DISENTRI Epidemiologi Penyakit Menular

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.      LATAR BELAKANG

Demam typoid, kolera dan shigella merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada dinegara berkembang ,termasuk indonesia.pada tahun 1996 ,dilaporkan terdapat 1282 kasus diare per 100.000 penduduk di jakarta ,sebagian besar di daerah jakarta utara.berdasarkan data survei demografi dan kesehatan indonesia (SDKI, 1977),prevalensi  diare di indinesia 10,4%.untuk DKI jakrata, prevalnsi diare 8,3% dan disentri darah0,52%.jakrta utara secara umum masih mendapat tempat pertimbangan sebagai tempat wabah penyakit  yang beresiko tinggi.

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian perilaku sosial budaya dalam penanggulangan penyakit shigella di jakarta tahun 2002.penyait shigella di jakarta utara disebut responden sakit diare berdarah dan berlendir,disebut juga “mejen”(buang air besar susah begitu keluar yang keluar darah dan lendir)disebut juga disentri.fokus dari bahasan disini adalah persepsi dari responden mengenai tingkat keparahan disentri dibanding dengan diare lainnya,keseriusan maysarakat terhadap masalah disentri dibandingkan dengan masalah kesehatan pada masyarakat golongan yang mudah terserang disentri,kemungkinan anggota keluarga yang lain terkena disentri,tingkat keseriusan disentri pada kelompok laki-laki dan wanita,pengaruh terhadap tingkat sosial ekonomi bila anggota keluarga terkena disentri,lama waktu sembuh bila sakit disentri,dan biaya pengobatan.

  1. A.      RUMUSAN MASALAH

    1. Jelaskan pengertian Disentri dan gejalanya ?
    2. etiologi dari Disentri ?
    3. jelaskan masa inkubasi dan diagnosis dari disentri ?
    4. bagaimana cara penularan disentri ?
    5. bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan ?
  2. B.      TUJUAN

    1. agar mengetrahui apa itu disentri
    2. agar mengetahui etiologi dari penyakit Disentri
    3. agar mengetahui masa inkubasi dan diagnosa
    4. agar mengetahui cara penularan Disentri
    5. agar mengetahui bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan

 

 

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

  1. A.      PENGERTIAAN

Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah (Behrman 2004).
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus), yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja lendir bercampur darah .

Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri, yakni: 1) sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus, 2) berak-berak, dan 3) tinja mengandung darah dan lendir.

  1. B.        ETIMOLOGI

    1.  Bakteri (Disentri basiler)
      •  Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella [2].
      •  Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
      •  Salmonella
      •  Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
    2.  Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun

 

  1. C.      MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS
    1. Masa inkubasi

Bervariasi, mulai dari beberapa hari hingga beberapa bulan atau tahun biasanya 2 – 4 minggu.

Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.

  • Gejala-gejala disentri secara umum antara lain:

1. Buang air besar dengan tinja berdarah

2. Diare encer dengan volume sedikit

3. Buang air besar dengan tinja bercampur lendir/mukus

4. Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

  1. Diagnosis

agen penyebab seringkali tidak perlu dilakukan karena memakan waktu lama (minimal 2 hari) Diagnosis klinis dapat ditegakkan semata-mata dengan menemukan tinja bercampur darah. Diagnosis etiologi biasanya sukar ditegakkan. Penegakan diagnosis etiologi melalui gambaran klinis semata sukar, sedangkan pemeriksaan biakan tinja untuk mengetahui 2 hari) dan umumnya gejala membaik dengan terapi antibiotika empiris.

 

  1. D.      CARA PENULARAN 

Cara penularan dapat melalui beberapa cara yaitu melalui :

  1. Langsung

Faecal – oral transmission dari penderita atau carrier. Bakteri masuk ke dalam organ pencernaan mengakibatkan pembengkakan hingga menimbulkan luka dan peradangan pada dinding usus besar. Inilah yang menyebabkan kotoran penderita sering kali tercampur nanah dan darah. Penularan mungkin terjadi secara seksual melalui kontak oral-anal. Penderita dengan disentri amoeba akut mungkin tidak akan membahayakan orang lain karena tidak adanya kista dan trofosoit pada kotoran

  1. Tidak Langsung

Melalui vektor lalat, seperti air,susu,makanan yang terkontaminasi oleh    tinja penderita. Lalat merupakan serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel di tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang dihinggapi

 

  1. E.       PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN 
  • Pencegahan

Penyakit disentri basiler ini dapat dicegah dengan 10 cara :

  1. Selalu menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun secara teratur dan teliti.
  2. Mencuci sayur dan buah yang dimakan mentah.
  3. Orang yang sakit disentri basiler sebaiknya tidak menyiapkan makanan.
  4. Memasak makanan sampai matang.
  5. Selalu menjaga sanitasi air, makanan, maupun udara.
  6. Mengatur pembuangan sampah dengan baik.
  7. Mengendalikan vector dan binatang pengerat.
  8. Perbaikan lingkungan hidup
  9. Penyediaan keperluan MCK yang memadai di Kamp pengungsian
  10. Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan berkala pada penghuni RS jiwa dan kamp pengungsia

 

  • Penanggulangan

Pada infeksi ringan umumnya dapat sembuh sendiri, penyakit akan sembuh pada 4-7 hari. Minum lebih banyak cairan untuk menghindarkan kehabisan cairan, jika pasien sudah pada tahap dehidrasi maka dapat diatasi dengan Rehidrasi Oral . Pada pasien dengan diare berat disertai dehidrasi dan pasien yang muntah berlebihan sehingga tidak dapat dilakukan Rehidrasi Oral maka harus dilakukan Rehidrasi Intravena . umumnya pada anak kecil terutama bayi lebih rentan kehabisan cairan jika diare. Untuk infeksi berat Shigella dapat diobati dengan menggunakan antibiotika termasuk ampicilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan ciprofloxacin. Namun, beberapa Shigella telah menjadi kebal terhadap antibiotika, ini terjadi karena penggunaan antibiotika yang sedikit-sedikit untuk melawan shigellosis ringan

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.      HASIL

 

  1. 1.       Karakteristik Responden

 

Karakteristik responden yang disajikan meliputi pendidikan,pendapatan per bulan dan pekerjaan (Tabel 1)

 

Pendidikan rendah responden yaitu tidak tamat SD, tamat SD, tamat SLTP, responden laki-laki 54,4%, perempuan 75,6%. Sedangkan pendidikan tinggi, tamat SLTA keatas, responden laki-laki 45,6%, perempuan 24,4%.

 

Tabel 1. Pendidikan, Pendapatan, Pekerjaan Utama

 

Pendidikan,Pendapatan, Pekerjaan umum

Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
  1. Pendidikan

• Pendidikan rendah

•Pendidikan Tinggi

Jumlah

 

  1.  Pendapatan

• < Rp 500.000,-

• Rp 501.000,- Rp 1.000.000,-

• > Rp 1.000.000,-

Jumlah

 

  1. Pekerjaan Umum :

• Wirasuasta/Pedagang

• Karyawan swasta

• Buruh pabrik/pelabuhan gaji

Tetap

• Pegawai Negeri

• Pensiun

• Petani

• Industri

Jumlah

 

 

136 (54,4)

114 (45,5)

250

 

 

76 (30,4)

109 (43,6)

65 (26,0)

250

 

 

81 (39,7)

46 (22,5)

46 (22,5)

 

16 (7,8)

10 (4,6)

4 (2,0)

1 (0,5)

240

 

 

 

189 (75,6)

61 (24,4)

250

 

 

85 (35,0)

101 (40,4)

64 (25,6)

250

 

 

40 (75,5)

9 (3,8)

2 (3,8)

 

2 (3,8)

53

 

 

325 (65,0)

175 (35,0)

500

 

 

161 (32,2)

210 (42,0)

129 (25,8)

500

 

 

121 (47,1)

55 (42,0)

48 (18,7)

 

18 (7,0)

10 (3,9)

4 (1,6)

1 (o,4)

257

Pendapatan keluarga dari responden pada kelompok Rp 501.000,- Rp1.000.000,- responden laki-laki 43,6%, responden perempuan 40,4%. Pada kelompok pendapatan <Rp 500.000,- per bulan responden laki-laki 30,4% dan perempuan 35,0% pada kelompok >Rp 1.000.000,- responden laki-laki 26,0%, responden perempuan 26,6%.

 

Pekerjaan umum responden terbanyak sebagai wiraswsta, responden laki-laki 39,7% responden perempuan 75,5%, sebagai karyawan swasta responden laki-laki 22,5% perempuan 3, 8%, sebagai buruh pabrik/pelebuhan dengan upah gaji tetap responden laki-laki 22,5% perempuan 3,8%.

 

  1. 2.       Masyarakat Menganggap Shigella (Disentri) sebagai Penyakit yang Serius Dibandingkan dengan Penyakit Lainnya

 

Masyarakat menganggap bahwa penyakit shigelle (Disentri) sebagai penyakit yang serius dibandingkan dengan penyakit lainnya, dapat dilihat pada tabel 2.

 

Sebanyak 77,6% responden laki-laki dan 72,4% perempuan mengatakan bahwa penyakit shiggela (disentri) dianggap lebih serius oleh masyarakat dibandingkan penyakit lainnya sehingga penangannya/pengobatannya/membawa berobat lebih diutamakan dari pada bila menderita penyakit lainnya.

    Tabel 2.   Anggapan Masyarakat bahwa Shigella (Disentri) sebagai Penyakit yang Serius Dibandingkan dengan Penyakit Lainnya.

Keseriusan Masyarakat Terhadap Disentri Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
  1. Tidak serius

 

  1. Serius

 

  1. Sangat serius

 

  1. Tidak tahu
28 (11,2)

194 (77,6)

22  (8,8)

6 (2,4)

 

 

28 (11,2)

181 (72,4)

26 (10,4)

15 (6,0)

56 (11,2)

375 (75)

48 (96)

21 (4,2)

Jumlah 250 250 500
  1. 3.       Kepedulikan, Tingkat Keparahan, Kelompok Mudah Terkena, Kemungkinan Anggota Keluarga Lain Terkena

 

Pada tabel 3 disajikan kepedulian masyarakat terhadap penyakit shigella (disentri). Pada tabel 4 disajikan tingkat keparahan penyakit shigella (disentri) di banding diare lainnya. Pada tabel 5 di sajikan kelompok yang mudah terserang/terkena penyakit shigella (disentri). Pada tabel 6 disajikan kemungkinan anggota keluarga lainnya terkena penyakit tersebut.

 


Tabel 3. Kepedulian Masyarakat Terhadap Penyakit Shigella (Disentri)

 

Kepedulian Masyarakat Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
  1. Kepedulian masyarakat terhadap shigelle
  • Tidak pedulu
  • Cukup peduli
  • Sangat peduli
  • Tidak tahu

 

 

 

61 (24,4)

149 (63,2)

24 (12,0)

16 (6,4)

 

 

49 (19,6)

158 (63,2)

32 (12,0)

11 (4,4)

 

 

110 (22.0)

307 (61,4)

56 (11,2)

27 (5,4)

Jumlah 250 250 500

Tabel 4. Tingkat Keparahan Penyakit Shigella (Disentri) Dibanding Diare          Lainnya

 

Tingkat Keparahan Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  • Lebih ringan
  • Kira-kira sama
  • Lebih berat

Tidak tahu

 

46 (18,4)

29 (11,6)

168 (67,2)

7 (2,8)

 

34 (13,6)

32 (12,8)

178 (71,2)

6 (2,4)

 

80 (16,0)

61 (12,2)

346 (69,2)

13 (2,6)

Jumlah 250 250 500

 

Tabel 5. Kelompok Yang Mudah Terserang Penyakit Shigella (Disentri)

 

Kelompok mudah Terserang Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  • Bayi (0-1 Tahun)
  • Balita (1-5 Tahun)
  • Anak (6-14 Tahun)
  • Wanita dewasa (15-59 Tahun)
  • Laki-lak Dewasa (15-59 Tahun)
  • Lanjut Usia (>60 Tahun)

 

 

182 (72,8)

213 (85,2)

198 (79,2)

134 (53,6)

133( 53,2)

158 (63,2)

 

200 (80,0)

217 (86,6)

202 (80,8)

154 (61,6)

144 (57,6)

175 (70,0)

 

382 (76,4)

430 (86,0)

400 (80,0)

288 (57,6)

277 (55,4)

333 (66,0)

Jumlah 250 250 500

 

 

          Tabel 6. Kemungkinan Anggota Keluarga Lain Terkena Shigella (Disentri)

 

Kemungkinan Anggota Keluarga lain Terkena Shigella (Disentri) Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  • Tidak mungkin
  • Mungkin
  • Sangat mungkin
  • Tidak tahu

 

 

25 (10,0)

216 (86,4)

1 (0,4)

8 (3,2)

 

40 (16,0)

199 (79,6)

4 (1,6)

7 (2,8)

 

65 (13,0)

415 (83,0)

5 (1,0)

15 (3,0)

Jumlah 250 250 500

 

                    Pada tabel 3 terlihat bahwa sebanyak 59,6% responden laki-laki dan 63,2% responden perempuan cukup peduli terhadap penyakit shigella (disentri). Sementara pada tabel 4, sebanyak 67,2% responden laki-laki dan 71,2% responden perempuan mengatakan bahwa bila sakit shigella (disentri) dirasakan lebih berat dibandingkan dengan penyakit diare lainnya. Dan menurut 85,2% responden laki-laki dan 86,6% responden perempuan bahwa kelompok yang paling mudah terserang penyakit shigella (disentri) adalah balita (1-5 Tahun), urutan ke dua menurut responden laki-laki (79,2%) dan responden perempuan (80,8%) adalah kelompok umur (6-14 thn), urutan ke tiga menurut responden laki-laki (72,8%) dan responden perempuan (80,0%) adalah bayi (0-1 thn). Pada tabel 6, sebanyak 86,4% responden laki-laki dan 79,6% responden perempuan mengatakan bila dalam satu rumah terdapat orang yang sakit shigella (disentri) sangat mungkin anggota keluarga yang lain terkena penyakit tersebut.

 

  1. 4.       Pendapat Responden Tentang Lama Waktu Sembuh, Pengaruh Sosial Ekonomi dan Biaya Pengobatan Bila Sakit Shigella (Disentri)

 

Pada tabel 7 disajikan mengenai lama waktu untuk sembuh bila sakit shigella (disentri), pengaruhnya terhadap tingkat sosial ekonomi bila anggota keluarganya sakit shigella (disentri) dan biaya yang dirasakan bila sakit shigella (disentri).

Lama waktu sembuh bila sakit shigelle (disentri) menurut responden

laki-laki dan perempuan berkisar 54,0%-55,6% mengatakan satu minggu.

 

Bila anggota keluarganya terkena shigella (disentri), sangat berpengaruh terhadap sosial ekonomi untuk biaya pengobatannya, berkisar antara 52,4% – 53,6% menurut responden laki-laki ataupun responden perempuan pengaruhnya terhadap sosial ekonomi dikatakan serius karena memerlukan biaya untuk pengobatan dan meluangkan waktu  untuk menjaga bila yang sakit anaknya. Pendapat responden laki-laki dan perempuan tentang biaya pengobatan bila sakit shigella (disentri ringan/berat), dalam penelitian ini ditemukan lebih banyak responden mengatakan bahwa biaya tidak mahal (56,9%-59,6%), 33,6%-39,2% mengatakan mahal.

 

 

Tabel 7. Lama Waktu Sembuh, Pengaruh Sosial Ekonomi, dan Biaya Pengobatan Bila Sakit Shigella (Disentri)

 

Lama Sembuh, Pengaruh Sosial Ekonomi, biaya Laki-laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%)
 

  1. Lama waktu sembuh
  • Sehari
  • Beberapa hari
  • Seminggu
  • Beberapa minggu
  • Sebulan atau lebih
  • Tidak tahu

 

  1. Pengaruh terhadap sosek bila sakit shigella (disentri)
  • Tidak serius
  • Serius
  • Sangat serius

Jumlah

 

  1. Biaya disentri ringan
  • Tidak mahal
  • Mahal
  • Sangat mahal
  • · Tidak tahu

Jumlah

 

  1. Biaya disentri berat
  • Tidak mahal
  • Mahal
  • Sangat mahal
  • Tidak tahu

Jumlah

 

N = 250

 

 

12 (4,8)

98 (39.2)

139 (55,6)

27 (10,8)

8 (3,2)

14 (5,6)

 

 

 

60 (24,0)

131 (52,6)

59 (23,6)

250

 

 

142 (56,8)

97 (36,8)

4 (1,6)

12 (4,8)

250

 

 

 

142 (56,8)

98 (39,2)

3 (1,2)

12 (4,8)

250

N = 250

 

 

9 (3,6)

101 (40,4)

135 (54,0)

31 (12,4)

12 (4,8)

6 (2,4)

 

 

 

59 (23,6)

134 (53,6)

57 (22,8)

250

 

 

149 (59,6)

84 (33,6)

4 (1,6)

13 (5,2)

250

 

 

 

149 (59,6)

84 (33,6)

4 (1,6)

13 (5,2)

250

N = 500

 

 

21 (9,2)

199 (39,8)

274 (54,8)

58 (11,6)

20 (4,0)

20 (4,0)

 

 

 

199 (23,8)

265 (53,0)

116 (23,2)

500

 

 

291 (58,2)

181 (36,2)

8 (1,6)

25 (5,0)

500

 

 

 

286 (57,2)

182 (36,4)

7 (1,4)

25 (5,0)

500

 

  1. B.      PEMBAHASAN

 

Responden di daerah penelitian pada umumnya sudah mendengar dan menggunakan istilah disentri disamping istilah lain seperti mejen atau menyebutkan gejala diare yang di sertai darah dan lendir.

 

Pemahaman responden tersebut dapat di katakan sejalan dengan batasan dan pengertian yang dipergunakan oleh program. Adapun batasan dan pengertian tersebut adalah : sindrom disentri terdiri dari kumpulan gejala : diare dengan darah dan lendir dalam fases dan adanya tenesmus. Dalam tata laksana kasus diare akut yang ditetapkan Sup Direktorat P2 Diare, K & PP Ditjen PPM & PPL Depkes RI (Selanjutnya disebut tata laksana diare akut) semua diare yang berdarah dikategorikan sebagai disentri, sesuai dengan batasan WHO. Disentri berat adalah disentri yang disertai dengan komplikasi, sedangkan diare berdarah dapat disebabkan oleh seluruh kelompok penyebab diare, seperti oleh virus, bakteri, parasit, intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi, tetapi sebagian besar disentri disebabkan oleh infeksi. Penularan secara fecal oral, kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. Infeksi menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan biasanya terjadi pada daerah dengan sanitasi hygiene perorangan yang buruk. Di Indonesia penyebab utama disentri adalah shigella, salmonela, campylobacter jejuni, Escherichia coli (E. coli), dan entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh shigella flexneri, salmonella dan enteroinvasive E. coli (EIEC).

 

Diare pada disentri umumnya diawali oleh diare cair, kemudian pada hari ke dua atau ke tiga baru muncul darah dengan maupun tanpa lendir, sakit perut yang di ikuti munculnya tenesmus. Panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan terasa lemah. Pada saat tenesmus terjadi, pada banyaknya penderita akan mengalami penurunan volume diarenya dan mungkin fases hanya berupa darah dan lendir. Gejala infeksi saluran nafas akut dapat menyertai disentri. Disentri dapat menimbulkan dehidrasi, dari yang ringan sampai dengan dehidrasi berat, walaupun kejadiannya lebih jarang jika dibandingkan diare cair akut. Komplikasi disentri dapat terjadi local disaluran cerna, maupun sistemik.

 

Menurut Djohari Ismail dkk, perbedaan pengertian pengetahuan dan pengalaman menyebabkan adanya perbedaan dalam sikap dan tanggapan serta penerimaan seseorang terhadap suatu penyakit. Responden kebanyakan tidak sering terjadi disentri namun bila ada yang sakit disentri masyarakat cukup peduli, karena sebelum di bawa kepelayanan kesehatan diobati sendiri terlebih dahulu. Kepedulian ini merupakan hal positif yang dapat dikembangkan mengingat disentri merupakan penyakit menular dan cukup besar prevelensinya. Di Indonesi di laporkan dari hasil survei evaluasi tahun 1989-1990 di peroleh angka kejadian disentri sebesar 15%. Hasil survei pada balita di rumah sakit di Indonesia menunjukkan proporsi spesies shigella sebagai etiologi diare; S, dysentry 5,9%; S, flexneri 70,6%; S, boydii 5,9%; S,sonnei 17,6%. Dari laporan surveilans terpadu tahun 1989 di dapatkan 13,3% di puskesmas. Di rumah sakit di dapat 0,45% pada penderita rawat inap dan 0,05% pasien rawat jalan. Meskipun proporsi S. dysentry rendah tetapi kita selalu harus waspada karena S. dysentry dapat muncul sebagai epidemi. Epidemi ini telah melanda Asia Selatan sekitar akhir tahun 80 an dan awal tahun 80 an. Lebih berbahaya lagi, epidemik ini dapat disebabkan olah shigella dysentry yang telah resisten terhadap berbagai antibiotik. Proporsi penderita diare dengan disentri di Indonesia di laporkan berkisar antara 5-15%. Proporsi disentri yang menjadi disentri berat belum jelas.

 

Angka kejadian disentri sangat bervariasi di daerah Indonesia maupun di beberapa Negara berkembang seperti dibangladesh di laporkan selama 10 tahun (1974 – 1984) angka kejadian disentri berkisar antara 19,3% -n 42,0%. Di Thailand di laporkan disentri merupakan 20% dari pasien rewat jalan rumah sakit anak di Bangkok. Namum yang perlu di catat dan mendapat perhatian bahwa disentri merupakan penyakit telah menyebar keseluruh dunia.

 

Menurut responden penyakit disentri bisa di bandingkan dengan penyakit diare lainnya, hal ini di dukung oleh jawaban responden yang mengatakan bahwa masalah disentri di anggap serius oleh masyarakat dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya.

 

Golongan yang mudah terkena disentri menurut responden terutama balita (1-5 thn), kemudian anak berumur 6-14 tahun dan urutan ke tiga adalah bayi 0-1 tahun, urutan keempat usia lanjut kurang lebih 60 tahun. Ururan ke lima wanita Dewasa 15-19 tahun dan laki-laki dewasa 15-19 tahun. Walaupun berbeda kelompok umurnya namun bila dilihat dari Survei Demografi dan kesehatan 1997 di katakan bahwa insiden diare di temukan lebih tinggi pada anak umur 6-23 bulan (10%) dari pada bayi di bawah umur 6 bulan, yang dapat di pengaruhi oleh meningkatnya proporsi bayi yang sudah di beri makan tambahan di samping ASI. Insiden diare selanjutnya mengecil pada anak di atas 36 bulan dan mencapai 4% pada anak umur 48-69%. Menurut Notoadmodjo S.diare merupakan penyakit yang sering di temukan pada anak-anak.

 

Responden pun kebanyakan mengatakan bahwa anggota keluarga yang lain mungkin bisa terkena disentri. Bila anggota terkena akan berpengaruh pada keadaan sosial ekonomi keluarga tersebut, karena bila yang sakit kepala keluarganya maka tidak bisa bekarja berarti tidak mendapatkan uang. Hal inipun mempengaruhi biaya bila sakit. Biaya untuk sakit disentri ringan maupun disentri berat sebagian besar mengatakan mahal.

 

Lama waktu sembuh kebanyakan mengatakan satu minggu, namun ada juga yang mengatakan beberapa minggu.

BAB IV

PENUTUP

 

  1. A.      Kesimpulan

Penyakit shigella (disentri) menurut responden merupakan penyakit yang serius dalam keluarga, karena terkait dengan sosial ekonomi bila ada keluarganya yang sakit akan tidak bisa bekerja berarti tidak mendapat uang dan harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan. Bila yang sakit bayi orang tuanya tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang lain karena harus merawat bayi tersebut.

Responden juga menggangap bahwa penyakit shigella (Disentri) lebih berat dari penyakit lainnya.

Kelompok yang mudah terserang penyakit shigella (disentri) adalah bayi, balita dan anak umur 6-14 tahun. Menurut responden kemungkinan bila ada yang sakit shigella (disentri) dalam keluarganya akan menular kepada anggota keluarga lainnya.

 

  1. B.      Saran

Dalam penyusunan Makalah ini penulis tidak menutup kemungkinan Tidak adanya kesalahan dan kehilafan sebab itu penulis berharap untuk diberi kritikan dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini dan pembuatan makalah selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  Kamus Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : FK-UI; 2001

Dharma, Andi Pratama. Buku Saku Diare Edisi 1. Bandung : Bagian/SMF  IKA FK-UP/RSHS; 2001

Behrman, et al. Nelson Textbook of Pediatrics 17th edition. UK : Saunders; 2004

Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Volume 1. Jakarta : Bagian IKA FK-UI; 1998.

A, Dini, et al. Pengaruh Pemberian Preparat Seng Oral Terhadap Perjalanan Diare Akut, dalam Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam; 2004

Nafianti, Selvi, et al. Efektivitas Pemberian Trimetoprim-Sulfametoksazol pada Anak dengan Diare Disentri Akut, dalam Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam; 2004

Djauhari ismail, R Sutrisno, Manginah PA dan Retnohastuti, pengertian sikap dan Prilaku Masyarakat terhadap Diare. Kumpulan Naskah PITV, BKGAI (Badan Koordinasi Gastro Internologi Anak Indonesia) 1997

http://obat-penyakit.com/diare-disentri

http://id.wikipedia.org/wiki/Disentri

www.litbang.depkes.go.id/media/data/shigella.pd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s