita  yang  tidak mendapat  imunisasi Campak  kemungkinan  kena  penyakit Campak sangat  besar.  Dari  hasil penyelidikan tim  Ditjen PPM & PLP dan Fakultas Kedokteran Universitas  Indonesia  tentang  KLB  penyakit  Campak di Desa Cinta Manis Kecamatan Banyuasin Sumatera Selatan (1996) dengan  desain  cross  sectional,  ditemukan  balita yang  tidak  mendapat  imunisasi Campak  mempunyai risiko 5 kali  lebih  besar untuk terkena campak di banding  balita yang mendapat Imunisasi.

  1. Status Gizi

Balita dengan status  gizi  kurang  mempunyai  resiko lebih  tinggi untuk  terkena  penyakit Campak dari  pada  balita dengan  gizi  baik.

Menurut  penelitian  Siregar (2003) di  Bogor, anak  berumur 9  bulan  sampai dengan  6 tahun  yang  status  gizinya  kurang  mempunyai risiko 4,6 kali untuk  terserang  Campak dibanding dengan anak  yang  status  gizinya  baik.

  1. Faktor Agent

Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam secret (cairan) nasofaring(jaringan antara tenggorokan dan hidung) dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus.

  1. Faktor Environment

1.  Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan

Desa terpencil, pedalaman, daerah  sulit, daerah yang  tidak  terjangkau  pelayanan kesehatan  khususnya  imunisasi, daerah  ini merupakan  daerah  rawan  terhadap penularan  penyakit Campak

2        tingkat pengetahuan orangtua tentang penyakit campak

Tingkat pengetahuan dari orang tua pun sangat penting dalam penyebaran penyakit ini oleh karena itu kita perlu memberikan pengetahuan kepada orang tua tentang penyakit ini, tentang penyebab, serta proses perjalanan dari  penyakit  ini. juga tentang cara pencegahan dan pengobatannya. Dimana kita tahu bahwa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan vaksinasi campak dan peningkatan gizi anak agar tidak mudah timbul komplikasi yang berat.

 

BAB IV

PENUTUP 

  1. KESIMPULAN

Campak  ialah penyakit infeksi virus akut, menular, secara epidemiologi merupakan penyebab utama kematian terbesar pada anak. Menurut etiologinya campak disebabkan oleh virus RNA dari family paramixoviridae, genus Morbilivirus , yang ditularkan secara droplet. Gejala klinis campak terdiri dari 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. Campak dapat dicegah dengan melakukan imunisasi secara aktif, pasif dan isolasi penderita. Serta pada Technical Consultative Groups (TGC) Meeting di Dakka Bangladesh tahun 1999, menetapkan bahwa reduksi campak di Indonesia berada pada tahap reduksi dengan pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB). Pada tahap ini terjadi penurunan kasus dan kematian yang tajam, dan interval terjadinya KLB relative lebih panjang

  1. SARAN

Kita harus menerapkan pola hidup sehat, utamanya untuk anak dan balita perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup sehingga status gizi anak pun menjadi lebih baik. Selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan anak sebelum makan.
Jika  anak  belum  waktunya  menerima  imunisasi  campak, atau karena hal tertentu dokter menunda pemberian imunisasi campak (MMR), sebaiknya anak tidak berdekatan dengan anak lain atau orang lain yang sedang demam dan jika sudah terkena penyakit ini sebaiknya secepatnya berobat dan jika dalam kondisi yang lebih akut sebaiknya perlu dirujuk ke rumah sakit.

Untuk para orangtua jangan mengabaikan vaksinasi untuk anak  karena anak atau balita yang tidak mendapat imunisasi campak memiliki resiko 5 kali lebih besar untuk terkena penyakit campak dibanding dengan anak atau balita yang mendapat imunisasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu KEsehatan Anak  FKUI.    Jakarta

Nelson, 2000. Ilmu Kesehatan Anak Vol 2. Jakarta. EGC

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

Rampengan, T. H. 1993. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta: EGC.

Brunner & Suddarth, 2001. Keperawatan medikal Bedah. EGC : Jakarta

Donna L. Wong. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. EGC : Jakarta

Nelson. 1999. Ilmu Keperawatan Anak

http://askep-akper.blogspot.com/2009/11/campak-measles-rubeola.html

Kapita selekta Kedokteran Jilid 2, Jakarta: Media Aesculapius.

http://nurse87.wordpress.com/2011/10/25/askep-morbilicampak-pada-anak/

http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/11/askep-morbili/

http://www.akperppni.ac.id/askep-anak/campak-measles-rubeola

Teknik Memerah ASI

Jika kita perhatikan cara memerah ASI dg tangan tampaknya sulit dari yg dibayangkan. Dalam hal ini, tangan harus lebih cepat dari mata. Sehingga banyak ibu yg merasa bahwa memerah ASI dg tangan sangat sulit. Meskipun ia telah belajar dari bacaan atau pun praktek langsung. Memang, ASI dapat diperah dg mudah tanpat teknik apapun. Namun satu hal yg sering terlupakan adalah teknik yg tidak tepat akan merusak jaringan lemak pada payudara, membuat payudara menjadi lecet. Bahkan kulit payudara bisa menjadi memar atau memerah.

Memerah ASI dg teknik Marmet awalnya diciptakan oleh seorang ibu yg harus mengeluarkan ASInya karena alasan medis. Awalnya ia kesulitan mengeluarkan ASI dg refleks yg tidak sesuai dg refleks keluarnya ASI saat bayi menyusu. Hingga akhirnya ia menemukan satu metode memijat dan menstimulasi agar refleks keluarnya ASI optimal. Kunci sukses dari teknik ini adalah kombinasi dari cara memerah ASI dan cara memijat.

Jika teknik ini dilakukan dg efektif dan tepat, maka seharusnya tidak akan terjadi masalah dalam produksi ASI ataupun cara mengeluarkan ASI. Teknik in dapat dg mudah dipelajari sesuai instruksi. Tentu saja semakin sering ibu melatih memerah dg teknik marmet ini, maka ibu makin terbiasa dan tidak akan menemui kendala.

Keuntungan Memerah ASI dengan Teknik Marmet

Banyak sekali keuntungan memerah ASI dg teknik marmet. Diantaranya :

  • Penggunaan pompa ASI relatif tidak nyaman dan tidak efektif mengosongkan payudara.
  • Banyak ibu telah membuktikan bahwa memerah ASI dg tangan jauh lebih nyaman dan alami (saat mengeluarkan ASI)
  • Refleks keluarnya ASI lebih mudah terstimulasi dg Skin to skin contact (dg cara memerah tangan) daripada penggunaan pompa (terbuat dari plastik).
  • Jelas nyaman digunakan
  • Aman dari segi lingkungan
  • Portable (mudah dibawa kemana-mana). Tidak mungkin kan ibu lupa membawa tangannya?
  • Dan yg paling mengasyikkan : GRATIS

Langkah-langkah Teknik Marmet

  1. LETAKKAN ibu jari dan dua jari lainnya (telunjuk & jari tengah) sekitar 1 cm hingga 1,5 cm dari areola
    • Usahakan utk mengikuti aturan tsb sbg panduan. Apalagi ukuran dari areola tiap wanita bervariasi.
    • Tempatkan ibu jari diatas areola pada posisi jam 12 dan jari lainnya di posisi jam 6
    • Perhatikan bahwa jari-jari tsb terletak diatas gudang ASI. Sehingga proses pengeluaran ASI optimal.
    • Hindari melingkari jari pada areola spt gambar ini. Posisi jari seharusnya TIDAK berada di jam 12 dan jam 4.
  2. DORONG ke arah dada Hindari meregangkan jari. Bagi yg berpayudara besar, angkat dan dorong ke arah dada.
  3. GULUNG menggunakan ibu jari dan jari lainnya secara bersamaan. Gerakkan ibu jari dan jari lainnya hingga menekan gudang ASI hingga kosong. Jika dilakukan dg tepat, maka ibu tidak akan kesakitan saat memerah. Catatan : Perhatikan posisi dari ibu jari dan jari-jari lainnya pada gambar dg baik. Arah panah menunjukkan arah tekanan jari saat melakukan gerakan. Perhatikan posisi jari berubah pada tiap gerakan mulai dari posisi Push (jari terletak jauh di belakang areola) hingga posisi Roll (jari terletak di sekitar areola).
  4. ULANGI SECARA TERATUR (RYTHMICALLY) hingga gudang ASI kosong. Posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung); posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung).
  5. PUTAR ibu jari dan jari-jari lainnya ke titik gudang ASI lainnya. Demikian juga saat memerah payudara lainnya, gunakan kedua tangan. Misalkan, saat memerah payudara kiri, gunakan tangan kiri. Juga saat memerah payudara kanan, gunakan tangan kanan. Saat memerah ASI, jari-jari berputar seiring jarum jam ataupun berlawanan agar semua gudang ASI kosong. Pindahkan ibu jari dan jari lainnya pada posisi jam 6 & jam 12, kemudian posisi jam 11 & jam 5, kemudian jam 2 & jam 8, kemudian jam 3 & jam 9. Gambar berikut menunjukkan posisi tangan pada payudara kanan.

Hindari Gerakan Berikut

  • Menekan (Squeeze): Hindari menekan / memencet payudara. Hal ini dapat melukai payudara.
  • Menarik-narik (Pulling): Hindari menarik-narik puting payudara. Hal ini dapat merusak lapisan lemak pada areola
  • Slide on: Hindari menekan dan mendorong (sliding on) payudara. Hal ini dapatmenyebabkan kulit pada payudara memar atau memerah.

Agar ASI Mudah Dikeluarkan

Hal-hal dibawah ini dapat membantu merangsang (stimulasi) refleks keluarnya ASI.

  1. PIJATLAH (massage) sel-sel produksi ASI dan saluran ASI. Mulai dari bagian atas payudara. Dg gerakan memutar, pijat dg menekan ke arah dada.
  2. TEKANLAH (stroke) daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar puting dg tekanan lembut dg jari spt menggelitiki.
  3. GUNCANGLAH (shake) payudara dg arah memutar. Gerakan gravitas akan membantu keluarnya ASI.

Prosedur

Prosedur berikut diutamakan bagi para ibu yg memberikan ASI eksklusif dan bagi mereka yg ingin meningkatkan produksi ASI juga menjaga agar produksi ASI optimal.

  • Perahlah kedua payudara hingga ASI kosong dari gudang payudara (ditandai dg aliran ASI yg menurun).
  • Lakukan prosedur stimulasi refleks keluarnya ASI agar ASI mudah dikeluarkan (massage, stroke, shake) pada kedua payudara. Prosedur tsb dapat dilakukan kapanpun.
  • Ulangi seluruh proses memerah ASI pada tiap payudara dan teknik stimuasi refleks keluarnya ASI sekali atau dua kali. Aliran ASI biasanya menurun pada kali kedua atau ketiga. Ini artinya gudang ASI mengering.

Prosedur ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit.

  • Perahlah tiap payudara selama 5-7 menit.
  • Pijat (Massage), stroke, guncang (shake).
  • Perahlah lagi tiap payudara selama 3-5 menit.
  • Pijat (Massage), stroke, guncang (shake).
  • Perahlah lagi tiap payudara selama 2-3 menit.

Catatan : Jika supply ASI terjaga, gunakan waktu semaksimal mungkin. Waktu tsb diatas hanya sbg patokan saja. Perhatikan aliran ASI dan ganti payudara lainnya jika aliran ASI pd payudara tsb sudah mulai menurun.

Catatan : Jika ASI tidak keluar atau hanya sedikit ASI yg keluar, ikuti petunjuk diatas dg periode waktu lebih singkat dan sering.

Penting untuk Diperhatikan

ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya bekerja. Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di mana ibunya berada, harus diusahakan breast feeding atau menyusui langsung, bukan ASI peras[1]. Jadi, Bu, hanya bila situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah si kecil boleh diberi ASI peras/perah. Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi. Bila sudah berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu. Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa harus menggunakan akar?

Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi[1]. Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI. Itu sudah dibuktikan.

Persiapan

Untuk memberi bayi ASI perahan, jauh-jauh hari sebelum masa cuti berakhir ibu memang harus menyiapkan diri sendiri dan bayi. Apalagi jika si buah hati merupakan anak pertama. Beratnya meninggalkannya memang luar biasa. Apalagi siang hari tak bersamanya dan tak menyusuinya pasti berat. Di kantor, saat payudara bengkak karena produksi ASI tak disusu bayi, ingatan ibu pastilah pada buah hati di rumah.

Mempersiapkan diri sendiri menjadi penting. Pertama, adalah mempersiapkan mental untuk meninggalkan bayi dan memupuk rasa percaya bahwa ia akan baik-baik saja di rumah. Kedua, persiapan dengan mulai belajar memerah dua minggu sebelum cuti berakhir. Ketika bayi tidur dan payudara mulai terasa membengkak, segera perahlah payudara lalu simpan di kulkas. Esok siang, ASI perah tersebut bisa ibu berikan pada bayi.

Tetap memberi ASI selama ibu bekerja di kantor berarti ibu harus memupuk kerjasama dengan pengasuh[2]. Ini bukan hal mudah. Apalagi jika yang ibu percayai merawatnya adalah orangtua sendiri atau mertua. Kalau mereka tidak punya pemahaman yang sama tentang pemberian dan manfaat ASI eksklusif, ditambah pengalaman mereka dulu mungkin menyusui sambil dicampur susu atau makanan padat, akan sedikit menyulitkan. Tapi, jangan menyerah. Pelan-pelan jelaskan sama ibu atau ibu mertua tentang pentingnya ASI eksklusif, dan bahwa usus bayi belum siap mencerna makanan. Begitu juga jelaskan pada pengasuh, kerjasama orangtua dengan pengasuh di rumah ini juga menentukan keberhasilan menyusui secara eksklusif.

Sedangkan untuk mempersiapkan bayi, ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perahan dengan sendok, bukan botol susu, apabila bayi masih terlalu kecil. Memang di hari-hari pertama pemberian susu perah dengan sendok, bayi mungkin menolaknya. Ia bahkan bisa cemas dan gelisah. Namun, janganlah khawatir, 3 atau 4 hari setelahnya bayi akan terbiasa. Itu sebabnya, sebelum masa cuti berakhir bayi perlu dilatih disuapi susu dengan sendok. Jadi, tak perlu resah jika harus kembali bekerja, bukan?

Memerah ASI dengan Pompa

Adapun cara “menabung” ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik[1]. Hanya saja, harganya relatif mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur.

Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk squeeze and bulb. Padahal, harga kedua pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk squeeze and bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian bulb-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata[1].

Memerah ASI dengan Tangan

Memerah ASI bukanlah hal yang sulit, bahkan tidak selalu membutuhkan alat khusus atau pompa ASI. Cukup dengan pijitan dua jari sendiri, ASI bisa keluar lancar! Memang membutuhkan waktu, yakni masing-masing payudara 15 menit.

Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu memerah dengan jari. Cara back to nature ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara.

Payudara terdiri tiga komponen yang prinsipil, yaitu “pabrik” (di daerah dada berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. “ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya kembali, begitu seterusnya.

Sebenarnya memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah susunya seperti melakukan massage payudara. Ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada massage payudara adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu.” Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun tak sampai setengah jam, tapi susu yang terkumpul bisa mencapi 500 cc.

Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di “gudang”. Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas.

ASI Perah Hanya Kala Ibu & Bayi Terpisah

Harap diingat, aktivitas menyusui langsung (breastfeeding) sebenarnya lebih bermanfaat dibanding ASI perah. Keterikatan, kedekatan, dan terciptanya suasana aman serta nyaman saat menyusui langsung dapat meningkatkan pertumbuhan fisik maupun psikis bayi. Karena itu, berikan ASI perah hanya kala bayi “terpisah” untuk sementara waktu dari ibunya. Setelah ibu di rumah dan bertemu kembali dengan si kecil, aktivitas menyusui langsung dapat segera dilakukan.

Kosongkan Gudang ASI agar ASI Terus Diproduksi

Secara prinsip, payudara terdiri atas tiga unsur utama, yaitu “pabrik”, saluran, dan “gudang” ASI (di daerah warna cokelat atau aerola). Ketiganya ibarat bejana berhubungan. Agar produksi terus berjalan, ASI di gudang harus habis lebih dulu. Bila gudang kosong, barulah pabrik akan mengisinya kembali dan seterusnya. Pendek kata, ASI di gudang harus selalu dihabiskan supaya proses produksi terus berjalan.

Saat memerah ASI, prosesnya hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, bagian yang agak belakanglah yang harus ditekan. Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik yang dilakukan salah. Bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi aktivitas yang tidak sulit.

Kunci memerah ASI dengan tangan adalah menemukan posisi jari-jari yang tepat. Lakukan latihan sampai menemukan posisi atau tempat yang tepat. Menggabungkan pemerahan ASI dengan tangan dan pengurutan payudara merupakan cara memerah ASI yang efektif.

Perah Dengan Tangan Lebih Dianjurkan

ASI yang diperah dengan pompa sebenarnya tak direkomendasikan atau tak dianjurkan diberikan kepada bayi. Kenapa? Karena banyak pompa ASI di pasaran yang tidak memenuhi standar. Bahan karet yang terdapat di bagian belakang pompa yang berbentuk seperti bohlam ternyata tak bisa disterilkan. Bahkan bisa menjadi media yang menyalurkan mikroba. Lantaran itu, ASI hasil pompa dianjurkan hanya sebatas untuk mengatasi pembengkakan payudara.

Memang ada pula pompa ASI yang memenuhi standar, seperti pompa elektrik dan pompa berbentuk piston. Namun harganya terbilang mahal. Jadi, yang dianjurkan tetaplah teknik memerah dengan tangan. Selain mudah, tak merepotkan serta tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli peralatan. Modalnya cuma satu, keterampilan ibu memerah ASI dengan tepat seperti di atas.

Tips Merawat Puting Sehabis Melahirkan

Semua wanita, terutama yang mempunyai rencana untuk menyusui bayinya, sebaiknya selalu merawat payudara. Yang dapat anda lakukan

  • Kenakan BH yang enak dipakai dan bisa menyangga payudara dengan baik. Ganti BH dengan ukuran yang lebih besar bila usia kehamilan bertambah.
  • Jaga payudara selalu dalam keadaan bersih dengan cara mandi dengan sabun lunak setiap hari.
  • Perlahan-lahan usap setiap kotoran yang akan menyumbat mulut saliran ASI. Keringkan dengan handuk bersih.
  • Oleskan krem lanolin setiap hari pada putting susu, bila perlu untuk menjaga kelembutan dan mencegah lecet-lecet sewaktu menyusui.
  • Bila putting susu terlalu pendek, datar atau tertarik kedalam, tariklah masing-masing putting keluar dan pilir-pilirlah di antara ibu jari dan jari telunjuk selama beberapa menit setiap hari. Atau kenakan pelindung putting susu.
  • Setelah usia kehamilan lebih dari 7 bulan, pijatlah daerah kehitaman di sekitar putting susu (areola) beberapa kali setiap hari. Cara ini akan membantu membuka saluran susu. Perhatikan untuk selalu membersihkan tetesan susu sehingga tidak mongering dan menyumbat saluran air susu.

IMPETIGO Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.        LATAR BELAKANG

 

Pioderma merupakan penyakit yang sering dijumpai. Sebenarnya infeksi kulit, selain disebabkan oleh bakteri gram positif seperti pada pioderma, dapat pula disebabkan oleh bakteri gram negatif, misalnya Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Proteus mirabilis, E. coli dan klebsiella. Penyebab yang umum ialah bakteri gram positif, yakni streptokokus dan stafilokokus.

Impetigo, yaitu merupakan salah satu bentuk pioderma yang paling sering menyerang anak-anak, terutama yang kebersihan badannya kurang dan bisa muncul di bagian tubuh manapun setelah terjadi cidera pada kulit, seperti luka maupun pada infeksi virus herpes simpleks.

Paling sering ditemukan di wajah, lengan dan tungkai.
Pada dewasa, impetigo bisa terjadi setelah penyakit kulit lainnya.
Impetigo bisa juga terjadi setelah suatu infeksi saluran pernafasan atas (misalnya flu atau infeksi virus lainnya).

 

  1. 2.        TUJUAN
  • Untuk mengetahui pengertian dan epidemiologi penykit kusta
  • Untuk mengetahui penyebab,penularan serta diagnosis penyakit kuksta
  • Untuk mengetahui tanda dan geejala penyakit kusta

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.    PENGERTIAN IMPETIGO

Istilah impetigo berasal dari bahasa Latin yang berarti serangan, dan telah digunakan untuk menjelaskan gambaran seperti letusan berkeropeng yang biasa nampak pada daerah permukaan kulit.

Impetigo adalah salah satu contoh pioderma, yang menyerang lapisan epidermis kulit (Djuanda, 56:2005). Impetigo biasanya juga mengikuti trauma superficial dengan robekan kulit dan paling sering merupakan penyakit penyerta (secondary infection) dari Pediculosis, Skabies, Infeksi jamur, dan pada insect bites (Beheshti, 2:2007).

Impetigo adalah penyakit infeksi kulit yang sangat menular yang umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak. Impetigo biasanya berupa luka merah pada wajah, khususnya disekitar hidung dan mulut. Meskipun ini biasa terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melaluui kulit yang rusak atau terluka, ini juga dapat terjadi pada kulit yang sehat.

 Impetigo mengenai kulit bagian atas ( epidermis superfisial).dengan dua macam gambaran klinis, impetigo krustosa ( tnpa gelembung, cairan dengan krusta, keropeng, koreng) dan impetigo bulosa ( dengan gelembung berisi cairan).

  1. Impetigo contagiosa. Merupakan bentuk paling umum dari impetigo, yang biasanya dimulai dengan noda merah pada wajah, paling sering di sekitar hidung dan mulut. Luka dengan cepat memecah dan mengeluarkan cairan atau nanah yang kemudian membentuk kerak berwarna kuning. Luka tersebut mungkin gatal, akan tetapi tidak terasa sakit.
  2. Bullous impetigo. Umumnya diderita oleh bayi dan anak dibawah usia 2 tahun. Impetigo ini tidak menyebabkan rasa sakit dan berisi cairan –biasanya pada pinggul, lengan atau leher. Kulit disekitarnya biasanya merah dan gatal tetapi tidak terluka. Benjolan berisi cairan ini dapat pecah dan menyisakan kerak berwarna kekuningan, dapat besar atau kecil, dan dapat hilang lebih lama daripada impetigo jenis lainnya.
  3. Ecthyma. Merupakan jenis impetigo yang lebih serius yang terdapat di lapisan dalam kulit (dermis). Tanda dan gejala antara lain luka berisi cairan atau nanah yang terasa sakit, biasanya pada kaki. Kemudian memecah dengan kerak yang berwarna kuning keabu-abuan dank eras. Bekas akan tertinggal setelah luka sembuh. Ecthyma dapat juga menyebabkan pembengkakan kelenjar limpa pada area yang terkena.
  1. 2.        ETIOLOGI

 

Ada dua jenis bakteri yang menyebabkan impetigo –staphylococcus aureus dan streptococcus pyogenes. Kedua jenis bakteri ini dapat hidup di kulit anda sampai mereka masuk ke dalam tubuh melalui luka dan menyebabkan infeksi.

Pada orang dewasa, impetigo biasanya disebabkan dari cedera pada kulit –sering disebabkan oleh kondisi kulit lain seperti dermatitis. Anak-anak umumnya terinfeksi melalui luka atau gigitan serangga, tetapi mereka juga bisa mengalami impetigo tanpa memiliki cedera kulit apapun.

  1. 3.        TANDA DAN  GEJALA

 

Impetigo berawal sebagai luka terbuka yang menimbulkan gatal, kemudian melepuh, mengeluarkan isi lepuhannya lalu mengering dan akhirnya membentuk keropeng.. Besarnya lepuhan bervariasi, mulai dari seukuran kacang polong sampai seukuran cincin yang besar. Lepuhan ini berisi carian kekuningan disertai rasa gatal. Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar daerah yang terinfeksi.

Tanda lain nya yaiitu :

  1. Noda merah yang dengan cepat pecah dan mengeluarkan cairan dalam beberapa hari, kemudian membentuk bekas yang kuning kecokelatan
  2. Gatal
  3. Benjolan berisi cairan yang tidak terasa sakit
  4. Pada bentuk yang lebih serius, luka yang berisi cairan atau nanah yang masuk ke dalam bisul

Hanya terdapat pada anak, tidak disertai dengan gejala umum. Keluhan utama adalah rasa gatal dengan lesi awal berupa makula eritematosa berukuran 1-2 mm, kemudian berubah menjadi bula atau vesikel.

  1. 4.        DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Untuk memastikan bahwa penyebabnya adalah stafilokokus atau streptokokus, bisa dilakukan pembiakan contoh jaringan yang terinfeksi di laboratorium.

Bila diperlukan dapat memeriksa isi vesikel dengan pengecatan gram untuk menyingkirkan diagnosis banding dengan gangguan infeksi gram negative. Bisa dilanjutkan dengan tes katalase dan koagulase untuk membedakan antara StaphylococcusdanStreptococcus (Brooks, 332:2005).

  1. 5.        CARA PENCEGAHAN

Infeksi bisa dicegah dengan memelihara kebersihan dan kesehatan badan. Goresan ringan atau luka lecet sebaiknya dicuci bersih dengan sabun dan air, bila perlu olesi dengan zat anti-bakteri.

Untuk mencegah penularan:

  • Hindari kontak dengan cairan yang berasal dari lepuhan di kulit
  • Hindari pemakaian bersama handuk, pisau cukur atau pakaian dengan penderita
  • Selalu mencuci tangan setelah menangani lesi kulit.

Menjaga kulit tetap bersih adalah jalan terbaik untuk menjaga kulit tetap sehat. Obati luka terbuka, gigitan serangga dan bentuk luka lain secara benar dengan membersihkan area yang terluka dengan menggunakan antibiotik.

Jika seseorang dalam keluarga anda memiliki impetigo, lakukan tindakan berikut untuk mencegahnya menular:

  • Cuci area yang terinfeksi dengan sabun lembut dan air mengalir
  • Cuci pakaian mereka yang terinfeksi setiap hari dan jangan berbagi penggunaan
  • Gunakan sarung tangan ketika menggunakan salep antibiotik dan segera cuci tangan anda setelahnya
  • Potong kuku anak yang terinfeksi untuk menghindari kerusakan kulit akibat menggaruk area yang terinfeksi
  • Cuci tangan secara teratur
  • Jaga anak anda tetap dirumah sampai dokter mengizinkan
  1. 6.        PENGOBATAN

Untuk infeksi ringan, diberikan salep antibiotik (misalnya erythromycin atau dicloxacillin). Antibiotik per-oral (ditelan) bisa mempercepat penyembuhan. Untuk melepaskan keropeng, kulit sebaiknya dicuci dengan sabun anti-bakteri beberapa kali/hari.

Perawatan Umum :

  1. Memperbaiki higien dengan membiasakan membersihkan tubuh dengan sabun, memotong kuku dan senantiasa mengganti pakaian.
  2. Perawatan luka
  3. Titak saling tukar menukar dalam menggunakan peralatan pribadi (handuk, pakaian, dan alat cukur)
  1. 7.        CARA PENULARAN

Impetigo merupakan penyakit menular, yang ditularkan melalui cairan yang berasal dari lepuhannya. Besarnya lepuhan bervariasi, mulai dari seukuran kacang polong sampai seukuran cincin yang besar. Lepuhan ini berisi carian kekuningan disertai rasa gatal.

Impetigo menyebar melalui kontak langsung dengan lesi (daerah kulit yang terinfeksi).

Pasien dapat lebih jauh menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali menyebar dengan cepat pada sekolah atau tempat penitipan anak dan juga pada tempat dengan higiene yang buruk atau tempat tinggal yang padat penduduk.

Anda terkena bakteri yang menyebabkan impetigo ketika anda secara sengaja atau tidak melakukan kontak dengan mereka yang terinfeksi atau dengan benda yang mereka gunakan, seperti pakaian, kasur, handuk dan bahkan mainan.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.      EPIDEMIOLOGI IMPETIGO

1.1    FREKUENSI IMPETIGO

 

Impetigo adalah penyakit infeksi kulit yang sangat menular yang umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak. Impetigo biasanya berupa luka merah pada wajah, khususnya disekitar hidung dan mulut. Meskipun ini biasa terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melaluui kulit yang rusak atau terluka, ini juga dapat terjadi pada kulit yang sehat.

1.2    DISTRIBUSI IMPETIGO

  • Menurut Orang

Impetigo terjadi di seluruh Negara di dunia dan angka kejadiannya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Di Amerika Serikat Impetigo merupakan 10% dari masalah kulit yang dijumpai pada klinik anak.

  • Menurut umur

Impetigo adalah infeksi kulit yang sering terjadi pada anak-anak. Impetigo umumnya mengenai anak usia 2-5 tahun.

  • Menurut tempat dan Waktu

Penderita terbanyak pada daerah yang jauh lebih hangat, yaitu pada daerah tenggara Amerika (Provider synergies, 2:2007).

1.3    DETERMINAN

  • Host

Kelompok masyarakat  yang pling banyak  terkena penykit ini adalah kelompok bayi  dan anak – anak. 

  • Agen

Penyebab yang umum ialah bakteri gram positif, yakni streptokokus dan stafilokokus.

  • Enviroment

Impetigo dapat timbul sendiri (primer) atau komplikasi dari kelainan lain (sekunder) baik penyakit kulit (gigitan binatang, varizela, infeksi herpes simpleks, dermatitis atopi) atau penyakit sistemik yang menurunkan kekebalan tubuh (diabetes melitus, HIV)

BAB IV

PENUTUP

  1. 1.        KESIMPULAN

Impetigo adalah penyakit infeksi kulit yang sangat menular yang umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak. Impetigo biasanya berupa luka merah pada wajah, khususnya disekitar hidung dan mulut. Meskipun ini biasa terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melaluui kulit yang rusak atau terluka, ini juga dapat terjadi pada kulit yang sehat.

Ada dua jenis bakteri yang menyebabkan impetigo –staphylococcus aureus dan streptococcus pyogenes. Kedua jenis bakteri ini dapat hidup di kulit anda sampai mereka masuk ke dalam tubuh melalui luka dan menyebabkan infeksi.

Tanda penyakit ini yaitu:

  1. Noda merah yang dengan cepat pecah dan mengeluarkan cairan dalam beberapa hari, kemudian membentuk bekas yang kuning kecokelatan
  2. Gatal
  3. Benjolan berisi cairan yang tidak terasa sakit
  4. Pada bentuk yang lebih serius, luka yang berisi cairan atau nanah yang masuk ke dalam bisul

Impetigo menyebar melalui kontak langsung dengan lesi (daerah kulit yang terinfeksi).

Pasien dapat lebih jauh menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi

  1. 2.         SARAN
  • Di harapkan pada makalah ini para  pembaca dan peulis dapat mengetahui apa penyakit Impetigo ini.
  • Di harapkan kepada ppembaca dapat memmbedakan kedua jenis  impetigo
  • Di harapkan kepada pembaca  agar mengetahui tanda adari penyakit ini agar bisa menjaga diri.
  • Di harapkan kepada pembaca agar lebih menjaga diri daari segala penyakit terutama penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

1. Djuanda A., Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Edisi Ketiga, FKUI, Jakarta, 2000, 55-61

2. Siregar R.S., Saripati Penyakit Kulit, EGC, Jakarta, 1996, 51-56

3. Impetigo, available at www.http://medicastore.com

4. Common Bacterial Skin Infections, available at www.aafp.org/afp/pdf

5. Superficial and Deep Bacterial Infections of the Skin, available at http://www.eadv2005.com

6. Impetigo, available at www.cchd.org

FILARIASIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Filariasis merupakan salah satu penyakit yang termasuk endemis di Indonesia. Seiring dengan terjadinya perubahan pola enyebaran penyakit di negara-negara sedang berkembang, penyakit menular masih berperan sebagai penyebab utama kesakitan dan kematian. Salah satu penyakit menular adalah penyakit kaki gajah (Filariasis). Penyakit ini merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria. Di dalam tubuh manusia cacing filaria hidup di saluran dan kelenjar getah bening(limfe), dapat menyebabkan gejala klinis akut dan gejala kronis. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk. Akibat yang ditimbulkan pada stadium lanjut (kronis) dapat menimbulkan cacat menetap seumur hidupnya berupa pembesaran kaki (seperti kaki gajah) dan pembesaran bagian bagian tubuh yang lain seperti lengan, kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita

Pada tahun 1994 World Health Organization (WHO) telah menyatakan bahwa penyakit kaki gajah dapat di eleminasi dan dilanjutkan pada tahun 1997 World Health Assembly membuat resolusi tentang eliminasi penyakit kaki gajah dan pada tahun 2000 WHO telah menetapkan komitmen global untuk mengeliminasi penyakit kaki gajah (“The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by the year 2020”).

Di Indonesia penyakit kaki gajah pertama kali ditemukan di Jakarta pada tahun 1889. Berdasarkan rapid mapping kasus klinis kronis filariasis tahun 2000 wilayah Indonesia yang menempati ranking tertinggi kejadian filariasis adalah Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah kasus masing-masing 1908 dan 1706 kasus kronis. Menurut Barodji dkk (1990 –1995) Wilayah Kabupaten Flores Timur merupakan daerah endemis penyakit kaki gajah yangdisebabkan oleh cacing Wuchereria bancrofti dan Brugia timori. Selanjutnya oleh Partono dkk (1972) penyakit kaki gajah ditemukan di Sulawesi. Di Kalimantan oleh Soedomo dkk (1980) Menyusul di Sumatra oleh Suzuki dkk (1981) Sedangkan penyebab penyakit kaki gajah yang ditemukan di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra tersebut adalah dari spesies Brugia malayi.

Selain ke tiga wilayah kepulauan tersebutdiatas sebagaimana yang termuat didalam modul eleminasi penyakit kaki gajah yang di terbitkan oleh Depkes. RI melalui Ditjen PPM & PLDirektorat P2B2 Subdit Filariasis dan Schistosomiasis (2002) endemisitas kejadian filariasis juga terdapat dibeberapa propinsi lainya di Indonesia, diantaranya Kabupaten Bekasi Propinsi Jawa Barat, Kabupaten Pekalongan Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Lebak Tangerang Propinsi Banten, Batam Propinsi Riau, Lampung Timur Propinsi Lampung, Mamuju Propinsi Sulawesi Selatan, Donggala Propinsi Sulawesi Tengah, Kab. Pontianak Propinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah, dan Kota Baru Propinsi Kalimantan Selatan. Menurut Harijani AM. (1981) ditemukan Brugia malayi di Kalimantan Selatan bersifat Zoonosis karena dari penangkapan berbagai binatang, kucing, monyet daun mengandung Brugia malayi stadium dewasa dan vektornyadapat menggigit baik manusia maupun hewan.

1.2 RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN

  1. RUMUSAN MASALAH

Tingginya angka kematian yang disebabkan oleh  penyakit kaki gajah (Filariasis)

  1. TUJUAN
  1. Untuk mengetahui pengertian penyakit kaki gajah
  2. Untuk mengetahui etiologi, masa inkubasi, diagnosis penyakit kaki gajah
  3. Untuk mengetahuicara penularan penyakit kaki gajah
  4. Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan penyakit kaki gajah

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1  Pengertian penyakit kaki gajah ( FILARIASIS )

  1. Filariasis adalah suatu infeksi cacing gelang melalui nyamuk yang hanya sesekali bersifat zoonik. Dapat menimbulkan pembesaran yang menyolok dan cacat dari anggota tubuh
  2. Filariasis adalah suatu kelompok penyakit yang disebabkan oleh filarioidea di negara-negara tropis dan sub tropis.
  3. Filariasis adalah penyakit kaki gajah yang disebabkan oleh cacing benang (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
  4. Filariasis adalah suatu penyakit infeksi yang dapat dipindahkan oleh cacing filaria ke tubuh

 

2.2  Etiologi penyakit  kaki gajah ( FILARIASIS )

Wuchereria bancrofti hanya ditemukan pada manusia; Brugia malayi sering kali menyebar kepada manusia melalui inang hewan. Parasit dewasa hidup di sistem limphatik. Microfilaria yang dilepaskan oleh betina gravit ditemukan di darah perifer, biasanya pada malam hari. Infeksi menyebar melalui banyak genera nyamuk; vektor Wuchereria bancrofti adalah aedes, culex, dan anopheles; vektor Brugia malayi adalah anopheles dan mansonia. Microfilaria dimakan oleh nyamuk, berkembang di otot torax serangga, dan kemudian matur dan bermigrasi ke bagian mulut serangga. Jika nyamuk terinfeksi menggigit inang baru, microfilaria masuk ke tempat gigitan dan akhirnya mencapai saluran limfatik, dimana mereka manjadi matur.

Inflamasi dan fibrosis yang terjadi disekitar cacing dewasa dan mudah menghasilkan obstruksi limfatik progresif. Microfilaria mungkin tidak berperang langsung dalam reaksi inang.

2.3  Masa inkubasi dan diagnos

A.    Masa inkubasi

      Pada manusia antara 3-15 bulan sedangkan pada hewan bervariasi sampai beberapa bulan

      Masa inkubasi mungkin sesingkat 2 bulan. Periode pra paten (dari saat infeksi sampai tampaknya microfilaria di dalam darah) sekurang-kurangnya 8 bulan.

  1. Diagnosis
  • Diagnosis Klinik

            Ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Diagnosis klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic Disease Rate).

Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis adalah gejala dan pengalaman limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala menahun.

  •   Diagnosis Parasitologik

Ditemukan mikrofilaria pada pemeriksaan darah jari pada malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan slang hari, 30 menit setelah diberi dietilkarbamasin 100 mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan species cacing filaria.

Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten, inkubasi, amikrofilaremia dengan gejala menahun, occult filariasis, maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis.

Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremi, tidak membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit, ekskresi dan sekresi parasit tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik, antibodi monokional terhadap O.gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea.

  •  Diagnosis Epidemiologik

Endemisitas filariasis suatu daerah ditentukan dengan menentukan microfilarial rate (mf rate), Acute Disease Rate (ADR) dan Chronic Disease Rate (CDR) dengan memeriksa sedikitnya 10% dari jumlah penduduk.

Pendekatan praktis untuk menentukan daerah endemis filariasis dapat melalui penemuan penderita elefantiasis.

Dengan ditemukannya satu penderita elefantiasis di antara 1000 penduduk, dapat diperkirakan ada 10 penderita klinis akut dan 100 yang mikrofilaremik.

2.5 Cara penularan

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.

Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3-5 hari. Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

2.5  Pencegahan dan Penanggulangan

  1. Pencegahan

            Bagi penderita penyakit gajah diharapkan kesadarannya untuk memeriksakan kedokter dan mendapatkan penanganan obat-obtan sehingga tidak menyebarkan penularan kepada masyarakat lainnya. Untuk itulah perlu adanya pendidikan dan pengenalan penyakit kepada penderita dan warga sekitarnya.

            Pemberantasan nyamuk diwilayah masing-masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan hal terpenting untuk mencegah terjadinya perkembangan nyamuk diwilayah tersebut.

  1. Penanggulangan

              Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki gajah adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita, sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi.

            Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} adalah satu-satunya obat filariasis yang ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini tergolong murah, aman dan tidak ada resistensi obat. Penderita yang mendapatkan terapi obat ini mungkin akan memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan mudah diatasi dengan obat simtomatik.

Dietilkarbamasin tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan oral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. Dietilkarbamasin tidak diberikanpada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat ataudalam keadaan lemah.

Namun pada kasus penyakit kaki gajah yang cukup parah (sudah membesar) karena tidak terdeteksi dini, selain pemberian obat-obatan tentunya memerlukan langkah lanjutan seperti tindakan operasi.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 EPIDEMIOLOGI PENYAKIT FILARIASIS

Filariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit filaria yang menyerang kelenjar dan pembuluh getah bening Di Indonesia filariasis limfatik disebabkan oleh Wuchereria bancrofti (filariasis bancrofti) serta Brugia malayi dan Brugiatimori (filariasis brugia) dan dikenal umum sebagai penyakit kaki gajah atau demam kaki gajah. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukan mikrofilaria dalam peredaran darah.

W. bancrofti dan B.timori hanya ditemukan pada manusia. Berdasarkan sifat biologik B. malayi di Indonesia didapatkan dua bentuk yaitu bentuk zoophilic dan anthropophilic. Periodisitas mikrofilaria di peredaran darah pada jenis infeksi yang hanya ditemukan pada manusia bersifat noktumal, sedangkan yang ditemukan pada manusia dan hewan (kera dan kucing) dapat aperiodik, sub-periodik atau periodik.

Filariasis ditularkan melalui vektor nyamuk Culex quinque-fasciatus di daerah perkotaan dan oleh Anopheles spp., Aedes spp. dan Mansonia spp. di daerah pedesaan. Di dalam nyamuk, mikrofilaria yang terisap bersama darah berkembang menjadi larva infektif. Larva infektif masuk secara aktif ke dalam tubuh hospes waktu nyamuk menggigit hospes dan berkembang menjadi dewasa yang melepaskan mikrofilaria ke dalam peredaran darah. Filariasis ditemukan di berbagai daerah dataran rendah yang berawa dengan hutan-hutan belukar yang umumnya didapat di pedesaan di luar Jawa­Bali. Filariasis brugia hanya ditemukan di pedesaan sedangkan filariasis bancrofti didapatkan juga di perkotaan. Prevalensi filariasis bervariasi antara 2% sampai 70% pada tahun 1987.

Penyakit kaki gajah di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugiatimori, sedangkan vektor penyakitnya adalah nyamuk. Nyamuk yang menjadi vektor filaria di Indonesia hingga saat ini telah diketahui terdapat 23 spesies nyamuk dari genus Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres. Menurut Soedarto (1989) sejumlah nyamuk yang termasuk dalam genus Culex dikenal sebagai vektor penyakit menular. Culex gunguefasciatus atau Culex fatigans menyukai air tanah dan rawa-rawa sebagai tempat berkembang biaknya, vektor ini dapat menularkan demam kaki gajah pada manusia. Beberapa jenis culex lainnya berkembang biaknya berbeda-beda jenisnya baik berupa air hujan dan air lainnya yang mempunyai kadar bahan organik yang tinggi. Umumnya menyukai segala jenis genangan air terutama yang terkena sinar matahari. Menurut Hudoyo (1983) Anopheles barbirotris tempat perkembangannya adalah di air tawar yang tergenang di tempat terbuka baik alamiah (rawa-rawa) maupun buatan atau kolam, di air mengalir yang perlahan-lahan ditumbuhi tanaman air.  Di beberapa daerah, terutama di pedesaan penyakit ini masih endemis. Sumber penularnya adalah penderita penyakit kaki gajah baik yang sudah menimbulkan gejala-gejala ataupun tidak, karena didalam darah terdapat mikrofilariayang dapat ditularkan oleh nyamuk.

Menurut Menkes (2009) menyebutkan, saat ini di Indonesia tercatat 11 ribu orang menderita penyakit kaki gajah yang tampak, dimana telah terjadi pembesaran di kaki dan kelenjar getah bening lainnya. Pendudu yang terinfeksi tentunya jauh lebih banyak, mereka akan diketahui setelah dilakukan tes darah. 

Tetapi  hal ini juga sulit dilakukan karena micro filaria hanya dapat terdeteksi pada malam hari, sehingga penemuan kasus Filariasis menjadi sulit. Dijelaskannya, filariasis ditularkan melalui nyamuk, karena sifatnya yang demikian maka hal yang harus dilakukan yakni, jika ada seseorang di suatu daerah terkena kaki gajah maka harus dilakukan pengobatan bagi seluruh penduduk dengan pemberian obat (pengobatan masal) satu kali selama satu tahun berturut turut hingga lima tahun.

Di Indonesia sebenarnya sudah memiliki program pengobatan masal hasil rekomendasi WHO ini sejak tahun 1970-an dan sudah ada maping yang menunjukkan bahwa filariasis terjadi di 386 kab/kota bukan hanya di kantong-kantong tetapi sudah merata, sejak tahun 2002 juga sudah dilakukan pengobatan masal, ada sekitar 32 juta orang yang sudah meminum obat. Untuk itu menurutnya, filariasis harus diatasi secara serius karena selain menyebabkan orang menjadi tidak produktif, meskipun dapat sembuh namun akan terjadi kecacatan.

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

  • Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk.
  • Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
  • Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3-5 hari. Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit
  • Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki gajah adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita, sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi.

4.2  SARAN

  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan syarat utama untuk menghindari infeksi filariasis.
  • Pemberantasan nyamuk dewasa dan larva perlu dilakukan sesuai aturan dan indikasi.
  • Pemerintah harus terjun langsung kemasyarakat untuk memberikan penyuluhan kepada masyakat.

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. BARR, A. R. 1969. 1970. In: Proceedings of the 37th Annual Conference of the California Mosquito Control Association Inc.,
  2. Basundari Sri Utami, 1990, Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
  3. Cartel JL, et al. 1992.  Wuchereria bancroftiinfection in human and mosquito populations of a Polynesian village ten years after interruption of mass chemoprophylaxix with diethylcarbamazine. Trans R Soc Trop Med Hyg.
  4. Chandra G et al, 1996. Age composition of filarial vector Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae) in Calcutta. Bull Ent Res.
  5. Depkes RI,Ditjen PPM & PL- Direktorat P2B2 Subdit Filariasis & Schistosomiasis, 2002, Pedoman Pengobatan Massal Penyakit Kaki Gajah (Filariasis), Jakarta.
  6. http://www.infopenyakit.com/2009/01/penyakit-kaki-gajah-filariasis-atau.html
  7. http://www.resep.web.id/kesehatan/filariasis-penyakit-kaki-gajah.htm
  8. http://kimiafarmaapotek.com/mobile/index.php/info/detail/1366/penyakit-umum
  9. Taylor MJ et all2001. A new approach to the treatment of filariasis. Curr Opin Infect Dis.
  10. The Carter Center, 2007, Summary of the Third Meeting of the International Task Force for Disease Eradication 

 

PENYAKIT KELAMIN SIFILIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri Troponema Pallidum. Penularan melalui kontak seksual, melalui kontak langsung dan kongenital sifilis (melalui ibu ke anak dalam uterus)

Gejela dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan ; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut “Peniru Besar” karena sering dikira penyakit lainnya. Data yang dilansir Departemen Kesehatan menunjukkan penderita sifilis mencapai 5.000 – 10.000 kasus per tahun. Sementar di Cina, laporan menunjukkan jumlah kasus yang diaporkan naik dari 0,2 per 10.000 jiwa pada tahun 1993 menjadi 5,7 kasus per 100.000 jiwa pada tahun 2005. di Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki.

Penyakit menular sexual (PMS) didunia kesehatan sekarang sudah banyak dibahas dan menjadi percakapan. Hali ini dikarenakan semakin bertambahnya penderita PMS. Baik menimpa secara langsung maupun tidak langsung.

Penyakit menular sexual ini terbagi kedalam macam-macam PMS. Seperti HIV/AIDS, gonorrhea, TORCH, herpes, sifilis dll. Setiap penyakit ini mempunyai gejala-gejala yang berbeda. Bahaya dan pengobatan yang dilakukanpun berdasarkan jenis penyakit yang diderita oleh pasiennya.

Seperti sifilis perlu mendapatkan perhatian khusus untuk tindakan pengobatannya. 

Penyakit ini harus sudah dapat didiagnosa sedini mungkin, agar pencegahan dan pengobatan dapat dilakukan semaksimal mungkin.

  1. Tujuan
    – Dapat mengetahui pengertian   sifilis
    – Dapat mengetahui penyebab dan     gejala
    – Mengetahui pengobatan dan penanganannya.

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

 

A. Pengertian

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini sangat kronik, bersifat sistemik dan menyerang hampir semua alat tubuh.

Penyakit sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan menahun walaupun frekuensi penyakiti ini mulai menurun, tapi masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, saraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang di kandungnya. Sehingga menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis sering disebut sebagai “Lues Raja Singa”.

B. Etiologi

Sifilis disebabkan oleh Treponema Pallidum. Treponema Pallidum termasuk golongan Spirochaeta dan genus treponema yang berbentuk seperti spiral dengan panjang antara 5- 20 mikron dan lebar 0,1- 0,2 mikron, mudah dilihat dengan mikroskop lapangan gelap akan nampak seperti spiral yang bisa melakukan gerakan seperti rotasi. Organisme ini bersifat anaerob mudah dimatikan oleh sabun, oksigen, sapranin, bahkan oleh Aquades. Didalam darah donor yang disimpan dalam lemari es Treponema Pallidum akan mati dalam waktu tiga hari tetapi dapat ditularkan melalui tranfusi mengunakan darah segar. ( Soedarto, 1990 )

  1. C.  Gejala

Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian. Gejala lainnya adalah merasa tidak enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia. Sedangkan pada fase laten dimana tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksius kembali muncul. Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal,

  1. D.                                   Masa inkubasi

antara 9-90   hari,
Tahap1
9-90 hari setelah terinfeksi. Timbul: luka kecil, bundar dan tidak sakit chancre- tepatnya pada kulit yang terpapar/kontak langsung dengan penderita. Chancre tempat masuknya penyakit hampir selalu muncul di dalam dan sekitar genetalia, anus bahkan mulut. Pada kasus yang tidak diobati (sampai 1 tahun berakhir), setelah beberapa minggu, chancre akan menghilang tapi bakteri tetap berada di tubuh    penderita.
Tahap       2
1-2 bulan kemudian, muncul gejala lain: sakit tenggorokan, sakit pada bagian dalam mulut, nyeri otot, demam, lesu, rambut rontok dan terdapat bintil. Beberapa bulan kemudian akan menghilang. Sejumlah orang tidak mengalami gejala                      lanjutan.
Tahap       3
Dikenal sebagai tahap akhir sifilis. Pada fase ini chancre telah menimbulkan kerusakan fatal dalam tubuh penderita. Dalam stase ini akan muncul gejala: kebutaan, tuli, borok pada kulit, penyakit jantung, kerusakan hati, lumpuh dan gila.

  1. E.   Diagnosis

Diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut “Peniru Besar” karena sering dikira penyakit lainnya. Untuk menentukan diagnosis sifilis maka dilakukan pemeriksaan klinik, serologi atau pemeriksaan dengan mengunakan mikroskop lapangan gelap ( darkfield microscope ). Pada kasus tidak bergejala diagnosis didasarkan pada uji serologis treponema dan non protonema. Uji non protonema seperti Venereal Disease Research Laboratory ( VDRL ). Untuk mengetahui antibodi dalam tubuh terhadap masuknya Treponema pallidum. Hasil uji kuantitatif uji VDRL cenderung berkorelasi dengan aktifitas penyakit sehingga amat membantu dalam skrining, titer naik bila penyakit aktif ( gagal pengobatan atau reinfeksi ) dan turun bila pengobatan cukup. Kelainan sifilis primer yaitu chancre harus dibedakan dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin yaitu chancroid, granuloma inguinale, limfogranuloma  venerium, verrucae acuminata, skabies, dan keganasan ( kanker ).

  1. F.   Cara penularan

Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus). Luka terjadi terutama pada alat kelamin eksternal, vagina, anus, atau di dubur. Luka juga dapat terjadi di bibir dan dalam mulut, Wanita hamil dengan penyakit ini dapat terbawa ke bayi. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan..

Harus terjadi kontak langsung dengan kulit orang yang telah terinfeksi disertai dengan lesi infeksi sehingga bakteri bisa masuk ke tubuh manusia. Pada saat melakukan hubungan seksual (misal) bakteri memasuki vagina melalui sepalut lendir dalam vagina, anus atau mulut melalui lubang kecil. Sifilis sangan infeksius pada tahap 1 dan 2. selain juga dapat disebarkan per-plasenta.

G. Pencegahaan penanggulangannya

Sama seperti penyakit menular seksual lainnya, sifilis dapat di cegah dengan cara melakukan hubungan seksual secara aman misalkan menggunakan kondom.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit sifilis. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain :

  • Tidak berganti-ganti pasangan
    • Berhubungan seksual yang aman: selektif memilih pasangan dan pempratikkan ‘protective sex’.
    • Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi..

 

  1. H.  Pengobatan

Sifilis dapat dirawat dengan penisilin atau antibiotik lainnya. Menurut statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding perawatan lainnya, karena pasien biasanya tidak menyelesaikan pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan untuk mengurangi rasa sakit); dosis harus diberikan setengah di setiap pantat karena bila dijadikan satu dosis akan menyebabkan rasa sakit.

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.  Epidemiologi

Penularan utama dari penyakit adalah lewat kontak seksual (coitus ), bisa juga lewat mukosa misalnya dengan berciuman atau memakai gelas dan sendok yang selesai dipakai oleh penderita sifilis dan penularan perenteral melalui jarum suntik dan tranfusi darah. Masa inkubasi dari penyakit sifilis berlngsung sekitar 2- 6 minggu setelah hubungan seksual yang dianggap sebagai penularan penyakit tersebut ( coitus suspectus ). Asal penyakit tidak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. Pada abad ke-15 terjadi wabah di Eropa. Sesudah tahun 1860, morbilitas sifilis menurun cepat. Selama perang dunia II, kejadian sifilis meningkat dan puncaknya pada tahun 1946, kemudian menurun setelah itu. (Sarwono Prawirohardjo, 1999)

Secara garis besar penularan sifilis dibagi atas :

1.    Sifilis kongenital atau bawaan

Sifilis kongenital akibat dari penularan spirokaeta tranplasenta; bayi jarang berkontak langsung dengan Chancre ibu yang menimbulkan infeksi pasca lahir. Resiko penularan transplasenta bervariasi menurut stadium penyakit yang diderita oleh ibu. Bila wanita hamil dengan sifilis primer dan sekunder serta spirokaetamia yang tidak diobati, besar kemungkinan untuk menularkan infeksi pada bayi yang belum dilahirkan daripada wanita dengan infeksi laten. Penularan dapat terjadi selama kehamilan. Insiden dari infeksi sifilis kongenital tetap paling tinggi selama 4 tahun pertama sesudah mendapat infeksi primer, sekunder dan penyakit laten awal.

2.         Sifilis Akuisita ( dapatan )

Sifilis dapatan penularanya hampir selalu akibat dari kontak seksual walupun penangananya secara kuratif telah tersedia untuk sifilis selama lebih dari empat dekade, sifilis tetap penting dan tetap merupakan masalah kesehatan yang lazim di Indonesia. Pembagian sifilis dapatan berdasarkan epidemiologi , tergantung sifat penyakit tersebut menular atau tidak. Stadium menular bila perjalanan penyakit kurang dari 2 tahun dan stadium tidak menular perjalanan penyakit lebih dari 2 tahun.Infeksi Menular Seksual (IMS) menyebar cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual; tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus)

  1. B.   Distribusi

Asal penyakit tidak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. Pada abad ke-15 terjadiwabah di Eropa. Sesudah tahun 1860, morbilitas sifilis menurun cepat. Selama perang dunia II, kejadian sifilis meningkat dan puncaknya pada tahun 1946, kemudian menurun setelah itu.

  1. C.  Frekuensi

Data yang dilansir Departemen Kesehatan menunjukkan penderita sifilis mencapai 5.000 – 10.000 kasus per tahun. Sementara di Cina, laporan menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan naik dari 0,2 per 100.000 jiwa pada tahun 1993 menjadi 5,7 kasus per 100.000 jiwa pada tahun 2005. Di Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan angka sebenarnya diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki.

  1. D.  Determinan
    1. 1.      Agent

Sifilis adalah infeksi dapat disembuhkan yang disebabkan oleh bakteri yang disebut Treponema pallidum. Infeksi ini menular seksual, dan juga dapat ditularkan dari ibu ke janinnya selama kehamilan. Sebagai penyebab penyakit ulkus kelamin. Kebanyakan orang dengan sifilis cenderung tidak menyadari infeksi mereka dan mereka dapat menularkan infeksi ke kontak seksual mereka atau, dalam kasus seorang wanita hamil, untuk anaknya yang belum lahir. Jika tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan konsekuensi serius seperti kematian lahir mati, prematur dan neonatal. Hasil samping dari kehamilan dapat dicegah jika infeksi terdeteksi dandiobat isebelum pertengahan trimester detik.Deteksi dini dan pengobatan juga penting dalam mencegah komplikasi berat jangka panjang dalam transmisi pasien dan selanjutnya ke pasangan seksual. Sifilis kongenital membunuh lebih dari satu juta bayi setahun di seluruh dunia tetapi dapat dicegah jika ibu terinfeksi diidentifikasi dan diobati dengan tepat sedini mungkin.
     Tes cepat untuk sifilis sekarang tersedia secara komersial. Ini adalah titik sederhana tes perawatan dan dapat dilakukan di luar pengaturan laboratorium dengan pelatihan yang minimal dan tidak ada peralatan menggunakan sejumlah kecil dari seluruh darah dikumpulkan oleh tusukan jari. Oleh karena itu mereka dapat mengatasi masalah yang terkait dengan kurangnya akses ke laboratorium dan tingkat pasien rendah kembali.
Manual ini berguna memberikan gambaran umum tentang penggunaan tes sifilis yang cepat, pembelian mereka, transportasi dan penyimpanan.

2.      Host

Sifilis ditularkan dari orang ke orang melalui kontak langsung dengan luka sifilis. Luka terjadi terutama pada alat kelamin eksternal, vagina, anus, atau di dubur. Luka juga dapat terjadi pada bibir dan mulut. Transmisi organisme terjadi selama hubungan seks vaginal, anal, atau oral. Wanita hamil dengan penyakit ini dapat menularkan ke bayi mereka membawa. Sifilis tidak dapat menyebar melalui kontak dengan kursi toilet, pegangan pintu, kolam renang, kolam air panas, bak mandi, pakaian bersama, atau peralatanmakan.Apa saja      tanda   dan      gejala   pada    orang   dewasa?.Banyak orang terinfeksi sifilis tidak memiliki gejala selama bertahun-tahun, namun tetap berisiko untuk komplikasi terlambat jika mereka tidak diperlakukan. Meskipun penularan terjadi dari orang-orang dengan luka yang dalam tahap primer atau sekunder, banyak dari luka yang belum diakui. Dengan demikian, penularan dapat terjadi dari orang yang tidak menyadari infeksi mereka.

3.    Environmental.

Perubahan dalam sistem lingkungan dan pertanian global adalah salah satu faktor diabaikan utama dalam munculnya, ketekunan dan munculnya kembali penyakit menular. Ini juga berinteraksi dengan tren pembangunan ekonomi, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, migrasi dan polusi. Perubahan iklim dan variabilitas menambahkan faktor-faktor baru ini konglomerat mengemudi pasukan, seperti halnya tren terkait dari over-dan di         bawah-gizi.

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. a.    Kesimpulan

Sifilis merupakan penyakit yang di sebabkan oleh bakteri Treponema Pallidium, cara penularan penyakit sifilis tidak jauh beda dengn penularan penyakit manular sexualainnya, penularan melalai cairan tubuh melalui mukossa. Sifilis mempunyai beberapa tingkatan yang meripakan klasifikasi dari gejala-gejala yang timbul.

Pengobatan sifilis dapat dengan pemberian obat –obatan antibiotic, pemberian obat-obatan ini tidak memperbaiki bagian yang rusak tetapi hanya pencegah agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut. Pencegahan sifilis dpat kita lakukan separti tidak berganti-ganti pasangan sexual, menggunakan kondom saat berhubunagn sexual agar memperkecil kemungkinan tertular penyakit sifilis.

Sifilis merupakan infeksi kronik menular yang disebabkan oleh bakteri troponema pallidum, menginfeksi dan masuk ke tubuh penderita kemudian               merusaknya.
Pengobatan sifilis efektif diberikan antibiotik   penicilin.
Bagi ibu hamil diharapkan untuk melakukan pemeriksaan Antenatal minimal 4 x selama kehamilan agar dapat mendeteksi dini komplikasi

 

  1. E.  Saran

Setelah membahas penyakit sifilis, hal terbesar yang sebaiknya kita lakukan adalah agar lebih menanamkan perilaku hidup sehat, seperti kebiasan sehari-hari dan perilaku sex. Dan apabila sudah positif mangidap harus dengan segera di lkukan pengobatan yang tepat. Bagi ibu hamil diharapkan untuk melakukan pemeriksaan Antenatal minimal 4 x selama kehamilan agar dapat mendeteksi dini komplikasi.

Bagi ibu hamil diharapkan untuk melakukan pemeriksaan Antenatal minimal 4 x selama kehamilan agar dapat mendeteksi dini komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono Prawirohardjo, 2007. Ilmu Kebidanan, Jakarta. YBPS
Sarwono Prawirohardjo, 1999. Ilmu Kebidanan Edisi Kedua, Jakarta.         YBPS
Prof. R. Suleman Sastrawinata, 1981. Obstetri Patologi Bagian Obstetri dan Ginekologi. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran                Bandung.
Prof. R. Rusram Mochtar, MPH, Sinopsis Obtetri, Penerbit buku kedokteran,         EGC
Http://arycomcum.blogspot.com/2009/06/sifilis.html

Http://onlinelibraryfree.com/

SCABIES Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1      LATAR BELAKANG

 

Scabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptesscabiei (Buchart, 1997; Rosendal 1997). Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial ekonomi yang rendah, hygiene perorangan yang jelek, lingkungan yang tidak saniter, perilaku yang tidak mendukung kesehatan, serta kepadatan p enduduk. Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan higiene perorangan yang jelek di negara berkembang merupakan kelompok masyarakat yang paling banyak menderita penyakit Scabies ini (Carruthers, 1978; Kabulrachman, 1992). Prevalensi penyakit Scabies di Indonesia adalah sekitar 6-27% dari populasi umum dan cenderung lebih tinggi pada anak dan remaja (Sungkar, 1997). Diperkirakan sanitasi lingkungan  yang buruk di Pondok Pesantren (Ponpes) merupakan faktor dominan yang berperan dalam penularan dan tingg inya angka prevalensi penyakit Scabies diantara santri di Ponpes (Dinkes Propatim, 1997).

 

Observasi awal yang dilakukan terhadap 6 Ponpes di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur memberikan kesan bahwa : (1) Banyak diantara para santri yang menderita penyakit k ulit Scabies; (2) Sanitasi Ponpes yang kurang memadai; (3) Higiene perorangan yang buruk, (4) Pengetahuan, sikap, dan perilaku para santri yang kurang mendukung pola hidup sehat; serta (5) Pihak manajemen kurang memberikan perhatian pada masalah sanitasi l ingkungan Ponpes. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah mengukur angka prevalensi penyakit Scabies pada santri, serta menganalisis factor sanitasi lingkungan (sanitasi Ponpes, higiene perorangan dan perilaku) manakah yang berperan secara nyata terha dap tingginya prevalensi penyakit Scabies pada santri di seluruh Ponpes yang ada di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

 

1.2     RUMUSAN MASALAH

 

  1. Apakah penyakit Scabies itu ?
  2. Apa etiologi penyakit scabies ?
  3. Berapa lama masa inkubasi dan diagnosis penyakit scabies ?
  4. Bagaimana cara penularan,pencegahan dan penanggulangan penyakit scabies ?

 

1.3     TUJUAN

 

  1. Untuk mengetahui tentang penyakit scabies.
  2. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi penyebab penyakit scabies.
  3. Untuk menentukan lama masa inkubasi dan diagnosis penyakit scabies.
  4. Untuk mengetahui cara penularan,pencegahan dan penanggulangan penyakit scabies.

 

 

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

 

2.1  PENGERTIAN SCABIES

                       Skabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infestasi dan sensitasi Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Penyakit ini disebut juga the itch, seven year itch, Norwegian itch, gudikan, gatal agogo, budukan atau penyakit ampera (Harahap, 2008).

Infeksi parasit pada kulit yang disebabkan oleh kutu, penetrasi pada kulit terlihat jelas.berbentuk papula, vesikula atau berupa saluran kecil berjejer, berisi kutu dan telurnya.Lesi kebanyakan terjadi disekitar jari, sekitar pergelangan tangan dan siku ketiak, pinggang, paha dan bagian luar genital pada pria; puting susu, daerah perut, dan bagian bawah pantat adalah daerah yang paling sering terkena pada wanita. Pada bayi mungkin menyerang daerah leher, telapak tangan, telapak kaki, daerah-daerah tersebut biasanya tidak terkena pada orang yang lebih tua. Gatal hebat terjadi terutama pada malam hari, tetapi komplikasi terbatas hanya terjadi pada luka akibat garukan.

Pada orang yang mengalami penurunan kekebalan dan pada pasien lanjutsia gejala sering muncul sebagai dermatitis yang lebih luas dan saluran/terowongan yang terbentuk, bersisik dan kadang-kadang terjadi vesikulasi dan pembentukan krusta (Norwegian scabies); rasa gatal mungkin berkurang atau hilang. Jika dapat terjadi komplikasi dengan kuman β hemolytic streptococcus, bisa terjadi glomerulonefritis akut. Diagnosa dapat ditegakkan dengan ditemukannya kutu melalui pemeriksaan dengan mikroskop yang diambil dari saluran atau terowongan pada lesi kulit.

 

2.2  ETIOLOGI

                       Skabies disebabkan oleh tungau kecil berkaki delapan, dan didapatkan melalui kontak fisik yang erat dengan orang lain yang menderita penyakit ini. Tungau skabies (Sarcoptes scabiei) ini berbentuk oval, dengan ukuran 0,4 x 0,3 mm pada jantan dan 0,2 x 0,15 pada betina (Brown dkk, 2002).

2.3  MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS

          2.3.1  MASA INKUBASI

                     Masa inkubasi berlangsung 2 sampai 6 minggu sebelum serangan gatal muncul pada orang yang sebelumnya belum pernah terpajan. Orang yang sebelumnya pernah menderita scabies maka gejala akan muncul 1 – 4 hari setelah infeksi ulang.

          2.3.2  DIAGNOSIS

                          Menurut Handoko, 2007, diagnosis ditegakkan jika terdapat setidaknya dua dari empat tanda kardinal skabies yaitu:

  1. Pruritus nokturna, yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
  2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok.
  3. Adanya terowongan pada tempat- tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu- abuan, berbentuk lurus atau berkelok, rata- rata panjang 1cm, dan pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Tempat predileksinya adalah tempat- tempat dengan stratum korneum yang tipis seperti jari- jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, umbilikus, genetalia pria dan perut bagian bawah.
  4. Menemukan tungau. Untuk menemukan tungau atau terowongan, dapat dilakukan dengan beberapa cara.

2.4  CARA PENULARAN

Perpindahan parasit dapat terjadi secara kontak langsung melalui gesekan kulit dan dapat juga terjadi pada waktu melakukan hubungan seksual. Perpindahan dari pakaian dalam dan sprei terjadi jika barang-barang tadi terkontaminasi oleh penderita yang belum diobati. Kutu dapat membuat saluran dibawah permukaan kulit dalam 2,5 menit. Orang dengan “Norwegian scabies” sangat mudah menular karena kulit yang terkelupas mengandung banyak kutu.

 

2.5  PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN

  1. Berikan pengobatan dan penyuluhan kepada penderita dan orang yang berisiko. Kadangkala diperlukan kerjasama masyarakat dengan otoritas militer.
  2. Pengobatan dilakukan secara massal.
  3. Penemuan kasus dilakukan secara serentak baik didalam keluarga, didalam unit atau institusi militer, jika memungkinkan penderita dipindahkan.
  4. Sediakan sabun, sarana pemandian, dan pencucian umum. Sabun Tetmosol jika ada sangat membantu dalam pencegahan infeksi.
  5. Implikasi bencana : Kemungkinan besar menimbulkan KLB pada situasi menusia penuh sesak
  6. Tindakan Internasional : Tidak ada

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1   DISTRIBUSI PENYAKIT

       Penyebaran­ / distribusi masalah kesehatan disini adalah menunjuk kepada pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan dalam epidemiologi adalah menurut cirri-ciri manusia (person),tempat (place), dan waktu (time).

  • Orang (person)

Penyakit scabies ini dapat menyerang semua orang khususnya para bayi akan lebih rentan terkena penyakit ini. Penyakit ini biasa banyak di derita pada penghuni pondok pesantren.

  • Tempat (place)

Tersebar di seluruh dunia. Penyebaran scabies di AS dan Eropa yang terjadi tanpa melihat faktor usia, ras, jenis kelamin atau status kesehatan seseorang. Scabies endemis disebagian besar negara berkembang.

  • Waktu (time)

Scabies berlangsung 2 sampai 6 minggu sebelum serangan gatal muncul pada orang yang sebelumnya belum pernah terpajan. Orang yang sebelumnya pernah menderita scabies maka gejala akan muncul 1 – 4 hari setelah infeksi ulang.
3.2  FREKUENSI PENYAKIT

Penyakit scabies merupakan penyakit menular yang disebabkan virus influenza yang dapat menyerang manusia. Pada manusia penyakit ini dapat menyerang pada semua umur, baik anak-anak,remaja dan orang tua. Penyakit ini biasa banyak di derita pada penghuni pondok pesantren.

 

3.3  DETERMINAN

  •  Agent

Scabies di sebabkan oleh Sarcoptes scabiei, sejenis kutu.

  • Host
  1. Menurut Umur

Penyakit ini menyerang segala usia terutama lebih spesifik pada bayi yang sangat rentan terkena penyakit ini.

  1. Jenis Kelamin

Penyakit ini di derita oleh semua jenis kelamin karena penyakit ini menyerang orang yang system imunnya kurang.

  • Faktor Lingkungan

Kejadian wabah disebabkan oleh buruknya sanitasi lingkungan karena biasanya penyakit ini apabila lingkungan yang di tempati kurang bersih maka akan terpapar oleh penyakit scabies ini.

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1  KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data penelitian disimpulkan bahwa faktor sanitasi lingkungan yang berperan terhadap tingginya prevalensi penyakit Scabies dikalangan para santri Ponpes  perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat terhadap penyakit Scabies, serta higiene perorangan yang buruk dari para santri.

 

4.2                 SARAN

Perlu perbaikan dalam penyediaan air bersih dengan mengolah secara sederhana yaitu penambahan tawas untuk menjernihkan air dan penambahan kaporit sebagai disin fektan. Selanjutnya dibuat peraturan dan pengawasan ketat tentang pola perilaku hidup bersih dan higiene perorangan.

 
 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Azwar, A.(1995). Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan . Jakarta : PT Mutiara Sumber Widya.
  • Buchart, C.G.(1997). Scabies : An Epidemiologic Reassessment. Majalah Kedokteran Indonesia 47 (1) : 117-123.
  • Carruthers, R.(1978). Treatment of Scabies and Pediculosis. Medical Proggress 5 (12) : 25-30.
  • Boediardja S. 2003. Skabies pada Bayi dan Anak. Editor: Boediardja S, Sugito T, Kurniati D, Elandari. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  • Bratawidjaja, K.G. 2007. Imunologi Dasar. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. pp: 260-262.
  • Brown R.G., Burns T. 2002. Lecture Notes Dermatology. Edisi ke- 8. Jakarta: Penerbit Erlangga. pp: 42-47
  • Bruckner D.A., Garcia L.S. 2007. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Dalam: Padmasutra L. (ed). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. p: 335
  • Budiarto E. 2008. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. pp: 38-49.
  • Chosidow O. 2006. Scabies. The New England Journal of Medicine. 354: 1718- 27.
  • Darwanto., Prianto J., Tjahaya P.U. 2000. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. p: 154.