CHIKUHNGUNYA Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar belakang

Chikungunya adalah re-emerging disease atau penyakit lama yang kemudian merebak kembali. Demem chikungunya ini adalah sejenis demam yang diakibatkan oleh virus keluarga Togaviridae, genus alfavirus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini cenderung menimbulkan kejadian luar biasa pada sebuah wilayah. KLB chikungunya di dunia terjadi pada tahun 1779, di Batavia dan Kairo, 1823 di Zanzibar, 1824 di India, 1870 di zanzibar, 1871 di India, 1901 di Hongkong, Burma dan madras, 1973 di Calcuta.

            Gejala utamanya adalah demam mendadak, nyeri pada persendian dan ruam makulopapuler (kumpulan bintik-bintik kemerahan) pada kulit yang kemudian disertai dengan gatal. Gejala lainnya yang sering dijumpai adalah nyeri otot, sakit kepala, menggigil, kemerahan pada konjungtiva, pembesaran kelenjar getah bening dibagian leher, mual dan muntah. Meski gejalanya mirip DBD, namun pada chikungunya tidak terjadi perdarahan hebat, renjatan (shock), maupun kematian. Masa inkubasi dua sampai empat hari, sementara manifestasinya tiga sampai sepuluh hari. Akibat yang ditimbulkan chikungunya cukup merugikan, apalagi jika sampai penderita mengalami kelumpuhan dan berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari praktis terhenti.

 

            Di indonesia sendiri chikungunya pertama kali dilaporkan di Samarinda tahun 1973, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Jambi, tahun 1980. Tahun 1983 merebak di martapura, Ternate, dan Yogyakatra. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun 2001 KLB demam chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatra Selatan dan Aceh, disusul bogor pada oktober. Demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi, Purworejo, Klaten Jawa tengah tahun 2002. Di Jakarta penyakit demam chikungunya pernah terdengar pada 1973 bersama-sama dengan kota Samarinda. Sejak Januari hingga Februari 2003, kasus chikungunya dilaporkan menyerang Bolaang Mongondow, Sulut (608 orang), Jember (154 orang), dan Bandung (208 orang) (Tapan 2007). Jumlah kasus chikungunya sepanjang tahun 2001-2003 mencapai 3.918 kasus tanpa kematian.

 

            Pada Oktober 2006, bertepatan dengan bulan ramadhan, di kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok, muncul suatu penyakit dengan tanda-tanda klinis penyakit tersebut menunjukkan chikungunya. Sebelumnya, belum pernah ada laporan kejadian penyakit chikungunya. Wabah yang untuk pertama kalinya terjadi di Kecamatan itu dimasukan dalam kategori KLB karena frekuensi penyebaran cepat dan termasuk besar. Dilaporkan pada KLB tersebut, jumlah penderita sebanyak 200 kasus dengan tidak ada yang meninggal.

            Jumlah penduduk laki-laki sebagai yang beresiko lebih banyak dibanding pendududk perempuan yaitu sebesar 12.071 jiwa. Sedangkan kepadatan penduduk di wilayah tersebut tergolong tidak padat yaitu sebesar 53 jiwa/Ha namun kasus banyak terjadi.

 

1.2.            Rumusan masalah

  • Untuk memahami penyakit chikungunya.
  • Untuk mengetahui diagnosa,penularan, pencegahan dan pengobatannya.

 

1.3.            Tujuan

Untuk mengetahui lebih jauh tentang penyakit chikungunya serta pencegahannya, agar dapat terhindar dari penyakit menular tersebut.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian chikungunya

            Chikungunya berasal dari bahasa Shawill berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini terjadi pada lutut pergelangan kaki serta persendian tangan dan kaki.

            Demam Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIKV termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.

2.2. Etiologi chikungunya

Penyakit chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. Virus ini termasuk keluarga Togaviridae, genus alphavirus atau “group A” antropho borne viruses. Virus ini telah berhasil diisolasi di berbagai daerah di Indonesia. Sejarah Chikungunya di Indonesia Penyakit ini berasal dari daratan Afrika dan mulai ditemukan di Indonesia tahun 1973.

Vektor penular utamanya adalah Aedes aegypti (the yellow fever mosquito), nyamuk yang sama juga menularkan penyakit demam berdarah dengue. Meski masih “bersaudara” dengan demam berdarah, penyakit ini tidak mematikan, namun virus ini juga dapat diisolasi dari nyamuk Aedes africanus, Culex fatigans dan Culex tritaeniorrhynchus. Aedes albopictus (the Asian tiger mosquito) mungkin juga berperanan dalam penyebaran penyakit ini di kawasan Asia. Dan beberapa jenis spesies nyamuk tertentu di daerah Afrika juga ternyata dapat menyebarkan penyakit Chikungunya. Akan tetapi, nyamuk yang membawa darah bervirus didalam tubuhnya akan kekal terjangkit sepanjang hayatnya. Tidak ada bukti yang menunjukkan virus Chikungunya dipindahkan oleh nyamuk betina kepada telurnya sebagaimana virus demam berdarah.

2.3. Masa inkubasi dan diagnosis

Masa inkubasi penyakit ini 1 – 4 hari. Kemudian, gejala akutnya selama 3 – 10 hari, hampir mirip dengan gejala demam berdarah, yaitu bintik-bintik merah di badan terutama lengan, nyeri sendi dan otot, sakit punggung, sakit perut, mual, sakit kepala, menggigil, dan demam tinggi mencapai 39 derajat Celsius. Tapi pada cikungunya tidak ada pendarahan. Sebenarnya, setelah virus cikungunya masuk dan menyebar ke tubuh, akan hilang dengan sendirinya (self limiting deseases), tapi dampaknya berupa nyeri sendi masih akan terasa selama berminggu-minggu bahkan bulan setelah demam hilang.

Demam Chikungunya dikenal sebagai flu tulang (break-bone fever) dengan gejala mirip dengan demam dengue, tetapi lebih ringan dan jarang menimbulkan demam berdarah. Artralgia, pembuluh darah konjungtiva tampak nyata, dengan demam mendadak yang hanya berlangsung 2-4 hari. Pemeriksaan serum penderita untuk uji netralisasi menunjukkan adanya antibodi terhadap virus Chikungunya.

Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari.

 

Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Gejala lain yang ditimbulkan adalah mual, muntah kadang disertai diare.

 

Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.

 

2.4. Cara Penularan

 

 Penularan demam Chik (sebutan untuk penyakit chikungunya) terjadi apabila penderita yang sakit digigit oleh nyamuk aedes aegypty yang sudah membawa virus chik ( penular) , kemudian nyamuk penular tersebut menggigit orang lain. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis (berlaku di suatu kawasan atau populasi dan senantiasa ada). Selain manusia, primata lainnya diduga dapat menjadi sumber penularan. Selain itu, pada uji hemaglutinasi inhibisi, mamalia, tikus, kelelawar, dan burung juga bisa mengandung antibodi terhadap virus Chikungunya.

Seseorang yang telah dijangkiti penyakit ini tidak dapat menularkan penyakitnya itu kepada orang lain secara langsung. Proses penularan hanya berlaku pada nyamuk pembawa. Masa inkubasi dari demam Chikungunya berlaku di antara satu hingga tujuh hari, biasanya berlaku dalam waktu dua hingga empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai sepuluh hari. . Biasanya juga dapat menyebar dengan cepat ke tetangga sekitar dan bahkan kabupaten sekitar.

 

            Seperti DBD, chikungunya endemic di daerah yang banyak ditemukan kasus DBD. Kasus DBD dan cikungunya pada wanita dan anak tinggi dengan alasan mereka lebih banyak berada di rumah pada siang hari saat nyamuk menggigit. KLB chikungunya bersifat mendadak dengan jumlah penderita relative banyak. Selain manusia, virus chikungunya juga dapat menyerang tikus, kelinci, monyet, baboon dan simpanse.

2.5. Cara Pencegahan dan Penanggulangan

Pencegahan dapat dilakukan dengan mengendalikan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus si pembawa virus, untuk memutus rantai penularan. Karena vektor chikungunya sama dengan vektor demam berdarah dengue, maka upaya pencegahan ini berlaku juga untuk mencegah penularan demam berdarah.

            Pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara 3M yaitu menguras, menyikat dan menutup tempat-tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, karena nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari. Selain itu, cara sederhana yang sering dilakukan masyarakat yaitu mengubur sampah, menaburkan larvasida,memelihara ikan pemakan jentik, pengasapan, pemakaian anti nyamuk, pemasangan kawat kasa di rumah.

 Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih, terutama pada musim hujan. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut.      

2.6. Pengobatan

            Demam Chikungunya termasuk Self Limiting Disease atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan parasetamol. Sebaiknya dihindarkan penggunaan obat sejenis asetosal.

            Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.

            Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar.

            Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

            Analisis univariat menggambarkan bahwa sebanyak 142 responden (60,3%) memiliki tingkat pendidikan yang tinggi (tamat SMP sampai perguruan tinggi). Sebanyak 125 responden (53%) memiliki tingkat pengetahuan tentang penyakit chikungunya yang rendah (di bawah atau sama dengan median hasil). Tingkat kepadatan hunian responden sebagian besar tidak padat (lebih dari 9 m2/orang) yaitu sebanyak 158 responden (66,9%). Responden yang berumur lebih dari atau sama dengan median (lebih dari atau sama dengan 37 tahun) sebanyak 125 responden (53%) dan tidak bekerja (IRT, pelajar, pengangguran) sebanyak 143 responden (60,6%). Selain itu, sebanyak 177 responden (75%) berjenis kelamin perempuan. Sebanyak 191 responden (80,9%) menjawab tidak pergi ke daerah yang pernah terjadi chikungunya. Selanjutnya berdasarkan penggunaan obat anti nyamuk, sebanyak 134 responden (56,8%) menggunakan obat anti nyamuk. Sedangkan melalui observasi di lapangan, didapatkan gambaran mengenai faktor lingkungan yaitu sebanyak 206 responden (87,3%) tidak ditemukan jentik di seluruh kontainer (tempat penampungan air) rumahnya. Sebanyak 215 responden (91,1%) memiliki tempat penampungan air dan 149 responden (63,1%) rumahnya dilengkapi kasa nyamuk.                       

            Analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 11 variabel faktor sosiodemografi (pendidikan, pengetahuan, kepadatan hunian, umur, pekerjaan, jenis kelamin, mobilitas, dan penggunaan obat anti nyamuk) serta faktor lingkungan (keberadaan jentik nyamuk, ketersediaan TPA, dan ketersediaan kasa nyamuk), ternyata ada tiga variabel yang menunjukkan hubungan bermakna yaitu pendidikan, kepadatan hunian dan umur.

            Pengetahuan tentang penyakit chikungunya ternyata tidak sesuai dengan teori bahwa pengetahuan tentang chikungunya yang rendah seyogyanya memiliki risiko yang lebih tinggi dari pengetahuan yang lebih baik.

 

Kepadatan hunian dengan kejadian chikungunya menunjukkan hubungan yang bermakna dengan nilai Odds Ratio (OR) adalah 2,2 (p=0,009) pada rentang kepercayaan 95% yaitu 1,2-3,8. Hal ini berarti responden yang kepadatan huniannya tergolong tidak padat, berpeluang 2,2 kali untuk sakit chikungunya.

            Analisis hubungan antara umur dengan kejadian chikungunya menunjukkan hubungan yang bermakna dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,1 (p=0,009) pada rentang kepercayaan 95% yaitu 1,2-3,4. Hal ini berarti responden yang berumur lebih atau sama dengan median (37 tahun) berpeluang 2,1 kali untuk sakit chikungunya dibandingkan dengan responden yang berumur kurang dari median.  Distribusi ketika variabel tersebut dapat terlihat pada Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3.

 

 

 

 

80

 

60

 

 

40

 

20

 

0

n                  %                  n                  %

Kas us                    Kontrol

 

 

Rendah

Tinggi

OR           : 1,9

CI 95% : 1,1-3,2

Nilai p   : 0,024

 

 

Rendah                56                59,6          38 40,4

Tinggi                   62                43,7          80 56,3

 

 

Gambar 1. Distribusi Faktor Pedidikan terhadap KLB Chikungunya di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok

 

 

 

 

100

 

80

 

 

60

 

40

 

20

0

                                                                                                                                                                                                                                                                               

 

OR        : 2,2

CI 95% : 1,2-3,8

Nilai p   : 0,009

 

Tidak Padat                        89             56,3             69                  43,7               43,7

Padat                                  29             37,2             49                  62,8               62,8

 

 

Gambar 2. Distribusi Faktor Kepadatan Hunian terhadap KLB Chikungunya di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota  Depok 2006

 

 

80

 

 

60

 

40

 

20

 

0

    n                     %                       n                    %

 

Kasus                                    Kontrol

          ≥ median (≥37 thn)          73             58,4 
OR : 2,1

CI 95% : 1,2-3,4

Nilai p :0,009


         < median (<37 thn)           45            40,5          66            59,5

 

Gambar3. Distribusi Faktor Umur Terhadap KLB Chikungunya diKelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok 2006

 

Tidak ada hubungan antara variable pekerjaan (p=1,000), jenis kelamin (p=0,764), mobilitas (p=0,320), dan penggunaan obat anti nyamuk (0,895) dengan kejadian chikungunya karena memperoleh nilai p>0,05. Sedangkan hubungan factor lingkungan yaitu keberadaan jentik nyamuk (p=0,558), ketersediaan TPA p=(0,360),ketersediaaan kasa nyamuk (p=0,787) dengan kejadian chikungunya juga tidak menunjukkan hubungan yang bermakna karena memiliki nilai p>0,05.

Pemilihan variabel kandidat dilakukan secara bertahap dengan cara memasukkan semua variabel kandidat (p<0,25) dan variabel yang secara substansi dianggap penting, kemudian variabel kandidat dengan p >0,05 dikeluarkan dari model secara berurutan mulai dari variabel  yang  mempunyai  nilai  p  terbesar,  sampai semua variabel dalam model menjadi signifikan (p<0,05).   Variabel kandidat yang dimasukkan yaitu pendidikan, kepadatan hunian, umur, dan keberadaan jentik.

 

3.2. Pembahasan

Epidemilogi berasal dari bahasa Yunani, yaitu (Epi=pada, Demos=penduduk, logos = ilmu), dengan demikian epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Epidemiologi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang seberapa sering penyakit dialami oleh suatu kelompok orang yang berbeda dan mencari tahu bagaimana bisa terjadi.

 

Chikungunya tersebar di daerah tropis dan subtropics yang berpenduduk padat seperti afrika, india, dan asia tenggara. Di Afrika, virus ini dilaporkan menyerang di Zimbabwe, Kongo, Angola, Kenya,Ukraina, dan Uganda. Negara selanjutnya yang terserang adalah Thailand pada tahun 1958; Kamboja, Vietnam, Sri Lanka dan India pada tahun 1964. Pada tahun 1973 chikungunya dilaporkan menyerang di Philipina dan Indonesia. Lokasi penyebaran penyakit ini tidak berbeda jauh dengan DBD karena vector utamanya sama yaitu nyamuk aedes aegypti. Di daerah endemis DBD sangat mungkin juga terjadi endemis chikungunya.

 

Biasanya, demam chikungunya tidak berakibat fatal. Akan tetapi, dalam kurun waktu 2005-2006, telah dilaporkan terjadi 200 kematian yang dihubungkan dengan chikungunya di pulau reunion dan KLB yang tersebar luas di India, terutama di Tamil dan Kerala. Ribuan kasus terdeteksi di daerah-daerah di India dan Negara-negara yang bertetangga dengan Sri Lanka, setelah hujan lebat dan banjir pada bulan agustus 2006. Di selatan India (Negara bagian Kerala), 125 kematian dihubungkan dengan chikungunya. Pada bulan Desember 2006, dilaporkan terjadi 3500 kasus di Maldives, dan lebih dari 60.000 kasus di Sri Lanka, dengan kematian lebih dari 12 kasus chikungunya. Data terbaru bulan juni 2007, telah dilaporkan terjadi KLB yang menyerang sekitar 7000 penderita di Kerela, India.

Angka insidensi di Indonesia sangat terbatas. Pertama kali, dilaporkan terjadi demam chikungunya di Samarinda tahun 1973. Pada laporan selanjutnya terjadi di Kuala Tungkal Jambi tahun 1980,dan martapura, ternate, serta Yogyakarta tahun 1983. Selama hampir 20 tahun(1983-2000) belum ada laporan berjangkitnya penyakit ini, sampai ada laporan KLB demam chikungunya di Muara Enim, Sumatra Selatan, dan Aceh, dilanjutkan di Bogor, Bekasi, Purworejo, dan Klaten pada tahun 2002. Pada tahun 2004, dilaporkan KLB yang menyerang sekitar 120 orang di Semarang.

 

Banyak factor yang mempengaruhi kejadian chikungunya. Namun pada penelitian ini dibatasi pada 11 variabel yaitu pendidikan, pengetahuan, kepadatan hunian, umur, pekerjaan, jenis kelamin, mobilitas, dan pemakaian obat anti nyamuk (factor sosiodemografi), ketersediaan jentik nyamuk, ketersediaan TPA dan ketersediaan kasa nyamuk(factor lingkungan).

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan rendah berpeluang 1,9 kali untuk sakit chikungunya dibandingkan dengan responden yang berpendidikan tinggi pada interval kepercayaan 1,121-3,227. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kusnadi di Kecamatan  Sareal  Kota  Bogor  dan  Wahyudin di Kabupaten Cirebon. Sarwono  menyatakan   bahwa masyarakat dengan pendidikan tinggi  cenderung lebih besar kepeduliannya terhadap masalah kesehatan yang dihadapinya, lebih mudah menerima ide-ide baru. (sarwono W. psikologi Lingkungan. Jakarta:Grasindo, 1992)

 

Dari hasil penelitian terhadap tingkat pengetahuan, bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan Wahyudin.  Pada  umumnya  tingginya  pengetahuan akan meningkatkan potensi untuk tidak sakit, karena dengan pengetahuan manusia akan cenderung berpikir dan melakukan tindakan dengan cepat dan tepat. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh pengetahuan yang dimiliki masyarakat tidak dipahami dan tidak diaplikasikan, hanya sekedar tahu.Menurut Notoatmodjo(1993), pengetahuan di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

 

Responden yang kepadatan huniannya tergolong tidak padat berpeluang 2,2 kali untuk sakit chikungunya dibandingkan dengan hunian padat. Kepadatan hunian ini pun menjadi salah satu factor dominan yang mempengaruhi kejadian chikungunya dengan OR sebesar 2,255 secara bersama-sama dengan variable lain (dengan analisis regresi logistic). Kenyataan ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh kusnadi yang menyatakan kepadatan hunian, meningkatkan resiko untuk terkena chikungunya adalah subyek yang padat. Kemungkinan hal ini terkait dengan perilaku masyarakat yang tidak padat, perilaku kesehatan yang kurang baik.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berumur diatas atau sama dengan median (37 tahun) berpeluang2,509 kali (2,1 kali) untuk sakit chikungunya. Hal ini sejalan dengan penelitan yergolkar di india bahwa ada hubungan signifikan antara umur dengan kejadian chikungunya. Di Indonesia, kecenderungan kasus chikungunya tahun 2001-2003 meningkat dengan golongan umur yang terinfeksi antara 30-40 tahun.

 

            Pekerjaan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan nilai p = 1,000. Hasil penelitian ini bertolak  belakang  dengan  penelitian  Kusnadi dan Wahyudin yang menyatakan bahwa pekerjaan memiliki  hubungan  bermakna.  Ketidak  bermaknaan hubungan kemungkinan besar  hal ini disebabkan oleh faktor kontak antara manusia dan nyamuk yaitu hospes, frekuensi  menggigit  dan  hubungan  antara  frekuensi menggigit dengan  perkembangan parasit dalam tubuh nyamuk.

 

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian chikungunya. Penyakit chikungunya dapat menyerang semua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Pada populasi yang rentan, attack rate penyakit chikungunya dapat mencapai 40 sampai 85 persen.  Mobilitas   menunjukkan hubungan yang tidak bermakna dengan kejadian chikungunya. Hal ini kemungkinan besar karena masyarakat di sana tidak melakukan perjalanan ke daerah lain yang pernah terjangkit chikungunya. Hasil penelitian  penyakit ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Syahwani bahwa wilayah dengan tingkat mobilitas penduduk tinggi berisiko 10 kali lebih besar   angka insiden penyakit DBD-nya dibandingkan dengan mobilitas penduduk yang rendah.

 

Perilaku pemakaian obat anti            nyamuk tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, kemungkinan masyarakat di sana telah menjadikan pemakaian obat nyamuk ini sebagai suatu kebiasaan dan perilaku sebagian besar masyarakat sudah cukup baik dalam mencegah terjadinya penyakit chikungunya.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kepadatan jentik nyamuk dengan kejadian chikungunya (p=0,558). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wahyudin.  Hubungan tidak bermakna ini kemungkinan karena tempat penampungan air yang digunakan penduduk banyak yang terbuat dari plastik sehingga Ae.aegypti akan lebih sulit dalam meletakkan telurnya. Menurut Christoper dalam Sungkar, faktor utama  yang  mempengaruhi  kepadatan  larva  adalah kasar licinnya dinding TPA.

 

Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara ketersediaan TPA dengan kejadian chikungunya (p=0,360). Kejadian ini mungkin karena masyarakat sering membersihkan TPA sehingga sebagian besar TPA yang diperiksa tidak ditemukan jentik nyamuk.

 

  • EPIDEMIOLOGI PENYAKIT CHIKUNGUNYA
  1. a.      Frekuensi

Penyakit chikungunya merupakan penyakit yang menular yang disebabkan oleh virus dapat menyerang manusia maupun orang utan seperti , tersebar didaerah tropis dan subtropis yang berpenduduk padat.

  1. b.      Distibusi
  • Menurut orang, chikungunya banyak menyerang wanita dan anak-anak.
  • Menurut tempat, chikungunya banyak terjadi di daerah berpenduduk padat dan daerah yang endemis chikungunya.
  • Menurut waktu , waktu penyebaran penyakit chikungunya secara umum pada musim hujan, tapi tidak selamanya pada musim hujan mempunyai insidensi tinggi untuk penyakit chikungunya, tergantung juga pada genangan air yang akan terbentuk jika terjadi hujan.

             

  1. c.       Determinan
  • Faktor agent

Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIKV termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.

  • Faktor host

a.  Menurut umur, chikungunya menyerang anak – anak dan dewasa.

b.  Menurut  jenis kelamin, penyakit chikungunya dapat menyerang semua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan.

  • faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya chikungunya seperti kepadatan hunian, adanya jentik nyamuk, ketidaktersediaan TPA .

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1.  Kesimpulan

 

  • Faktor sosiodemografi yang mempengaruhi kejadian chikungunya di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok (p ≤ 0,05) diantaranya adalah pendidikan (OR=1,9; 1,12-3,23), kepadatan hunian (OR=2,2; 1,25-3,80)  dan umur (OR=2,1; 1,22-3,46). Sedangkan yang tidak mempengaruhi kejadian chikungunya (menunjukkan   hubungan   tidak   bermakna)   adalah pekerjaan,   jenis   kelamin,   mobilitas,   dan   perilaku pemakaian   obat   anti nyamuk. 
  • Faktor   lingkungan seperti  kepadatan  jentik  nyamuk,  ketersediaan  TPA, ketersediaan kasa nyamuk tidak ada yang mempengaruhi kejadian chikungunya di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok (menunjukkan hubungan yang tidak bermakna) dengan nilai p>0,05. Faktor dominan yang  mempengaruhi  KLB chikungunya di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok terutama adalah kepadatan hunian dengan odds   ratio   sebesar   2,3(1,28-3,97).

 

4.2.  Saran

 

  • Penyebaran  informasi  mengenai  chikungunya melalui penyuluhan atau kegiatan lain sebaiknya   disampaikan  melalui  petugas  kesehatan  dengan dukungan   penuh   dari   tokoh   masyarakat   serta disesuaikan dengan tingkat pendidikan masyarakat setempat.
  • Pengelolaan lingkungan dan perlindungan diri, memodifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk buatan manusia, pemakaian  obat  anti  nyamuk,  dan  sebagainya harus terus dilakukan sebagai tindakan pencegahan penyakit chikungunya.

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Depkes. Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (Pedoman Epidemiologi Penyakit). Jakarta: Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2004.

Depkes RI. Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor. Jakarta: Ditjen PPM&PL Depkes RI, 2001.

 

Hendro R, Rahardjo E, Maha M.S, Saragih J.M.Investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Chikungunya di Desa Harja Mekar dan Pabayuran Kabupaten bekasi Tahun 2003. Balitbangkes Depkes RI. Cermin Dunia Kedokteran  2005;  148:40-42.

 

Ravi, V. (2006). Re-emergence of chikungunya virus in India. Indian J Med Microbiol 24, 83–84.

 

Seksi  Pencegahan  dan  Pemberantasan  Penyakit Dinkes Depok. Laporan Investigasi Chikungunya di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok 2006. Depok: Dinkes Depok, 2006.

 

Widoyono: Penyakit Tropis. Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, & Pemberantasannya: 68-70.

 

Wahyudin, Sustiwa. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Chikungunya di Desa Bojong Lor (RT 05, 07, 08) & Desa Bjg Wetan (RT 01, 02, 03, 04) pada Wilayah Kerja Puskesmas Klangenan Kabupaten Cirebon Tahun 2003. Skripsi Sarjana.

 

http://www.promosikesehatan.com/?act=news&id=39

http://www.karai-aceh.com/kesehatan/penyakit-cikungunya/

http://mikrobia.wordpress.com/2007/05/17/alphavirus-penyebab-chikungunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s