PERTUSSIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Di dunia, hingga sekarang, angka kematian bayi masih tinggi. Setiap tahun, setidaknya terdapat 1,4 juta bayi meninggal karena penyakit infeksi yang ditularkan oleh virus dan bakteri. Indonesia selalu menempati peringkat 10 besar soal kesehatan. Menurut catatan Unicef, setiap tahun, 30 ribu hingga 340 ribu anak meninggal karena serangan penyakit campak. Kementerian Kesehatan mencatat angka kematian balita (AKB) 34 per 1.000 kelahiran hidup.

Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang AKB-nya hanya 10 per 1.000 kelahiran hidup dan 5 per 1.000 kelahiran hidup. Di Indonesia, saat ini, setiap 3,1 menit, satu bayi meninggal karena infeksi penyakit, dan setiap 2 menit, satu anak balita meninggal karena infeksi penyakit. Pneumonia menjadi penyebab kematian 23 persen anak, diare 13 persen, dan demam tifoid 11 persen. Campak yang menjadi parah karena faktor kekurangan gizi juga merupakan penyebab kematian pada anak balita.

Menurut IGN Gde Ranuh, guru besar emeritus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, kematian balita bisa terjadi karena, meski telah dilakukan imunisasi dan berhasil hidup hingga tahun berikutnya, ternyata kondisi anak-anak Indonesia masih lemah. Mereka banyak mengalami kekurangan gizi, anemia, kekurangan yodium, dan sebagainya. Tentu saja angka tadi bukanlah hal yang menggembirakan bagi kesehatan anak Indonesia.

Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002 memberikan kepada anak hak hidup, hak tumbuh dan berkembang, serta hak mendapatkan perlindungan dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Imunisasi adalah salah satu bentuk perlindungan yang diberikan orang tua kepada anak. Imunisasi sangat berguna untuk mencegah penyakit dan mengatasi kematian bayi akibat penyakit infeksi. Imunisasi teruji mengatasi kematian anak dan mencegah kecacatan serta menurunnya kualitas hidup karena kecacatan yang ditimbulkan oleh penyakit itu.

Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), mengatakan imunisasi melalui vaksinasi merupakan tindakan memberikan vaksin untuk merangsang pembentukan imunitas secara aktif pada tubuh seseorang sehingga diperoleh kekebalan aktif. “Tujuannya mencegah penyakit pada seseorang dan kelompok orang,” ujarnya. Sri mengatakan imunisasi terbukti mampu mengurangi angka kematian dan kecacatan pada bayi.

Dengan imunisasi, beberapa penyakit yang menyerang bayi dan anak, seperti polio, diare, campak, TBC, dan cacar, dapat dicegah. Ia mengatakan imunisasi wajib dilaksanakan secara baik demi menurunkan angka kematian bayi. Program Millenium Development Goals (MDGs) mengharuskan ditekannya AKB hingga hanya 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015. Pada 2004- 2009, program imunisasi telah menurunkan AKB dari 35 menjadi 26 per 1.000 kelahiran.

Namun, pada simposium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang diadakan baru-baru ini, Sri menyatakan masih terdapat masalah yang harus dipecahkan dalam program imunisasi agar kualitas generasi masa depan semakin baik. “Masalah jadwal yang terlambat, mitos imunisasi, vaksin baru yang belum tersosialisasi dengan baik, kehalalan vaksin, hingga masih minimnya jumlah dokter anak,” ujar Badriul Hegar, Ketua Umum IDAI. Di Indonesia, sekarang ini, belum semua anak mendapat vaksinasi.

B. Maksud dan Tujuan

Adalah untuk meningkatkan keahlian dibidang Epidemiologi Kesehatan, khusus nya Pertusis, sehingga diharapkan mampu mewujudkan kesehatan masyarakat yang optimal.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

PERTUSSIS

PARA PERTUSSIS

(Whooping Cough, Di Indonesia disebut juga dengan batuk rejan, batuk bangkong, batuk seratus hari, kinghus)

A.  Identifikasi

Adalah penyakit bakterial akut yang menyerang saluran pernapasan. Stadium kataral ditandai dengan serangan berupa batuk iritatif yang pada awalnya insidius kemudian menjadi paroxysmal, biasanya berlangsung selama 1-2 minggu dan berakhir dalam 1-2 bulan atau lebih. Serangan paroxysmal ini ditandai dengan batuk keras beruntun, setiap seri batuk seperti burung gagak yang khas atau dengan tarikan napas yang keras dan melengking. Serangan paroxysmal ini biasanya diakhiri dengan keluarnya lendir jernih dan liat, sering diikuti dengan muntah. Pada penderita bayi berumur kurang dari 6 bulan, remaja dan pada penderita dewasa sering tidak ditemukan batuk dengan suara yang khas atau batuk paroxysmal.

Angka kematian karena pertusis di Amerika Serikat rendah, sekitar 80% kematian terjadi pada anak-anak berumur dibawah 1 tahun, dan 70% terjadi pada anak berumur dibawah 6 bulan. Case Fatality Rate (CFR) di bawah 1% pada bayi dibawah 6 bulan. Angka kesakitan sedikt lebih tinggi pada wanita dewasa disbanding pria. Pada kelompok masyarakat yang tidak diimunisasi, khususnya mereka dengan kondisi dasar kurang gizi dan infeksi ganda pada saluran pencernaan dan pernapasan, pertusis dapat menjadi penyakit yang mematikan pada bayi dan anak-anak. Pneumonia merupakan sebab kematian yang paling sering. Encephalopathy yang fatal, hypoxia dan inanisi karena muntah yang berulang kadang-kadang dapat terjadi.

Akhir-akhir ini di Amerika Serikat, frekuensi remaja dan dewasa muda yang terserang pertusis meningkat dimana gejalanya bervariasi mulai dari ringan, gejala saluran pernapasan yang tidak sampai dengan timbulnya gejala khas pertusis. Banyak juga kasus-kasus pertusis terjadi pada orang yang telah diimunisasi sebelumnya, ini menunjukkan terjadinya penurunan imunitas setelah diimunisasi.

Parapertusis mirip dengan pertusis biasanya merupakan penyakit yang lebih ringan. Parapertusis biasa menyerang anak usia sekolah, dan relatif jarang. Perbedaan antara Bordetella parapertussis dan B. pertussis didasarkan pada perbedaan pada biakan, perbedaan ciri biokimiawi dan imunologis. Suatu sindroma klinis akut yang mirip dengan pertusis pernah dilaporkan yang disebabkan infeksi virus, khususnya adenovirus, namun lamanya batuk biasanya kurang dari 28 hari.

Diagnosa didasarkan pada penemuan organisme penyebab dari spesimen nasofaring yang diambil selama stadium catarrhal dan stadium paroxysmal awal, ditanam pada media biakan yang tepat. Pemeriksaan dengan pewarnaan DFA (Direct Fluorescent Antibody Test) dari sekret nasofaring dapat memberikan diagnosa Perkiraan yang cepat namun membutuhkan teknisi laboratorium yang berpengalaman karena dapat terjadi positif palsu dan negatif palsu. Pemeriksaan dengan PCR dan tes serologis untuk diagnosa pertusis belum distandarisasi. Teknik ini sebaiknya digunakan sebagai upaya untuk menegakkan diagnosa presumtif bersamaan dengan kultur.

B.  Etiologi

Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Hemopilus pertusis.

Bordetella pertusis adalah suatu kuman yang kecil ukuran 0,5-1 um dengan diameter 0,2-0,3 um, ovoid  kokobasil, tidak bergerak, gram negative, tidak berspora, berkapsul dapat dimatikan pada pemanasan 50ºC tetapi bertahan pada suhu tendah 0- 10ºC dan bisa didapatkan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring penderita pertusis yang kemudian ditanam pada media agar Bordet-Gengou.

C.  Distribusi penyakit

Penyakit endemis yang sering enyerang anak-anak (khususnya usia dini) tersebar di seluruh dunia, tidak tergantung etnis, cuaca ataupun lokasi geografis. KLB terjadi secara periodik. Terjadi penurunan yang nyata dari angka kesakitan pertusis selama empat decade terakhir, terutama pada masyarakat dimana program imunisasi berjalan dengan baik serta tersedia pelayanan kesehatan yang cukup dan gizi yang baik. Sejak tahun 1980 sampai dengan tahun 1989 rata-rata kasus yang dilaporkan pertahun di Amerika Serikat adalah 2.800, namun jumlah kasus ini meningkat pada tahun 1995-1998 menjadi rata-rata 6.500. Dengan peningkatan cakupan imunisasi di Amerika Latin, kasus pertusis yang dilaporkan menurun dari 120.000 pada tahun 1980 menjadi 40.000 pada tahun 1990. Angka insidensi meningkat di negara-negara dimana cakupan imunisasi pertusis yang menurun (antara lain di Inggris, Jepang pada awal tahun 1980-an dan di Swedia).

D.  Reservoir:

Saat ini manusia dianggap sebagai satu-satunya hospes.

E.   Cara-cara penularan

Penularan terutama melalui kontak langsung dengan discharge selaput lendir saluran pernapasan dari orang yang terinfeksi lewat udara, kemungkinan juga penularan terjadi melalui percikan ludah. Seringkali penyakit dibawa pulang oleh anggota saudara yang lebih tua atau orang tua dari penderita.

F.  Masa inkubasi:

Umumnya 7-20 hari.

G. Tanda dan Gejala

Masa tunas 7 – 14 hari penyakit dapat berlangsung sampai 6 minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium, yaitu :

1. Stadium kataralis Lamanya 1 – 2 minggu

Pada permulaan hanya berupa batuk-batuk ringan, terutama pada malam hari. Batuk-batuk ini makin lama makin bertambah berat dan terjadi serangan dan malam. Gejala lainnya ialah pilek, serak dan anoreksia. Stadium ini menyerupai influenza.

2. Stadium spasmodik Lamanya 2 – 4 minggu

Pada akhir minggu batuk makin bertambah berat dan terjadi paroksismal berupa batuk-batuk khas. Penderita tampak berkeringat, pembuluh darah leher dan muka melebar. Batuk sedemikian beratnya hingga penderita tampak gelisah Gejala – Gejala Masa inkubasi 5 – 10 hari. Pada awalnya anak yang terinfeksi terlihat seperti terkena flu biasa dengan hidung mengeluarkan lendir, mata berair, bersih, demam dan batuk ringan. Batuk inilah yang kemudian menjadi parah dan sering. Batuk akan semakin panjang dan seringkali berakhir dengan suara seperti orang menarik nafas (melengking). Anak akan berubah menjadi biru karena tidak mendapatkan oksigen yang cukup selama rangkaian batuk. Muntah-muntah dan kelelahan sering terjadi setelah serangan batuk yang biasanya terjadi pada malam hari. Selama masa penyembuhan, batuk akan berkurang secra bertahap.

3.Stadium konvalesensi Lamanya kira-kira 4-6 minggu

Beratnya serangan batuk berkurang. Juga muntah berkurang, nafsu makan pun timbul kembali. Ronki difus yang terdapat pada stadium spas,odik mulai menghilang. Infaksi semacam “Common Cold” dapat menimbulkan serangan batuk lagi.

H. Masa penularan

Sangat menular pada stadium kataral awal sebelum stadium paroxysmal. Selanjutnya tingkat penularannya secara bertahap menurun dan dapat diabaikan dalam waktu 3 minggu untuk kontak bukan serumah, walaupun batuk spasmodic yang disertai “whoop” masih tetap ada. Untuk kepentingan penanggulangan, stadium menular diperluas dari awal stadium kataral sampai dengan 3 minggu setelah munculnya batuk paroxysmal yang khas pada penderita yang tidak mendapatkan terapi antibiotika. Bila diobati dengan erythromycin, masa menularnya biasanya 5 hari atau kurang setelah pemberian terapi.

I.  Kerentanan dan kekebalan

Anak-anak yang tidak diimunisasi umumnya rentan terhadap infeksi. Imunitas transplacental pada bayi tidak ada. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak. Angka insidensi penyakit yang dilaporkan tertinggi pada anak umur dibawah 5 tahun. Kasus yang ringan atau kasus atypic yang tidak terdeteksi terjadi pada semua kelompok umur. Sekali serangan biasanya menimbulkan kekebalan dalam waktu yang lama, walaupun dapat terjadi serangan kedua (diantaranya disebabkan oleh B. parapertussis). Di Amerika Serikat kasus yang terjadi pada remaja atau orang dewasa yang sebelumnya sudah pernah diimunisasi disebabkan oleh penurunan imunitas dan berperan sebagi sumber infeksi bagi anak-anak yang belum diimunisasi.

J.   Cara-cara pemberantasan

Upaya pencegahan

1) Lakukan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya kepada orang tua bayi, tentang bahaya pertusis dan manfaat memberikan imunisasi mulai usia 2 bulan dan mengikuti jadwal pemberian imunisasi yang dianjurkan. Penyebarluasan informasi ini penting untuk meningkatkan cakupan imunisasi apalagi reaksi samping yang muncul sangat jarang.

2) Imunisasi dasar untuk mencegah infeksi B. pertussis yang direkomendasikan adalah 3 dosis vaksin yang mengandung suspensi bakteri yang telah dimatikan, biasanya dikombinasi dengan diphtheria dan tetanus toxoid yang diserap dalam garam aluminium (vaksin absorbsi Diphtheria dan Tetanus Toxoid dan Pertusis, USP, DPT). Preparat aseluler (DTaP) yang berisi dua atau lebih antigen protektif untuk B. pertussis dipakai di Amerika Serikat untuk serial imunisasi dasar (sebanyak 3 dosis) dan untuk booster. Preparat nonabsorbed (plain) tidak tersedia kecuali di Michigan, vaksin ini kurang bermanfaat untuk imunisasi dasar maupun untuk booster. Di Amerika Serikat DTaP direkomendasikan untuk diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan sedangkan booster direkomendasikan untuk diberikan pada umur 15-18 bulan dan pada usia masuk sekolah. Vaksin yang berisi pertusis tidak dianjurkan untuk diberikan setelah umur 7 tahun. Negara-negara tertentu menerapkan pemberian imunisasi pada umur yang berbeda atau dengan dosis yang berbeda. Sebagian besar negara berkembang memberikan DTaP/DTP pada umur 6, 10 dan 14 minggu. Vaksin DTaP/DTP dapat diberikan secara simultan dengan vaksin oral polio (OPV), Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV), Haemophilus influenzae type B (Hib), vaksin hepatitis B dan campak, vaksin Mumps dan rubella (MMR) pada tempat suntikan yang berbeda. Vaksin kombinasi berisi DTaP/DTP dan Hib saat ini tersedia di AS.

Di AS adanya riwayat keluarga dengan serangan kejang tidak merupakan kontraindikasi pemberian vaksin pertusis; pemberian antipiretika dapat mencegah terjadinya serangan kejang demam. Imunisasi dengan DTaP/DTP sebaiknya ditunda apabila anak menderita infeksi dengan demam yang naik turun. Namun penyakit ringan dengan atau tanpa demam bukan merupakan kontraindikasi pemberian imunisasi. Pada bayi yang masih kecil dengan perkiraan adanya kelainan syaraf yang progresif, imunisasi sebaiknya ditunda sampai beberapa bulan kemudian untuk memberikan kesempatan memastikan diagnosa untuk mencegah kerancuan penyebab timbulnya gejala. Pada beberapa kasus dengan kelainan syaraf progresif, seorang anak sebaiknya diberikan DT saja daripada diberikan DTaP/DTP. Kelainan neurologist yang sudah stabil bukan merupakan kontraindikasi pemberian vaksinasi. Secara umum, vaksin pertusis tidak diberikan kepada anak berumur 7 tahun atau lebih, karena reaksi terhadap vaksin meningkat pada anak yang besar atau dewasa. Anak dengan riwayat pernah mengalami reaksi berat seperti kejang, menangis keras dan lama, pernah kolaps atau suhu tubuh lebih dari 40,50C (atau lebih tinggi dari 1050F) sebaiknya tidak diberikan dosis selanjutnya vaksin yang berisi pertusis apabila risiko pemberian vaksin lebih besar daripada manfaatnya. Pada situasi dimana imunisasi pertusis harus diberikan (seperti pada saat terjadi KLB pertusis), sebaiknya digunakan DTaP. Reaksi anaphylactic atau encephalopathy akut dalam 48-72 jam setelah imunisasi merupakan kontraindikasi absolute pemberian imunisasi selanjutnya dengan vaksin yang mengandung pertusis. Reaksi sistemik yang kurang serius atau reaksi lokal jarang terjadi setelah imunisasi DTaP dan reaksi ini bukan kontraindikasi untuk pemberian dosis pertusis selanjutnya. Efikasi vaksin pada anak yang telah mendapatkan paling sedikit 3 dosis diperkirakan sebesar 80%; memberikan perlindungan terhadap timbulnya penyakit yang berat dan perlindungan mulai menurun setelah sekitar 3 tahun. Imunisasi aktif yang diberikan setelah pajanan tidak akan melindungi seseorang terhadap penyakit setelah pajanan namun tidak merupakan kontraindikasi. Proteksi yang paling baik didapat apabila mengikuti jadwal imunisasi yang dianjurkan. Imunisasi pasif tidak efektif, dan IG pertusis saat ini tidak ada lagi dipasaran. Vaksin pertusis tidak melindungi terhadap infeksi yang disebabkan oleh B. parapertussis.

3) Pada kejadian luar biasa, dipertimbangkan untuk memberikan perlindungan kepada petugas kesehatan yang terpajan dengan kasus pertusis yaitu dengan memberikan erythromycin selama 14 hari. Walaupun vaksin DTaP sejak 1999 tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak berumur 7 tahun atau lebih, nampaknya vaksin aseluler (DTaP) baru, mungkin dapat diberikan pada usia itu.

Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya

1)  Laporan kepada instansi kesehatan setempat:

Laporan adanya kasus wajib dilakukan di semua negara bagian di AS dan sebagian besar negara-negara di dunia, Kelas 2B (lihat Laporan tentang Penyakit Menular). Laporan dini memungkinkan dilakukan penanggulangan KLB yang lebih baik.

2)  Isolasi:

Untuk kasus yang diketahui dengan pasti dilakukan isolasi saluran pernapasan. Untuk tersangka kasus segera dipindahkan dari lingkungan anak-anak kecil dan bayi, khususnya dari bayi yang belum diimunisasi, sampai dengan penderita tersebut diberi paling sedikit 5 hari dari 14 hari dosis antibiotika yang harus diberikan. Kasus tersangka yang tidak mendapatkan antibiotika harus diisolasi paling sedikit selama 3 minggu.

3)  Disinfeksi serentak:

Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dari hidung dan tenggorokan, serta barang-barang yang dipakai penderita. Pembersihan menyeluruh.

4)  Karantina:

Lakukan karantinan terhadap kontak yang tidak pernah diimunisasi atau yang tidak diimunisasi lengkap. Mereka tidak diijinkan masuk sekolah, atau berkunjung ke tempat penitipan anak atau tidak diijinkan berkunjung ke tempat dimana banyak orang berkumpul. Larangan tersebut berlaku sampai dengan 21 hari sejak terpajan dengan penderita atau sampai dengan saat penderita dan kontak sudah menerima antibiotika minimal 5 hari dari 14 hari yang diharuskan.

5)  Perlindungan terhadap kontak:

Imunisasi pasif tidak efektif dan pemberian imunisasi aktif kepada kontak untuk melindungi terhadap infeksi setelah terpajan dengan penderita juga tidak efektif. Kontak yang berusia dibawah 7 tahun dan yang belum mendapatkan 4 dosis DTaP/DTP atau yang tidak mendapat DTaP/DTP dalam 3 tahun terakhir harus segera diberikan suntikan satu dosis setelah terpapar. Dianjurkan pemberian erythromycin selama 14 hari bagi anggota keluarga dan kontak dekat tanpa memandang status imunisasi dan umur.

6)  Penyelidikan terhadap kontak dan sumber infeksi:

Lakukan pencarian kasus secara dini, cari juga kasus yang tidak dilaporkan dan kasus-kasus atipik. Oleh karena bayi-bayi dan anak tidak diimunisasi mempunyai risiko tertular.

7)  Pengobatan spesifik:

Pengobatan dengan erythromycin memperpendek masa penularan, namun tidak mengurangi gejala kecuali bila diberikan selama masa inkubasi, pada stadium kataral atau awal stadium paroxysmal.

Cara-cara penanggulangan Wabah

Lakukan Pencarian kasus yang tidak terdeteksi dan yang tidak dilaporkan untuk melindungi anak-anak usia prasekolah dari paparan dan agar dapat diberikan perlindungan yang adekuat bagi anak-anak usia di bawah 7 tahun yang terpapar. Akselerasi pemberian imunisasi dengan dosis pertama diberikan pada umur 4-6 minggu, dan dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4 minggu, mungkin diperlukan; bagi anak-anak yang imunisasinya belum lengkap, sebaiknya dilengkapi.

Implikasi bencana:

Pertusis berpotensi menjadi masalah besar apabila terjadi penularan dalam komunitas yang padat seperti pada kamp pengungsi dengan banyak anak yang belum diimunisasi.

Tindakan Internasional

Bagi bayi dan anak-anak yang akan melakukan perjalan ke luar negeri agar dipastikan bahwa yang bersangkutan telah menerima imunisasi dasar lengkap. Dilihat apakah perlu dilakukan pemberian dosis booster. Manfaatkan Pusat-pusat Kerja sama WHO.

BAB III

PEMBAHASAN

A.  Distribusi Penyakit Menurut Variabel Epidemiologi

Penyakit endemis yang sering menyerang anak-anak (khususnya usia dini) tersebar di seluruh dunia, tidak tergantung etnis, cuaca ataupun lokasi geografis.

KLB terjadi secara periodik.

Terjadi penurunan yang nyata dari angka kesakitan pertusis selama empat decade terakhir, terutama pada masyarakat dimana program imunisasi berjalan dengan baik serta tersedia pelayanan kesehatan yang cukup dan gizi yang baik.

Sejak tahun 1980 sampai dengan tahun 1989 rata-rata kasus yang dilaporkan pertahun di Amerika Serikat adalah 2.800, namun jumlah kasus ini meningkat pada tahun 1995-1998 menjadi rata-rata 6.500. Dengan peningkatan cakupan imunisasi di Amerika Latin, kasus pertusis yang dilaporkan menurun dari 120.000 pada tahun 1980 menjadi 40.000 pada tahun 1990. Angka insidensi meningkat di negara-negara dimana cakupan imunisasi pertusis yang menurun (antara lain di Inggris, Jepang pada awal tahun 1980-an dan di Swedia).

B.  Determinan Penyakit Pertusis

Penyebab penyakit:

B. pertussis, basil pertusis; B. parapertussis adalah penyebab parapertusis.

Bagaimana seseorang bisa terkena Pertusis:

–   Anak-anak yang tidak diimunisasi umumnya rentan terhadap infeksi. Imunitas transplacental pada bayi tidak ada.

–   Status Gizi yang buruk.

–   Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak.

–   Angka insidensi penyakit yang dilaporkan tertinggi pada anak umur dibawah 5 tahun.

–   Kasus yang ringan atau kasus atypic yang tidak terdeteksi terjadi pada semua kelompok umur.

–   Sekali serangan biasanya menimbulkan kekebalan dalam waktu yang lama, walaupun dapat terjadi serangan kedua (diantaranya disebabkan oleh B. parapertussis).

–  Di Amerika Serikat kasus yang terjadi pada remaja atau orang dewasa yang sebelumnya sudah pernah diimunisasi disebabkan oleh penurunan imunitas dan berperan sebagi sumber infeksi bagi anak-anak yang belum diimunisasi.

Riwayat Alamiah Peenyakit :

–  Reservoir:  Saat ini manusia dianggap sebagai satu-satunya hospes.

–  Cara-cara penularan :Penularan terutama melalui kontak langsung dengan discharge selaput lendir saluran pernapasan dari orang yang terinfeksi lewat udara, kemungkinan juga penularan terjadi melalui percikan ludah. Seringkali penyakit dibawa pulang oleh anggota saudara yang lebih tua atau orang tua dari penderita.

–  Masa inkubasi:  Umumnya 7-20 hari.

– Masa penularan : Sangat menular pada stadium kataral awal sebelum stadium paroxysmal. Selanjutnya tingkat penularannya secara bertahap menurun dan dapat diabaikan dalam waktu 3 minggu untuk kontak bukan serumah, walaupun batuk spasmodic yang disertai “whoop” masih tetap ada. Untuk kepentingan penanggulangan, stadium menular diperluas dari awal stadium kataral sampa dengan 3minggu setelah munculnya batuk paroxysmal yang khas pada penderita yang tidak mendapatkan terapi antibiotika. Bila diobati dengan erythromycin, masa menularnya biasanya 5 hari atau kurang setelah pemberian terapi.

Factor Resiko yang mendukung seseorang bisa terkena Pertusis.

–  Seseorang yang tidak mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap.

–  Seseorang yang mengalami penurunanan daya Imunitas

–  Seseorang dengan Status Gizi yang Buruk.

–   Petugas Kesehatan yang mengalami penurunan Imunitas yang merawat penderita Pertusis.

C.  Prediksi Keadaan Pertusis di Masa Datang

–   Penyakit Pertusis, saat ini manusia dianggap satu-satunya sebagai reservoir/hospes nya.

Jadi perkembangannya dimasa datang dapat di cegah dengan pemberian Imunisasi Dasar yang Lengkap kepada Bayi, anak-anak dibawah umur 7 tahun beserta perlindungan yang adekuat kepada anak-anak dibawah 7 tahun tersebut jika terpapar.

–   Pertusis berpotensi menjadi masalah besar apabila terjadi penularan dalam komunitas yang padat seperti pada kamp pengungsi dengan banyak anak yang belum diimunisasi.

BAB IV

PENUTUP

A.  Kesimpulan

–  Pertusis (batuk rejan) disebut juga whooping cough, tussis quinta, violent cough, dan di Cina disebut batuk seratus hari. Sydenham yang pertama kali menggunakan istilah pertussis (batuk kuat) pada tahun 1670; istilah ini lebih disukai dari batuk rejan (whooping cough) karena kebanyakan individu yang terinfeksi tidak berteriak (whoop artinya berteriak). Pertusis yang berarti batuk yang sangat berat atau batuk yang intensif, merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut yang dapat menyerang setiap orang yang rentan seperti anak yang belum diimunisasi atau orang dewasa dengan kekebalan yang menurun.

–  Pertusis Adalah penyakit bakterial akut yang menyerang saluran pernapasan. Stadium kataral ditandai dengan serangan berupa batuk iritatif yang pada awalnya insidius kemudian menjadi paroxysmal, biasanya berlangsung selama 1-2 minggu dan berakhir dalam 1-2 bulan atau lebih.

–   Anak-anak yang tidak mendapatkan Imunisasi Lengkap, Status Gizi yang Buruk, dan didalam sutu pengungsian penduduk/komunitas yang padat, dimana terdapat anak-anak  yang tidak diimunisasi lengkap bisa menyebabkan terpapar Pertusis.

B.  Saran 

–   Melakukan penyuluhan kepada org tua bayi untuk pentingnya mendapatkan imunisasi sesegera mulai usia 2 bulan.

–    Memahami dan mengeerti bagaimana Pertusis bisa menjadi bahaya bagi manusia, agar kesehatan masyarakat optimal terwujudkan.

–   Peningkatan kualitas keahlian dengan banyak membaca dan pengalaman dilapangan sebagai upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Daftar Pustaka

    Budiarto, eko.2003. Pengantar epidemiologi.jakarta: penerbit buku kedokteran egc

Bustan mn ( 2002 ). Pengantar epidemiologi, jakarta, rineka cipta

Nasry, nur dasar-dasar epidemiologi

I Nyoman Kandun, Mph ,(editor), Manual Pemberantasan Penyakit Menular, edisi 17, 2009

Beberapa Situs Internet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s