SHIGELLOSIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Seseorang akan bisa melakukan aktifitasnya baik aktifitas fisik maupun tidak tergantung pada kondisi tubuh seseorang tersebut.oleh karena itu seseorang tidak dapat melakukan itu semua tanpa fisik, mental, dan social yang baik. Sehat menurut WHO yaitu sesuatu keadaan yang sejahtera menyeluruh baik fisik, mental dan social serta bebas dari penyakit dan kecacata

Oleh karena itu pengetahuan tentang bagaimana membuat diri tetap sehat salah satunya dengan mempelajari epidemiologo pemyakit menular. Dimana penyakit menular tersebut yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang ke orang yang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu penyakit menular yaitu penyakit Shigellosis, penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan mempunyai tingkat keseriusan yang tinggi karena penyakit ini dapat menimbulkan kematian.

  1. Rumusan masalah
    1. Apa defenisi dari Shigellosis ?
    2. Etologi dari penyakit Shigellosis ?
    3. Bagaimana cara penularannya ?
    4. Berapa lama masa inkubasi dan bagaimana cara mendiaknosis penyakit Shigellosis ?
    5. Bagaimana cara pencegahan dan penamggulangannya ?
  1. Tujuan
    1. Agar kita mengetahui tentang penyakit Shigellosis
    2. Agar kita dapat mengetahui etiologi dari Shigellosis
    3. Agar kita mengetahui cara penularan penyajit Shigellosis
    4. agar kita mengetahui lama masa inkubasi dan cara mendiagnosis
    5. agar kita bisa mengerti tentang cara pencegahan dan penanggulangan

BAB II

TELAAH PUSATAKA

  1. Pengertian

 

Shigellosis adalah suatu penyakit peradangan akut oleh kuman genus Shigella spp. yang menginvasi saluran pencernaan terutama usus sehingga menimbulkan kerusakan sel-sel mukosa usus tersebut.

2. Etiologi

Shigellosis disebabkan oleh kuman Shigella spp. Kuman ini tergolong genus Shigella yang merupakan bakteri gram negatif, bentuk batang, non motil, anaerobik fakultatif dan tidak bertangkai serta secara biokimia meragikan laktosa sangat lambat bahkan tidak sama sekali. Dibagi 4 kelompok serologik yaitu S.dysenteri (12 serotipe), S.flexnewri (6 serotipe), S.boydii (18 serotipe) dan S.sonnei (1 serotipe). Di daerah tropis yang tersering ditemukan ialah S.dysenteri dan S.flexneri, sedangkan S.sonnei lebih sering dijumpai di daerah sub tropis atau daerah industri.             

3. Masa inkubasi dan diagnosis

  1. Masa inkubasi

 

Pada umumnya masa inkubasi shigellosis adalah pendek yaitu antara 24 jam sampai 4 hari, Penderita dengan kasus ringan gejalanya berlangsung selama 3-5 hari, kemudian sembuh sempurna. Pada tipe fulminant yang berat, penderita dapat mengalami kolaps dan mendadak diikuti dengan menggigil, demam tinggi dan muntah-muntah disusul dengan penurunan temperatur, toksemia yang berat dan diakhiri dengan kematian penderita.

Gejala klinis yang didapat pada Shigellosis adalah :

  • Diare cair yang banyak bercampur darah dan lendir.
  • Demam tinggi mendadak sampai mencapai 42 °C
  • Nyeri perut, tenesmus
  • Neusea dan vomitus
  • Dehidrasi sesuai derajatnya
  • Takikardi dan takipneu
  • Lamanya sakit  hari. ± 5 – 7

 Diagnosis

Dasar untuk menentukan diagnosis adalah dengan memperhatikan gejala-gejala klinik dan pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik atas tinja untuk membedakan dengan infeksi oleh kuman lain misalnya amebiasis. Pemeriksaan darah rutin kadang didapatkan leukopenia dan apabila sudah terjadi komplikasi HUS (Hemolytic Uremic Syndrom) maka didapatkan gambaran anemia hemolitik dan trombositopenia. Biakan tinja sebaiknya berasal dari hapusan rectum, akan dapat menentukan dengan pasti kuman penyebab penyakit. Biasanya pasien datang sudah dalam keadaan dehidrasi

.
Pada infeksi akut, pemeriksaan proctoscopy menunjukkan radang mukosa usus yang difus, membengkak dan sebagian besar tertutup eksudat. Ulkus –ulkus dapat pula dijumpai, dangkal, bentuk dan ukurannya tidak teratur dan tertutup oleh eksudat yang purulen. Pada infeksi kronis, terlihat parut pada kolon, proses ulserasi tidak aktif, sedangkan gejala-gejala klinik berganti-ganti antara stadium remisi dan eksaserbasi. Pada waktu kambuh, penderita mengalami demam, diare dengan darah dan lendir serta serta eksudat seluler dalam tinja. Penderita dengan infeksi kronis, seringkali mengalami kepekaan yang berlebih terhadap beberapa macam makanan misalnya susu, sehingga menimbulkan defisiensi nutrisi.

4. Penularan

Shigella dapat ditularkan melalui makanan , termasuk salad (kentang, ikan tuna, udang, macaroni, dan ayam), mentah sayuran , susu dan produk susu , dan daging .. Kontaminasi makanan ini biasanya melalui rute fecal-oral. Fecally terkontaminasi air dan penanganan yang tidak bersih oleh penjamah makanan adalah penyebab paling umum dari kontaminasi.

 5. Pencegahan dan Penanggulangan

  1. Pencegahan

– Apabila bepergian ke daerah endemik sebaiknya bahan makanan baik buah-buahan ataupun sayuran harus dicuci terlebih dahulu lalu dimasak sebelum dimakan.
– Biasanya air yang terkontaminasi oleh kotoran penderita juga merupakan sumber penyebaran Shigella.
– Mencuci tangan setelah menggunakan toilet
– Memisahkan penderita demam dengan penderita diare di rumah sakit.

2. Penanggulangan

Penanggulangan penyakit Shigellosis salah satunya dapat dilakukan dengan pengobatan :

Dasar pengobatan pada Shigellosis yaitu dengan penggunaan antibiotik, memperbaiki dan mencegah dehidrasi dan mengendalikan gejala penyerta. Penatalaksanaan dehidrasi pada umumnya sama dengan diare oleh sebab yang lain. Pengobatan dengan suportif yaitu memperbaiki kehilangan cairan dan elektrolit yang dapat menimbulkan dehidrasi, asidosis, syok dan kematian. Penatalaksanaan terdiri dari penggantian cairan dan memperbaiki keseimbangan elektrolit secara oral atau intravena, menurut keadaan masing-masing penderita. Selain pemberian cairan, pemberian makanan juga harus diperhatikan. Terapi diatetik disesuaikan dengan status gizi penderita yang didasarkan pada umur dan berat badan.

Antibiotik yang digunakan adalah Ampicillin sebagai drug of choice, tetapi banyak yang sudah resisten terhadap obat ini sehingga digunakan antibiotik lain. Trimethoprim-Sulfamethoxazole (Kotrimoksasol) merupakan pilihan efektif untuk Shigellosis. Obat golongan Sefalosporin generasi ketiga seperti Cefriaxone ataupun Cefixime bagi pasien yang mempunyai kontraindikasi terhadap pemberian Kotrimoksasol. Obat golongan Quinolone generasi pertama (Nalidixic acid) juga efektif bagi pasien yang alergi terhadap Sulfas dan Sefalosporin.

Kotrimoksasol pada orang dewasa dapat diberikan dengan dosis 160 mg/kali per oral sedangkan untuk anak dibawah 2 bulan tidak dianjurkan. Untuk anak dosisnya 8-10 mg/kg/ kali per oral diberikan selama 5 hari. Obat ini tidak boleh digunakan pada penderita anemia megaloblastik dan defisiensi G-6PD.

Cefriaxone pada orang dewasa dapat diberikan 2 g IV/IM sekali pakai atau dibagi menjadi 2 kali pemberian. Untuk dosis pediatrik 50 mg/kg/kali IV/IM diberikan sekali sehari. Untuk Cefixime pada dewasa diberikan 400 mg/kali per oral sekali sehari atau dibagi menjadi 2 kali sehari, dosis pediatrik 15 mg/kg per oral sebagai dosis awal lalu dilanjutkan 8 mg/kg/kali per oral untuk 5 hari.

Nalidixic acid pada dewasa diberikan 1 gr per oral 4 kali sehari. Untuk dosis pediatrik 55 mg/kg/kali per oral dibagi dalam 4 kali pemberian selama 5 hari.

Obat-obat yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat seperti anti spasmodik/spasmolitik tidak dianjurkan untuk dipakai, karena akan memperburuk keadaan. Obat ini dapat menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen usus, dilatasi usus, gangguan digesti dan absorpsi lainnya. Obat ini hanya berkhasiat untuk menghentikan peristaltik usus saja tetapi justru akibatnya sangat berbahaya. Diarenya terlihat tidak ada lagi tetapi perut akan bertambah kembung dan dehidrasi bertambah berat.

Obat-obat absorben (pengental tinja) seperti kaolin, pectin, norit, dan sebagainya, telah terbukti tidak bermanfaat. Obat-obat stimulans seperti adrenalin, nikotinamide dan sebagainya, tidak akan dapat memperbaiki syok atau dehidrasi beratnya karena penyebabnya adalah kehilangan cairan (hipovolemic shock), sehingga pengobatan yang paling tepat yaitu pemberian cairan secepatnya.

Penderita Shigellosis harus istirahat penuh di tempat tidur. Makanan harus kaya akan protein dan vitamin serta mudah dicerna. Obat penenang diberikan apabila diperlukan saja.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil

Genotype diperoleh dengan PFGE dianalisis secara terpisah sesuai dengan spesies shigelia S. sonenel dan S. flexneri. Sebuah dendrogam kemiripan dibangun untuk setiap spesies. 

S. sonnelgenotip menghasilkan suatu dendrogram dibentuk oleh dua kelompok utama ( A dan B ), baik dengan kurang dari 35% dan strainkesamaan dengan band yang berat molekol antara 580 kb dan 25 kb, dengan rata – rata 14 band untuk A2 cluster dan 18 untuk B1 kluster. Sebuah kluster disajikan subkelompok renggangan dua (A1 dan A2 ), dengan 20 ( 34,5%) dan 10 (17,2%)  strain masing – masing A1 sub kelompok terdiri dari 15 (25,8%) dan 5 (8,6%) dari strain terisolasi diwilayah metropolitan campinas dan riberio preto masing – masing. A2 subkelompok terdiri dari 10 (17,2%) strain, semua riberio preto terisolasi di. Cluster B juga disajikan subkelompok renggangan dua ( B1 dan B2 ), dengan 16 (27,6%) dan 12 (20,6%) strain, masing – masing. Dalam B1 subkelompok, sebagian besar strain (13;22,4) diisolasi di Campinas, sementara hanya 3 strain yang diisolasi di strain terisolasi dan 2 di Campinas.

Analisi S. genotype flexneri menghasilkan suatu dendogram dibentuk oleh dua kelompok utama ( C dan D ) dengan kesamaan kurang dari 40% dan strain dengan band – band dengan berat molekul antara 560 kbp dan 30 kbp, dengan rata – rata 17 band untuk cluster C2 dan 18 untuk cluster C3. Cluster D memiliki 7 (11,5%) strain, semua riberio preto terisolasi di. Cluster c mencakup sebagian besar strain (54; 88,5%) dan strain terdiri dari kedua daerah metropolitan. Cluster c memiliki tiga sub kelompok regangan (C1, C2, dan C3), dengan kesamaan subkelompok berkisar dari 40% sampai 45%. C1 subkelompok terdiri dari 13 (21,3%) strain dengan 8 (13,1%) dan 5(8,@%) strain riberio preto terisolasi di Cimpinas, masing – masing. Subkelompok yang terkandung C2 31 (51%) strain dengan 7 (11,5%) strain riberio preto terisolasi did an 24 (39,4%) di Cimpinas. Subkelompok C3 berisi 10 strain (16,5%) dengan 9(14,75%) strain riberio preto terisolasi di.

  1. Pembahasan
  2. Distribusi

Shigella ditemukan di seluruh dunia. Pada tahun 1979, Di Negara berkembang dengan kondisi sanitasi yang buruk dan penduduknya yang padat, penularannya sangat mudah biasanya terjadi melalui fekal-oral. Lalat juga bisa menyebarkan kuman ini melalui feses penderita lalu hinggap di makanan. Penyebaran juga bisa terjadi melalui benda mati, seperti alat-alat permainan

  1. Frekuensi

 

Prevalensi dari penyakit ini menurun dalam 5 tahun terakhir ini. Shigella ditemukan di seluruh dunia. Pada tahun 1979, sebanyak 20.135 kasus shigella telah dilaporkan oleh Centre for Disease Control. Shigella lebih sering ditemukan selama akhir musim panas, tetapi sifat ini kurang menonjol sebagaimana Salmonella.

Di Negara berkembang dengan kondisi sanitasi yang buruk dan penduduknya yang padat, penularannya sangat mudah biasanya terjadi melalui fekal-oral. Lalat juga bisa menyebarkan kuman ini melalui feses penderita lalu hinggap di makanan. Penyebaran juga bisa terjadi melalui benda mati, seperti alat-alat permainan. Dalam beberapa strain 10-15% dari orang yang terkena akan mati. Di dunia berkembang , Shigella menyebabkan sekitar 165 juta kasus yang parah disentri dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun, terutama pada anak-anak Shigella juga menyebabkan sekitar 580.000 kasus per tahun di antara para pelancong dan personil militer dari negara-negara industri.

  1. Factor determinan
    1. Host

Umumnya menginfeksi anak-anak dibawah umur 10 tahun, angka kejadian tertinggi terdapat pada kelompok umur 1-4 tahun. Shigella hanya ditemukan pada manusia dan beberapa jenis binatang primata. Penyebaran shigellosis sering terjadi secara kontak orang ke orang karena dosis infeksiusnya rendah (10-100 organisme) sudah dapat menyebabkan sakit.

 

  1. Agent

Shigellosis juga dikenal sebagai disentri basiler atau Sindrom Marlow, dalam manifestasi yang paling parah, adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi oleh bakteri dari genus Shigella . Shigellosis jarang terjadi pada hewan selain manusia dan primata lain seperti monyet dan simpanse. . Organisme penyebab adalah sering ditemukan dalam air tercemar dengan manusia kotoran , dan ditularkan melalui rute fecal-oral . Modus biasa penularan secara langsung orang-ke-orang tangan-ke-mulut, dalam pengaturan kebersihan yang buruk antara anak-anak

 

  1. Envirotment

Kebersihan pribadi sangat penting dalam pencegahan penyakit ini dan orang-orang yang saling berhubungan di lingkungan sanitasi yang buruk mempunyai resiko lebih besar untuk menimbulkan cetusan Shigellosis. Dengan demikian, orang-orang yang tinggal di rumah sakit jiwa, lembaga pemasyarakatan, instalasi militer serta tempat penampungan Indian, kerap kali terserang penyakit ini.

BAB IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari hasil makalah diatas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Penyakit Shigellosis adalah suatu penyakit peradangan akut oleh kuman genus Shigella spp. yang menginvasi saluran pencernaan terutama usus sehingga menimbulkan kerusakan sel-sel mukosa usus tersebut.
  2. Shigellosis penyakit yang disebabkan oleh infeksi yang disebabkan bakteri dari genus Shigella .
  3. Modus biasa penularan penyakit Shigellosis secara langsung orang-ke-orang tangan-ke-mulut, dalam pengaturan kebersihan yang buruk antara anak-anak
  4. penyakit ini dan orang-orang yang saling berhubungan di lingkungan sanitasi yang buruk mempunyai resiko lebih besar untuk menimbulkan cetusan Shigellosis

 

  1. saran
    1. sebaiknya menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan agar perkembangan  bakteri Dario genus shiqella tidak dapat berkembang
    2. jagalah kebersihan makanan dan jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
    3. sebaiknya sebagai orang tua memelihara kebersihan badan anak dan tempat atau alat yang bersentuhan langsung dengan anak
    4. jangan lupa memperhatikan sanitasi lingkungan sekitar agar terhindar dari penyakit Shigellosis

DAFTAR PUSTAKA

Ausubel, FM, Brent, R.; Kingstom, RE; Moore, DD; Smith, JA; Seidam, JG; Sturhl, K.(1998) Protokol ini di buku biologi molekuler.. New York: Hijau Penertiban Associates; 1.61 1p.

Brenner, DJ, Fanning, GR; Skeman, FJ; Falkow, S. (1972). Urutan polinukleotida perbedaan antara strain Escherichia coli dan organism terkait erat. J. Bacteriol, 109: 953-965.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s