FLU BURUNG Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  LATAR BELAKANG

 

Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan avian influenza A (H5N1). Meningkatnya kasus infeksi H5N1 yang menyebabkan kematian pada manusia sangat dihawatirkan dapat berkembang menjadi wabah pandemic yang berbahaya bagi umat manusia di muka bumi ini. Sejak lebih dari satu abad yang lalu, beberapa subtipe dari virus influenza A telah menghantui manusia. Berbagai variasi mutasi subtipe virus influenza A yang menyerang manusia dan telah menyebabkan pandemi, sehingga tidak mengherankan jika kewaspadaan global terhadap wabah pandemi flu burung mendapatkan perhatian yang serius. Diawali pada tahun 1918 dunia dikejutkan oleh wabah pandemi yang disebabkan virus influenza, yang telah membunuh lebih dari 40.000 orang, dimana subtipe yang mewabah saat itu adalah virus H1N1 yang dikenal dengan “Spanish Flu”. Tahun 1957 kembali dunia dilanda wabah global yang disebabkan oleh kerabat dekat virus yang bermutasi menjadi H2N2 atau yang dikenal dengan “Asian Flu” yang telah merenggut 100.000 jiwa meninggal. Pada tahun 1968, virus flu kembali menyebabkan wabah pandemi dengan merubah dirinya menjadi H3N2. Mutan virus yang dikenal dengan “Hongkong Flu” ini telah menyebabkan 700.00 orang meninggal dunia. Saat ini dunia kembali dikagetkan dengan merebaknya avian influenza H5N1 yang pertama kali menyerang dan menewaskan 6 orang penduduk Hongkong pada tahun 1997 dari 18 orang yang terinfeksi (Horimoto T, Kawaoka Y. 2001).

 

1.2   RUMUSAN MASALAH

 

  1. Apakah penyakit flu burung itu ?
  2. Apa etiologi penyakit flu burung ?
  3. Berapa lama masa inkubasi dan diagnosis penyakit flu burung ?
  4. Bagaimana cara penularan,pencegahan dan penanggulangan penyakit flu burung?

 

1.3   TUJUAN

  1. Agar mengetahui tentang gambaran umum tentang penyakit flu burung
  2. Agar mengetahui etiologi tentang penyakit flu burung
  3. Agar mengetahui masa inkubasi dan diagnosis penyakit flu burung
  4. Agar mengetahui cara penularan,pencegahan dan

      penanggulangan penyakit flu burung

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

 

  2.1. Pengertian Flu Burung

            Penyakit flu burung (bird flu, avian influenza/AI) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan antar unggas. Unggas penular tersebut ialah burung, bebek, ayam, selain itu dapat ditularkan oleh beberapa hewan yang lain seperti babi, kuda, anjing laut, ikan paus, dan musang. Data lain menunjukkan penyakit ini bisa terdapat di burung puyuh dan burung onta. Penyakit ini ditularkan dari burung ke burung, tetapi dapat juga menular ke manusia.. Pada tahun 1918 terjadi kejadian-kejadian luar biasa virulen influenza A (H1N1) yang mengakibatkan kematian 20 sampai 40 juta orang. Di laporkan bahwa di Asia 44 infeksi H5N1, 32 diantaranya meninggal, dan Kamboja, Cina,Indonesia, Laos, Malaysia, Thailand, dan Vietnam terjangkit H5N1 di peternakan unggas.

            Virus influenza merupakan virus RNA termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Asam nukleat virus ini beruntai tunggal, terdiri dari 8 segmen gen yang mengkode sekitar 11 jenis protein. Virus influenza mempunyai selubung/simpai yang terdiri dari kompleks protein dan karbohidrat. Virus ini mempunyai tonjolan (spikes) yang digunakan untuk menempel pada reseptor yang spesifik pada sel-sel hospesnya pada saat menginfeksi sel. Terdapat 2 jenis spikes yaitu yang mengandung hemaglutinin (HA) dan yang mengandung neuraminidase (NA), yang terletak dibagian terluar dari virion (Horimoto T, Kawaoka Y. 2001). Virus influenza mempunyai 4 jenis antigen yang terdiri dari (i) protein nukleokapsid (NP) (ii). Hemaglutinin (HA), (iii). Neuraminidase (NA), dan protein matriks (MP). Berdasarkan jenis antigen NP dan MP, virus influenza digolongkan dalam virus influenza A, B, dan C. (Horimoto T, Kawaoka Y. 2001). Virus Influenza A sangat penting dalam bidang kesehatan karena sangat patogen baik bagi manusia, dan binatang, yang menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi, di seluruh dunia. Virus influenza A ini dapat menyebabkan pandemic karena mudahnya mereka bermutasi, baik berupa antigenic drift ataupun antigenic shift sehingga membentuk varian-varian baru yang lebih pathogen.

 

 2.2  Etiologi

       Saat ini di ketahui bahwa penyebab penyakit flu burung adalah Highly Pathogenic Avian Influenza Virus.

 2.3  Masa Inkubasi dan Diagnosis

        2.3.1  Masa Inkubasi

                        Masa inkubasi AI (H5N1) lebih lama daripada influenza manusia umumnya. Pada tahun 1997, sebagian kasus terjadi dalam 2–4 hari setelah terpajan. Laporan yang terbaru menunjukkan interval yang sama tetapi sampai dengan 8 hari. Inkubasi pada anak dapat sampai 21 hari setelah terpajan. Hal ini kemungkinan karena tidak tahu bilamana waktu terjadinya pajanan terhadap hewan yang terinfeksi atau sumber lain di lingkungan. Masa inkubasi di unggas ialah 1 minggu.

 

2.3.2  Diagnosis

 

            Departemen Kesehatan Republik Indonesia(DEPKES RI) membagi diagnosis AI (H5N1) di manusia menjadi kasus dugaan, kemungkinan(probable), dan kasus terkukuhkan (konfirmasi).Kasus dugaan AI (H5N1) ialah bila seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)disertai demam (≥ 38° C), batuk dan atau sakit tenggorokan dengan salah satu kegiatan sebelumnya.Misalnya: seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang terjangkit KLB (kejadian luar biasa) AI (H5N1),bersentuhan dengan kasus terkukuhkan (konfirmasi) AI (H5N1) dalam masa penularan, bekerja di laboratorium yang memproses spesimen manusia atau hewan yang dicurigai menderita AI (H5N1). Dalam hal itu pemeriksaan darah menunjukkan lekopeni (lekosit ≤ 3000/uL) dan atau trombositopeni (trombosit ≤ 150.000/uL), ditemukan titer antibody <1:20 terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HAI,foto dada menggambarkan pneumonia atipikal atau infiltrat di kedua sisi paru yang meluas (foto serial). Kriteria kasus dugaan yang lain, jika terjadi ARDS dengan satu atau lebih gejala: lekopeni atau limfopenia dengan atau tanpa trombositopenia, foto dada menunjukkan pneumonia atipikal atau infiltrate kedua sisi paru yang makin luas.Kasus kemungkinan (probable) yaitu kasus suspek dengan salah satu keadaan: bukti laboratorium terbatas mengarah ke virus influenza A H5N1.Misalnya kenaikan 4 kali titer antibodi dengan uji HAI terhadap sepasang serum yang diambil setelah 10–14 hari saat pengambilan yang pertama, terkenalinya antigen atau bahan genetika virus atau adanya titer antibodi spesifik yang sangat tinggi dalam serum tunggal dengan uji penetralan di laboratorium rujukan. Dalam waktu singkat keadaan tersebut berlanjut menjadi pneumonia atau gagal pernapasan,bahkan meninggal dengan pembuktian tidak ada penyebab lain.

 

Sampai saat ini pandemik AI masih terjadi baik dinegara berkembang maupun maju, kemungkinan transmisi dari perpindahan burung dari Negara endemis ke nonendemis.Meskipun penyakit AI menyerang unggas, atau binatang ternak lain tapi dapat menular ke manusia selain itu antar manusia belum dapat dibuktikan.Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan pemeriksaan lekosit, trombosit yang dilakukan pada kasus dicurigai.Pemeriksaan yang klinis mencurigakan AI dapat dilakukan secara bersamaan yaitu mengambil darah untuk serologi, usap tenggorok, nasofaring, danorofaring untuk pemeriksaan RT-PCR maupun untuk uji emas kultur virus sebagai konfirmasi.Kelemahan pemeriksaan laboratorium belum semua laboratorium rujukan dapat melakukan pemeriksaan RT-PCR.Cara penanganan sampel harus dilakukan secara cermat agar tidak timbul hasil negatif atau positif palsu. Pemantauan di daerah endemik perlu dilakukan baik pada peternak maupun penduduk sekitarnya.Perlu diwaspadai gejala klinik pneumonia dengan pneumonia non AI, karena gejala hampir sama atau mirip. Sudah saatnya Indonesia mengembangkan pemeriksaan RT-PCR mengingat banyak kasus AI yang sudah tersebar di sebagian daerah Indonesia atau kegunaan lain untuk diagnosis penyakit yang tidak dapat dipantau secara konvensionil.

 

2.4   Cara Penularan

 

Penularan atau transmisi dari virus influenza secara umum dapat terjadi melalui inhalasi, kontak langsung, ataupun kontak tidak langsung (Bridges CB, et.al. 2003). Sebagian besar kasus infeksi HPAI pada manusia disebabkan penularan virus dari unggas ke manusia (Beigel JH et.al. 2005). Pada tahun 1997 dari total 18 orang yang didiagnosis telah terinfeksi dengan H5N1 di Hongkong dimana 6 diantaranya meninggal menunjukkan bahwa adanya kontak langsung dari korban dengan unggas yang terinfeksi. Tidak ada risiko yang ditimbulkan dalam mengkonsumsi daging unggas yang telah dimasak dengan baik dan matang (Mounts AW, et.al.1999). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui risiko terinfeksi H5N1 bagi para pakerja atau peternak unggas (Bridges CB, et.al. 2002), penelitian tentang risiko tenaga kesehatan yang menangani pasien avian influenza A (Schults C, et.al. 2005), dan juga penelitian tentang kemungkinan transmisi virus H5N1 pada binatang lainnya.

 

Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan cara memberi makan binatang seperti kucing, macan, ataupun macan tutul dengan unggas yang terinfeksi dengan H5N1 terbukti bahwa binatang pemakan daging tersebut dapat mengalami kelainan paru berupa pneumonia, severe diffuse alveolar damage, dan dapat menyebabkan kematian (Keawcharoen J, et.al. 2004, Kuiken T, et.al. 2004).

 

Bukti bahwa terjadinya transmisi dari manusia ke manusia sangat jarang ditemukan. Namun demikian berdasarkan beberapa kejadian dimana terjadi kematian pasien yang berkerabat dekat disebabkan oleh infeksi virus H5N1 (Hien TT, et. al. 2004), dan transmisi yang terjadi didalam keluarga penderita pada tahun 2004 di Thailand, antara seorang anak perempuan berumur 11 tahun yang tinggal bersama bibinya, diduga telah menularkan virus H5N1 kepada bibi dan ibunya yang datang dari kota lain yang berjauhan untuk merawat anaknya yang sakit terinfeksi H5N1. Putrinya meninggal pada tanggal 8 September 2004 setelah sempat dirawat selama satu hari di rumah sakit. Seminggu kemudian pada tanggal 17 September ibunya dibawa kerumah sakit dan diduga terinfeksi virus H5N1 dan meninggal pada tanggal 20 September 2004. Sedangkan bibinya menderita gejala flu dan dibawa ke rumah sakit pada tanggal 23 September dan diobati dengan oseltamivir (tamiflu). Bibinya berhasil disembuhkan dan pulang dari rumah sakit pada tanggal 7 Oktober 2004. Dari pemeriksaan laboratorium dapat dipastikan bahwa baik ibu maupun bibinya telah terinfeksi virus H5N1 yang berasal dari anaknya, selama mereka merawat anaknya yang sedang sakit (Ungchusak K, et.al. 2005). Kekhawatiran yang muncul di kalangan para ahli genetika adalah bila terjadi rekombinasi genetik (genetic reassortment) antara virus influenza burung dan

virus influenza manusia, sehingga dapat menular antara manusia ke manusia.

 

 

 

Ada dua kemungkinan yang dapat menghasilkan subtipe baru dari H5N1 yang dapat menular antara manusia ke manusia adalah :

(i). virus dapat menginfeksi manusia dan mengalami mutasi sehingga virus tersebut dapat beradaptasi untuk mengenali linkage RNA pada manusia, atau virus burung tersebut mendapatkan gen dari virus influenza manusia sehingga dapat bereplikasi secara efektif di dalam sel manusia. Subtipe baru virus H5N1 ini bermutasi sedemikian rupa untuk membuat protein tertentu yang dapat mengenali reseptor yang ada pada manusia, untuk jalan masuknya ke dalam sel manusia, atau             

  (ii). Kedua jenis virus, baik virus avian maupun human influenza tersebut dapat secara bersamaan menginfeksi manusia, sehingga terjadi “mix” atau rekombinasi genetik, sehingga menghasilkan strain virus baru yang sangat virulen bagi manusia (Herman RA & Strorck M. 2005). Walaupun perkiraan fase dimana penularan antar manusia ini masih belum dapat diketahui, akan tetapi pencegahan transmisi antar manusia ini perlu mendapatkan perhatian yang serius mengingat bahwa telah

dilaporkan bahwa seorang perawat di Vietman telah menderita penyakit serius setelah dia menangani pasien yang terinfeksi dengan virus H5N1. Dalam salah satu penelitian ditemukan bahwa mutasi dari H5N1 kemungkinan besar dapat menghasilkan varian virus H5N1 baru yang dapat mengenali reseptor spesifik yang ada pada sel manusia (natural humanα2-6 glycan), sehingga bila ini terjadi maka penularan virus H5N1 dari manusia ke manusia dapat terjadi dengan mudah (Stevens J. et.al. 2006).

 

 

2.5          Pencegahan dan Penanggulangan

Berikut merupakan cara pencegahan  penyebaran virus flu burung:

  1. Selalu jaga kondisi kesehatan tubuh Anda. Sebab virus influenza dapat bermutasi, sehingga mempercepat penyebaran virus. Ketika virus H5N1 bercampur dengan penyakit flu biasa, maka gabungan kedua virus influenza tersebut dapat mengakibatkan kondisi kesehatan semakin memburuk.
  2. Hindari kontak langsung dengan unggas liar, atau unggas yang dipelihara seperti ayam, itik dan angsa. Jagalah kebersihan makanan dan kandang hewan unggas Anda. Jika diketahui terdapat unggas yang mati akibat terinfeksi penyakit flu burung maka segera bakar dan kubur unggas tersebut. Kemudian laporkan kejadian pada aparat pemerintahan setempat, agar diikuti tindak lanjut pencegahan penyakit flu burung dari pemerintah.
  3. Hindari mengkonsumsi makanan hasil peternakan unggas seperti telor atau daging dalam keadaan setengah matang. Sebab virus flu akan mati jika kita memasak dengan menggunakan suhu 80°C ke atas. Lebih baik tidak membeli makanan di rumah makan atau restoran cepat saji, sebab Anda tidak mengetahui proses pengolahan makanan tersebut secara pasti.
  4. Cuci tangan Anda secara teratur dengan sabun selama 20 detik. Jika Anda batuk-batuk atau bersin-bersin gunakan masker untuk menghindari penyebaran virus. Sebab batuk atau bersin bisa menyebarkan virus dari tetesan mikroskopis di udara. Jangan menggosok mata, menggigit kuku, dan mengorek hidung atau telinga.
  5. Orang yang sedang melakukan perjalanan pada suatu tempat yang sedang mengalami pandemi flu burung, sebaiknya melakukan tindakan agresif untuk mencegah flu burung. Misalnya menghindari daerah yang terdapat banyak unggas seperti daerah pertenakan dan kebun binatang. Hindari tempat keramaian seperti mall, supermarket, kendaraan umum atau pasar. Selalu gunakan masker jika berinterakasi dengan orang lain.
  6. Jangan pernah berbagi barang pribadi dengan orang lain, seperti pisau cukur, handuk, sikat gigi, tempat makanan, gunting kuku hingga sapu tangan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terinfeksi virus flu dari orang lain.
  7. Mencegah flu burung dapat dilakukan dengan vaksinasi, baik untuk unggas peliharaan dan manusia yang berada di sekitar unggas. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus H5N1.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1  DISTRIBUSI PENYAKIT

            Penyebaran­ / distribusi masalah kesehatan disini adalah menunjuk kepada pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan dalam epidemiologi adalah menurut cirri-ciri manusia (person),tempat (place), dan waktu (time).

  • Orang (person)

Flu burung merupakan penyakit yang menyerang manusia dan hewan. Adapun orang yang mempunyai risiko  besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan, penjual, dan penjamah unggas.

  • Tempat (place)

Tempat-tempat yang berisiko terpapar virus H5N1 adalah tempat-tempat peternakan dan kebun binatang.

  • Waktu (time)

Flu burung yang berbahaya dapat berjangkit sepanjang tahun,lebih-lebih pada musim dingin dan musim semi.

3.2  FREKUENSI PENYAKIT

            Penyakit flu burung merupakan penyakit menular yang disebabkan virus influenza yang dapat menyerang manusia dan hewan. Pada manusia penyakit ini dapat menyerang pada semua umur, baik anak-anak,remaja dan orang tua. Sedangkan pada hewan dapat menyerang unggas.

 

3.3  DETERMINAN

  •  Agent

Flu burung di sebabkan oleh virus influenza A (H5N1)

  • Host
  1. Menurut Umur

Flu burung dapat terjadi Pada manusia penyakit ini dapat menyerang pada semua umur, baik anak-anak,remaja dan orang tua. Sedangkan pada hewan dapat menyerang unggas.

  1. Menurut Jenis Kelamin

Penyakit flu burung dapat menyerang semua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan.

  • Faktor Lingkungan

Keberadaan unggas di setiap peternakan,di rumah maupun di kebun binatang yang merupakan sumber menyebarnya penyakit flu burung.

 

BAB IV

PENUTUP

 

3.1  KESIMPULAN

 

  • Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian Influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas.
  • Tingkat kematian flu burung tinggi (CFR 76%) . Membandingkan CFR, Indonesia pun duduk di peringkat teratas dengan Angka Kematian Kasus mencapai 78,72% sementara Vietnam hanya 45,16%.
  • Untuk pencegahan, Pada Unggas dilakukan: Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung, dan Vaksinasi pada unggas yang sehat; Pada Manusia : Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja, Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung, Menggunakan alat pelindung diri. (contoh: masker dan pakaian kerja), Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja, Membersihkan kotoran unggas setiap hari, Imunisasi, Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup, dan Mengolah unggas dengan cara yang benar.

 

3.2  SARAN

 

  • Harus adanya suatu penanggulangan untuk mencegah adanya virus influenza tipe A
  • Mengupayakan agar menurunkan nilai kasus fLu burung dengan melakukan pencegahan terhadap virus influenza tipe A.
  • Agar masyarakat terus melakukan pencegahan terhadap penyakit flu burung

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Horimoto T, Kawaoka Y. Influenza:Lessons from the past pandemics,warning from current incidents.Nature Rev Microbiol.2005; 3(8): 591-600.
  • Horimoto T, Kawaoka Y. Pandemic threat posed by avian influenza A viruses. Clin Microbiol Rev.2001. 14(1) : 129-149.
  • Hien TT, Liem NT, Dung NT, et al.Avian influenza A (H5N1) in 10 patients in Vietnam. N Engl J Med 2004; 350: 1179-1188.
  • Hughes, JM. 2006. Update on pandemic Influenza. Emory University School of medicine Rollins School of public health. Atlanta. USA.
  • Kajian Masalah Kesehatan. Diambil dalam www.litbang.depkes.go.id
  • Peisis JSM. 2005. Avian Influenza A (H5N1) Virus: The Hongkong Experience, The Univercity of Hongkong.
  • Keawcharoen J, Oraveerakul K,Kuiken T, at.al. Avian influenza H5N1 in tigers and leopards Emerg Infect Dis. 2004 : 2189-2191.
  • Bridges CB, Keurhnet MJ, Hall CB.Transmission of influenza : implecation for control in health care setting Clin Infect Dis. 2003; 37 : 1094 – 1101.
  • Stevens J, Ola Blixt, Terrence M. Tumpey,Jeffery K. Taubenberger, James C. Paulson, Ian A. Wilson.Structure and Receptor Specificity of the Hemagglutinin from an H5N1 Influenza Virus. Science 2006: Vol. 312. no. 5772, pp. 404 – 410.  
  • Mount AW, Kwong H., Isureita HS,et.al. Case control study of risk factors for avian influenza A(H5N1) disease, Hongkong, 1997. J Infect Dis 1999 : 505-508    

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s