HIV/AIDS Epidemiologi Penyakit Menular

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak dicanangkan Gerakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS pada tanggal 23 April 2002, dirasakan sekali kebutuhan yang sangat mendesak tentang informasi terbaru situasi epidemi HIV serta faktor perilaku yang mempengaruhi penyebarannya. Informasi tersebut tidak hanya berguna dalam memahami secara lebih baik perjalanan epidemi HIV di kawasan nusantara, juga untuk memfokuskan kegiatan-kegiatan penanggulangan HIV di Indonesia agar berhasil guna. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi informasi tersebut antara lain penguatan sistem pemantauan HIV di Indonesia. Tahun ini Departemen Kesehatan telah melaksanakan surveilans HIV generasi kedua di beberapa propinsi uji-coba. Adapun yang sistematik dilakukan yaitu memperkuat sistem surveilans sentinel HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS), melakukan surveilans perilaku, serta upaya pemanfaatan data surveilans tersebut untuk perencanaan kegiatankegiatan penanggulangan yang bersifat strategik baik di tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, sudah cukup mendesak adanya informasi yang akurat tentang jumlah populasi rawan tertular HIV dan jumlah orang yang telah tertular HIV di Indonesia. karena tidak saja diperlukan untuk penyusunan kebijaksanaan maupun perumusan kegiatan-kegiatan penanggulangan, serta perlunya dukungan dari berbagai pihak agar masalah epidemi HIV menjadi masalah bersama dan ditanggulangi secara bersama. Pada penyusunan kebijaksanaan, informasi tersebut diperlukan dalam kegiatankegiatan advokasi, perencanaan strategis, pengalokasian sumber-daya yang relatif terbatas, serta melakukan proyeksi dan mengestimasi beban masalah kesehatan akibat dampak perluasan epidemi HIV. Pada penyusuan program penanggulangan, informasi tersebut diperlukan dalam penyusunan rencana intervensi, penetapan target sasaran, strategi penjangkauan, dan pemantauan serta penilaian keberhasilan program-program penanggulangan HIV.

Disadari pula bahwa kita perlu memperbarui tekad bersama dengan berbasiskan

informasi terakhir tentang situasi epidemi HIV di Indonesia agar bersama dapat merespon dan menyadari bersama tentang potensial masalah yang akan terjadi bila kita terlambat meresponnya. Saat ini tingkat epidemi HIV di Indonesia sudah dalam kategori terkonsentrasi, karena prevalensi HIV pada beberapa sub-populasi berisiko telah jauh melampui 5 persen secara konsisten, tetapi belum mencapai 1 persen pada kelompok ibu hamil yang berkunjung ke pusat-pusat pelayananan kesehatan.

 Yang perlu kita sadari bersama bahwa tingkat epidemi tersebut menunjukkan bahwa adanya jaringan perilaku berisiko yang sangat aktif, sehingga HIV ditularkan dari individu yang satu ke individu lain yang berisiko tersebut. Perluasan epidemi selanjutnya ditentukan oleh besarnya jalur lintas perilaku berisiko antara kelompok-kelompok berisiko yang berbeda dan juga penularan meluas ke pasangan-pasangan tetap mereka. Yang perlu diantisipasi adalah mencegah perluasan epidemi HIV selanjutnya dengan meningkatkan upaya-upaya penanggulangan HIV di Indonesia. Kita perlu mencegah kemungkinan penularan HIV dari kelompok pengguna napza suntik yang sudah tinggi – melampaui 50 persen – itu ke kelompok lain yang dapat ditularkan melalui jalur seksual.

 

Tingginya angka HIV/AIDS, hilangnya masa produktif dari penderita berdampak pada kehilangan usia produktif di Indonesia. Hal ini disebabkan karena perilaku berisiko yang salah satunya terjadi dikalangan anak usia sekolah dan merupakan kelompok rentan tertularnya HIV/AIDS. Berdasarkan fenomena tersebut, tujuan penelitian yang dilakukan adalah menganalisis faktor pencegahan HIV/AIDS melalui perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dan menggunakan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling di SLTP X Jakarta yang memenuhi kriteria inklusif. Faktor intrinsik yang meliputi persepsi tentang pemahaman, sikap dan pencegahan HIV/AIDS mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Begitu pula dengan faktor ekstrinsik (informasi diperoleh dari luar) yang meliputi informasi orangtua, fasilitas, informasi dengan orang lain dan stigma masyarakat mempunyai hubungan signifikan dengan perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Rekomendasi dari penelitian ini adalah peningkatan pengetahuan melalui komunikasi, informasi dan edukasi tentang faktor pencegahan HIV/ AIDS melalui perilaku berisiko tertular pada siswa SLTP. Hal lain adalah perlunya peningkatan bimbingan dan konseling dari guru serta pendampingan dari orang tua kepada anak.

 

1.2 Rumusan Masalah


Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian   HIV/AIDS?
2. Bagaimana cara penularan HIV / AIDS ?

 

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS

2. Mengetahui penyebab HIV/AIDS

3. Mengetahui cara penularan HIV/AIDS

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA YANG MELIPUTI

 

2.1 Pengertian

AIDS  kepanjangan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. AIDS disebabkan oleh adanya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) di dalam darah.

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.

 

 

2.2 Etiologi

 

AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV. VIrus ini diketemukan oleh montagnier, seorang ilmuwan perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala limfadenopati, sehingga pada waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV).

Gallo (national Institute of Health, USA 1984) menemukan Virus HTLV-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberi nama resmi HIV. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan virus lain yang dapat pula menyebabkan AIDS, disebut HIV-2, dan berbeda dengan HIV-1 secara genetic maupun antigenic. HIV-2 dianggap kurang pathogen dibandingkan dengan HIV-1. Untuk memudahkan, kedua virus itu disebut sebagai HIV saja.

 

2.3 Masa Inkubasi dan Diagnosis Penyakit

 

a.  Masa Inkubasi

 

Masa inkubasi HIV sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel CD4 semakin menurun. Ketika sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seorang Odha akan mulai menampakkan gejala-gejala.

 

b.  Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan:

1. Gejala klinis

2.Pemeriksaan Laboratorium meliputi:

     a. Tes Elisa

     b. Tes Air Liur dan Air Kencing

 

2.4 Cara Penularan

 

Ada 3 cara penularan:

 

1.      Hubungan seksual

2.      Kontak langsung dengan darah/ jarum suntik

3.      Secara vertikal, ibu hamil mengidap HIV kepada bayinya

 

2.5 Pencegahan

 

Pencengannya yaitu:

a. Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka

b. Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV)

c. Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.

d. Abstinensi

e. Melakukan prinsip monogami 

f. Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

3.1 Epidemiologi Penyakit

 

Sindroma AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottlieb dari Amerika pada tahun 1981. Sejak saat itu jumlah negara yang melaporkan kasus-kasus AIDS meningkat dengan cepat. Dewasa ini penyakit HIV/AIDS telah merupakan pandemi, menyerang jutaan penduduk dunia, pria, wanita, bahkan anak-anak. WHO memperkirakan bahwa sekitas 15 juta orang diantaranya 14 juta remaja dan dewasa terinfeksi HIV. Setiap hari 5000 orang ketularan virus HIV.

Menurut etimasi WHO pada tahun 2000 sekitar 30-40 juta orang terinfeksi virus HIV, 12-18 juta orang akan menunjukkan gejala-gejala AIDS dan setiap tahun sebanyak 1,8 juta orang akan meninggal karena AIDS. Pada saat ini laju infeksi (infection rate) pada wanita jauh lebih cepat dari pada pria. Dari seluruh infeksi, 90% akan terjadi di negara berkembang, terutama Asia.

 

 

3.2 Distibusi

           

            1. Orang

HIV/AIDS  adalah penyakit menular seksual yang dapat menyerang laki-laki, perempuan bahkan anak-anak..

            2. Tempat

Berdasarkan tempat penyebaran penyakit HIV, dimana didaerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan.

 

3.3 Frekuensi

 

Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.

 

 

3.4 Determiman

            1. Host

                Penyakit HIV/AIDS dapat menyerang kelompok umur produktif (15-60 tahun) jumlah terbesar pada kelompok umur 20-29 tahun. Hal ini disebabkan karena perilaku berisiko yang salah satunya terjadi dikalangan anak usia sekolah SLTP.

            2. Agent

HIV/AIDS  adalah infeksi sel sistem kekebalan tubuh yang disebab oleh virus HIV. Ini seringkali menyebabkan, Rasa lelah dan lesu, Berat badan menurun secara drastis, Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam, kurang nafsu makan, Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut.

 

            3.Enviroment

 

Tingkat pengawasan/peran orang tua orang tua sangat dibutuhkan agar anak usia remaja tidak tergolong pergaulan bebas.


 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

 

HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut “sel T-4” atau disebut juga “sel CD-4”. Virus HIV ini hidup didalam 4 cairan tubuh manusia, yaitu: Cairan darah, Cairan sperma, Cairan vagina, Air susu Ibu.
HIV dapat menular kepada siapapun melalui cara tertentu, tanpa peduli kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksual.

 

4.2 Saran

            Adanya kesadaran individu terhadap bahaya seks diluar nikah, yang dapat menyebabkan penyakit menular seksual dan adanya peran orang tua dalam mengontrol anaknya agar tidak melakukan pergaulan bebas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

·         Anonim. Produk dan informasi Bukti dan informasi untuk kebijakan: bukti untuk kebijakan kesehatan(online).http://www.who.or.id/ind/products/ow6/sub2/display.asp?id=1. 2007.

·         Biro Pusat Statistik. Sensus penduduk Indonesia. (online). http:// http://www.webgatra.com. 2007

·         Black JM, Hawks JH. Medical Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes. 7thedition:vol.2. Elsevier Saunders: Missouri, 2005

·         Creswell JW. Research design: Qualitative & quantitative approaches. California – USA: SagePublication, 1994, p.228.

·         DepKes. Profil kesehatan Indonesia 2007. Jakarta: DepKes RI, 2008.

·         DepKes. Laporan hasil riset dasar RISKESDAS propinsi Jawa Barat tahun 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan DepKes RI, 2007.

·         Ditjen PPML & PLP. 1996.”Pedoman Program Pencengahan dan Pemberantasan PMS Termasuk AIDS di Indonesia. Jakarta: Depkes RI (Oleh Sahlani & Ari Hartono)

·         Edwards S. Critical thinking: a two phase framework. Nurse Education in Practice, 7 (5) (2007): 303-314.

·         Gitosudarmo I, Mulyono A. Prinsip dasar manajemen. Edisi ketiga. Yogyakarta: BPPE, 1997.

·         Handoko M. Motivasi daya penggerak perilaku. Yogyakarta: Kanisius, 1997.

·         Oey M. Kemiskinan pedesaan: ketimpangan fasilitas social ekonomi. Makalah Lokakarya DGBUI. Tidak dipublikasikan, 2007.

·         Pender NJ. Health promotion in nursing practice. Second edition. Norvolk: Appleton and Lange,1980.

·         Rideout E. Transforming Nursing Education Through Problem-Based Learning. Boston: Jonesand Bartlett Publishers, 2001.

·         Sulekale. Pemberdayaan masyarakat miskin di era otonomi daerah. (online) http://ekonomi rakyat.org/edisi_14/artikel_2.htm. 2003.

·         Stuart GW, Laraira MT. Principles and practice of psychiatric nursing. Seventh edition. St. Louis:Morsby Inc., 2001

·         Wahjusumitjo. Kepemimpinan dan motivasi. (edisi pertama). Jakarta: Galia Aksara, 1996.

·         Weimer M. Learner – Centered Teaching. Five keys changes to practice. San Fransisco: Jossey- Bass, A Wiley Company, 2002.

·         World Health Organization. Guidelines for measuring national HIV prevalence in populationbased surveys. UNAIDS, 2005

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s