TRACHOMA Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Conjunctivitis disebabkan oleh infeksi Chlamydia, dapat muncul tiba-tiba atau perjalanan penyakitnya dapat pelan-pelan. Infeksi dapat berlangsung bertahun-tahun jika
tidak diobati. Namun ciri penyakit yang berlangsung lama didaerah hiperendemis
disebabkan oleh terjadinya reinfeksi yang berulang kali. Ciri khas dari penyakit ini adalah
timbulnya folikel limfoid dan inflamasi diffuse pada konjungtiva.Terbentuk jaringan
parut.

Pembentukan jaringan parut meningkat dengan makin beratnya derajat penyakit atau lamanya inflmasi. Jaringan parut dapat menyebabkan terjadinya deformitas dari
kelopak dan bulu mata (trichiasis dan enteropion). Deformitas kelopak dan bulu mata ini
selanjutnya dapat menyebabkan abrasi kronis pada kornea dan terbentuk jaringan parut
yang mengganggu penglihatan dan dapat menimbulkan kebutaan pada usia dewasa. Dapat
terjadi infeksi sekunder didaerah endemis trachoma. Infeksi sekunder ini memperberat
penyakit dan meningkatkan penularan.

Trachoma pada anak-anak dinegara berkembang merupakan penyakit endemis. Namun
trachoma pada usia dini ini sering tidak dapat dibedakan dengan conjunctivitis yang
disebabkan oleh bakteri lain (termasuk oleh strain genital dari Chlamydia trachomatis) .

Diagnosa banding dari trachoma adalah nodules pada kelopak mata yang dsebabkan oleh
molluscum contagiosum, reaksi toksik atau pengobatan jangka panjang dengan tetes mata,
infeksi stafilokokus kronis pada pinggir kelopak mata. Reaksi alergi karena pemakaian
lensa kontak (giant papillary conjunctivitis) dapat menimbulkan gejala menyerupai
trachoma dengan terbentuknya nodulus tarsalis (giant papillae), Terbentuknya jaringan
parut pada konjungtiva dan pannus pada kornea.

Diagnosa laboratorium ditegakkan dengan ditemukannya bagian elementer dari chlamidia didalam sel epitel dari sediaan yang diambil dari kerokan konjungtiva yang dicat dengan giemsa atau diagnosa juga dapat ditegakkan dengan IF setelah sediaan difiksasi dengan
metanol; atau dengan deteksi antigen dengan menggunakan prosedur EIA atau DNA
probe; atau isolasi dari organisme dengan kultur sel.

1.2    Rumusan Masalah

  • Apa yang di maksut dengan penyakit trachoma ?
  • Bagaimana cara mengetahui etiologi, masa inkubasi, diagnosis penyakit trachoma ?
  • Bagaimana cara penularan penyakit trachoma ?
  • Bagaimana Cara mengetahui pencegahan dan penanggulangan penyakit trachoma ?

1.3.   Tujuan

  • Untuk mengetahui pengertian penyakit Trachoma
  • Untuk mengetahui etiologi, masa inkubasi, diagnosis penyakit trachoma
  • Untuk mengetahui cara penularan penyakit trachoma
  • Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan penyakit trachoma

BAB II

TELAAH PUSTAKA

  1. Pengertian Penyakit Trachoma

Trachoma adalah penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kebutaan bagi penderitanya. Penyakit ini disebabkan oleh tersebarnya bakteri Chlamydia trachomatis di tempat-tempat yang kualitas sanitasinya buruk dan kualitas air yang tidak baik.

  1. Etiologi Penyakit Trachoma

Chlamydia trachomatis adalah bakteri intraseluler yang hanya bisa berpoliferasi di dalam sel host eukariotik. Di luar sel inang, C. trachomatis membentuk badan elementer berupa spora analogus. Ketika spora ini berada dalam sel inang, badan elementernya (BE) akan berubah/berdiferensiasi menjadi badan retikulat (BR), yaitu bentuk non infeksius dari Chlamydia. Setelah beberapa saat berada di dalam sel, BR akan mengalami replikasibinary fusion dan kembali ke bentuk BE. Biasanya EB akan menempati sebagian besar sitoplasma di dalam sel. EB kemudian membuat sel-sel inang mengalami lisis. Sel asli yang hancur diganti dengan jaringan parut oleh mekanisme alami dalam tubuh manusia.

  1. Masa Inkunasi dan Diagnosis

Bakteri ini memiliki masa inkubasi dari 5 sampai 12 hari setelah seseorang mengalami gejala konjungtivitis atau iritasi mirip dengan “mata merah muda.” Endemik kebutaan trakoma merupakan hasil dari beberapa episode reinfeksi yang menghasilkan peradangan terus-menerus pada konjungtiva. Tanpa reinfeksi, peradangan akan berangsur-angsur mereda.

Peradangan konjunctiva  disebut “trachoma aktif” dan biasanya terlihat pada anak-anak, terutama anak-anak pra sekolah (dasar). Hal ini ditandai dengan benjolan putih di permukaan bawah tutup mata atas (conjunctival folikel atau pusat-pusat germinal limfoid). Non-peradangan dan penebalan tertentu sering dikaitkan dengan papila. Folikel mungkin juga muncul di persimpangan kornea dan sclera (limbal folikel). Trakoma aktif akan sering menjengkelkan dan memiliki cairan berair. Infeksi sekunder bakteri dapat terjadi dan menyebabkan discharge purulen.

Perubahan-perubahan struktural trakoma disebut sebagai “cicatricial trakoma”. Ini termasuk jaringan parut di tutup mata (konjungtiva tarsal) yang mengarah pada distorsi tutup mata dengan tekuk dari tutup (Tarsus) sehingga muncul bulu mata gosok pada mata (trichiasis). Bulu mata ini akan mengakibatkan kekeruhan kornea dan bekas luka dan kemudian mengarah ke kebutaan. Bekas luka linear hadir dalam sulkus subtarsalis disebut ‘garis Arlt’s’. Selain itu, pembuluh darah dan jaringan parut dapat menyerang bagian atas kornea (pannus).

DIAGNOSIS

Diagnosis trachoma ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Apusan mata diperiksa untuk mengetahui organisme penyebabnya.

  1. Cara Penularan

Melalui kontak langsung dengan discharge yang keluar dari mata yang terkena infeksi
atau dari discharges nasofaring melalui jari atau kontak tidak langsung dengan benda yang
terkontaminasi, seperti handuk, pakaian dan benda-benda lain yang dicemari discharge
nasofaring dari penderita. Lalat, terutama Musca sorbens di Afrika dan Timur Tengah dan
spesies jenis Hippelates di Amerika bagian selatan, ikut berperan pada penyebaran
penyakit. Pada anak-anak yang menderita trachoma aktif, chlamydia dapat ditemukan dari
nasofaring dan rektum. Namun didaerah endemis untuk serovarian dari trachoma tidak
ditemukan reservoir genital.

  1. Pencegahan dan Penanggulangan

v     Pencegahan

  • Pembedahan: Bagi individu dengan trichiasis (berbaliknya arah lengkungan bulu mata ke arah dalam), sebuah prosedur rotasi bilamellar tarsal dibenarkan untuk mengarahkan bulu mata menjauh dari bola mata.
  • Terapi antibiotik: Pedoman WHO merekomendasikan jika terjadi endemik massa (sekitar 10 % dari populasi suatu daerah) maka perawatan/pengobatan dengan antibiotik tahunan harus terus dilakukan sampai prevalensi turun di bawah lima persen. Jika prevalensi lebih rendah dari itu maka pengobatan antibiotik harus berbasiskan keluarga.
  • Pilihan antibiotik: oral dosis tunggal 20 mg / kg atau topical tetracycline (satu persen salep mata dua kali sehari selama enam minggu). Azitromisin lebih disukai karena digunakan sebagai oral dosis tunggal.
  • Kebersihan: Anak-anak dengan hidung terlihat terlalu berair, okular discharge, atau lalat di wajah mereka paling tidak dua kali lebih mungkin untuk memiliki trakoma aktif dibanding anak-anak dengan wajah yang bersih. Intensif kesehatan berbasis masyarakat untuk mempromosikan program pendidikan muka-cuci dapat secara signifikan mengurangi prevalensi trachoma aktif.
  • Perbaikan lingkungan: Modifikasi dalam penggunaan air, kontrol lalat, penggunaan jamban, pendidikan kesehatan dan kedekatan dengan hewan peliharaan semuanya telah diusulkan untuk mengurangi penularan dari C. trachomatis. Perubahan-perubahan ini menimbulkan banyak tantangan untuk pelaksanaannya. Agaknya perubahan lingkungan ini pada akhirnya berdampak pada penularan infeksi okular melalui wajah kurangnya kebersihan.

v               Penanggulangan

Di daerah yang hiperendemis, pemberian pengobatan massal sangat berhasil dalam
menurunkan prevalensi dan beratnya penyakit. Hal ini akan berhasil jika dilakukan
bersama sama dengan penyuluhan tentang kebersihan perorangan, dan perbaikan
sanitasi lingkungan terutama penyediaan fasilitas air bersih dalam jumlah yang cukup.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Epidemiologi Penyakit Trachoma

Trachoma adalah penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kebutaan bagi penderitanya. Penyakit ini disebabkan oleh tersebarnya bakteri Chlamydia trachomatis di tempat-tempat yang kualitas sanitasinya buruk dan kualitas air yang tidak adekuat. Bakteri-bakteri ini kemudian tersentuh oleh tangan manusia, menempel di tubuh lalat, atau tempat-tempat lain yang nantinya mengontaminasi mata orang yang sehat. Infeksi oleh bakteri ini dapat menyebabkan munculnya jaringan parut  pada kornea mata. Pada awalnya, terbentuk reaksi  infeksi inflamasi pada bagian kelopak atas. Reaksi inilama-kelamaan membuat kelopak mata mengerut dan menyempit.

Kelopak yang membentuk jaringan parut ini lama-kelamaan semakin ke dalam hingga pada akhirnya menutupi kornea. Ketika kornea tertutupi jaringan parut maka si penderita mulai mengalami kebutaan. Dalam setiap kedipan mata, bulu mata akan menggaruk kornea dan membuat penderita menderita. Kondisi ini disebut trichiasis. Chlamydia trachomatis adalah bakteri intraseluler yang hanya bisa berpoliferasi di dalam sel host eukariotik. Di luar sel inang, C. trachomatis membentuk badan elementer berupa spora analogus. Ketika spora ini berada dalam sel inang, badan elementernya (BE) akan berubah/berdiferensiasi menjadi badan retikulat (BR), yaitu bentuk non infeksius dari Chlamydia. Setelah beberapa saat berada di dalam sel, BR akan mengalami replikasibinary fusion dan kembali ke bentuk BE. Biasanya EB akan menempati sebagian besar sitoplasma di dalam sel.

EB kemudian membuat sel-sel inang mengalami lisis. Sel asli yang hancur diganti dengan jaringan parut oleh mekanisme alami dalam tubuh manusia. Reservoir penyakit ini adalah manusia. Cara penularanmelalui kontak langsung dengan discharge yang keluar dari mata yang terkena infeksi atau dari discharges nasofaring melalui jari atau kontak tidak langsung dengan benda yang terkontaminasi, seperti handuk, pakaian dan benda-benda lain yang dicemari discharge nasofaring dari penderita. Lalat, terutama Musca sorbens di Afrika dan Timur Tengah dan spesies jenis Hippelates di Amerika bagian selatan, ikut berperan pada penyebaran penyakit.

Pada anak-anak yang menderita trachoma aktif, chlamydia dapat ditemukan dari nasofaring dan rektum. Akan tetapi, di daerah endemis untuk serovarian dari trachoma tidak ditemukan reservoir genital. Masa inkubasi 5 sampai dengan 12 hari. Masa penularan berlangsung selama masih ada lesi aktif di konjungtiva dan kelenjar-kelenjar adneksa maka selama itu penularan dapat berlangsung bertahun-tahun. Konsentrasi organisme dalam jaringan berkurang banyak dengan terbentuknya jaringan parut, tetapi jumlahnya akan meningkat kembali dengan reaktivasi dari penyakit dan terbentuknya discharge kembali. Penderita tidak menular lagi 1-3 hari setelah diberi pengobatan dengan antibiotika sebelum terjadinya perbaikan gejala klinis.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Trachoma  adalah sebuah penyakit mata menular, dan penyebab utama kebutaan akibat infeksi di dunia. Secara global, 84 juta orang menderita infeksi aktif dan hampir 8 juta orang menjadi tunanetra sebagai akibat dari penyakit ini.

Penyebab trachoma oleh Chlamydia trachomatis dan disebarkan melalui kontak langsung dengan mata, hidung, dan tenggorokan yang terkena cairan (yang mengandung kuman ini) dari pengidap, atau kontak dengan benda mati, seperti handuk dan / atau kain lap, yang pernah kontak serupa dengan cairan ini.

Bakteri ini memiliki masa inkubasi dari 5 sampai 12 hari setelah seseorang mengalami gejala konjungtivitis atau iritasi mirip dengan “mata merah muda.” Endemik kebutaan trakoma merupakan hasil dari beberapa episode reinfeksi yang menghasilkan peradangan terus-menerus pada konjungtiva. Tanpa reinfeksi, peradangan akan berangsur-angsur mereda.

gejala termasuk keluarnya cairan kotor dari mata – bukan air mata (emisi atau sekresi cairan yang mengandung lendir dan nanah dari mata)

4.2 Saran

  • untuk masyarakat

Agar penyakit trachoma tidak menyebar di masyarakat sebaiknya menjaga kebersihan lingkungan terutama bagian sanitasi karna trachoma menyebar melalui air yang kurang besih dan juga masyarakat harus perduli akan kesehatan dirinya.

  • Untuk mahsiswa FKM unidayan

Bagi mahasiswa sebaiknya mengetahui apa-apa saja yang menjadi penyebab penyakit trachoma tersebut agar dalam sosialisasinya mahasiswa dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat tentang penyakit trachoma serta cara pencegahan dan penanggulanganya penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

“Trachoma,”   http://www.hki.org/programs/trachoma.html,

Maggy Montgomerry, Sustaining TrachomaControl and Elimination: The Basis for Environmental Indicators in the Certification of the Elimination of Blinding Trachoma, (World Health Organization: Jenewa, 2006), hlm. 7

Al Granberg, “The life Cycle of Trachoma”, www.newyorktimes.com ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s