LEPTHOSPIROSIS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan yang disebabkan kuman leptospira pathogen dan digolongkan sebagi zoonosis yaitu penyakit hewan yang bisa menjangkiti manusia.

Gejala klinis leptopirosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya seperti influenza, meningitis, hepatitis, demam dengue demam berdarah dan demam virus lainnya. Sehingga seringkali tidak terdiagnosis .

Leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Tetapi dalam air laut, selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati. Leptospira bisa terdapat pada hewan piaraan maupun hewan liar. Leptospirosis dapat berjangkit pada laki-laki maupun wanita semua umur tetapi kebanyakan mengenai laki-laki dewasa muda (50% kasus umumnya berusia antara 10-39 tahun diantaranya 80% laki-laki).

Angka kematian akibat penyakit yang disebabkan bakteri lepstopira tergolong cukup tinggi bahkan untuk penderita yang berusia lebih dari 50 tahun malah kematiannya bisa mencapai 56% (Masniari poengan, peneliti dari Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor 2007)

Di Amerika Serikat tercatat sebanyak 50-150 kasus leptospirosis setiap tahun sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai

Salah satu daerah di Indonesia merupakan daerah endemik Leptospirosis yaitu di Guilan Provinsi di utara di Iran. Karena diagnosa Leptospirosis berdasarkan gejala klinis sangat sulit karena kurangnya karakteristik pathogonomic, dukungan laboratorium diperlukan. Angka kejadian penyakit leptospirosis di Provinsi Guilan Iran Utara cukup tinggi terutama pada daerah Rasht. Pada daerah tersebut terdapat 233 kasus Leptospirosis dari keseluruhan kasus yang berjumlah 769.

 

1.2       Rumusan Masalah

Beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan makalah ini adalah:

1          Bagaimana Sejarah Leptopirosis itu?

2.         Apa Definisi leptospirosis?

3.         Bagaimana Etiologi lepthospirosis?

4.         Bagaimana Cara penularan leptospiros?

5.         Bagaimana Manisfestasi klinik leptopirosis?

6.         Bagaimana Masa Inkubasi lepthopirosis?

7.         Apa Komplikasi  lepthopirosis?

8.         Bagaimana Pencegahan leptopirosis?

9.         Bagaimana Pengobatan leptopirosis?

10.       Bagaimana Penanggulangan KLB leptopirosis.

 

1.3       Maksud dan Tujuan

            Sesuai dengan masalah yang dirumuskan diatas maksud dan tujuan inipun dirumuskan guna memperoleh suatu deskripsi tentang:

1          Sejarah Leptopirosis

2.         Definisi leptospirosis

3.         Etiologi lephospirosis

4.         Cara penularan leptospiros

5.         Manisfestasi klinik

6.         Masa Inkubasi lepthopirosis

7.         Komplikasi  lepthopirosis

8.         Pencegahan leptopirosis

9.         Pengobatan leptopirosis

10.       Penanggulangan KLB

 

1.4       Manfaat

            Dalam penyusunan makalah  ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Adapun manfaat penyusunan itu diantaranya :

  1. Berfungsi sebagai literatur-literatur bagi pelajar yang ingin memperdalam wawasan tentang masalah kesehatan Khususnya tentang penyakit leptospirosis
  2. Para pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang  penyakit leptospirosis

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Sejarah Leptospirosis

 

Dikenal pertama kali sebagai penyakit occupational (penyakit yang diperoleh akibat pekerjaan) pada beberapa pekerja pada tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil mengungkapkan manifestasi klinis yang terjadi pada 4 penderita yang mengalami penyakit kuning yang berat, disertai demam, perdarahan dan gangguan ginjal. Sedangkan Inada mengidentifikasikan penyakit ini di jepang pada tahun 1916. (Inada R, Ido Y, et al: Etiology, mode of infection and specific therapy of Weil’s disease. J Exp Med 1916; 23: 377-402.)

Penyakit ini dapat menyerang semua usia, tetapi sebagian besar berusia antara 10-39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki usia pertengahan, mungkin usia ini adalah faktor resiko tinggi tertular penyakit occupational ini.

Angka kejadian penyakit tergantung musim. Di negara tropis sebagian besar kasus terjadi saat musim hujan, di negara barat terjadi saat akhir musim panas atau awal gugur karena tanah lembab dan bersifat alkalis.

Angka kejadian penyakit Leptospira sebenarnya sulit diketahui. Penemuan kasus leptospirosis pada umumnya adalah underdiagnosed, unrreported dan underreported sejak beberapa laporan menunjukkan gejala asimtomatis dan gejala ringan, self limited, salah diagnosis dan nonfatal.

Di Amerika Serikat (AS) sendiri tercatat sebanyak 50 sampai 150 kasus leptospirosis setiap tahun. Sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai. Di Indonesia penyakit demam banjir sudah sering dilaporkan di daerah Jawa Tengah seperti Klaten, Demak atau Boyolali.

Beberapa tahun terakhir di derah banjir seperti Jakarta dan Tangerang juga dilaporkan terjadinya penyakit ini. Bakteri leptospira juga banyak berkembang biak di daerah pesisir pasang surut seperti Riau, Jambi dan Kalimantan.

Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%. Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam kategori ini. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita “immunocompromised” mempunyai resiko tinggi terjadinya kematian.

Penderita berusia di atas 50 tahun, risiko kematian lebih besar, bisa mencapai 56 persen. Pada penderita yang sudah mengalami kerusakan hati yang ditandai selaput mata berwarna kuning, risiko kematiannya lebih tinggi lagi

Paparan terhadap pekerja diperkirakan terjadi pada 30-50% kasus. Kelompok yang berisiko utama adalah para pekerja pertanian, peternakan, penjual hewan, bidang agrikultur, rumah jagal, tukang ledeng, buruh tambang batubara, militer, tukang susu, dan tukang jahit. Risiko ini berlaku juga bagi yang mempunyai hobi melakukan aktivitas di danau atau sungai, seperti berenang atau rafting.

Penelitian menunjukkan pada penjahit prevalensi antibodi leptospira lebih tinggi dibandingkan kontrol. Diduga kelompok ini terkontaminasi terhadap hewan tikus. Tukang susu dapat terkena karena terkena pada wajah saat memerah susu. Penelitian seroprevalensi pada pekerja menunjukan antibodi positif pada rentang 8-29%.

 

2.2. Definisi

Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh beberapa bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk spiral kecil disebut spirochaeta. Bakteri ini dengan flagellanya dapat menembus kulit atau mukosa manusia normal. Leptospira ini dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Sistem klasifikasi tradisional didasarkan atas patogenitas yang membedakan antara spesies patogen yaitu Leptospira interrogans dan spesies nonpatogen yang hidup bebas, yaitu Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk ulir yang rapat, tipis dengan panjang 5-15 mm. Leptospira dapat hidup berminggu-minggu di dalam air, khususnya pada pH basa. (Brooks, 2005)

 

2.3. Etiologi

Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen (dapat menyebabkan penyakit) berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu L interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa adalah saprofitik.

Berdasarkan temuan DNA pada beberapa penelitian terakhir, 7 spesies patogen yang tampak pada lebih 250 varian serologi (serovars) telah berhasil diidentifikasi. Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini adalah kambing dan sapi.

Setiap hewan berisiko terjangkit bakteri leptospira yang berbeda-beda. Hewan yang paling banyak mengandung bakteri ini (resevoir) adalah hewan pengerat dan tikus. Hewan tersebut paling sering ditemukan di seluruh belahan dunia.

Di Amerika yang paling utama adalah anjing, ternak, tikus, hewan buas dan kucing. Beberapa serovar dikaitkan dengan beberapa hewan, misalnya L pomona dan L interrogans terdapat pada lembu dan babi, L grippotyphosa pada lembu, domba, kambing, dan tikus, L ballum dan L icterohaemorrhagiae sering dikaitkan dengan tikus dan L canicola dikaitkan dengan anjing. Beberapa serotipe yang penting lainnya adalah autumnalis, hebdomidis, dan australis.

 

2.4. Cara penularan

 

Leptospira bisa keluar lewat urine/air seni hewan yang jatuh ke tanah. Ini bisa berpotensi menginfeksi selama 6 – 48 jam. Pada urine yang mempunyai pH netral atau basa, tidak terkontaminasi dengan deterjen dan suhu di atas 22 derajat C, leptospira dapat hidup sampai berminggu-minggu.  Kita dapat terinfeksi bila terjadi kontak dengan air, tanah dan lumpur yang terkena urine binatang tersebut.

Leptospira akan masuk ke kulit atau selaput lendir lewat luka atau lecet pada kulit. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi leptospirosa. Masa inkubasi dari bakteri ini adalah selama 4 – 19 hari. Air yang menggenang atau mengalir lambat akan memudahkan infeksi.           

 

2.5. Manifestasi Klinik

 

Infeksi leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang asimtomatis (tanpa gejala), sehingga sering terjadi misdiagnosis. Hampir 15-40% penderita yang terpapar infeksi tidak mengalami gejala tetapi menunjukkan serologi positif.

Masa inkubasi biasanya terjadi sekitar 7-12 hari dengan rentang 2-20 hari. Sekitar 90% penderita dengan manifestasi ikterus (penyakit kuning) ringan sekitar 5-10% dengan ikterus berat yang sering dikenal dengan penyakit Weil.

Perjalanan penyakit leptospira terdiri dari 2 fase yang berbeda, yaitu fase septisemia dan fase imun. Dalam periode peralihan dari 2 fase tersebut selama 1-3 hari kondisi penderita menunjukkan beberapa perbaikkan.

Manifestasi klinis terdiri dari 2 fase yaitu fase awal dan fase ke-2. Fase awal tahap ini dikenal sebagai fase septicemic atau fase leptospiremic karena organisme bakteri dapat diisolasi dari kultur darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Selama fase awal yang terjadi sekitar 4-7 hari, penderita mengalami gejala nonspesifik seperti flu dengan beberapa variasinya.

Karakteristik manifestasi klinis yang terjadi adalah demam, menggigil kedinginan, lemah dan nyeri terutama tulang rusuk, punggung dan perut. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, ruam, sakit kepala regio frontal, fotofobia, gangguan mental, dan gejala lain dari meningitis.

Fase ke-2 sering disebut fase imun atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat di deteksi dengan isolasi kuman dari urin dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi pada darah atau cairan serebrospinalis.

Fase ini terjadi karena akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi dan terjadi pada 0-30 hari atau lebih. Gangguan dapat timbul tergantung manifestasi pada organ tubuh yang timbul seperti gangguan pada selaput otak, hati, mata atau ginjal.

Gejala non spesifik seperti demam dan nyeri otot mungkin sedikit lebih ringan dibandingkan fase awal dan 3 hari sampai beberapa minggu terakhir. Beberapa penderita sekitar 77% mengalami nyeri kepala terus menerus yang tidak respon dengan pemberian analgesik.

Gejala ini sering dikaitkan dengan gejala awal meningitis. Delirium (tidak waras, kegilaan) juga didapatkan pada tanda awal meningitis, Pada fase yang lebih berat didapatkan gangguan mental berkepanjangan termasuk depresi, kecemasan, psikosis dan dementia.

Gangguan anikterik dapat dijumpai meningitis aseptik adalah sindrom manifestasi klinis yang paling penting didapatkan pada fase anikterik imun. Gejala meningeal terjadi pada 50% penderita. Palsi saraf kranial, ensefalitis, dan perubahan kesadaran jarang didapatkan.

Meningitis bisa terjadi apada beberapa hari awal, tapi biasanya terjadi pada minggu pertama dan kedua. Kematian jarang terjadi pada kasus anikterik. Gangguan ikterik : leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul ikterik. Nyeri perut dengan diare dan konstipasi terjadi sekitar 30%, hepatosplenomegali, mual, muntah dan anoreksia.

Uveitis terjadi pada 2-10% kasus dapat terjadi pada awal atau akhir penyakit, bahkan dilaporkan dapat terjadi sangat lambat sekitar 1 tahun setelah gejala awal penyakit timbul. Iridosiklitis and korioretinitis adalah komplikasi lambat yang akanan menetap selama setahun. Gejala pertama akan timbul saat 3 minggu hingga 1 bulan setelah paparan.

Perdarahan subkonjuntiva adalah komplikasi pada mata yang sering terjadi pada 92% penderita leptospirosis. Gejala renal seperti azotemia, pyuria, hematuria, proteinuria dan oliguria sering tampak pada 50% penderita. Kuman leptospira juga dapat timbul di ginjal. Manifestasi paru terjadi pada 20-70% penderita. Adenopati, rash, and nyeri otot juga dapat timbul.

Sindroma klinis tidak khas pada berbagai serotipe, tetapi beberapa manifestasi sering tampak pada serotipe tertentu. Misalnya ikterus didapatkan pada 83% penderita dengan infeksi L icterohaemorrhagiae and 30% pada L pomona. Rash eritematous pretibial sering didaptkan pada infeksi L autumnalis. Gangguan gastrointestinal pada infeksi dengan L grippotyphosa. Aseptic meningitis seringkali terjadi pada infeksi L pomona atau L canicola.

Sindrom Weil adalah bentuk leptospirosis berat dengan ditandai ikterus, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru, dan diatesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase ke dua, tetapi keadaan bisa memburuk setiap waktu. Kriteria keadaan masuk dalam penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik.

Manifestasi paru meliputi batuk, dispnu, nyeri dada, sputum darah, batuk darah, dan gagal napas. Vaskular dan disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya ikterus setelah 4-9 hari setelah gejala awal penyakit. Penderita dengan ikterus berat lebih mudah terjadi gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular.

Hepatomegali didapatkan pada kuadran kanan atas. Oliguri atau anuri pada nekrosis tubular akut sering terjadi pada minggu ke dua sehingga terjadi hipovolemi dan menurunya perfusi ginjal.

Sering juga didapatkan gagal multi-organ, rhabdomyolysis, sindrom gagal napas, hemolisis, splenomegali, gagal jantung kongestif, miocarditis, dan pericarditis. Sindrom Weil mengakibatkan 5-10%. Sebagian besar kasus berat sindrom dengan gangguan hepatorenal dan ikterus mengakibatkan mortalitas 20-40%. Angka mortalitas juga akan meningkat pada usia lanjut usia.

Leptospirosis dapat terjadi makular atau rash makulopapular, nyeri perut mirip apendisitis akut, pembesaran kelenjar limfoid mirip infeksi mononucleosis. Juga dapat menimbulkan manifestasi aseptic meningitis, encephalitis, atau “fever of unknown origin”. Leptospirosis dapat dicurigai bila didapatkan penderita dengan flulike disease dengan aseptic meningitis atau disproporsi mialgia berat.

Pemeriksaan fisik yang didapatkan pada penderita berbeda tergantung berat ringannya penyakit dan waktu dari onset timbulnya gejala. Tampilan klinis secara umum dengan gejala pada beberapa spektrum mulai dari yang ringan hingga pada keadaan toksis.

Pada fase awal pemeriksaan fisik yang sering didapatkan adalah demam seringkali tinggi sekitar 40o C disertai takikardi. Subkonjuntival suffusion, injeksi faring, splenomegali, hepatomegali, ikterus ringan, mild jaundice, kelemahan otot, limfadenopati dan manifestasi kulit berbentuk makular, makulopapular, eritematus, urticari, atau “rash” perdarahan juga didapatkan pada fase awal penyakit.

Pada fase kedua manifestasi klinis yang ditemukan sesuai organ yang terganggu. Gejala umum yang didaptkan adalah adenopathy, rash, demam, perdarahan, tanda hipovolemia atau syok kardiogenik. Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan ikterus, hepatomegali, tanda koagulopati. Gangguan paru didapatkan batuk, batuk darah, dispneu, dan distres pernapasan.

Manifestasi neurologi didapatkan palsi saraf kranial, penurunan kesadaran, delirium atau gangguan mental berkepanjangan seperti depresi, kecemasan, iritabel, psikosis, dan demensia.

Pemeriksaan mata terdapat perdarahan subconjuntiva, uveitis, tanda iridosiklitis atau korioretinitis. Gangguan hematologi yang ditemukan adalah perdarahan, petekie, purpura, ekimosis dan splenomegali. Kelainan jantung dijumpai tanda dari kongestif gagal jantung atau perikarditis.

 

2.6. Masa Inkubasi

 

Masa inkubasi (dari terinfeksi sampai munculnya penyakit) leptospirosis biasanya berlangsung antara 2 hari sampai sekitar 4 minggu. Namun, rata-rata masa inkubasi adalah 10 hari setelah terinfeksi. Penyakit ini bisa berlangsung selama 3 hari sampai 3 minggu, atau bahkan lebih lama lagi. Jika tidak diobati, maka penyembuhan penyakit ini akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa saja berakibat fatal (kematian pada yang mengalami kerusakan ginjal).

 

 

 2.7. Komplikasi leptospirosis

 

       Pada hati : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6

       Pada Ginjal : Gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian.

       Pada Jantung : Berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak

       Pada paru paru : Batuk darah, nyeri dada, sesak napas

       Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernapasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata ( konjungtiva )

       Pada kehamilan : Keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati

        

2.8.  Pencegahan

 

         Membiasakan diri dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

         Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus

  • Mencuci tangan, dengan sabun sebelum makan
  • Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/ sampah/ tanah/ selokan dan tempat tempat yang tercemar lainnya
  • Melindungi pekerja yang beresiko tinggi terhadap Leptospirosis ( petugas kebersihan, petani, petugas pemotong hewan dan lain lain ) dengan menggunakan sepatu bot dan sarung tangan.
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Menyediakan dan menutup rapat tempat sampah
  • Membersihkan tempat tempat air dan kolam kolam renang.
  • Menghindari adanya tikus didalam rumah atau gedung.
  • Menghindari pencemaran oleh tikus.
  • Melakukan desinfeksi terhadap tempat tempat tertentu yang tercemar oleh tikus.
  • Meningkatkan penangkapan tikus .

 

2.9.  Pengobatan

 

Pengobatan kasus leptospirosis masih diperdebatkan. Sebagian ahli mengatakan bahwa pengobatan leptospirosis hanya berguna pada kasus ­ kasus dini (early stage)atau fase awal sedangkan pada fase ke dua atau fase imunitas (late phase) yang paling penting adalah perawatan.

  • Tujuan pengobatan dengan antibiotik adalah:

1. mempercepat pulih ke keadaan normal

2. mempersingkat lamanya demam

3. mempersingkat lamanya perawatan

4. mencegah komplikasi seperti gagal ginjal (leptospiruria)

5. menurunkan angka kematian

 

Obat pilihan adalah Benzyl Penicillin. Selain itu dapat digunakan Tetracycline, Streptomicyn, Erythromycin, Doxycycline, Ampicillin atau moxicillin.

Pengobatan dengan Benzyl Penicillin 6-8 MU iv dosis terbagi selama 5-7 hari. Atau Procain Penicillin 4-5 MU/hari kemudian dosis diturunkan menjadi setengahnya setelah demam hilang, biasanya lama pengobatan 5-6 hari.

Jika pasien alergi penicillin digunakan Tetracycline dengan dosis awal 500 mg, kemudian 250 mg IV/IM perjam selama 24 jam, kemudian 250-500mg /6jam peroral selama 6 hari. Atau Erythromicyn dengan dosis 250 mg/ 6jam selama 5 hari. Tetracycline dan Erythromycin kurang efektif dibandingkan dengan Penicillin. Ceftriaxone dosis 1 g. iv. selama 7 hari hasilnya tidak jauh berbeda dengan pengobatan menggunakan penicillin.

Oxytetracycline digunakan dengan dosis 1.5 g. peroral, dilanjutkan dengan 0.6 g. tiap 6 jam selama 5 hari; tetapi cara ini menurut beberapa penelitian tidak dapat mencegah terjadinya komplikasi hati dan ginjal.Pengobatan dengan Penicillin dilaporkan bisa menyebabkan komplikasi berupa reaksi Jarisch-Herxheimer. Komplikasi ini biasanya timbul dalam beberapa waktu sampai dengan 3 jam setelah pemberian penicillin intravena; berupa demam, malaise dan nyeri kepala; pada kasus berat dapat timbul gangguan pernafasan.

 

2.10. Penanggulangan KLB

 

Penanggulangan KLB dilakukan pada daerah yang menderita leptospirosis cenderung meningkat (perjam/hari/minggu/bulan) dengan pengambilan darah bagi penderita dengan gejala demam, sekitar 20 rumah dari kasus indeks.

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

EPIDEMILOGI PENYAKIT MENULAR LEPTOSPLIROSIS

 

3.1 DISTRIBUSI PENYAKIT LEPTOSPIROSIS


            Leptospirosis terjadi di seluruh dunia, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, di daerah tropis maupun subtropis. Penyakit ini terutama beresiko terhadap orang yang bekerja di luar ruangan bersama hewan, misalnya peternak, petani, penjahit, dokter hewan, dan personel militer. Selain itu, Leptospirosis juga beresiko terhadap individu yang terpapar air yang terkontaminasi. Di daerah endemis, puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir. 

 

Dikenal pertama kali sebagai penyakit occupational (penyakit yang diperoleh akibat pekerjaan) pada beberapa pekerja pada tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil mengungkapkan manifestasi klinis yang terjadi pada 4 penderita yang mengalami penyakit kuning yang berat, disertai demam, perdarahan dan gangguan ginjal. Sedangkan Inada mengidentifikasikan penyakit ini di jepang pada tahun 1916. (Inada R, Ido Y, et al: Etiology, mode of infection and specific therapy of Weil’s disease. J Exp Med 1916; 23: 377-402.)

Penyakit ini dapat menyerang semua usia, tetapi sebagian besar berusia antara 10-39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki usia pertengahan, mungkin usia ini adalah faktor resiko tinggi tertular penyakit occupational ini.

Angka kejadian penyakit tergantung musim. Di negara tropis sebagian besar kasus terjadi saat musim hujan, di negara barat terjadi saat akhir musim panas atau awal gugur karena tanah lembab dan bersifat alkalis.

Angka kejadian penyakit Leptospira sebenarnya sulit diketahui. Penemuan kasus leptospirosis pada umumnya adalah underdiagnosed, unrreported dan underreported sejak beberapa laporan menunjukkan gejala asimtomatis dan gejala ringan, self limited, salah diagnosis dan nonfatal.

Di Amerika Serikat (AS) sendiri tercatat sebanyak 50 sampai 150 kasus leptospirosis setiap tahun. Sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai. Di Indonesia penyakit demam banjir sudah sering dilaporkan di daerah Jawa Tengah seperti Klaten, Demak atau Boyolali.

Beberapa tahun terakhir di derah banjir seperti Jakarta dan Tangerang juga dilaporkan terjadinya penyakit ini. Bakteri leptospira juga banyak berkembang biak di daerah pesisir pasang surut seperti Riau, Jambi dan Kalimantan.

Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%. Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam kategori ini. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita “immunocompromised” mempunyai resiko tinggi terjadinya kematian.

Penderita berusia di atas 50 tahun, risiko kematian lebih besar, bisa mencapai 56 persen. Pada penderita yang sudah mengalami kerusakan hati yang ditandai selaput mata berwarna kuning, risiko kematiannya lebih tinggi lagi

Paparan terhadap pekerja diperkirakan terjadi pada 30-50% kasus. Kelompok yang berisiko utama adalah para pekerja pertanian, peternakan, penjual hewan, bidang agrikultur, rumah jagal, tukang ledeng, buruh tambang batubara, militer, tukang susu, dan tukang jahit. Risiko ini berlaku juga bagi yang mempunyai hobi melakukan aktivitas di danau atau sungai, seperti berenang atau rafting.

Penelitian menunjukkan pada penjahit prevalensi antibodi leptospira lebih tinggi dibandingkan kontrol. Diduga kelompok ini terkontaminasi terhadap hewan tikus. Tukang susu dapat terkena karena terkena pada wajah saat memerah susu. Penelitian seroprevalensi pada pekerja menunjukan antibodi positif pada rentang 8-29%.

 

Kejadian leptospirosis di amerika serikat terus meninngkatselama decade petmama abad ke-20 tetapi tetap stabil . Dari tahun 1987-1993,43-93 kasus dilaporkansetiap tahun
Pada tahun 1995, Dewan Negara dan Epidemiologi Teritorial dan US Centers for Disease Control dan Pencegahan (CDC) Leptospirosis dihapus dari daftar AS penyakit dilaporkan. Karena tes diagnostik yang dapat diandalkan tidak tersedia dan pelaporan yang terorganisir tidak mengakibatkan penerapan metode untuk mengendalikan penyakit ini, banyak Negara berhenti pelaporan leptospirosis. Infeksi menyebabkan penyakit sistemik yang sering menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan hati. Penyakit ini pertama kali dikenal sebagai penyakit akibat kerja pekerja selokan pada tahun 1883. Pada tahun 1886, Weil menggambarkan manifestasi klinis pada 4 pria yang memiliki penyakit kuning yang parah, demam, dan perdarahan dengan keterlibatan ginjal. Inada dkk mengidentifikasi agen penyebab penyebab di Jepang.

 

Pekerjaan paparan mungkin menyumbang 30-50% dari kasus pada manusia. Kelompok kerja utama pada risiko termasuk pekerja peternakan, dokter hewan, pemilik toko hewan peliharaan, pekerja bidang pertanian, pekerja rumah potong hewan, tukang pipa, handler daging dan pekerja rumah potong, penambang batubara, pekerja di industri perikanan, pasukan.

 

Studi di pekerja selokan menunjukkan prevalensi antibodi leptospira lebih besar daripada kelompok kontrol. tikus terinfeksi mungkin mencemari air selokan. perendaman parsial atau total dalam lumpur dan air berperan dalam memfasilitasi infeksi pada pekerja selokan dan pekerja sawah.

            Milkers mungkin berceceran di wajah, selanjutnya menyebabkan infeksi melalui konjungtiva tersebut. Infeksi pasukan militer terjadi sebagai akibat kontak langsung dengan urin yang terinfeksi atau kontak langsung dengan tanah dan air yang terkontaminasi. survei Seroprevalensi pekerja peternakan telah menunjukkan kisaran titer antibodi positif pada 8-29%.

            Meskipun Leptospirosis terus menjadi dominan penyakit kerja sejak tahun 1970, itu juga semakin telah diakui sebagai penyakit rekreasi. kegiatan rekreasi yang menyajikan beberapa resiko termasuk bepergian ke daerah tropis, kano, hiking, kayak, memancing, selancar angin, renang, ski air, mengarungi, mengendarai sepeda trail-melalui genangan air, arung jeram, dan olahraga outdoor lainnya bermain di air yang terkontaminasi. Berkemah dan melakukan perjalanan ke daerah endemik juga menambah resiko.

            Wabah penyakit demam akut terjadi di kalangan atlet bersaing di Eco-Challenge-Sabah 2000 di Malaysia, 44% dari mereka yang dilaporkan merasa sakit memenuhi definisi kasus leptospirosis.3 faktor risiko yang signifikan termasuk kayak, dan berenang di dan menelan air dari Sungai Segama. Pada tahun 1998, atlet yang berpartisipasi dalam triathlon di Springfield, Illinois, dan yang berenang di Danau Springfield dikembangkan leptospirosis.4 atlet lain yang berpartisipasi dalam acara yang sama, meskipun tanpa gejala, ditemukan memiliki bukti laboratorium penyakit. paparan air berkepanjangan, dalam bentuk 1.5-mil berenang di Danau Springfield, adalah asosiasi epidemiologi antara atlet sakit. Pada tahun 1997, pelancong AS yang berkunjung ke Kosta Rika dan terlibat dalam arung jeram terjangkit disease.

           

            Di Indonesia Leptospirosis tersebar antara lain di provinsi Jawa barat, Jawa tengah, Daerah istimewa Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara,Bali,NTB, Sulawesih Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan timur Dan Kalimantan Barat.Angka kematian leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45%. Pada usia lebih dari 50 tahun kematian mencapai 56%. Pendrerita leptospirosis yang di sertai selaput mata berwarna kuning ( kerusakan jaringan hati ), risiko kematian akan lebih tinggi.

 

 CARA PENULARAN PENYAKIT MENULAR LEPTOSPIROSI

 

            Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media. Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan urin, kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.

            Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah, makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam.

     

3.2 FREKUENSI PENYAKIT MENULAR LEPTOSPIROSIS

 

Kejadian leptospirosis di Amerika Serikat terus meningkat selama dekade pertama abad ke-20 tetapi tetap stabil baru-baru ini. Dari 1987-1993, 43-93 kasus dilaporkan setiap tahun. Leptospirosis umumnya kurang terdiagnosis dan tidak dilaporkan karena banyak kasus tidak menunjukkan gejala atau gejala ringan, self-terbatas, dan nonfatal. Mengikut statistik Kementerian Kesehatan, pada tahun 2006, sebanyak 527 kes leptospirosis telah dicatatkan, dan pada tahun 2007 pula, terdapat peningkatan kes sebanyak 929 kes dilaporkan. bulan Pebruari 2007 – Maret 2008. Penyakit leptospirosis di kabupaten Demak. Di Indonesia leptospirosis tersebar antara lain di Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara,Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45%. Pada usia lebih dari 50 tahun kematian mencapai 56%. Penderita Leptospirosis yang disertai selaput mata berwarna kuning (kerusakanjaringan hati), risiko kematian akan lebih tinggi. Di beberapa publikasi angka kematian di laporkan

antara 3 % – 54 % tergantung sistem organ yang terinfeksi. Dari tahun ke tahun tingkat kejadian leptospirosis mengalami peningkatan dari tahun 2003-2008 kejadian sekitar 5-56% kasus kejadian dengan jumlah kasus antara 10-45 kasus. Menurut berita terbaru dari Kompas tanggal 3 Juni 2010 menyebutkan bahwa sebanyak 45 warga Bantul, DI Yogyakarta terkena leptospirosis. Lima orang diantaranya meninggal dunia. Berdasarkan data dinas kesehatan kabupaten Bantul, kasus leptospirosis tahun 2009 tercatat 9 kasus, satu orang diantaranya meninggal. Tahun ini penyakit yang ditularkan lewat air kencing tikus tersebut, banyak menyerang warga.

3.3 DETERMINAN DARI PENYAKIT MENULAR LEPTOSPIROSIS

 

v   AGENT DARI PENYAKIT MENULAR LEPTOSPIROSIS

 

Penyakit leptospirosis disebabkan oleh mikroorganisme yang berupa  Bakteri Phatogen (dapat menyebabkan penyakit) berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu L interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa adalah saprofitik.

            Berdasarkan temuan DNA pada beberapa penelitian terakhir, 7 spesies patogen yang tampak pada lebih 250 varian serologi (serovars) telah berhasil diidentifikasi. Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini adalah kambing dan sapi.

 

v   HOST DARI PENYAKIT MENULAR LEPTOSPIROSIS

 

  1. USIA

            Umumnya Leptospirosis menyerang pada manusia yang berusia 10-39 tahun dan pada usia 50 tahun keatas memiliki risiko yang cukup tinggi di bandingkan usia dibawahnya, tetapi semua itu memiliki risiko untuk terkena penyakit Leptospirosis.

 

  1. JENIS KELAMIN

Penyakit Leptospira bisa terdapat pada hewan piaraan maupun hewan liar.  Leptospirosis dapat berjangkit pada laki-laki maupun wanita semua umur tetapi kebanyakan mengenai laki-laki dewasa muda (50% kasus umumnya berusia antara 10-39 tahun diantaranya 80% laki-laki).

 

  1. STATUS GIZI

 

            Keadaan ststus gizi sesorang sangat berpengaruh pada penularan penyakit leptospirosis karena akan mempengaruhi daya tahan tubuh sesorang terhadap paparan penyakit atau kerentanan dan akan penyebabkan agent penyakit masuk dengan mudah dalam tubuh manusia.

 

  1. PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT

 

            Pendidikan sangat mempengaruhi kejadian leptospirosis karena tingkat pendidikan yang kurang tidak mengetahui faktor dan penyebabnya serta cara pencegahan dan penanggulangannya,sehingga kurangnya pengetahuan masyarakat menyebabkan penyebaran penyakit

 

v   ENVIROMENT  DARI PENYAKIT MENULAR LEPTOSPIROSIS

 

            Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian leptospirosis adalah  faktor risiko lingkungan fisik, faktor risiko lingkungan biologi, faktor perilaku, faktor sosial ekonomi dan faktor pelayanan kesehatan

            Faktor lingkungan fisik kondisi jalan buruk, keberadaan genangan air, keberadaansampah dalam rumah, kondisi selokan buruk, jarak rumah dengan selokan, curah hujan ≥ 177,5 mm, kondisi TPSburuk, dan ketinggian dari permukaanlaut < 3,5 m.

            Faktor lingkungan biologi meliputi keberadaan tikus dalam rumah dan keberadaan binatang piaraan.

Faktor sosial ekonomi meliputi pendidikan rendah,pekerjaan berisiko dan penghasilan rendah

Untuk faktor perilaku meliputi kebiasaan tidakmemakai alas kaki dan kebiasaan mandi/mencuci di sungai

          3.4  MORBIDITAS DAN MORTALITAS

 

Leptospirosis belum penyakit dilaporkan dalam AS sejak 1994, dan kejadian  saat ini pada manusia tidak diketahui dengan pasti. Dari tahun 1987 hingga 1993,43-93 kasus dilaporkan setiap tahun. Saat ini, U.S. Pusat Penyakit Pengendalian Dan Pencegahan (CDC) memperkirakan bahwa 100 sampai 200 kasus diidentifikasi di AS setiap tahun. Leptospirosis dianggap kurang terdiagnosis dan tidak di laporkan karenabanyak kasus yang ringan atau asimtomatik dan membatasi diri. Kejadian infeksi bersifat musiman, dengan sebagian besar kasus dilihat selama di musimpanas dan gugur di daerah beriklim sedang. Dalamiklim tropis, insidensi puncak terjadi selama musim hujan. Wabah besar terlihat setelah banjir. Pajanan dianggap bertanggung jawab untuk 30-50% kasus. Pekerjaan dengan resiko tinggi infeksi termasuk pekerja selokan, penambang batu bara, tukang ledaging penangan, deng, buru tani, dokter hewan, pemilik took hewan peliharaan,pekerjah rumah potong hewan, Dari 8-29% dari mereka yang bekerja dengan ternak memiliki antibody terhadap leptospira. Reaksi kegiatan yang meningkatkan risiko Leptospirosis termasuk berkebun dan olahraga air seperti bermaian kano, berenang dan arung jeram. Penduduk beberapa daerah perkotaan terpaparmelalui urin tikus. Kebanyakan kasus Leptospirosis adalah asimtomatik atau ringan. Angka kasus kematian keseluruhan adalah 50%. Tingkat kematian bervaiasidan lebih tinngi pada orang tua.  

 

BAB IV

PENUTUP

 

      4.1.       Kesimpulan                                                                                                                

 

  • Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan yang disebabkan kuman leptospira pathogen dan digolongkan sebagi zoonosis yaitu penyakit hewan yang bisa menjangkiti manusia.
  • Hewan yang paling banyak mengandung bakteri leptospira ini (resevoir) adalah hewan pengerat dan tikus
  • Penyakit leptospirosis mungkin banyak terdapat di Indonesia terutama di musim penghujan.
  • Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung, sedangkan penularan dari manusia ke manusia sangat jarang.
  • Pengobatan dengan antibiotik merupakan pilihan terbaik pada fase awal ataupun fase lanjut (fase imunitas).
  • Selain pengobatan antibiotik, perawatan pasien tidak kalah pentingnya untuk menurunkan angka kematian.
  • Angka kematian pada pasien leptospirosis menjadi tinggi terutama pada usia lanjut, pasien dengan ikterus yang parah, gagal ginjal akut, gagal pernafasan akut.

 

4.2. Saran

  1. Pada orang berisiko tinggi terutama yang bepergian ke daerah berawa-rawa dianjurkan untuk menggunakan profilaksis dengan doxycycline.
  2. Masyarakat terutama di daerah persawahan, atau pada saat banjir mungkin ada baiknya diberi doxycycline untuk pencegahan.
  3. Para klinisi diharapkan memberikan perhatian pada leptospirosis ini terutama di daerah-daerah yang sering mengalami banjir.
  4. Penerangan tentang penyakit leptospirosis sehingga masyarakat dapat segera menghubungi sarana kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s