HEPATITIS B DAN C Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya. Salah satu ancaman terhadap manusia adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Tubuh mempunyai cara dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Beberapa jenis penyakit seperti pilek dan batuk dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Dalam hal lain di katakan bahwa sistem pertahanan tubuh ( sistem imun ) orang tersebut cukup baik untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit itu. Tetapi bila kuman penyakit itu ganas, sistem pertahanan tubuh (terutama pada anak-anak atau pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah), tidak mampu mencegah kuman itu berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa kepada kecacatan bahkan kematian.

Infeksi Hepatitis B ditemukan di seluruh dunia, dengan tingkat prevalensi yang berbeda-beda antar negara. Pembawa infeksi kronis merupakan reservoir utama, di beberapa negara, khususnya di negara-negara belahan timur, 5-15 dari semua orang membawa virus, meskipun sebagian besar tidak menunjukkan gejala. Pasien dengan infeksi HIV, 10% adalah pembawa kronis hepatitis B. Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa 1,5 juta orang terinfeksi hepatitis B, dan diperkirakan 300.000 kasus baru terjadi setiap tahunnya. Sekitar 300 orang ini mati dengan hepatitis fulminan akut, dan 5-10% dari pasien yang terinfeksi hepatitis B kronis menjadi pembawa virus. Sekitar 4000 orang mati per tahun karena sirosis hatiterkait hepatitis B dan 1000 karena karsinoma hepatoseluler. Sekitar 50% dariinfeksi di Amerika Serikat menular secara seksual (Wilson, 2001).Sebelum skrining donor untuk anti-HCV (1992), HCV adalah penyebab paling umum pasca transfusi hepatitis di seluruh dunia, jumlahnya untuk sekitar 90% dari penyakit ini di Amerika Serikat. Studi yang dilakukan pada 1970 menunjukkan bahwa sekitar 7% dari penerima transfusi menderita hepatitis NANB, dan bahwa sampai 1% dari darah unit mungkin berisi virus. Pengenalan skrining anti-HCV telah mengurangi transmisi hingga hampir 100 %. Saat ini diAmerika Serikat, HCV menyumbang sekitar 20% dari kasus hepatitis virus akut, kurang dari 5% berhubungan dengan transfusi darah. Prevalensi anti-HCV tertinggi pada pengguna narkoba suntik dan penderita penyakit darah (hingga 98%), sangat bervariasi pada pasien hemodialisis (<10% -90%), prevalensi rendah pada heteroseksual dengan mitra seksual multipel, pria homoseksual, pekerjakesehatan dan kontak keluarga orang terinfeksi HCV (1% -5%), dan terendah didonor darah sukarela (0,3% -0,5% ). Dalam populasi umum bervariasi (0,2%-18%). Daerah prevalensi tinggi meliputi negara-negara di belahan timur, Negara-negara Mediterania dan daerah-daerah tertentu di Afrika dan Eropa Timur (WHO, 2010).

Di Indonesia, kurang lebih 10 persen (3,4-20,3%) dari populasi adalah pembawa virus hepatitis B (HBV). Prevalensi ini tidak menurun. Di Jakarta, hampir 9 persen pengguna narkoba suntikan (IDU) HBsAg+ (mempunyai infeksi HBV kronis, dan dapat menular pada orang lain). Namun di Asia-Pasifik, kebanyakan penularan terjadi dari ibu-ke-bayi, dan 90 persen anak yang terinfeksi tetap mempunyai infeksi kronis waktu menjadi dewasa. Penyakit hepatitis biasanya juga didapat karena seseorang telah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi, susu, atau air. Pada tahun 2001, ada lebih dari 10.000 kasus infeksi hepatitis akut  dilaporkan di AS (Anonim, 2010)

Ada empat serotipe HBV yang umum di Indonesia: adw di Sumatera, Java, Kalsel, Bali, Lombok, dan Maluku Utara; ayw di NTT/NTB lain dan Maluku; adr di Papua; ayr di Manado; dan campuran di Kalimantan, Sulawesi dan Sumbawa. Sementara genotipe B paling umum di Indonesia, tetapi juga ada C dan D. Dampak dari perbedaan serotipe dan genotipe tidak jelas.

  1. RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN

Dari latar belakang di atas, penyusun menyadari besarnya pengaruh bagi kita untuk mengenal dan mengetahui sebanyak-banyaknya tentang Penyakit Hepatitis B dan C yang di mulai dari pengertian, etiologi, masa inkubasi, masa diagnosis, cara penularan, sampai pencegahan dan penanggulangannya yang akan di bahas secara lengkap pada bab berikutnya.

Penyusun berharap dengan makalah ini para pembaca dapat mengetahui dan menambah pengetahuan tentang penyakit Hepatitis B dan C sehingga pembaca semua dapat sedini mungkin mencegah penyakit tersebut dan mengetahui cara penanggulangannya sehingga lingkungannya juga bisa bebas dari penyakit tersebut.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

  1. PENGERTIAN

HEPATITIS B

Hepatitis B adalah infeksi yang terjadi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Penyakit ini bisa menjadi akut atau kronis dan dapat pula menyebabkan radang, gagal ginjal, sirosis hati, dan kematian (Laila Kusumawati, 2006).

Penyakit hepatitis adalah peradangan hati yang akut karena suatu infeksi atau keracunan.  Hepatitis  B merupakan penyakit yang banyak ditemukan di dunia dan dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Hal ini karena selain prevelensinya tinggi, virus hepatitis B dapat menimbulkan problema pasca akut bahkan dapat terjadi cirrhosis hepatitis dan carcinoma hepatocelluler primer (Aguslina, 1997).

Hepatitis merupakan peradangan hati yang bersifat sistemik, akan tetapi hepatitis bisa bersifat asimtomatik. Hepatitis ini umumnya lebih ringan dan lebih asimtomatik pada yang lebih muda dari pada yang tua. Lebih dari 80% anak – anak menularkan hepatitis pada anggota keluarga adalah asimtomatik, sedangkan lebih dari tiga perempat orang dewasa yang terkena hepatitis A adalah simtomatik (Tjokronegoro, 1999).

Sepuluh persen dari infeksi virus hepatitis B akan menjadi kronik dan 20% penderita hepatitis kronik ini dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami cirrhosis hepatic dan carcinoma hepatoculler primer (hepatoma). Kemungkinan akan menjadi kronik lebih tinggi bila infeksi terjadi pada usia balita dimana respon imun belum berkembang secara sempurna. Pada saat ini diperkirakan terdapat kira – kira 350 juta orang pengidap (carrier) HBsAg dan 220 juta (78%) terdapat di Asia termasuk Indonesia (Sulaiman, 1994, dalam Aguslina, 1997). sekular.

Menurut National Institude of Health (dalam Alfian Helmy 2008)etiologi Hepatitis B adalah virus dan disebut dengan Hepatitis B virus. Misnadiarly ( dalam Alfian Helmy, 2008) menguraikan VHB terbungkus serta mengandung genoma DNA melingkar. Virus ini merusak fungsi lever dan sambil merusak terus berkembang dalam sel-sel hati (hepetocytes)

Akibat serangan itu sistem kekebalan tubuh kemudian memberi reaksi dan melawan. Kalau tubuh berhasil melawan maka virus akan terbasmi habis, tetapi jika gagal virus akan tetap tinggal dan menyebabkan hepatitis B kronis dimana pasien sendiri menjadi karier atau pembawa virus seumur hidupnya (Misnadiarly dalam Alfian Helmy, 2008).

HEPATITIS C

Hepatitis adalah istilah umum yang berarti radang hati dan dapat disebabkanoleh beberapa mekanisme, termasuk agen infeksius. Virus hepatitis dapatdisebabkan oleh berbagai macam virus yang berbeda seperti virus hepatitis A, B,C, D dan E. Penyakit kuning adalah ciri karakteristik penyakit hati dan bukanhanya karena virus hepatitis, diagnosis yang benar hanya dapat dilakukan dengan pengujian SERA pada pasien untuk mendeteksi adanya antivirus pada antibodi.Sebagian besar kasus terkait hepatitis karena transfusi disebabkan oleh hepatitis Avirus (HAV) atau virus hepatitis B (HBV), kedua hanya dikenal hepatitis manusia,virus ini dikenal pada tahun 1975. Pada waktu itu, Hepatitis C sudah ada, tapi dikenal dengan sebutan hepatitis non A non B (NANB). Pada tahun 1989 virushepatitis non A-B diidentifikasi dan dikloning, kemudian dinamai virus hepatitisC (HCV) (WHO, 2010).

  1. ETIOLOGI

HEPATITIS B

Hepatitis B disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB). Virus ini pertama kali ditemukan oleh Blumberg tahun 1965 dan dikenal dengan nama antigen Australia yang termasuk DNA virus.

Virus hepatitis B berupa partikel dua lapis berukuran 42 nm yang disebut dengan “Partikel Dane”. Lapisan luar terdiri atas antigen HBsAg yang membungkus partikel inti (core). Pada partikel inti terdapat hepatitis B core antigen (HBcAg) dan hepatitis B antigen (HBeAg). Antigen permukaan (HBsAg) terdiri atas lipoprotein dan menurut sifat imunologiknya protein virus hepatitis B dibagi menjadi 4 subtipe yaitu adw, adr, ayw, dan ayr. Subtype ini secara epidemiologis penting karena menyebabkan perbedaan geografik dan rasial dalam penyebaranya (Aguslina, 1997).

HEPATITIS C

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). HCV adalah virus RNA yang digolongkan dalam Flavivirus bersama-sama dengan virus hepatitis G (Yellow fever, dan Dengue, dalam Kusdarmadi, 2007) Virus ini umumnya masuk kedalam darah melalui tranfusi atau kegiatan-kegiatan yang memungkinkan virus ini langsung terpapat dengan sirkulasi darah Kecepatan replikasi HCV sangat besar, melebihi HIV maupun HBV. Virus ini bereplikasi melalui RNA-dependent RNA polimerase yang akan menghasilkan salinan RNA virus tanpa mekanismeproof-reading (mekanisme yang akan menghancurkan salinan nukleotida yang tidak persis sama dengan aslinya). Kondisi ini akan menyebabkan timbulnya banyak salinan-salinan RNA HCV yang sedikit berbeda namun masih berhubungan satu sama lain pada pasien yang disebutquasi specie s. sekarang ini ada sekurang-kurangnya enam tipe utama dari virus Hepatitis C (yang sering disebutgenotipe) dan lebih dari 50 subtipenya. Hal ini merupakan alasan mengapa tubuh tidak dapat melawan virus dengan efektif dan penelitian belum dapat membuat vaksin melawan virus Hepatitis C. Genotipe tidak menentukan seberapa parah dan seberapa cepat perkembangan penyakit Hepatitis C, akan tetapi genotipe tertentu mungkin tidak merespon sebaik yang lain dalam pengobatan

  1. MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS

HEPATITIS B

Masa inkubasi VHB ini biasanya 45 – 180 hari dengan batasan 60 – 90 hari, dimana setelah 2 minggu infeksi vvirus hepatiti B terjangkit, HbsAg dalam darah penderita sudah mulai dapat dideteksi. Perubahan dalam tubuh penderita akibat infeksi virus hepetitis B terus berkembang. Dari infeksi akut menjadi kronis,sesuai dengan umur penderita. Makin tua umur, makin besar kemungkinan menjadi kronis kemudian mengkerutan jaringan hati yang disebut dengan sirosis. Bila umur masih berlanjut keadaan itu berubah menjadi Karsioma hepatoseluler (Yatim dalam Alfian Helmy 2008)

Diagnosis infeksi hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi. Secara serologi pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5).

Adanya HBsAg dalam serum merupakan petanda serologis infeksi hepatitis B. Titer HBsAg yang masih positif lebih dari 6 bulan menunjukkan infeksi hepatitis kronis. Munculnya antibodi terhadap HBsAg (anti HBs) menunjukkan imunitas dan atau penyembuhan proses infeksi. Adanya HBeAg dalam serum mengindikasikan adanya replikasi aktif virus di dalam hepatosit. Titer HBeAg berkorelasi dengan kadar HBV DNA(6). Namun tidak adanya HBeAg (negatif) bukan berarti tidak adanya replikasi virus keadaan ini dapat dijumpai pada penderita terinfeksi HBV yang mengalami mutasi (precore atau core mutant). Penelitian menunjukkan bahwa pada seseorang HBeAg negatif ternyata memiliki HBV DNA > 105 copies/ml. Pasien hepatitis kronis B dengan HBeAg negatif yang banyak terjadi di Asia dan Mediteranea umumnya mempunyai kadar HBV DNA lebih rendah (berkisar 104-108 copies/ml) dibandingkan dengan tipe HBeAg positif. Pada jenis ini meskipun HBeAg negatif, remisi dan prognosis relatif jelek, sehingga perlu diterapi (JB Suharjo, B Cahyono)

HEPATITIS C

Masa inkubasi HCV terletak anatar HAV dengan HBV, yaitu sekitar 2 – 26 minggu, dengan rata-rata 8 minggu. Pada penderita hepatitis akut ditemukan Anti HCV positif pada 75,5% HNANB pasca-tranfusi, 35% pada HNANB sporadik dan hanya 2,4 pada HBV. Sebagian besar penderita yang terserang HCV akan menjurus jadi kronis.

Diagnosis “hepatitis C” jarang dilakukan selama fase akut dari penyakit karena mayoritas orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala selama fase penyakit. ”Mereka yang melakukan”mengalami gejala-gejala fase akut jarang cukup sakit untuk mencari perhatian medis. Diagnosis fase kronis hepatitis C juga menantang karena tidak adanya atau kurangnya spesifisitas gejala sampai penyakit hati lanjut berkembang, yang mungkin tidak terjadi sampai beberapa dekade ke penyakit.

Hepatitis C kronis dapat diduga berdasarkan sejarah medis (terutama jika ada riwayat penyalahgunaan obat IV atau penggunaan zat dihirup seperti kokain), riwayat tindikan atau tato, gejala yang tidak jelas, atau enzim hati yang abnormal atau fungsi hati tes ditemukan selama tes darah rutin. Kadang-kadang, hepatitis C adalah didiagnosis sebagai akibat dari skrining sasaran seperti donor darah (donor darah diskrining untuk berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah-termasuk hepatitis C) atau pelacakan kontak.

Hepatitis C pengujian dimulai dengan tes darah serologi digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap HCV. Anti-HCV antibodi dapat dideteksi pada 80% pasien dalam waktu 15 minggu setelah paparan, pada> 90% dalam waktu 5 bulan setelah paparan, dan di> 97% dengan 6 bulan setelah paparan. Secara keseluruhan, tes antibodi HCV memiliki nilai prediktif yang kuat positif terpajan virus hepatitis C, tetapi mungkin kehilangan pasien yang belum mengembangkan antibodi (serokonversi), atau memiliki tingkat cukup antibodi untuk mendeteksi. Jarang, orang yang terinfeksi dengan HCV tidak pernah mengembangkan antibodi terhadap virus dan oleh karena itu, tidak pernah tes positif menggunakan skrining antibodi HCV. Karena kemungkinan ini, pengujian RNA (lihat metode pengujian asam nukleat bawah) harus dipertimbangkan ketika tes antibodi adalah negatif tapi kecurigaan hepatitis C adalah tinggi (misalnya karena transaminase meningkat pada orang dengan faktor risiko untuk hepatitis C).

Anti-HCV antibodi menunjukkan paparan terhadap virus, namun”tidak dapat menentukan apakah infeksi berkelanjutan hadir”. Semua orang dengan positif anti-HCV tes antibodi harus menjalani tes tambahan untuk keberadaan virus hepatitis C itu sendiri untuk menentukan apakah infeksi hadir saat ini. Kehadiran virus diuji untuk menggunakan metode molekuler pengujian asam nukleat seperti polymerase chain reaction (PCR), transkripsi amplifikasi dimediasi (TMA), atau DNA bercabang (b-DNA). Semua tes asam nukleat molekul HCV memiliki kapasitas untuk mendeteksi apakah virus tidak hanya hadir, tetapi juga untuk mengukur jumlah yang hadir virus dalam darah (viral load HCV). Viral load HCV merupakan faktor penting dalam menentukan probabilitas respon terhadap terapi berbasis interferon, tetapi tidak””mengindikasikan keparahan penyakit atau kemungkinan perkembangan penyakit.

Pada orang dengan infeksi HCV dikonfirmasi, pengujian genotipe umumnya direkomendasikan. HCV genotipe pengujian digunakan untuk menentukan panjang diperlukan dan respon potensial untuk terapi berbasis interferon.

  1. CARA PENULARAN

HEPATITIS B

VHB menular melalui kontak dengan cairan tubuh. Manusia merupakan satu satunya host (pejamu) dari virus ini. Darah dan cairan tubuh yang lain merupakan faktor penting untuk media penularan. Transmisi atau perjalan alamiah VHB hingga terinfeksi pada manusia terjadi melalui 4 cara penularan yaitu perinatal, horizontal, kontak sensual, dan parental (WHO, dalam Alfian Helmy 2008)

Transmisi perinatal merupakan transmisi virus hepatitis B dari ibu ke bayi selama periode perinatal. Transmisi ini paling penting dalam prevalensi daerah endemis tinggi khususnya di Cina dan Asia Tenggara (yamada dalam Alfian Helmy,2008)

Transmisi Horizontal yaitu transmisi dari orang ke orang , yang dikenal terjadi pada daerah ayng rndemik tinggi yakni Afrika Sun-Sahara. Transmisi ini terjadi pada anak-anak yang berusia 4-6 tahun yang menyebar melaui kontak fisik yang dekat atau dalam keluarga (yamada dalam Alfian Helmy,2008).

Transmisi kontak sensual merupakan sumber penularan utama di dunia khususnya pada daerah-daerah endemis rendah seperti Amerika. Perilaku homoseksual dalam jangka waktu 5 tahun akan beresiko tinggi untuk terinfeksi hepatitis B. Faktor-faktor heteroseksual yang mempengaruhi untuk meningkatnya infeksi hepatitis B adalah lamanya aktifitas seksual, riwayat penyakit menular seksual sebelumnya dan seorologi sifilis yang positif (WHO dama Alfian Helmy, 2008)

Transmisi parental dapat berupa penggunaan jarum suntik secara bersama, transfusi darah, dialisis (cuci darah), akupuntur, pekerja kesehatan, dan tato. Resiko terinfeksi hepatitis B melalui tranfusi darah sekarang sudah mulai berkurang karena sudah ada skrining untuk hepatitis B walaupun kemungkinan untuk terinveksi masih ada (Zain dalam Alfian Helmy, 2008)

HEPATITIS C

Pada umumnya cara penularan HCV adalah parental. Semula penularan HCV dihubungkan dengan transfusi darah atau produk darah, melalui jarum suntik. Tetapi setelah ditemukan bentuk virus dari hepatitis, makin banyak laporan mengenai cara penularan lainnya, yang umumnya mirip dengan cara penularan HBV.

1. Penularan horizontal

Penularan HCV terjadi terutama melalui cara parental, yaitu tranfusi darah atau komponen produk darah, hemodialisa, dan penyuntikan obat secara intravena.

2. Penularan vertikal

Penularan vertikal adalah penularan dari seseorang ibu pengidap atau penderita Hepatitis C kepada bayinya sebelum persalinan, pada saat persalinan atau beberapa saat persalinan (Kusdarmadi, 2007)

  1. PENCEGAHAN DAN PENAGGULANGAN

HEPATITIS B

Menurut Park (dalam dr. Fazidah Aguslina Siregar) ada lima pokok pencegahan yaitu :

  1. Health Promotion, usaha peningkatan mutu kesehatan
  2. Specifik Protection, perlindungan secara khusus
  3. Early Diagnosis dan Prompt Treatment, pengenalan dini terhadap penyakit,serta pemberian pengobatan yang tepat
  4. Usaha membatasi cacat
  5. Usaha rehabilitasi

Dalam upaya pencegahan infeksi Virus Hepatitis B, sesuai pendapat Effendi dilakukan dengan menggabungkan antara pencegahan penularan dan pencegahan penyakit.

HEPATITIS C

Penyakit ini belum ada vaksin untuk pencegahannya, tetapi dapat disembuhkan asalkan diperiksa secara dini. Vaksinasi Hepatitis C belum bisa dilakukan karena virus hepatitis C bervariasi secara genetic. Selain itu, virus ini juga memiliki angka mutasi yang tinggi sehingga sering kali menghindari antibody tubuh. Dengan tingginya angka replikasi dapat dipastikan akan munculnya generasi HCV yang beraneka ragam dan mampu menghindari sistem kekebalan tubuh penderitanya (Kusdarmadi, 2007)

BAB III  

PEMBAHASAN

HEPATITIS B

Hepatitis B merupakan penyakit yang banyak ditemukan didunia dan dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Hal ini karena selain prevalensinya tinggi, virus hepatitis B dapat menimbulkan problema pasca akut bahkan dapat terjadi cirroshis hepatitis dan karsinoma hepatoseluler primer. Sepuluh persen dari infeksi virus hepatitis B akan menjadi kronik dan 20 % penderita hepatitis kronik ini dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami cirroshis hepatis dan karsinoma hepatoselluler (hepatoma). Kemungkinan akan menjadi kronik lebih tinggi bila infeksi terjadi pada usia balita dimana respon imun belum berkembang secara sempurna. Pada saat ini didunia diperkirnkan terdapat kira-kira 350 juta orang pengidap (carier) HBsAg dan 220 juta (78 %) diantaranya terdapat di Asia termasuk Indonesia. Berdasarkan pemeriksaan HBsAg pada kelompok donor darah di Indonesia prevalensi Hepatitis B berkisar antara 2,50-36,17 % (Sulaiman, dalam dr. Fazidah Aguslina Siregar). Selain itu di Indonesia infeksi virus hepatitis B terjadi pada bayi dan anak, diperkirakan 25 -45,g% pengidap adalah karena infeksi perinatal. Hal ini berarti bahwa Indonesia termasuk daerah endemis penyakit hepatitis B dan termasuk negara yang dihimbau oleh WHO untuk melaksanakan upaya pencegahan (Imunisasi). Hepatitis B biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui darah/darah produk yang mempunyai konsentrasi virus hepatitis B yang tinggi, melalui semen, melalui saliva, melalui alat-alat yang tercemar virus hepatitis B seperti sisir, pisau cukur, alat makan, sikat gigi, alat kedokteran dan lain-lain. Di Indonesia kejadian hepatitis B satu diantara 12-14 orang, yang berlanjut menjadi hepatitis kronik, chirosis hepatis dan hepatoma. Satu atau dua kasus meninggal akibat hepatoma. Mengingat jumlah kasus dan akibat hepatitis B, maka diperlukan pencegahan sedini mungkin. Pencegahan yang dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit penyakit hepatitis B melalui Health Promotion dan pencegahan penyakit melalui pemberian vasinasi. Menurut WHO bahwa pemberian vaksin hepatitis B tidak akan menyembuhkan pembawa kuman (carier) yang kronis, tetapi diyakini 95 % efektif mencegah berkembangnya penyakit menjadi carier

Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya didunia, Penyakit yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun. Seperti hal Hepatitis C, kedua penyakit ini dapat menjadi kronis dan akhirnya menjadi kanker hati. Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B.

Apabila seseorang terinfeksi virus hepatitis B akut maka tubuh akan memberikan tanggapan kekebalan (immune response). Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ke tiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis(1).

Pada kemungkinan pertama, tubuh mampu memberikan tanggapan adekuat terhadapvirus hepatitis B (VHB), akan terjadi 4 stadium siklus VHB, yaitu fase replikasi (stadium 1 dan 2) dan fase integratif (stadium 3 dan 4). Pada fase replikasi kadar HBsAg (hepatitis B surface antigen), HBV DNA, HBeAg (hepatitis Be antigen), AST (aspartate aminotransferase) dan ALT (alanine aminotransferase) serum akan meningkat, sedangkan kadar anti-HBs dan anti HBe masih negatif. Pada fase integratif (khususnya stadium4) keadaan sebaliknya terjadi, HBsAg, HBV DNA, HBeAg dan ALT/AST menjadi negatif/normal, sedangkan antibodi terhadap antigen yaitu : anti HBs dan anti HBe menjadi positif (serokonversi). Keadaan demikian banyak ditemukan pada penderita hepatitis B yang terinfeksi pada usia dewasa di mana sekitar 95-97% infeksi hepatitis B akut akan sembuh karena imunitas tubuh dapat memberikan tanggapan adekuat(2).

Sebaliknya 3-5% penderita dewasa dan 95% neonatus dengan sistem imunitas imatur serta 30% anak usia kurang dari 6 tahun masuk ke kemungkinan ke dua dan ke tiga; akan gagal memberikan tanggapan imun yang adekuat sehingga terjadi infeksi hepatitis B persisten, dapat bersifat carrier inaktif atau menjadi hepatitis B kronis (1,2)

Tanggapan imun yang tidak atau kurang adekuat mengakibatkan terjadinya proses inflamasi jejas (injury), fibrotik akibat peningkatan turnover sel dan stres oksidatf. Efek virus secara langsung, seperti mutagenesis dan insersi suatu protein x dari virus hepatitis B menyebabkan hilangnya kendali pertumbuhan sel hati dan memicu transformasi malignitas, sehingga berakhir sebagai karsinoma hepa-toselule.

HEPATITIS C

Sebelum ditemukan virus hepatitis C (HCV), dunia medis mengenal 2 virus sebagai penyebab hepatitis, yaitu : virus hepatitis A (VHA) dan virus hepatitis B (HVB). Namun demikian terdapat juga peradangan hati yang tidak disebabkan oleh kedua virus ini dan tidak dapat dikenal pada saat itu sehingga dinamakan hepatitis Non-A, Non-B (hepatitis NANB) dan akhirnya pada tahun 1988 para peneliti Chiron Corporation di California telah menemukan virus hepatitis baru yang disebut virus hepatitis C (HCV), ditemukan pada penderita HNANB yang transmisinya melalui darah atau produk. Genom virus ini merupakan untuaian RNA tunggal, yang panjangnya 10.000 nuklotida. HCV mengandung selubung lipid dengan diameter 50-60 nm dan sensitif terhadap pelarut organik misalnya kloroform. Antigen Virus mengandung 363 asam amino. Anti HCV telah ditemukan pada serum penderita HNANB pasca-tranfusi sebanyak 60-90%. Dengan demikian sejak saat ini HNANB yang transmisinya parental, disebut HCV.

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}. Penderita Hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, akan tetapi pada penderita Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker (cancer) hati. Sejumlah 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun


 

BAB IV

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Hepatitis diketegorikan dalam beberapa golongan, diantaranya hepetitis A,B,C,D,E,F dan G. Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan hepatitis C.

Hepatitis virus akut merupakan penyakit infeksi yang penyebarannya luas dalam tubuh walaupun efek yang menyolok terjadi pada hepar. Telah ditemukan 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab yaitu Virus Hepatitis A (HAV), Virus Hepatitis B (HBV), Virus Hepatitis C (HVC), Virus Hepatitis D (HDV), Virus Hepatitis E (HEV).

Walaupun kelima agen ini dapat dibedakan melalui petanda antigeniknya, tetapi kesemuanya memberikan gambaran klinis yang mirip, yang dapat bervariasi dari keadaan sub klinis tanpa gejala hingga keadaan infeksi akut yang total.

Bentuk hepatitis yang dikenal adalah HAV ( Hepatitis A ) dan HBV (Hepatitis B). kedua istilah ini lebih disukai daripada istilah lama yaitu hepatitis infeksiosa dan hepatitis serum, sebab kedua penyakit ini dapat ditularkan secara parenteral dan non parenteral.

Hepatitis B adalah infeksi yang terjadi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Penyakit ini bisa menjadi akut atau kronis dan dapat pula menyebabkan radang, gagal ginjal, sirosis hati, dan kematian. Sedangkan Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). HCV adalah virus RNA yang digolongkan dalam Flavivirus bersama-sama dengan virus hepatitis G.

Masa inkubasi VHB ini biasanya 45 – 180 hari dengan batasan 60 – 90 hari, dimana setelah 2 minggu infeksi vvirus hepatiti B terjangkit, HbsAg dalam darah penderita sudah mulai dapat dideteksi. Perubahan dalam tubuh penderita akibat infeksi virus hepetitis B terus berkembang. Masa inkubasi HCV terletak anatar HAV dengan HBV, yaitu sekitar 2 – 26 minggu, dengan rata-rata 8 minggu.

VHB menular melalui kontak dengan cairan tubuh. Manusia merupakan satu satunya host (pejamu) dari virus ini. Darah dan cairan tubuh yang lain merupakan faktor prnting untuk media penularan. Transmisi atau perjalan alamiah VHB hingga terinfeksi pada manusia terjadi mlalui 4 cara penularan yaitu perinatal, horizontal, kontak sensual, dan parental. Pada umumnya cara penularan HCV adalah parental. Semula penularan HCV dihubungkan dengan transfusi darah atau produk darah, melalui jarum suntik. Tetapi setelah ditemukan bentuk virus dari hepatitis, makin banyak laporan mengenai cara penularan lainnya, yang umumnya mirip dengan cara penularan HBV. Ada 2 cara penularan hepatitis C yaitu penularan secara horizontal dan penularab secara vertikal.

Ada lima pokok pencegahan yaitu :

  1. Health Promotion, usaha peningkatan mutu kesehatan
  2. Specifik Protection, perlindungan secara khusus
  3. Early Diagnosis dan Prompt Treatment, pengenalan dini terhadap penyakit,serta pemberian pengobatan yang tepat
  4. Usaha membatasi cacat
  5. Usaha rehabilitasi

Hepatitis C belum ada vaksin untuk pencegahannya, tetapi dapat disembuhkan asalkan diperiksa secara dini. Vaksinasi Hepatitis C belum bisa dilakukan karena virus hepatitis C bervariasi secara genetic.

  1. SARAN

Fokus pada peningkatan perilaku sehat di tingkat keluarga bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan. Diperlukan kerjasama yang lebih antar sesama anggota keluarga, agar tercapai kehidupan yang lebih sehat dan terhindar dari penyakit menular. Tim penggerak PKK dan Petugas Kesehatan harus lebih giat lagi melakukan penyuluhan akan pentingnya menjaga kesehatan mulai dari  tingkat keluarga sampai lingkungan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s