KONJUNGTIVITIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

 

Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau

Konjungtivitis virus biasanya mengenai satu mata. Pada konjungtivitis ini, mata sangat berair. Kotoran mata ada, namun biasanya sedikit. Konjungtivitis bakteri biasanya mengenai kedua mata. Ciri khasnya adalah keluar kotoran mata dalam jumlah banyak, berwarna kuning kehijauan. Konjungtivitis alergi juga mengenai kedua mata. Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal ini juga seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat berair. Konjungtivitis papiler raksasa adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh intoleransi mata terhadap lensa kontak. Biasanya mengenai kedua mata, terasa gatal, banyak kotoran mata, air mata berlebih, dan kadang muncul benjolan di kelopak mata. Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Walaupun demikian, beberapa dokter tetap akan memberikan larutan astringen agar mata senantiasa bersih sehingga infeksi sekunder oleh bakteri tidak terjadi dan air mata buatan untuk mengatasi kekeringan dan rasa tidak nyaman di mata. ( james.2005)

Obat tetes atau salep antibiotik biasanya digunakan untuk mengobati konjungtivitis bakteri. Antibiotik sistemik juga sering digunakan jika ada infeksi di bagian tubuh lain. Pada konjungtivitis bakteri atau virus, dapat dilakukan kompres hangat di daerah mata untuk meringankan gejala. Tablet atau tetes mata antihistamin cocok diberikan pada konjungtivitis alergi. Selain itu, air mata buatan juga dapat diberikan agar mata terasa lebih nyaman, sekaligus melindungi mata dari paparan alergen, atau mengencerkan alergen yang ada di lapisan air mata.

 

 Untuk konjungtivitis papiler raksasa, pengobatan utama adalah menghentikan paparan dengan benda yang diduga sebagai penyebab, misalnya berhenti menggunakan lensa kontak. Selain itu dapat diberikan tetes mata yang berfungsi untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal di mata.

 

  1. B.     Tujuan

 

a)      Untuk dapat mengetuhui pengertian konjungtivitis.

b)      Untuk dapat mengetuhui etiologi konjungtivitis.

c)      Untuk dapat mengetuhui tanda dan gejala konjungtivitis.

d)     Untuk dapat mengetahui diagnosis konjungtivitis.

e)      Untuk dapat mengetahui cara penularan konjungtivitis.

f)       Untuk dapat mengetahui pencegahan dan pengobatan konjungtivitis.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.    Pengertian konjungtivitis.

Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah.( wijana.1993 )

Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang memerlukan pengobatan.

( http://forum.dudung.net/index.php?topic=15451.0 )

 

  1. B.     Etiologi konjungtivitis.

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti :

a. infeksi oleh virus atau bakteri.

b. reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.

c. iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet

dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju.

d. pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa menyebabkan konjungtivitis.

Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:.

a. kelainan saluran air mata.

b. kepekaan terhadap bahan kimia.

c. pemaparan oleh iritan.

d. pemakain lensa kontak, terutama pada jangka panjang,juga bisa menyebabkan konjungtivitis. 

Frekuensi kemunculannya pada anak meningkat bila si kecil mengalami gejala alergi lainnya seperti demam. Pencetus alergi konjungtivitis meliputi rumput, serbuk bunga, hewan dan debu.

Substansi lain yang dapat mengiritasi mata dan menyebabkan timbulnya konjungtivitis yaitu bahan kimia dan bahan polutan ( asap ).

Masa inkubasi penyakit ini adalah 1-3 hari. ( James. 2005 )

 

  1. C.    Tanda dan Gejala konjungtivitis.

 

Tanda

Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:

a)      Konjungtiva berwarna merah ( hiperemi ) dan membengkak

b)      Produksi air mata berlebihan ( epifora ).

c)      Kelopak mata akan menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan konjungtiva.bagian atas.

d)     Pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi nonspesifik peradangan.

e)      Pembengkaan kelenjar ( folikel ) di konjungtiva dan sekitarnya.

 

Gejala

Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.

Gejal lain antara lain :

a)      Mata berair.

b)      Mata terasa nyeri.

c)      Mata terasa gatal.

d)     Pandangan kabur.

e)      Peka terhadap cahaya.

f)       terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

 

  1. D.    Diagnosis konjungtivitis.

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.

  1. E.     Cara Penularan konjungtivitis.

Penularan konjungtivitis ini terjadi lewat kontak langsung atau menggunakan barang penderita konjungtivitis. Misalnya penderita yang memiliki mata merah telah mengusap mata dan menggunakan kran. Kemudian, Anda membuka kran tersebut lalu mengucek atau membasuh mata. Dengan cara tersebut virus dan bakteri tertular dari seseorang ke orang lain, atau melalui alat- alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan dan lain-lain.

Untuk menghindari gangguan mata ini, disarankan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum mengusap wajah atau mata. Jangan berbagi handuk wajah, riasan mata, lensa kontak, kacamata atau bahkan lap kacamata dengan orang lain. Bersihkan lensa kontak secara teratur dan jika telah terinfeksi, langsung ganti dengan yang baru. Masa penularan – penularan tetep terjadi pada saat Infeksi pada alat kelamin dan mata masih berlangsung. ( Ilyas.2009 )

 

  1. F.     Pencegahan dan Pengobatan konjungtivitis.

Pencegahan.

Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.

Untuk mencegah makin meluasnya penularan konjungtivitis, kita perlu memperhatikan langkah – langkah sebagai berikut :

a)      Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah dibersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.

b)       Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang ehat sesudah mengenai mata yang sakit.

c)      Jangan menggunakan handuk dan lap secara bersama-sam adengan penghuni rumah lain.

d)     Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik pembuatnya.

e)      Mencuci tangan sesering mungkin terutama setelah kontak ( jaba tangan, berpegangan dan lain-lain) dengan penderita konjungtiva.

f)       Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya membuang tissue atau sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.

Pengobatan.

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala pada kasus ringan.

Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa adanya kontraindikasi.

 

Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea, diberikan Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama dengan pemberian salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin sebelum tidur. Metronidazole topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga efektif. Karena tetracycline dapat merusak gigi pada anak-anak, sehingga kontraindikasi untuk usia di bawah 10 tahun. Pada kasus ini, diganti dengan doxycycline 100 mg TID atau erythromycin 250 mg QID PO. Terapi dilanjutkan 2 sampai 4 minggu. ( Ilyas. 2009 )

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Hasil 

efektivitas penempelan jaringan jungtiva bulbi antara aplikasi teknik LFO dan

cangkok konjungtiva bulbi pada dasarnya antara teknik jahitan dinilai dari lamanya operasi dan penggunaan teknik LFO dan teknik jahitan pada attachment jaringan cangkok pada dasarnya mata kelinci. Penelitian ini merupakan awal dari Lama operasi diukur dalam skala menit dinilai penelitian yang selanjutnya dikembangkan untuk mulai dari aplikasi teknik LFO atau teknik jahitan,

pengamatan satu minggu perbedaan tidak bermakna, attachment jaringan pada penggunaan Pada hasil penelitian, lama operasi pada kelompok lem fibrin komersial lebih kuat dan lebih stabil. teknik LFO lebih singkat dibandingkan teknik Efek yang dihasilkan oleh lem fibrin disebabkan jahitan. Pada pemberian LFO akan tersedia fibrin kandungan fibrin yang terbentuk dari gabungan secara cepat dalam jumlah yang cukup dengan komponen fibrinogen dan komponen thrombin memintas tahap akhir dari pembentukan fibrin darah mempunyai daya ikat yang sangat kuat melalui faktor intrinsik dan ekstrinsik,9,18 sehingga dalam penempelan jaringan, 20 efek pengikatan jaringan donor dengan cepat dan mudah dapat sekitar 70% terjadi dalam 2 menit dan maksimal

ditempelkan pada dasarnya. Pada teknik jahitan dalam waktu 30-90 menit, sifat lem fibrin akan untuk memaparkan dan menempelkan jaringan segera mengisi celah luka, sehingga tidak cangkok konjungtiva harus sangat hati-hati dan memberi kesempatan darah atau cairan serosa teliti supaya tidak terjadi robekan dan retraksi berada di antara konjungtiva bulbi dan sclera jaringan, serta dibutuhkan waktu yang lebih lama.

Koranji et all menyatakan bahwa lem fibrin merupakan metode yang aman dan efektif untuk menempelkan cangkok konjungtiva dengan pembedahan lebih singkat, serta tingkat  kenyamanan pascabedah penderita lebih baik.  Lem fibrin diserap secara lengkap dalam beberapa  hari, sehingga tidak akan mengganggu proses Kaufman penyembuhan luka.13 Secara histologis, lem fibrin tidak menyebabkan abnormalitas pada daerah  yang langsung kontak dengan zat adhesif ini  maupun daerah sekitarnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, aplikasi teknik LFO memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan teknik jahitan,. jaringan yang lebih kuat dan stabil serta lama operasi lebih singkat, maka terdapat kesesuaian efektivitas dengan lem fibrin komersial.  Penelitian ini telah dilanjutkan dengan secara histologis dan biologi molekular sebelum dilakukan uji klinis aplikasi teknik LFO pada Ophthalmol cangkok konjungtiva bulbi penderita pterigium.

 

  1. B.     Epidemiologi.

Konjungtivitis bakteri adalah kondisi umum di kalangan kaum muda dan orang dewasa di seluruh Amerika Serikat. Menurut Ferri’s Clinical Advisor, beberapa bentuk konjungtivitis, bakteri dan virus, dapat ditemukan pada 1,6 persen menjadi 12 persen dari semua bayi yang baru lahir di Amerika Serikat. Mata bayi kadang-kadang mungkin bisa terkena beberapa bakteri selama proses kelahiran. Konjungtivitis bakteri juga dapat mempengaruhi bayi yang hanya beberapa minggu. Konjungtivitis bakteri dapat terjadi pada semua ras dan jenis kelamin.

Ada kemungkinan morbiditas okular yang signifikan dalam hal kemerahan di mata, okular pelepasan dan ketidak nyamanan bagi anak-anak yang menderita konjungtivitis bakteri. Kebanyakan orang Amerika gagal untuk mengenali dan mengobati penyakit ini. Ini serius dapat menyebabkan meningitis dan sepsis dan dapat mengancam nyawa.

Konjungtivitis dapat mengenai pada usia bayi maupun dewasa. Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi baru lahir mendapatkan tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri yang bisa menyebabkan konjungtivitis gonokokal. Pada usia dewasa bisa mendapatkan konjungtivitis melalui hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik.

Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan paling sering dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis paru. Penderita lebih banyak pada anak-anak dengan gizi kurang atau sering mendapat radang saluran nafas, serta dengan kondisi lingkungan yang tidak higienis. Angka  Meskipun sering dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis paru, tapi tidak jarang penyakit paru tersebut tidak dijumpai pada penderita dengan konjungtivitis flikten. Penyakit lain yang dihubungkan dengan konjungtivitis flikten adalah helmintiasis. Di Indonesia umumnya, terutama anak-anak menderita helmintiasis, sehingga hubungannya dengan konjungtivitis flikten menjadi tidak jelas.

Konjungtivitis merupakan gangguan penglihatan utama yang sering dihadapi dokter. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan konjungtivitis adalah faktor lingkungan seperti cuaca dan iklim. Letak Indonesia yang berada diantara lautan Hindia dan Pasifik dan diantara benua Asia dan Australia menyebabkan Indonesia mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh musim kemarau dan musim hujan terhadap angka kejadian konjungtivitis. Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah berupa penelitian deskriptif analitik secara retrospektif. Sampel penelitian ini berjumlah 102 orang, yang dicatat dari rekam medis pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Juni 2009 April 2010.Analisis data yang digunakan adalah uji chi square.Dari penelitian ini didapatkan jumlah penderita konjungtivitis pada musim kemarau sebanyak 47 orang dan penderita konjungtivitis pada musim hujan sebanyak 55 orang. Dari uji analisis menggunakan chi square menunjukkan nilai yang tidak signifikan sebesar p=0,720 antara musim hujan dan musim kemarau terhadap angka kejadian konjungtivitis.Dapat disimpulkan bahwa musim hujan dan musim kemarau tidak berpengaruh terhadap angka kejadian konjungtivitis. ( Sidarta.2003 ) 

 

Epidemiologi distribusi

Orang ( person ).

Konjungtivitis dapat terkena pada bayi ataupun pada orang dewasa. Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Sedangakan pada usia dewasa penyakit ini di dapat dari hubungan seksual.

Jenis kelamin.

Penyakit ini dapat menyerang pada siapa saja baik pada, laki-laki maupun perempuan.

 

Tempat ( place )

Penyakit konjungtivitis terdapat di berbagai Negara baik Negara muju maupun berkembang. Seperti halny di Amerika Serikat, penyakit ini umumnya berada pada kaum muda dan dewasa, Menurut Ferri’s Clinical Advisor.

 

Waktu ( time )

Penyakit ini biasanya menyerang hanya satu pada bagian mata, Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Selain itu penyakit konjungtivis dapat terjadi kapan saja baik musim hujan ataupun pada musim kemarau.

Epidemiologi Frekuensi

Konjungtivitis bakteri adalah kondisi umum di kalangan kaum muda dan orang dewasa di seluruh Amerika Serikat. Menurut Ferri’s Clinical Advisor, beberapa bentuk konjungtivitis, bakteri dan virus, dapat ditemukan pada 1,6 persen menjadi 12 persen dari semua bayi yang baru lahir di Amerika Serikat. Mata bayi kadang-kadang mungkin bisa terkena beberapa bakteri selama proses kelahiran. Konjungtivitis bakteri juga dapat mempengaruhi bayi yang hanya beberapa minggu. Konjungtivitis bakteri dapat terjadi pada semua ras dan jenis kelamin.

Penyakit ini pertama kali dijelaskan pada 1969. Sejak laporan pertama dari Ghana, infeksi telah dijelaskan di sejumlah negara lain, termasuk China, India, Mesir, Kuba, Singapura, Taiwan, Jepang, Pakistan, Thailand, dan Amerika Serikat.Epidemi yang melibatkan lebih dari 200,000 orang dilaporkan sebagai terjadi di Brasil 2006.Penelitian serologi telah berguna dalam menunjukkan adanya antibodi penetralisir Coxsackie A24 kelompok (CA24) dan Enterovirus E70 (EV70) strain sebagai agen penyebab.

penelitian deskriptif analitik secara retrospektif. Sampel penelitian ini berjumlah 102 orang, yang dicatat dari rekam medis pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Juni 2009 April 2010.Analisis data yang digunakan adalah uji chi square.Dari penelitian ini didapatkan jumlah penderita konjungtivitis pada musim kemarau sebanyak 47 orang dan penderita konjungtivitis pada musim hujan sebanyak 55 orang. Dari uji analisis menggunakan chi square menunjukkan nilai yang tidak signifikan sebesar p=0,720 antara musim hujan dan musim kemarau terhadap angka kejadian konjungtivitis.Dapat disimpulkan bahwa musim hujan dan musim kemarau tidak berpengaruh terhadap angka kejadian konjungtivitis. ( Daniel vaugan. 2000 )

 

Epidemiologi Determinan

 

Agent ( penyebab penyakit )

Penyakit konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme yaitu virus dan bakteri, jamur dan parasit.

 

Host ( penjamu )

Penyakit konjungtivitis dapat menyerang kelompok umur dari bayi sampai dewasa. Pada bayi ditularkan melalui ibunya, sadangakan pada orang dewasa terjadi dari hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata).

Enviropment ( lingkungan )

Penyakit ini dapat muncul pada lingkungan yanh tidak higienis atau yang terkontaminasi, serta biasanya penyakit ini cepat menyebar pada daerah – daerah yang pada penduduknya.

Yogyakarta periode Juni 2009 April 2010.Analisis data yang digunakan adalah uji chi square.Dari penelitian ini didapatkan jumlah penderita konjungtivitis pada musim kemarau sebanyak 47 orang dan penderita konjungtivitis pada musim hujan sebanyak 55 orang. Dari uji analisis menggunakan chi square menunjukkan nilai yang tidak signifikan sebesar p=0,720 antara musim hujan dan musim kemarau terhadap angka kejadian konjungtivitis.Dapat disimpulkan bahwa musim hujan dan musim kemarau tidak berpengaruh terhadap angka kejadian konjungtivitis

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A.    Simpulan

1)      Konjungtivitis adalah inflamasi peradangan konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat, mata tampak merah, sehingga sering disebut penyakit mata merah.

2)      Etilogi konjungtivitis adalah yang bersifat infeksius ( bakteri,, virus, jamur, dan parasit ), imunologis ( alergi ), iritatif ( bahan kimia, suhu listrik, radiasi, misalnya UV ), dan yang berhubungan dengan penyakit sistemik.

3)      Tanda dan gejala konjungtivitis bias meliputi : Hiperemia ( kemerahan ), cairan, edema, pengeluaran air mata, gatal pada kornea, rasa terbakar / rasa tercakar, seperti terasa ada benda asing.

 

  1. B.     Saran

 

Untuk instansi terkait

 

Agar para pemerintah dapat lebih meningkatkan kinerja untuk penanggulangan penyakit konjungtivitis, sehingga dapat meminimalisir penyakit konjungtivitis yang terjadi, sehingga dapat munurunkan angka mortality dan morbilitas penyakit konjungtivitis.

 

Untuk mahasiswa dan masyarakat

 

Dengan adanya makalah ini dapat menambah pemgetahuan kita terhadap penyakit menular salah satunya yaitu penyakit konjungtivitis, serta kita mampu untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk  mau merubah prilakunya menjadi prilaku yang peduli tentang arti penting kesehatan dan memperhatikan sanitasi lingkungannya menjadi lebih baik, karena untuk memutuskan rantai penularan penyakit menular dengan menjaga kebersihan diri dan sanitasi lingkungannyakan . Selain itu masyarakat untuk selalu senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak kesehatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas S. 2009. Ilmu penyakit mata. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

Sidarta Prof. dr. SpM. 2003. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI.

Vaughan, Daniel G. dkk. 2000. Oftalmologi Umum. Jakarta : Widya Medika.

James, Brus, dkk. 2005. Lecture Notes Oftalmologi. Jakatra : Erlangga.

Wijana S.D., N. 1993. Konjungtiva dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Universitas Indonesia.

Doengoes, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

Carpenito, Lynda J. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta: EGC

http://anitasputra.multiply.com/journal/item/98/Konjungtivitis?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

http://www.wartamedika.com/2008/02/konjungtivitis-mata-merah.html

http://forum.dudung.net/index.php?topic=15451.0

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s